Senin, 16 Februari 2009

Nasib Al-Quran pada zaman ini

'An Ibn 'Umar RDA; qöla Rasulullahi SAW, inna hadzihil qulub tashda-u kama yashda-ul-hadidu idza ashabahul-maa', qiila ya Rasulallah wamaa jilaa-uha? Qoola; katsrotu dzikrul-maut wa tilawatul-Qur'an.
Dari Abdullah bin Umar ra, meriwayatkan, "Sesungguhnya hati ini dapat berkarat sebagaimana berkaratnya besi bila terkena air."Rasul di tanya, wahai Rasulallah, bagaimana cara membersihkannya? Rasul menjawab, perbanyaklah mengingat mati dan baca Al-Quran. (HR Baihaqi)

Bertumpuknya dosa pada manusia dan lalai dari mengingat kemahabesaran Tuhan bisa menjadi sebab berkaratnya hati sebagaimana besi jika terkena air. Maka untuk membersihkan segala karat yang ada di hati bisa di lakukan dengan cara banyak mengingat mati dan membaca Al-Quran. Hati ibarat kaca, semakin sering di bersihkan, hati akan semakin bersinar dan mudah menerima segala kebaikan dan kebenaran.

Sebaliknya, jika manusia tetap terkungkung dalam lingkaran nafsu dan perbuatan-perbuatan tercela, maka akan semakin jauh dari Tuhan dan rahmatnya. Berkaitan dengan pembersihan hati, banyak di antara guru sufi yang mengarahkan murid-muridnya supaya menggunakan waktu sebaik-baiknya dengan berzuhud dan memperbanyak baca Al-Quran dan mentadabburi ma'na yang terkandung di dalamnya.

Di sebutkan dalam suatu hadits, jika seseorang melakukan sebuah dosa, maka akan tertitik di hatinya satu noda hitam, jika seseorang itu bertaubat, titik hitam akan sirna, tetapi jika orang itu melakukan dosa kedua, noda hitam akan bertambah, apabila dosa terus di lakukan noda yang tadinya sedikit akan bertambah banyak dan pada puncaknya hati akan menjadi hitam kelam. Seseorang, jika hatinya sudah begitu kelam akan sulit untuk cenderung pada kebaikan dan akan tertutup baginya segala kebenaran.
Berkenaan dengan hal ini Tuhan berfirman; "Kallä, bal räna 'ala qulübihim mä känü yaksibün."Sekali-kali tidak, sebenarnya apa yang telah mereka perbuat telah menjadikan karat pada hati mereka. (Q surah Al-Muthaffifin ayat 14).

Nabi suci Muhammad SAAW bersabda, "Saya tinggalkan untuk kalian dua nasihat; satu yang berbicara dan satu lagi yang diam. Yang berbicara adalah Al-Quran dan yang hanya diam adalah mengingat mati."Orang yang cenderung pada kebenaran sudah barang tentu akan dengan senang hati menerima nasihat ini, akan tetapi orang-orang yang menganggap bahwa agama tidaklah penting dan berguna maka dia akan mengabaikan nasihat seperti ini yang di anggapnya sebagai sesuatu yang tidak masuk akal.

Generasi Islam pada zaman sahabat, tabiin dan tabi' tabi'in meyakini bahwa Al-Quran adalah firman Tuhan yang sebagiannya berisi tentang perintah, mereka membacanya sepanjang malam dan memikirkannya, kemudian di ejawantahkan dalam hidup sehari-hari. Sedangkan pada masa sekarang, walaupun masih banyak orang mempelajari Al-Quran tapi hanya sebatas pada huruf-hurufnya saja, syiar Al-Quran memang masih terus bergaung tetapi hanya sebatas untuk MTQ. Generasi Islam sekarang sudah begitu banyak yang tidak lagi menganggap Al-Quran sebagai landasan hidup yang akan bisa memberi kebahagiaan dan keselamatan bagi mereka.

Al-Quran hanya menjadi pajangan usang ruang tamu, terasa berat bagi tangan mereka untuk mengambilnya terlebih membuka dan membacanya. Sinyal dari Nabi yang mengisyaratkan bahwa di ahir zaman kelak agama hanya tinggal nama dan Al-Quran hanya tinggal tulisan nampaknya akan segera terbukti.