Fatur Rafael menulis; Syeh Nasar Al-Maqdisi dalam bukunya Al-Hujjah meriwayatkan secara marfu’ Hadits Nabi yg berbunyi; “Ikhtilafu ummati rahmatun”, demikian pula Al-Baihaqy meriwayatkan dr Qasim bin Muhammad dalam Al-Madkhal, Yahya bin Said meriwayatkan pula dari Umar bin Abd Aziz, kemudian Yahya berkata tidaklah membahagiakan aku jika sekiranya tidak ada perbedaan di antara umat Muhammad SAAW karena jikalau dalam umat ini tidak ada perbedaan maka tidak akan ada rukhshah di dalamnya. I.H, Al-la-aalil-mantsuroh, Badruddin Az-zarkasyi 745 H - 794 H.
Bagi saya Islam adalah ibarat taman bunga yg di penuhi berbagai aneka bunga dg aroma dan warna yg semuanya memikat yg masing-masing orang bisa memetiknya sesuai dg seleranya, seseorang tak dapat di larang atau di caci maki jika dia memetik bunga mawar yg di pandangnya sebagai bunga yg paling indah, begitu pula jika ada yg lainnya yg memetik bunga melati. Tentu masing-masing punya alasan kenapa memetik yg ini dan bukan yg itu. Yg penting masing-masing pemetik tidak boleh saling menghina dengan menganggap bunga yg di petiknya adalah bunga yg paling indah dan bunga yg di petik orang lain adalah jelek lalu semua orang di paksa untuk memetik bunga yg sama dengan yg dirinya petik. Bisa juga di ibaratkan sebagai meja perjamuan yg berisi berbagai makanan yg lezat-lezat, semua orang bisa meni’matinya sesuai keinginan hatinya.
Masing-masing orang Islam di bolehkan untuk mengikuti kecenderungan Madzhab apapun yg bisa menenangkan hatinya selagi tidak menyimpang dari ajaran pokok bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah. So betapa susahnya kita mengikuti 100% ajaran Rasulullah semasa beliau hidup, untuk hal yg demikian kita harus betul-betul faham seluruh isi Al-Quran dan faham seluruh Hadits Nabi padahal kita semua tidak ada yg pernah tau berapa juta jumlah Hadits nabi, kita manusia yg terbatas dan hanya bisa mengamalkan Islam dg terbatas pula maka benarlah ketika Rasul bersabda bahwa orang Islam di ahir zaman bisa selamat walaupun hanya mengikuti Islam 20% saja.
#8. Dikirim oleh Fatur rafael pada 28/01 02:20 PM
Kabayanis menulis; @ fatur rafael…
ummat sekarang susah mengikuti 100% ajaran rasul....karena belajarnya dari kitab2 yang ditulis oleh seorang manusia walau dalam kapasitas seorang ulama sekalipun ....beda hal nya dengan sahabat-sahabat rasul...tabiin ..dan tabiin tabiin… mereka belajar, beriman dan melaksanakan ajaran Rasulululloh dari fenomena “Living Al-Qur’an” dengan tidak bergantung 89% kepada bahasa2 tulisan. Mereka saat itu belajar dan mengamalkan agama melalui uswah, yaitu segala tutur kata, prilaku, pemikiran, dan segala sesuatu tanpa terbiaskan sedikitpun oleh makna tertulis dari untaian tulisan.... maklum saja metode yang dikembangkan oleh Yang Maha Pengasih adalah melalui Paradigma “UMMI” yaitu suatu bentuk kecerdasan fitriah yang tidak bergantung pada bahasa tulisan yang dapat menimbulkan multitafsir atas makna tertulis yang ditulis orang seorang manusia lainnya… walaupun pada masa rasul “sebenarnya” telah berkembang pesat budaya litera yang dimulai ketika jaman Nabi Isa Al-Masih. Tentu salah satu keunggulan dari kecerdasan UMMIYIN tersebut adalah terjauhkannya ummat dari liberalisasi faham akibat beda penafsiran makna tertulis dari suatu ayat.... Maka nikmatilah wahai rafael....engkau terjebak faham beragama hasil menafsirkan untaian-untaian tulisan tanpa tergugah Qolbu anda untuk menunaikan hak “fuad” untuk menerima rasa dan karsa yang tak mungkin tergambar utuh oleh untaian tulisan..... dan nikmatilah kesombongan akibat berani menafsirkan makna tertulis versi apapun.... karena kera dimanapun demikian adanya walau orang jawa menyebutnya “ketek”...orang sunda nyebutnya “lutung” orang inggris nyebutnya “monkey” padahal kalau di-Iqro dengan Mata, telingga dan “Fuad” secara simultan maka kera adalah kera sebagaiman kita lihat dengan seluruh panca indra yang tidak mungkin fenomena utuhnya tersebut diuraikan dalam bentuk untaian tulisan.... Pendek kata Sunatulloh telah berlaku di muka bumi ini, yaitu Manusia yang digelari Al-Amin yang ditugasi menyempurnakan dienul Islam adalah seorang “UMMI” bukan seorang fatur rafael yang jago baca tulisan doang...wang.... maka pantas aja melegalkan perbedaan faham, mazhab, golongan, aliran, fikroh, dan akhirnya kepentingan politis.. yang memicu perpecahan ummat dan melahirkan generasi muslim yang seibarat buih di laut dan melestarikannya terus diombang-ambing gelombang.... BEWARE THE REDUCTIONIST MUSLIM
#9. Dikirim oleh kabayanist pada 28/01 05:17 PM
Rafael menulis; Makasih mba Aryanti Palupi,..kang Kabayan kayanya yg melegalkan adanya keberbagaian Madzhab bukan cuma Fatur rafael deh, Fatur hanya mengutip dr berbagai sumber yg Fatur ketahui dan itu adalah merupakan sebuah keniscayaan yg tidak dapat di pungkiri. Umar bin Abd Aziz, Hasan Bashri, Junaid Al-baghdadi, Yahya bin said dan Rabiah Adawiyah mereka itu adalah tabi’in lho tp mereka tidak memungkiri adanya berbagai corak keislaman. Jika kang kabayan adalah penganut Islam yg betul-betul murni 100% seperti Islamnya Rasulullah dan para sahabat, tentu Fatur ingin belajar pada anda karena bagaimanapun Fatur ingin juga memiliki Islam yg sempurna tetapi mungkinkah itu kang Kabayan? Sementara dalam sejarah sahabat, tabi’in dan tabi’ tabi’in yg pernah Fatur baca tidak ada seorangpun yg bernama Kabayan termasuk di dalamnya. kang Kabayan, Fatur memang gemar membaca doang wang karena dengan membaca maka Fatur jadi tau sedikit tentang Islam, bukankah kang Kabayan juga tahu tentang adanya Islam yg kang Kabayan anggap telah di reduksi oleh para ulama, juga dari membaca?
Yang terahir, Fatur pernah baca dan belajar adanya Hadits Rasul yg berbunyi “Innakum fi zamanin man ‘amila minkum ‘usyro ma umiro bihii halaka, tsumma ya’-tii zamanun man ‘amila minkum bi ‘usyri ma umiro bihi naja.” sesungguhnya kalian berada pada zaman dimana jika kalian mengamalkan sebanyak 80% dari ajaran agama maka kalian akan tetap celaka, kemudian nanti datang suatu zaman jika diantara kalian hanya bisa mengamalkan 20% saja dari ajaran agama, kalian akan selamat. (HR Tirmidzi dr Abu Hurairah dalam buku Al-Fitan Hadits ke 192). Bagaimana Hadits ini menurut anda kang Kabayan? trimakasih, mohon maaf bila terlihat kasar.
#16. Dikirim oleh Fatur rafael pada 29/01 10:29 PM
Kabayanis menulis; Islam harus dibedakan dengan penganutnya yaitu muslim....muslimin...muslimat.... saking PD-nya berabab-abab “berislam” dari hasil ekstrasi makna literal… Ummat sekarang sudah tidak bisa dan tak mau jujur untuk membedakan dirinya adalah muslim dan islam adalah dinul Islam sebagaimana kemurniannya tetap terjaga 100%. Tapi itu masih dalam koridor kemanusiawian..... Apa sebab semacam fatur tak lekang tuk tau bahwa dirinya adalah muslim 30% misalnya???...karena kitab2 yang dibacanya tak mungkin menuntun “fuad” dalam dirinya tuk “membaca” fenomena Dinul Islam 100% murni yang kemurniannya tak mungkin hanya dijangkau nalar hasil bimbingan literal-literal kitab kuning ...hijau..atau warna apalah.... apalagi adanya klaim bahwa ulama adalah mata air suci tentang Islam.... maka islamlah yang dilebur harus manut kepada ulama.... bukan sebaliknya… jadilah fatur berani mencak-mencak kaya diuraikannya.... pendek kata tak bisa lagi mencerna pengetahuan tentang fenomena dinul Islam yang tetap murni tak bermazhab, berfikroh, berorganisasi-organisasian...karena fatur dkk membatasi dirinya bahwa yang betul-betul sumber islam yang haq itu adalah yang berasal dari kitab2 hasl karya para ulamanya.... wah hebat donk.... sekiranya ulama yang mengukir untaian tulisan dalam kitabnya lahir pasca tabiin tabiin… maka kita bisa pastikan bahwa para tabiin..sahabat rasul… bahkan rasul itu sendiri adalah kurang murni dalam berislam.... karena meraka hidup sebelum ulama2 yang nulis kitab yang disahihkan oleh fatur dan kawan2.... duh sangat muliakah ulama yang dianut fatur?..... sehingga curahan pikiran dan tulisannya mampu menghapus fenomena berislam ala rasul dan sahabatnya yang tak lekang jaman terus murni hingga akhir jaman...tak mengenal mazhab, fikroh, aliran ...bahkan tak mengenal NU sekalipun.... padahal sehebat-hebatnya tulisan ulama paling afdhol mereka adalah pewaris para nabi.... ya kalo pewaris generasi pertama… tetapi gimana jadinya jika ulama tersebut pewaris generasi ke-100.... pasti sisa warisannya tak sebesar ulama generasi pertama.... tapi tak apalah ...proses hidup yang kabayan dan nenek moyang kabayan tempuh tetap belum mau mengakui bahwa muslim yang menyatakan dirinya demikian adalah karena belum “kaaffah” sehingga menjadi penista terhadap ajaran yang dianutnya walau hal itu pasti tidak akan diakui dan dirasakannya karena “taklid’ yang sudah menjadi hukum wajib dalam ber"NU"....kabayan sih pinginnya kita semua jujur .... bolehlah ummat NU adalah NU murni tapi harus tetap jujur bahwa mereka belum berislam sebagaima muslimin yang haq.... bolehlah ummat wahabi adalah wahabi murni tetapi jangan pernah mengklaim bahwa mereka adalah muslimin yang haq. Dan kabayan tentu juga berusaha jujur bahwa kami adalah penganut kabayanisme.... yang belum berhak menyandang titel muslimin yang haq karena untuk mencapai hal itu tak mungkin diusung oleh “kami” saja tanpa melibatkan ummat hanif lainnya yang berusaha masuk ke dalam islam secara kaaffah… dan tak mungkin ada muslim kaaffah… karena ke-kaaffahan hanya dapat terjelma dalam koridor “kaum” muslimin bukan individu seorang muslim.... pendeknya dalam surah al-baqoroh ditetapkan prosesnya adalah mu’min dahulu kemudian masuk islam secara kaaffah secara bersama-sama… sebagaimana rasul telah mengapainya dan begitu pula para sahabat.... JUJURLAH...WALAU KEJUJURAN ITU ADALAH PAHIT KETIKA MENGETAHUI BAHWA UMMAT NU kadarnya sekian persen dari muslimin yang haq..... dan jika baru sekian persen saja sudah “PD” dan stuck berstagnan dalam bentuk NU doang.... maka jangan salahkan Rasul yang telah menyempurnakan Dinul Islam 100% murni yang tidak pernah terbiaskan oleh budaya literal karena dibangun melalui uswah dan bukan melalui tulisan-tulisan para ulama yang kadarnya hanya sebagai pewaris nabi....
#27. Dikirim oleh kabayanist pada 06/02 06:11 PM
Rafael menulis; Baiklah.. Tidak di ragukan lagi, di tengah situasi sekarang ini di saat kaum muslimin telah kehilangan jejak sejarah dan kemudian mereka terpecah dalam berbagai macam madzhab, sekte ataupun firqah (bukan fikroh), yang semuanya mengklaim kebenaran atas dirinya sendiri dan selalu bertengkar dalam kegelapan selama beratus2 tahun, atau ketika kaum muslimin merasa takut di tengah derasnya gelombang pemikiran dan gagasan. Mereka harus kembali kepada Al-Quran dan mengikuti cara hidup kaum muslimin generasi sahabat Nabi.
Para sahabat memang bisa memahami pesan Islam tanpa bantuan fiqih, tasauf, filsafat dan unsur2 agama lainnya yg baru timbul setelah masa pewahyuan berahir. Namun, tetap saja akan ada pertanyaan yang akan selalu mengusik hati yaitu kepada Al-Quran dan sahabat yang mana kita harus berpegang? Apakah kita harus berpegang kepada Al-Quran yang di gunakan di istana-istana sayyidina Utsman khalifah Ketiga yang telah menumbuhkan kembali aristokrasi dan ikut berperan dalam mengasingkan dan mengusir Abu Dzar dari kota Nabi? Atau apakah kita akan berbegang dengan Al-Quran yang di bawa Abu Dzar dalam pengasingannya hingga ia menemui kematian di gurun pasir Rabadzah dalam keadaan kesepian dan terdzhalimi? Atau apakah kita akan berpegang pada Al-Quran yang di pajang di ujung bayonet oleh Amr bin Ash demi mempertahankan kerajaan rasial dan dalam mendukung dinasti Umayyah yang membeda2kan golongan? Atau apakah kita akan berpegang kepada Al-Quran yang ada dalam dada Ali bin Abi Thalib yang kata Nabi Al-Quran akan selalu bersama Ali dimanapun Ali berada? Kepada Al-Quran dan sahabat yang mana kita harus berpegang?.
Catatan: Saya tidak bermaksud mengatakan Al-Quran lebih dari satu, yang saya maksud adalah corak penafsirannya. Saya hanya ingin menandaskan tentang ketidak benaran orang2 yang berpendapat bahwa karena para sahabat bergaul dan hidup dengan Nabi maka di antara mereka tidak ada perbedaan dalam hal pemikiran, penafsiran dan cara pandang terhadap Islam.
#30. Dikirim oleh Fatur rafael pada 10/02 08:20 AM
Kabayanis menulis; mohon maaf mas fatur.... jika kami meminjam anda sebagai korban dari literalisasi Al-Qur’an… sehingga hanya untuk ber “syahadah” (tidak hanya baca kitab al-Qur’an saja)harus merujuk kepada sahabat nabi atau ulama yang ini atau yang itu.... pendek kata ketika ayat pertama diwahyukan kepada rasululloh tak secuilpun perintah baca tulisan, walau ulama dan ahli kitab menerjemahkan “IQRO” hanya dengan arti “bacalah’ yang merujuk hanya kepada baca tulisan. Yang jelas tak termaktub sedikit pun untaian ayat pertama yang diturunkan via malaikat jibril dalam bentuk untaian tulisan. Dan jika kita mau ber-hanif ria dengan didukung kesabaran.... maka serta merta kita akan terbimbing bahwa perintah “IQRO” bukanlah semata-mata diartikan baca tulisan.... Tetapi mau gimana lagi… rentang waktu pembiasan Al-Qur’an oleh penganut budaya literal telah sedemikian massive. Seakan tidak sah jika seseorang mengetahui dan bersyahadah kepada Al-Qur’an kalo tidak melalui baca “Kitab Al-Qur’an” terlebih dahulu. Sungguh tepat dalam salah satu ayat diterangkan bahwa ayat2 Alloh akan terpampang di segenap ufuk dan dalam diri manusia itu sendiri sehingga dengan demikian maka diketahuilah Bahwa “AL-QUR’AN” adalah benar..... fakta nyatanya adalah sebagaimana dirasakan atau dialami oleh orang warga indonesia yang sangat beruntung, yaitu almarhum bapak Muhtar Lubis ketika dengan seijin Alloh beliau disempatkan berjumpa dengan seorang ahli pertanian alami dari jepang yaitu tuan Masanobu Fukuoka.... pak muhtar lubis begitu tercengang ketika menyimak untaian hikmah dari mulut masanobu… karena substansi-nya berselaras dengan Al-Qur’an.... Padahal masanobu bukanlah muslim.... bahkan beliau mencerca semua agama yang diketahuinya… tetapi ketika ditanya oleh muhtar lubis apakah tahu didunia ini ada agama islam???… Masanobu berkata tidak mengetahuinya.... Bagaimana mungkin orang yang tak tahu ada agama islam tetapi dari lisannya terucap substansi Al-Qur’an??… jawabnya adalah karena Fenomena utuh Al-Qur’an awalnya bukanlah untaian tulisan… tetapi merupakan ayat Alloh yang terpampang di segenaf ufuk dan dalam kehidupan ummat manusia itu sendiri.... yang tak hanya melulu harus dibaca via kitab-kitab .... tetapi sejatinya dapat dengan mudah di"IQRO" di alam semesta ini sebagaimana dilakukan oleh masanobu sebagai ahli pertanian alami yang sumber ilmunya adalah alam raya ini termasuk fenomena manusia di dalamnya ....so ...mau bagaimana lagi???… kalo sekedar bangga dan sok benar hanya dengan bergantung dari makna tertulis???.... maka nikmatilah perbedaan penafsiran dari untaian makna tertulis yang ditulis “pasti” oleh seorang manusia yang tak mungkin terbebas dari subjektifitas ketika menuliskan untaian tulisan....dan akhirnya membiaskan fenomena utuh dari Al-Qur’an dan Dinul Islam itu sendiri. Maka Masanobu Fukuoka adalah contoh nyata di jaman mutakhir ini bahwa pengetahuan ttg Al-Qur’an tidak hanya dapat diperoleh melalui untaian tulisan saja .... Subhanalloh… Walhamdulillah Wallahu Akbar.....dengan demikian tinggallah kita ber “quantum leaf” ria.... jadikanlah untaian tulisan apapun hanyalah sebagai gerbang awal bagi kita dalam meraih pengetahuan hakiki dari suatu fenomena.... jangan sampai untaian tulisan itu membelenggu kita untuk menggapai pengetahuan lainnya yang tak bisa terjangkau hanya melalui langkah literalisasi.... Jikalau keberhasilan hidup manusia sejatinya harus bergantung kepada untaian tulisan!!!… niscaya Rasulullah yang UMMI adalah orang pertama yang kesekian yang akan tak berdaya dalam meraih sukses hidup di dunia ini… tetapi Subhanalloh ternyata sebaliknya… rasul secara tak terbantahkan Ke-UMMI-annya adalah seorang yang diutus untuk menyempurnakan Dinul Islam.... Wallahu ‘alam
#39. Dikirim oleh kabayanist pada 26/02 05:34 PM
Rafael menulis; Kang Kabayan yg baik, mungkin selamanya kita akan terus berbeda pendapat dan ini adalah sesuatu yg wajar2 saja. Pendapat saya bisa benar dan juga bisa salah, demikian juga dengan pendapat yg lainnya, di dunia ini memang tidak ada satupun pendapat yg tidak bisa di bantah oleh pendapat lainnya, jadi, tetaplah hanya Tuhan Allah dzat ingkang murbeng wiseso saja yg merupakan kebenaran mutlak dan abadi, Kita semua sebenarnya lemah, ringkih dan terbatas sehingga terus meraba2 dalam menggapai kebenaran yg hakiki. Oleh karena menyadari hal itu, saya kerap melazimkan istighfar, meminta pengampunan pd Tuhan atas segala pemikiran, perkataan dan perbuatan yg tidak sesuai dgn kebenaran yg di maksud Tuhan. Bukankah di dalam istighfar ada pengakuan bahwa kita lemah dan terbatas? Bukankah dalam istighfar ada ma’na tersirar tentang sebuah kepatuhan dan ketawadhu’an? Hasbunallah wani’mal wakiil.
Saya berharap mudah2an di suatu hari kelak kita bisa bersua di alam nyata, di alam nyata kita bisa berdialog dengan lebih jujur, terbuka dan bebas dari segala kepalsuan. Saya sering membayangkan duduk berhadapan dgn anda lalu kita berdialog, berdebat sekeras2nya atau berbicara tentang apapun sambil menyeruput kopi bersama, sesekali di iringi derai tawa riang. Ya, betapapun pendapat kita berbeda 417 drajat tp kita tidak harus memungkiri kalo kita sebenarnya adalah masih 1 keluarga besar dalam rumah tangga Tuhan yg sudah sepatutnya tetap saling mencintai, menghormati dan memaafkan. Mari kita saling memaafkan dalam hal2 yg kita tidak sepakat atasnya dan saling mendukung dan membantu dalam hal2 yg kita sepakati.
Ahir kata, saya ingin mengisahkan pada anda kang Kabayan, sebuah cerita tentang seorang Nabi yg bernama Ibrahim AS. Setiap hari, ketika Ibrahim akan makan pagi, terlebih dahulu mengundang orang2 untuk makan bersamanya. Di suatu pagi yg cerah, datang ke rumah Ibrahim seorang Majusi untuk ikut makan bersama Ibrahim, tetapi Ibrahim menolak orang Majusi itu dgn alasan apa yg di hidangkannya hanyalah untuk di makan oleh yg muslim2 dan hanif saja, akibat penolakan Ibrahim orang Majusi tersebut pulang dgn perasaan penuh kecewa. Selang beberapa saat, Tuhan menegur Ibrahim, wahai Ibrahim; apa hakmu menolak memberi makan Majusi itu? Bukankah Aku yg maha besar, maha kaya dan maha benar tidak pernah pilih kasih untuk memberi rizki pada siapapun tak terkecuali Majusi itu? Bukankah rizki yg ada padamu adalah Aku yg memberi? Mengapa hanya di monopoli untuk dirimu dan kaummu saja? Dengan kejadian itu, Ibrahim menjadi lebih terbuka dan tidak lagi memandang orang untuk diajak makan bersamanya. Atas kebenaran dan keabsahan cerita Ibrahim itu, terserah pada pilihan anda untuk mempercayainya atau tidak. Saya sendiri percaya kalau cerita itu adalah benar dan pernah terjadi.
#40. Dikirim oleh Fatur rafael pada 28/02 09:47 AM
Kabayanis menulis; Pertama kabayan mohon maaf.... kabayan sadar sepenuhnya bahwa apapun takwil dan tafsir dari semua wacana di forum ini ....sejatinya ditulis oleh seorang manusia “siapun dia” pasti mempunyai subyektifitas.... maka sejujurnya kabayan tak ingin ada yang mempercayai dan menshahihkan untaian tulisan yang dirilis kabayan… kalo tanpa tabayyun kepada fenomena utuhnya di alam nyata.... Keterbatasan untaian tulisan inilah yang sejatinya ingin kabayan wanti-wantikan.... jangan sampai kita keliru melihat fenomena “kera” akibat orang sunda menuliskanya dengan untaian kata “lutung"… orang jawa dengan untaian kata “ketek” dan orang inggris menuliskan kata “monkey”. padahal digunjingkan sehebat apapun… didebat-kusirkan semalam suntuk pun… si kera adalah kera yang dapat kita “IQRO” fenomenanya secara utuh di alam nyata.... dan bahkan mungkin dia sedang terbahak-bahak menertawakan manusia seperti kita gara2 mempermasalahkan suatu untaian tulisan tentang dirinya… akibat adanya perbedaan ungkapan literal semata.... pingin tahu kera sesungguhnya mah tinggal lihat bersama-sama di alam nyatanya dengan segala panca indra walaupun tidak dijelmakan secara literal-pun ternyata sang kera adalah sang kera itu sendiri.... semoga semua ini adalah ibroh terhadap Agungnya Sunatullah atas ke-UMMI-an Rasululloh yang tak perlu lagi ditafsiri dengan pemaknaan “Buta Huruf” tetapi lebih tepat jika dimaknai sebagai “suatu kecerdasan manusia yang tidak sepenuhnya bergantung pada budaya literal” karena untaian tulisan (literal) akan berpotensi melahirkan makna multi-interpretasi dengan efek globalnya adalah memecah-belah pemikiran ummat dan menjauhkannya dari ke-Rahmat-an Dinul Islam..... Wassalam
#41. Dikirim oleh kabayanist pada 02/03 06:20 PM
KOMENTAR TAMBAHAN
Setuju, Mas Fatur Rafael.
Tidak ada itu yang namanya Islam murni dan Islam sesat. Setiap individu yang mengaku Islam punya pemahaman sendiri tentang Islamnya, dan itu sunnatullah. Kenapa harus dipermasalahkan? Ada yang percaya Imama Mahdinya sudah datang dianggap sesat. Ada yang salat dengan bahasa jawa dianggap melenceng. Orang bebas memilih jalan yang dianggap paling pas dengan hatinya untuk bersama dengan Yang Maha Sempurna. Kalau memang sebuah metode tertentu dianggap paling bisa mendekatkan dirinya dengan Sang Pencipta, kenapa kita harus pusing? Itu kan urusan yang bersangkutan dengan Allah. Biarlah Allah saja yang menjadi hakim atas semuanya. Kita jangan sampai menyerobot jabatan Allah sebagai hakim.
#13. Dikirim oleh ariyanti palupi pada 29/01 02:44 PM
Mas Fatur Rafael,
Kalau saya pikir, kemungkinan hadis itu maksudnya adalah anjuran agar kita jangan sampai berlebihan dalam beragama. Menganggap pemahaman mayoritas tentang Islam sebagai satu-satunya Islam yang benar, apalagi kalau sampai mengatakan orang lain “sesat” karena sedikit berbeda dari anggapan arus utama itu tadi kok keliatan seperti tindakan yang berlebihan. Allah sendiri mengecam keras segala tindakan yang berlebihan, dan saya pikir beragama juga tidak luput dari hal ini. Jadi, yang hanya bisa mengamalkan 20% itu tadi kemungkinan adalah mereka-mereka yang tidak berlebihan dalam beragama. tentang apa yang dimaksud “berlebihan” itu sendiri saya rasa juga tergantung tiap individu yang datang dari berbagai latar belakang pengalaman hidup yang berbeda-beda. Saya teringat ucapan teman saya yang menganut aliran Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, bahwa semakin kita ngotot untuk mempertahankan keyakinan bahwa kita paling benar, dan yang lain salah, semakin kita jauh dari Yang Maha Sempurna, semakin kita melupakan esensi dari keberagamaan itu sendiri. Saya mengklaim diri saya sebagai seorang Muslim, tapi saya hanya bisa memaknai Islam berdasarkan pengalaman hidup saya yang bisa salah bisa juga benar. kita tidak akan pernah tahu mana Islam yang “murni” itu, kalau memang ada. kita hanya bisa tahu, Islam kita masing-masing, karena masing-masing individu tidak ada yang sama. kita diciptakan secara unik oleh Tuhan, Sang Maha Kreatif. Jadi alangkah anehnya kalau kita “menyesatkan” orang lain hanya karena mereka berusaha untuk jujur dengan keunikan mereka sendiri. Hanya pada Sang Maha Benarlah kebenaran mutlak itu berada. Kita dikaruniai akal dan hati dalam beragama, dan saya pikir meletakkan kebenaran agama di atas kehendak Allah untuk menjadikan agama itu sendiri sebagai rahmat bagi seluruh alam semesta kok agak absurd bagi saya. Tapi itulah pandangan saya, mungkin ada yang tidak setuju. tidak apa-apa. itulah hidup. Sudah kehendak Allah kayaknya.
Selamat ultah NU, semoga bertambah dewasa dalam menyikapi perbedaan, dan dapat membawa Islam ke arah yang mendewasakan, bukan meninabobokkan. Semoga Allah memberi pentunjuk.
#21. Dikirim oleh Ariyanti Palupi pada 02/02 10:59 AM
Kadang saya masih heran ada saja orang yang mengklaim 100% sesuai dan pas tak kurang dan tak lebih menjalankan islam seperti yang dijalankan Rasulullah dan hebatnya mereka mengklaim lagi langsung belajar dari Al Qur’an dan al hadist dan selalu mengesampingkan produk produk ulama sebagai sesuatu yang literal kata kabayanist. Mampukah kita dengan modal ilmu agama yang pas pasan menafsiri alquran dan alkhadist? Begitu angkuhkah kita mengesampingkan karya karya ulama sebelum kita yang notabene bersumber dari alquran dan alkhadist dengan cara kita langsung dari sumbernya yang masih mentah? Kalau hanya klaim-klaiman lalu siapa yang menilai bahwa kita yang paling pas dan sesuai dengan kanjeng nabi? Dan ternyata pula wahabian pun merujuk juga pada karangan karangan ulama cuman ulama ulama wahabi saja jadi apa bedanya?
Saya sangat setuju dengan pandangan mas fatur rafael dan tidak setuju dengan cara pandang kabayanist,bolehkan berbeda pendapat?
Akhirnya Selamat atas hari lahirnya NU semoga bisa menjadi benteng terhadap gempuran wahabi di indonesia dan tetap menjadikan islam rahmatan lil’alamin
#23. Dikirim oleh taufiq pada 03/02 03:22 PM
Mas Fatur
analoginya mungkin seperti ini :
andaikata Mas fatur rafael mau naik haji, jelas dong anda akan naik pesawat, cepat, praktis dan disesuaikan dengan masa kini, tapi ada orang yang bersikukuh beribadah sesuai dengan cara nabi persis 100 %, maka karena onta yang ada di indonesia tidak bisa berenang membawa dia ke mekkah, maka dia bersikukuh untuk menaikkan ontanya ikut naik pesawat menuju ke mekkah.
Mas fatur, berjalanlah terus.. tidak perlu konfirmasi dengan orang yang bersebrangan,karena tidak akan ketemu dan membuang energi,memang kita belum tentu benar dan orang lain yang bersebrangan belum tentu salah,tapi yang pasti diantaranya sudah berbeda persepsi, semoga kita semua termasuk dengan kawan2 kita yang berbeda dan bersebrangan secepatnya menemukan kebenaran.
#32. Dikirim oleh ardianto pada 13/02 01:12 PM
Kepada mas “kabayanist”,
kalau kita mau berkeras hati mengikuti setiap jengkal tindak tanduk nabi dan para sahabatnya dalam berislam yang kata mas kabayanist “murni” 100%, kok sepertinya kita akan hidup di jaman 1400 tahun yang lalu. Islam itu hidup, mas kabayanist, bukan benda mati yang bentuk dan rupanya sama dari abad ke abad. Kalau kita mau mengesampingkan pentingnya ide materialisme historis, termasuk dalam menelaah Islam, berarti kita telah menjadikan islam itu seperti batu. Keberadaan mahzab-mahzab atau pikiran-pikiran yang lahir untuk memahami Alquran tentu saja tidak bisa terhindarkan karena manusia dilahirkan dengan keunikan dan pengalaman hidup yang berbeda-beda, dalam masa-masa yang berbeda pula, dan itu semua akan mempengaruhi cara pandang manusia tersebut terhadap sesuatu, termasuk Alquran. Kalau mas Kabayanist mengandaikan adanya satu Islam saja yaitu islam “murni 100%” seperti kata mas Kabayanist, kok saya pikir kita seperti memaksakan untuk beranggapan bahwa setiap kepala yang ada di bumi ini diciptakan sama persis sebangun dan seruang oleh Allah, yang notabene tidak mungkin, karena sifatnya yang Maha Kreatif, Allah itu menciptakan setiap kepala tadi dengan keunikan yang luar biasa. jadi kalau mau menganggap kerja pemahaman setiap manusia ini bisa dan harus sama, jangan-jangan kita sudah bersikap angkuh tidak mau mengakui sunnatullah bahwa perbedaan-perbedaan itu ada dan akan selalu ada. Tinggal kita bagaimana menyikapi perbedaan-perbedaan tersebut tanpa menyebut pihak lain Islamnya cuma 30% hanya karena kita merasa Islam kita 100%. Bukan begitu, mas kabayanist?
#33. Dikirim oleh ariyanti palupi pada 13/02 10:30 PM
Damai di hati damai di bumi, damai dalam kasih Tuhan Allah Swt..KINGDOM of HEAVEN adalah blog yg mengedepankan persaudaraan lintas agama, suku maupun ras dan menghormati segala kecenderungan yg di anut oleh setiap orang. Jangan ada caci maki maupun kata-kata kotor di sini, mari kita ciptakan kerajaan sorga di dunia ini sebelum kita memasuki kerajaan sorga abadi yg sesungguhnya di ahirat kelak..Welcome to my Palace
Senin, 09 Maret 2009
Minggu, 22 Februari 2009
Tuhan masih mengasihi saya
Kawan-kawan, friend's, ikhwan...Tahukah kalian tempat di mana saya kini tinggal dan berpijak? Saya kini tinggal di pesantren, di sebuah tempat yang jauh dari bising kota dan keriuhan pesta manusia modern. Sunyi, senyap dan seperti tiada berperadaban. Gambaran alam di sini dengan letak geografis yang jalanannya menanjak terjal, menurun curam, sebelah sini tebing dan sebelah sana jurang. Jika malam menjelang tiada terdengar oleh telinga saya kecuali suara-suara aneh dari sejumlah binatang yang tak saya mengerti bentuk dan wujudnya, mata saya pun tidak dapat melihat apapun kecuali gelap, gelap dan gelap.
Kawan..persis di samping kamar yang biasa untuk saya istirah, berdiri dengan kokoh, garang, dan angkuh, tebing yang tinggi menjulang. Selalu ada rasa takut dalam hati ini karena ahir-ahir ini curah hujan intensitasnya begitu tinggi, tiada hari berlalu kecuali sang hujan selalu membasahi bumiku. Sering saya lihat butir-butir tanah dalam jumlah yang besar luruh dari atas tebing bersama derasnya air hujan, saya sebenarnya selalu tidak berani untuk berfikir terlalu jauh, tapi jika saya sedang merenung sendirian, tetap saja terlintas di fikiran "Andai jika tebing itu runtuh" lalu menimpa kamar saya ketika saya sedang berada di dalamnya, O my God, tamatlah riwayat hidupku. Tapi tidak, insya Allah, Tuhan yang maha kasih dan maha adil tidak akan memberhentikan hidup saya dengan cara setragis dan sekonyol itu. Amien.
Ada beberapa kawan yang kaget dengan keberadaan saya kini di sini, di tempat yang seolah-olah antah berantah ini. Mereka mengeluhkan susahnya berkomunikasi dengan saya. Email jarang di balas, SMS lama terkirim, suara telephon terputus-putus, kadang nyambung tapi dengan suara yang tidak jelas dan bikin sebal telinga. Saya juga tidak kalah bingung dengan kawan-kawan itu, di sini sinyal HP adalah sesuatu yang sangat susah di dapat, sinyal GPRS lebih parah lagi kondisinya, di sini tidak ada WARNET punya adik saya, tempat yang biasa saya duduk di dalamnya selama berjam-jam dua kali dalam seminggu, di sini tiada GRAMEDIA, tempat yang biasa saya kunjungi demi melipur dahaga kebodohan saya satu kali dalam seminggu, di sini tiada GRAGE MALL, tempat yang biasa untuk saya dan adik-adik saya berbelanja berbagai kebutuhan untuk di konsumsi pada bulan selanjutnya. Meski bingung dan tersiksa tapi saya selalu menyadari bahwa kedewasaan tidak akan di dapat kecuali setelah melalui bebagai ragam pengalaman hidup. Yah saya ada di sini dalam rangka proses pendewasaan diri sekaligus "Penuaan diri", mungkin.
Kawan..Saya adalah orang yang terbiasa berfikir kritis, bebas, namun tetap toleran pada beragam pendapat. Kini harus berkumpul di pesantren salaf (totok) dengan orang-orang yang berfikiran kolot dan fanatik yang tidak memandang kebenaran kecuali hanya ada pada tata cara mereka dalam hal ibadah pada Tuhan atau lainnya, akibatnya tiada hari saya habiskan kecuali untuk berdiskusi, berdialog dan berdebat memberi sedikit pengertian pada mereka bahwa di luar sana, walaupun mereka menjalani ibadah tidak seperti yang ada di sini tapi yang namanya kebenaran pasti akan tetap ada bersama mereka. Saya ma'lum, orang-orang di sini begitu fanatik terhadap apa yang mereka yakini karena mereka berhati-hati terhadap ajaran yang di anutnya dan semata-mata karena ingin kepatuhannya pada Tuhan tidak ternoda oleh apapun. Namun sayangnya, orang-orang yang berhati-hati dalam satu hal ternyata belum tentu berhati-hati dalam hal lainnya kaitannya dengan anggapan bahwa ibadah orang lain yang tidak sama dengan mereka adalah salah. Di sinilah letak ketidak sepakatan saya dengan mereka, saya menganggap tidak ada masalah dengan cara ibadah mereka tapi pada saat yang sama mereka kerap menyalahkan dan mencurigai tata cara ibadah saya yang sedikit berbeda dengan mereka.
Satu hal yang saya kagumi dari mereka adalah kebersahajaan mereka dalam menjalani hidup. Hidup apa adanya tanpa hiburan yang muluk-muluk seperti adat masyarakat kota, tidak ada anak-anak kecil yang riuh membicarakan PS yang baru saja di mainkan seperti kerap saya jumpai pada celoteh anak-anak perkotaan, masyarakat sini seolah-olah menjalani hari-hari yang begitu monoton dan membosankan tapi tetap tiada melupakan rasa syukur pada Tuhan Pencipta alam.
Kawan..Tuhan masih mengasihi saya, karena betapapun sulit ku bayangkan hidup mereka, tapi masih ada orang yang berjiwa malaikat yang tanpa bosan menanggung makan sehari-hari untuk saya walaupun dengan menu sangat sederhana dan seadanya. Jika anda ada di sini jangan pernah anda membayangkan akan menemukan burger, pizza, atau jenis makanan aneh lainnya yang mudah di dapatkan di kota. Saya mengenal beberapa jenis makanan di sini dengan nama yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya yang merupakan simbol dari kebersahajaan masyarakat di sini. Pernahkah anda mendengar jenis makanan yang bernama ONDOL, OBANG ABING atau SIMPRING kawan? Tentu belum pernah mendengar bukan? Pernahkah anda makan sup yang sayurnya terbuat dari batang pohon kelapa? Jika belum berarti dalam hal makanan ternyata saya lebih maju daripada anda kawan, sebab selain makanan antah berantah itu sayapun pernah merasakan berbagai macam makanan modern yang pernah ada.
Satu lagi cerita yang ingin saya kabarkan pada anda kawan, anda pernah mendengar sebutan KIYAI bukan? Nah, inilah pangkal dari semua kerisauan saya. Para santri dan masyarakat di sini meski tidak sampai pada taraf menTUHANkan kiyai, tapi tindak tanduk terhadapnya sangat jauh berbeda di banding jika dengan tindak tanduk terhadap orang biasa sekalipun umurnya begitu tua. Bagi saya, menghormati kyai karena dia adalah orang yang punya kelebihan agama adalah wajar dan sah-sah saja, namun jika harus tunduk dan pasrah secara total tanpa kita dapat membantahnya, tidak boleh berbicara sebelum kiyai bicara dulu, harus duduk di lantai sementara kyai dengan santai duduk di atas kursi, tidak boleh ada yang berkhotbah di mimbarnya kecuali dirinya dan jenis-jenis aturan yang lainnya yang menggambarkan pada kepatuhan total padanya, hal-hal seperti ini yang tidak bisa saya terima. Jangankan terhadap sesama manusia, terhadap Tuhanpun sebetulnya manusia tidak di haruskan untuk patuh secara total, adalah wajar jika sesekali kita membangkang atau berdosa asal setelah itu kita bersimpuh kembali di hadapan kemahabesarannya, bukankah dalam sebuah Hadits Qudsi Tuhan berfirman; lau lam tudznibuu ladzahaballahu bikum, waja-a biqoumin yudznibuun. Jika sekiranya kalian sama sekali tidak pernah berdosa, maka Aku (Tuhan) akan memusnahkan kalian dan menggantinya dengan kaum yang berdosa. Usut punya usut ternyata rintihan taubat orang-orang yang berdosa, begitu merdu terdengar di telinga Tuhan.
Kawan..persis di samping kamar yang biasa untuk saya istirah, berdiri dengan kokoh, garang, dan angkuh, tebing yang tinggi menjulang. Selalu ada rasa takut dalam hati ini karena ahir-ahir ini curah hujan intensitasnya begitu tinggi, tiada hari berlalu kecuali sang hujan selalu membasahi bumiku. Sering saya lihat butir-butir tanah dalam jumlah yang besar luruh dari atas tebing bersama derasnya air hujan, saya sebenarnya selalu tidak berani untuk berfikir terlalu jauh, tapi jika saya sedang merenung sendirian, tetap saja terlintas di fikiran "Andai jika tebing itu runtuh" lalu menimpa kamar saya ketika saya sedang berada di dalamnya, O my God, tamatlah riwayat hidupku. Tapi tidak, insya Allah, Tuhan yang maha kasih dan maha adil tidak akan memberhentikan hidup saya dengan cara setragis dan sekonyol itu. Amien.
Ada beberapa kawan yang kaget dengan keberadaan saya kini di sini, di tempat yang seolah-olah antah berantah ini. Mereka mengeluhkan susahnya berkomunikasi dengan saya. Email jarang di balas, SMS lama terkirim, suara telephon terputus-putus, kadang nyambung tapi dengan suara yang tidak jelas dan bikin sebal telinga. Saya juga tidak kalah bingung dengan kawan-kawan itu, di sini sinyal HP adalah sesuatu yang sangat susah di dapat, sinyal GPRS lebih parah lagi kondisinya, di sini tidak ada WARNET punya adik saya, tempat yang biasa saya duduk di dalamnya selama berjam-jam dua kali dalam seminggu, di sini tiada GRAMEDIA, tempat yang biasa saya kunjungi demi melipur dahaga kebodohan saya satu kali dalam seminggu, di sini tiada GRAGE MALL, tempat yang biasa untuk saya dan adik-adik saya berbelanja berbagai kebutuhan untuk di konsumsi pada bulan selanjutnya. Meski bingung dan tersiksa tapi saya selalu menyadari bahwa kedewasaan tidak akan di dapat kecuali setelah melalui bebagai ragam pengalaman hidup. Yah saya ada di sini dalam rangka proses pendewasaan diri sekaligus "Penuaan diri", mungkin.
Kawan..Saya adalah orang yang terbiasa berfikir kritis, bebas, namun tetap toleran pada beragam pendapat. Kini harus berkumpul di pesantren salaf (totok) dengan orang-orang yang berfikiran kolot dan fanatik yang tidak memandang kebenaran kecuali hanya ada pada tata cara mereka dalam hal ibadah pada Tuhan atau lainnya, akibatnya tiada hari saya habiskan kecuali untuk berdiskusi, berdialog dan berdebat memberi sedikit pengertian pada mereka bahwa di luar sana, walaupun mereka menjalani ibadah tidak seperti yang ada di sini tapi yang namanya kebenaran pasti akan tetap ada bersama mereka. Saya ma'lum, orang-orang di sini begitu fanatik terhadap apa yang mereka yakini karena mereka berhati-hati terhadap ajaran yang di anutnya dan semata-mata karena ingin kepatuhannya pada Tuhan tidak ternoda oleh apapun. Namun sayangnya, orang-orang yang berhati-hati dalam satu hal ternyata belum tentu berhati-hati dalam hal lainnya kaitannya dengan anggapan bahwa ibadah orang lain yang tidak sama dengan mereka adalah salah. Di sinilah letak ketidak sepakatan saya dengan mereka, saya menganggap tidak ada masalah dengan cara ibadah mereka tapi pada saat yang sama mereka kerap menyalahkan dan mencurigai tata cara ibadah saya yang sedikit berbeda dengan mereka.
Satu hal yang saya kagumi dari mereka adalah kebersahajaan mereka dalam menjalani hidup. Hidup apa adanya tanpa hiburan yang muluk-muluk seperti adat masyarakat kota, tidak ada anak-anak kecil yang riuh membicarakan PS yang baru saja di mainkan seperti kerap saya jumpai pada celoteh anak-anak perkotaan, masyarakat sini seolah-olah menjalani hari-hari yang begitu monoton dan membosankan tapi tetap tiada melupakan rasa syukur pada Tuhan Pencipta alam.
Kawan..Tuhan masih mengasihi saya, karena betapapun sulit ku bayangkan hidup mereka, tapi masih ada orang yang berjiwa malaikat yang tanpa bosan menanggung makan sehari-hari untuk saya walaupun dengan menu sangat sederhana dan seadanya. Jika anda ada di sini jangan pernah anda membayangkan akan menemukan burger, pizza, atau jenis makanan aneh lainnya yang mudah di dapatkan di kota. Saya mengenal beberapa jenis makanan di sini dengan nama yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya yang merupakan simbol dari kebersahajaan masyarakat di sini. Pernahkah anda mendengar jenis makanan yang bernama ONDOL, OBANG ABING atau SIMPRING kawan? Tentu belum pernah mendengar bukan? Pernahkah anda makan sup yang sayurnya terbuat dari batang pohon kelapa? Jika belum berarti dalam hal makanan ternyata saya lebih maju daripada anda kawan, sebab selain makanan antah berantah itu sayapun pernah merasakan berbagai macam makanan modern yang pernah ada.
Satu lagi cerita yang ingin saya kabarkan pada anda kawan, anda pernah mendengar sebutan KIYAI bukan? Nah, inilah pangkal dari semua kerisauan saya. Para santri dan masyarakat di sini meski tidak sampai pada taraf menTUHANkan kiyai, tapi tindak tanduk terhadapnya sangat jauh berbeda di banding jika dengan tindak tanduk terhadap orang biasa sekalipun umurnya begitu tua. Bagi saya, menghormati kyai karena dia adalah orang yang punya kelebihan agama adalah wajar dan sah-sah saja, namun jika harus tunduk dan pasrah secara total tanpa kita dapat membantahnya, tidak boleh berbicara sebelum kiyai bicara dulu, harus duduk di lantai sementara kyai dengan santai duduk di atas kursi, tidak boleh ada yang berkhotbah di mimbarnya kecuali dirinya dan jenis-jenis aturan yang lainnya yang menggambarkan pada kepatuhan total padanya, hal-hal seperti ini yang tidak bisa saya terima. Jangankan terhadap sesama manusia, terhadap Tuhanpun sebetulnya manusia tidak di haruskan untuk patuh secara total, adalah wajar jika sesekali kita membangkang atau berdosa asal setelah itu kita bersimpuh kembali di hadapan kemahabesarannya, bukankah dalam sebuah Hadits Qudsi Tuhan berfirman; lau lam tudznibuu ladzahaballahu bikum, waja-a biqoumin yudznibuun. Jika sekiranya kalian sama sekali tidak pernah berdosa, maka Aku (Tuhan) akan memusnahkan kalian dan menggantinya dengan kaum yang berdosa. Usut punya usut ternyata rintihan taubat orang-orang yang berdosa, begitu merdu terdengar di telinga Tuhan.
Senin, 16 Februari 2009
Nasib Al-Quran pada zaman ini
'An Ibn 'Umar RDA; qöla Rasulullahi SAW, inna hadzihil qulub tashda-u kama yashda-ul-hadidu idza ashabahul-maa', qiila ya Rasulallah wamaa jilaa-uha? Qoola; katsrotu dzikrul-maut wa tilawatul-Qur'an.
Dari Abdullah bin Umar ra, meriwayatkan, "Sesungguhnya hati ini dapat berkarat sebagaimana berkaratnya besi bila terkena air."Rasul di tanya, wahai Rasulallah, bagaimana cara membersihkannya? Rasul menjawab, perbanyaklah mengingat mati dan baca Al-Quran. (HR Baihaqi)
Bertumpuknya dosa pada manusia dan lalai dari mengingat kemahabesaran Tuhan bisa menjadi sebab berkaratnya hati sebagaimana besi jika terkena air. Maka untuk membersihkan segala karat yang ada di hati bisa di lakukan dengan cara banyak mengingat mati dan membaca Al-Quran. Hati ibarat kaca, semakin sering di bersihkan, hati akan semakin bersinar dan mudah menerima segala kebaikan dan kebenaran.
Sebaliknya, jika manusia tetap terkungkung dalam lingkaran nafsu dan perbuatan-perbuatan tercela, maka akan semakin jauh dari Tuhan dan rahmatnya. Berkaitan dengan pembersihan hati, banyak di antara guru sufi yang mengarahkan murid-muridnya supaya menggunakan waktu sebaik-baiknya dengan berzuhud dan memperbanyak baca Al-Quran dan mentadabburi ma'na yang terkandung di dalamnya.
Di sebutkan dalam suatu hadits, jika seseorang melakukan sebuah dosa, maka akan tertitik di hatinya satu noda hitam, jika seseorang itu bertaubat, titik hitam akan sirna, tetapi jika orang itu melakukan dosa kedua, noda hitam akan bertambah, apabila dosa terus di lakukan noda yang tadinya sedikit akan bertambah banyak dan pada puncaknya hati akan menjadi hitam kelam. Seseorang, jika hatinya sudah begitu kelam akan sulit untuk cenderung pada kebaikan dan akan tertutup baginya segala kebenaran.
Berkenaan dengan hal ini Tuhan berfirman; "Kallä, bal räna 'ala qulübihim mä känü yaksibün."Sekali-kali tidak, sebenarnya apa yang telah mereka perbuat telah menjadikan karat pada hati mereka. (Q surah Al-Muthaffifin ayat 14).
Nabi suci Muhammad SAAW bersabda, "Saya tinggalkan untuk kalian dua nasihat; satu yang berbicara dan satu lagi yang diam. Yang berbicara adalah Al-Quran dan yang hanya diam adalah mengingat mati."Orang yang cenderung pada kebenaran sudah barang tentu akan dengan senang hati menerima nasihat ini, akan tetapi orang-orang yang menganggap bahwa agama tidaklah penting dan berguna maka dia akan mengabaikan nasihat seperti ini yang di anggapnya sebagai sesuatu yang tidak masuk akal.
Generasi Islam pada zaman sahabat, tabiin dan tabi' tabi'in meyakini bahwa Al-Quran adalah firman Tuhan yang sebagiannya berisi tentang perintah, mereka membacanya sepanjang malam dan memikirkannya, kemudian di ejawantahkan dalam hidup sehari-hari. Sedangkan pada masa sekarang, walaupun masih banyak orang mempelajari Al-Quran tapi hanya sebatas pada huruf-hurufnya saja, syiar Al-Quran memang masih terus bergaung tetapi hanya sebatas untuk MTQ. Generasi Islam sekarang sudah begitu banyak yang tidak lagi menganggap Al-Quran sebagai landasan hidup yang akan bisa memberi kebahagiaan dan keselamatan bagi mereka.
Al-Quran hanya menjadi pajangan usang ruang tamu, terasa berat bagi tangan mereka untuk mengambilnya terlebih membuka dan membacanya. Sinyal dari Nabi yang mengisyaratkan bahwa di ahir zaman kelak agama hanya tinggal nama dan Al-Quran hanya tinggal tulisan nampaknya akan segera terbukti.
Dari Abdullah bin Umar ra, meriwayatkan, "Sesungguhnya hati ini dapat berkarat sebagaimana berkaratnya besi bila terkena air."Rasul di tanya, wahai Rasulallah, bagaimana cara membersihkannya? Rasul menjawab, perbanyaklah mengingat mati dan baca Al-Quran. (HR Baihaqi)
Bertumpuknya dosa pada manusia dan lalai dari mengingat kemahabesaran Tuhan bisa menjadi sebab berkaratnya hati sebagaimana besi jika terkena air. Maka untuk membersihkan segala karat yang ada di hati bisa di lakukan dengan cara banyak mengingat mati dan membaca Al-Quran. Hati ibarat kaca, semakin sering di bersihkan, hati akan semakin bersinar dan mudah menerima segala kebaikan dan kebenaran.
Sebaliknya, jika manusia tetap terkungkung dalam lingkaran nafsu dan perbuatan-perbuatan tercela, maka akan semakin jauh dari Tuhan dan rahmatnya. Berkaitan dengan pembersihan hati, banyak di antara guru sufi yang mengarahkan murid-muridnya supaya menggunakan waktu sebaik-baiknya dengan berzuhud dan memperbanyak baca Al-Quran dan mentadabburi ma'na yang terkandung di dalamnya.
Di sebutkan dalam suatu hadits, jika seseorang melakukan sebuah dosa, maka akan tertitik di hatinya satu noda hitam, jika seseorang itu bertaubat, titik hitam akan sirna, tetapi jika orang itu melakukan dosa kedua, noda hitam akan bertambah, apabila dosa terus di lakukan noda yang tadinya sedikit akan bertambah banyak dan pada puncaknya hati akan menjadi hitam kelam. Seseorang, jika hatinya sudah begitu kelam akan sulit untuk cenderung pada kebaikan dan akan tertutup baginya segala kebenaran.
Berkenaan dengan hal ini Tuhan berfirman; "Kallä, bal räna 'ala qulübihim mä känü yaksibün."Sekali-kali tidak, sebenarnya apa yang telah mereka perbuat telah menjadikan karat pada hati mereka. (Q surah Al-Muthaffifin ayat 14).
Nabi suci Muhammad SAAW bersabda, "Saya tinggalkan untuk kalian dua nasihat; satu yang berbicara dan satu lagi yang diam. Yang berbicara adalah Al-Quran dan yang hanya diam adalah mengingat mati."Orang yang cenderung pada kebenaran sudah barang tentu akan dengan senang hati menerima nasihat ini, akan tetapi orang-orang yang menganggap bahwa agama tidaklah penting dan berguna maka dia akan mengabaikan nasihat seperti ini yang di anggapnya sebagai sesuatu yang tidak masuk akal.
Generasi Islam pada zaman sahabat, tabiin dan tabi' tabi'in meyakini bahwa Al-Quran adalah firman Tuhan yang sebagiannya berisi tentang perintah, mereka membacanya sepanjang malam dan memikirkannya, kemudian di ejawantahkan dalam hidup sehari-hari. Sedangkan pada masa sekarang, walaupun masih banyak orang mempelajari Al-Quran tapi hanya sebatas pada huruf-hurufnya saja, syiar Al-Quran memang masih terus bergaung tetapi hanya sebatas untuk MTQ. Generasi Islam sekarang sudah begitu banyak yang tidak lagi menganggap Al-Quran sebagai landasan hidup yang akan bisa memberi kebahagiaan dan keselamatan bagi mereka.
Al-Quran hanya menjadi pajangan usang ruang tamu, terasa berat bagi tangan mereka untuk mengambilnya terlebih membuka dan membacanya. Sinyal dari Nabi yang mengisyaratkan bahwa di ahir zaman kelak agama hanya tinggal nama dan Al-Quran hanya tinggal tulisan nampaknya akan segera terbukti.
Selasa, 10 Februari 2009
Lonceng di masjid itu..
Tak terasa malam kini telah begitu larut.
Lonceng di masjid itu membunyikan suaranya dua kali, teng..teng.. berarti waktu telah menunjukkan pukul dua dini hari.
Tanpa sadar, berarti diri telah berkelana di dunia maya lebih dari enam jam. Yah enam jam yang begitu melelahkan, mengarungi dunia yang seolah tanpa batas, melewati berbagai kecamuk gagasan yang tak terkendali, menghadiri ide-ide yang mengganas buas, menyambangi segala teriakan keputus asaan yang menista sukma.
Ada mata yang mengunang nanar, taring yang menyeringai, gigi yang gemeretak, tangan yang mengejang terkepal, dada yang mendidih gemuruh, hati yang teraduk tercabik.
Hingar bingar itu terus membahana lantang di telinga jiwa, menyatu padu dalam derap tak berirama. entahlah, diri terasa sedang berada di tengah peperangan, perang melawan ketiadaan, perang melawan kehampaan, perang melawan segala kegalauan.
Lonceng di masjid itu kini terdengar begitu letih, letih memberitahu manusia bahwa waktu kan terus beranjak, betapapun manusia tetap diam tiada peduli.
Lonceng di masjid itu telah lama menghiasi malam-malamku yang sepi, menjadi teman setiaku dalam merajut rasa, melamun asa, memendam cita.
Lonceng di masjid itu selalu tegar berdiri di tepian masa, tak pudar meski matahari tak lagi berpendar, bulan tak lagi bersinar, suara adzan tak lagi terdengar.
Lonceng di masjid itu membunyikan suaranya dua kali, teng..teng.. berarti waktu telah menunjukkan pukul dua dini hari.
Tanpa sadar, berarti diri telah berkelana di dunia maya lebih dari enam jam. Yah enam jam yang begitu melelahkan, mengarungi dunia yang seolah tanpa batas, melewati berbagai kecamuk gagasan yang tak terkendali, menghadiri ide-ide yang mengganas buas, menyambangi segala teriakan keputus asaan yang menista sukma.
Ada mata yang mengunang nanar, taring yang menyeringai, gigi yang gemeretak, tangan yang mengejang terkepal, dada yang mendidih gemuruh, hati yang teraduk tercabik.
Hingar bingar itu terus membahana lantang di telinga jiwa, menyatu padu dalam derap tak berirama. entahlah, diri terasa sedang berada di tengah peperangan, perang melawan ketiadaan, perang melawan kehampaan, perang melawan segala kegalauan.
Lonceng di masjid itu kini terdengar begitu letih, letih memberitahu manusia bahwa waktu kan terus beranjak, betapapun manusia tetap diam tiada peduli.
Lonceng di masjid itu telah lama menghiasi malam-malamku yang sepi, menjadi teman setiaku dalam merajut rasa, melamun asa, memendam cita.
Lonceng di masjid itu selalu tegar berdiri di tepian masa, tak pudar meski matahari tak lagi berpendar, bulan tak lagi bersinar, suara adzan tak lagi terdengar.
Jumat, 06 Februari 2009
MUI, kita ngrokok bareng yuk!
Hari-hari ini di manapun tempat di Indonesia hampir semua orang membicarakan tentang fatwa haramnya rokok yang di keluarkan oleh MUI. saya menyaksikannya di kedai-kedai kopi, di angkot, di jalanan atau di manapun saja. Anehnya, mereka membicarakan fatwa haramnya rokok itu sambil menghisap rokoknya masing-masing, nampaknya mereka begitu asyik menikmati rokok-rokok itu. Saya juga sempat melihat seorang pemuda di antara kerumunan teman-temannya, dengan berapi-api membicarakan fatwa haram rokok sambil menghisap dalam-dalam rokoknya dan menghembuskan asapnya membentuk bulatan-bulatan kecil. Kesimpulan dari apa yang saya saksikan adalah, semuanya kurang setuju dengan fatwa haram MUI. Mereka, seperti juga kebanyakan yang lainnya tetap menganggap rokok sebagai sesuatu yang makruh saja hukumnya. Dengan gaya bicara yang cuek dan nyinyir mereka tidak menghiraukan bahkan terkesan menyepelekan fatwa haram MUI.
Sebetulnya, perdebatan tentang hukum rokok bukanlah kali ini saja terjadi, para ahli agama (Islam) dari dulu sampai sekarang tetap berbeda pendapat tentang masalah hukumnya, tapi kebanyakan mereka menghukumi rokok dalam dua kategori, makruh dan haram. Selain dari hukum yang dua itu saya belum pernah mengetahui lagi hukum yang lainnya, saya juga tidak tahu kalau misal di tempat-tempat yang jauh di zaman sekarang atau suatu hari nanti akan ada ulama yang menghukuminya wajib ataupun sunnah. Bagi saya, rokok adalah termasuk di antara masalah hukum yang tak kan pernah selesai sampai kapanpun di sebabkan tidak ada dalil di dalam Al-Quran maupun Hadits yang memberikan kepastian hukumnya.
Terlebih dahulu ingin saya katakan, bahwa saya adalah termasuk di antara orang yang tidak sepakat dengan apapun fatwa MUI, teristimewa dengan masalah rokok dan golput, tetapi, sebagai orang yang menyukai pemikiran liberal dan toleran saya tetap menghormati fatwa MUI itu sebagai bagian dari corak keberagaman pemikiran dalam lingkungan Islam, saya hanya menganggap MUI sedang bercanda dengan fatwa haramnya itu sebagai bentuk escapisme psikologis MUI dari derasnya badai kritik yang selama ini menghantam mereka.
Sebagaimana telah saya singgung diatas, para ulama berbeda dalam menentukan hukum rokok di antara makruh dan haram. Ulama yang menganggap makruh hukum rokok mengacu pada hadits-hadits yang berhubungan dengan makanan yang menimbulkan bau tidak sedap dan bisa mengganggu orang lain seperti bawang merah dan bawang putih. Bawang merah dan bawang putih adalah makanan yang tidak di sukai Rasulullah tapi beliau tidak sampai mengharamkannya. Beliau hanya menyuruh orang yang makan bawang merah maupun putih untuk membersihkan mulutnya lebih dahulu sebelum masuk ke masjid supaya tidak mengganggu ibadah jamaah yang lain. Para ulama meng-qiyaskan hukum makruh pada rokok dengan bawang mungkin di sebabkan karena kemiripan keduanya yang bisa menyebabkan gangguan terhadap banyak orang. Jika bawang di sebabkan baunya maka rokok di sebabkan oleh asapnya. Sedangkan ulama yang menganggap rokok haram biasanya di dasarkan pada manfaat dan madhorot yang di timbulkan olehnya, menurut ulama yang mengharamkan; rokok di haramkan karena efeknya yang berbahaya pada tubuh manusia, sesuatu yang di anggap membahayakan tubuh di haramkan agama karena ada ayat Quran yang berbunyi; wala tulqu biadikum ilat-tahlukah, jangan kalian menjerumuskan diri kepada kehancuran.
Sekarang mari kita sedikit menela'ah dan mengkritik mereka yang menghukumi rokok dengan predikat haram, sengaja saya tidak menelaah ataupun mengkritik mereka yang menganggap hukum rokok sebagai sesuatu yang makruh karena mungkin itulah hukum yang paling pas untuk masalah rokok, walaupun secara pribadi saya menganggap hukum rokok sebagai mubah saja, berdasar kaidah; al-ashl fil-asy-ya' al-ibahah, pada asalnya hukum segala sesuatu itu adalah mubah. Memang, hukum segala sesuatu adalah mubah jika tidak ada nash yang pasti dan qoth'i dalam Quran maupun Hadits tentang haram atau makruhnya.
Sebagai bahan renungan, saya akan mengutip Hadits Nabi yang berbunyi; ma ahal-lal-lahu fi kitabihi fa-huwa halalun, wa-ma har-rama fa-huwa haramun, wa-ma sakata 'an-hu fa-huwa 'afiah, fa-aqbalu minal-lahil-'afiah, fa-innal-laha lam yakun nasiyya, tsum-ma tala hadzi-hil-ayah; wa-ma kana rabbuka nasiyya, "Apa yang di halalkan Allah dalam kitabnya maka dia adalah halal, dan apa yang di haramkan maka dia adalah haram, sedangkan apa yang di diamkan tentangnya (tidak ada hukumnya) maka dia adalah yang di maafkan, maka terimalah pemafaan dari Allah, sesungguhnya Allah tidak pernah lupa, lalu Nabi membaca ayat: dan tidaklah Tuhanmu lupa (Q : S Maryam : 64)
Berdasarkan hadits di atas, ada 3 hukum yang bisa kita ambil untuk di jadikan pedoman. 1) adalah halal apa yang di halalkan oleh kitab Tuhan sampai kapanpun juga. 2) adalah haram apa yang di haramkan oleh kitab Tuhan sampai kapanpun juga. 3). Sesuatu yang tidak ada hukum tentangnya atau "daerah kemaafan.
Pada ahirnya akan terang benderanglah segala sesuatu jika kita melihat hadits di atas. Rokok adalah sesuatu yang tidak pernah di sebut di dalam kitab Tuhan, secara pasti berarti rokok termasuk dalam lingkaran yang berada di "Daerah kemaafan" yang Tuhan tidak pernah lupa dan akan mengetahui bahwa di suatu hari kelak akan ada sesuatu yang bernama rokok, karena Tuhan mengetahui segala sesuatu hatta tentang sesuatu yang belum dan akan terjadi tentu Tuhan akan dengan jelas mengharamkan hukum rokok dalam kitabnya jika memang rokok adalah haram.
Apakah yang di maksud "Daerah kemaafan"? Daerah kemaafan adalah merupakan ladang yang di berikan Tuhan bagi para ulama untuk mengadakan ijtihadnya masing-masing, terhadap hukum yang belum jelas halal dan haramnya dalam kitab Tuhan. siapapun, termasuk MUI, di berikan kebebasan untuk mengekspresikan pemikirannya berkaitan dengan hukum segala sesuatu yang kini berkembang, tetapi yang perlu di ingat adalah, kesimpulan dari ijtihad tidak boleh berujung pada hukum halal atau haram, karena sekali lagi, baik halal maupun haram adalah sesuatu yang sangat jelas ada dalam kitab Tuhan.
Permasalahan hukum rokok mulai timbul ketika ilmu kedokteran sudah sedemikian maju, banyak di antara dokter yang memberikan keterangan tentang bahaya penyakit yang di akibatkan asap rokok, di antaranya adalah penyakit paru-paru, jantung dan lainnya, tetapi apakah betul bahwa keterangan para dokter itu merupakan kemufakatan mutlak seluruh dokter? Saya menjawabnya; tidak! Kenapa? Izinkan saya menceritakan dulu pengalaman saya ketika saya berkonsultasi dengan seorang dokter yang spesialisasinya mendiagnosa dan mengobati penyakit dalam. Ketika saya datang ke tempat prakteknya, saya lihat dokter itu sedang merokok dan beberapa saat setelah habis dia mengambil lagi sebatang rokok baru untuk di nyalakan lagi. Saya heran dan bertanya padanya; dokter, saya lihat dari tadi anda tidak berhenti merokok, padahal sebagai dokter anda tentu mafhum kalau merokok itu akan mengakibatkan paru-paru menjadi hancur di samping penyakit-penyakit yang lainnya, terlebih lagi bukankah agama mengharamkan sesuatu yang akan berbahaya bagi tubuh? Dokter itu menjawab; Oh tidak betul juga itu, yang namanya penyakit tidak bisa di deteksi gejalanya oleh apa dan darimana, penyakit datangnya langsung dari Tuhan. Buktinya, saya sudah banyak mendiagnosa pasien yang paru-parunya rusak parah padahal mereka tidak merokok, saya juga banyak mendiagnosa pasien yang paru-parunya bersih padahal mereka adalah perokok kelas berat, dokter melanjutkan kata-katanya, contohnya seperti saya sendiri, saya ini adalah perokok kelas berat tapi paru-paru saya fine-fine saja, ok lah jika memang paru-paru yang rusak itu di sebabkan oleh rokok tapi itu bukanlah deteksi dari teori medis, itu hanya anggapan umum sebagian dokter saja. Dokter menyambung lagi; saya katakan pada anda tentang teori medis, anda tahu penyakit kangker kulit? Saya menjawab, iya. Nah, secara teori medis penyakit kangker kulit di sebabkan karena tubuh yang terkena sinar matahari secara langsung dan terus menerus, jika demikian, seharusnya banyak diantara petani kita yang terkena kangker kulit, para petani itu setiap hari terpanggang di bawah terik sinar matahari secara langsung, tapi belum pernah sekalipun saya mendengar atau melihat mereka terkena kangker kulit, mereka tetap segar bugar. Jadi, biar hukum itu adil, ketika merokok di haramkan, bertani juga harusnya di haramkan dong? sebab, secara teori medis kedua-duanya sangat berbahaya bagi tubuh.
Dialog antara saya dan dokter berlangsung beberapa lamanya, sambil sesekali dokter menyodorkan batang-batang rokoknya ke arah saya. Saya yang memang tidak begitu suka rokok dengan terpaksa ikut mengambil dan menyalakan rokok sebagai penghormatan atas ajakannya yang bersahabat. Tidak ada kesimpulan apapun dalam benak saya ketika saya keluar dari ruang dokter itu, cuma dalam perjalanan tiba-tiba saya ingat akan kaidah usul yang telah saya sebutkan di atas: al-ashl fil-asy-ya' al-ibahah.
Ketika pada saat ini hukum rokok marak di perbincangkan, saya jadi teringat akan dokter itu lagi, saya ingin berkonsultasi lagi dengannya, tapi karena kini saya berada di tempat yang jauh, maka keinginan saya hanyalah sebatas kerinduan. Alangkah indah jika saya bertemu dokter itu lagi, merokok bersamanya, sambil tak lupa saya berhayal mengajak MUI bersama KH Ma'ruf Aminnya, Prof Ali Mustofa Ya'kubnya dan pengurus MUI lainnya, bapak-bapak Kiyai mari kita ngrokok bareng yuk! Jangan takut, nanti saya yang traktir, bila perlu nanti pulangnya saya bawakan anda masing-masing 5 bungkus rokok sebagai persediaan untuk rokoan di rumah.
Ahirul kalam, saya yang memang tadinya tidak suka merokok dan bernitat untuk berhenti sama sekali dari segala aktivitas merokok, jadi mengurungkan niat saya. Saya cuma ingin meyakinkan diri bahwa apa yang MUI fatwakan itu bukanlah merupakan suatu kebenaran yang tidak ada keraguan di dalamnya, bahkan bisa jadi justru apa yang MUI fatwakan itu adalah merupakan kesalahan yang tidak ada keraguan padanya.
Salam manis selalu untuk MUI. By; Fatur Rafael.
Sebetulnya, perdebatan tentang hukum rokok bukanlah kali ini saja terjadi, para ahli agama (Islam) dari dulu sampai sekarang tetap berbeda pendapat tentang masalah hukumnya, tapi kebanyakan mereka menghukumi rokok dalam dua kategori, makruh dan haram. Selain dari hukum yang dua itu saya belum pernah mengetahui lagi hukum yang lainnya, saya juga tidak tahu kalau misal di tempat-tempat yang jauh di zaman sekarang atau suatu hari nanti akan ada ulama yang menghukuminya wajib ataupun sunnah. Bagi saya, rokok adalah termasuk di antara masalah hukum yang tak kan pernah selesai sampai kapanpun di sebabkan tidak ada dalil di dalam Al-Quran maupun Hadits yang memberikan kepastian hukumnya.
Terlebih dahulu ingin saya katakan, bahwa saya adalah termasuk di antara orang yang tidak sepakat dengan apapun fatwa MUI, teristimewa dengan masalah rokok dan golput, tetapi, sebagai orang yang menyukai pemikiran liberal dan toleran saya tetap menghormati fatwa MUI itu sebagai bagian dari corak keberagaman pemikiran dalam lingkungan Islam, saya hanya menganggap MUI sedang bercanda dengan fatwa haramnya itu sebagai bentuk escapisme psikologis MUI dari derasnya badai kritik yang selama ini menghantam mereka.
Sebagaimana telah saya singgung diatas, para ulama berbeda dalam menentukan hukum rokok di antara makruh dan haram. Ulama yang menganggap makruh hukum rokok mengacu pada hadits-hadits yang berhubungan dengan makanan yang menimbulkan bau tidak sedap dan bisa mengganggu orang lain seperti bawang merah dan bawang putih. Bawang merah dan bawang putih adalah makanan yang tidak di sukai Rasulullah tapi beliau tidak sampai mengharamkannya. Beliau hanya menyuruh orang yang makan bawang merah maupun putih untuk membersihkan mulutnya lebih dahulu sebelum masuk ke masjid supaya tidak mengganggu ibadah jamaah yang lain. Para ulama meng-qiyaskan hukum makruh pada rokok dengan bawang mungkin di sebabkan karena kemiripan keduanya yang bisa menyebabkan gangguan terhadap banyak orang. Jika bawang di sebabkan baunya maka rokok di sebabkan oleh asapnya. Sedangkan ulama yang menganggap rokok haram biasanya di dasarkan pada manfaat dan madhorot yang di timbulkan olehnya, menurut ulama yang mengharamkan; rokok di haramkan karena efeknya yang berbahaya pada tubuh manusia, sesuatu yang di anggap membahayakan tubuh di haramkan agama karena ada ayat Quran yang berbunyi; wala tulqu biadikum ilat-tahlukah, jangan kalian menjerumuskan diri kepada kehancuran.
Sekarang mari kita sedikit menela'ah dan mengkritik mereka yang menghukumi rokok dengan predikat haram, sengaja saya tidak menelaah ataupun mengkritik mereka yang menganggap hukum rokok sebagai sesuatu yang makruh karena mungkin itulah hukum yang paling pas untuk masalah rokok, walaupun secara pribadi saya menganggap hukum rokok sebagai mubah saja, berdasar kaidah; al-ashl fil-asy-ya' al-ibahah, pada asalnya hukum segala sesuatu itu adalah mubah. Memang, hukum segala sesuatu adalah mubah jika tidak ada nash yang pasti dan qoth'i dalam Quran maupun Hadits tentang haram atau makruhnya.
Sebagai bahan renungan, saya akan mengutip Hadits Nabi yang berbunyi; ma ahal-lal-lahu fi kitabihi fa-huwa halalun, wa-ma har-rama fa-huwa haramun, wa-ma sakata 'an-hu fa-huwa 'afiah, fa-aqbalu minal-lahil-'afiah, fa-innal-laha lam yakun nasiyya, tsum-ma tala hadzi-hil-ayah; wa-ma kana rabbuka nasiyya, "Apa yang di halalkan Allah dalam kitabnya maka dia adalah halal, dan apa yang di haramkan maka dia adalah haram, sedangkan apa yang di diamkan tentangnya (tidak ada hukumnya) maka dia adalah yang di maafkan, maka terimalah pemafaan dari Allah, sesungguhnya Allah tidak pernah lupa, lalu Nabi membaca ayat: dan tidaklah Tuhanmu lupa (Q : S Maryam : 64)
Berdasarkan hadits di atas, ada 3 hukum yang bisa kita ambil untuk di jadikan pedoman. 1) adalah halal apa yang di halalkan oleh kitab Tuhan sampai kapanpun juga. 2) adalah haram apa yang di haramkan oleh kitab Tuhan sampai kapanpun juga. 3). Sesuatu yang tidak ada hukum tentangnya atau "daerah kemaafan.
Pada ahirnya akan terang benderanglah segala sesuatu jika kita melihat hadits di atas. Rokok adalah sesuatu yang tidak pernah di sebut di dalam kitab Tuhan, secara pasti berarti rokok termasuk dalam lingkaran yang berada di "Daerah kemaafan" yang Tuhan tidak pernah lupa dan akan mengetahui bahwa di suatu hari kelak akan ada sesuatu yang bernama rokok, karena Tuhan mengetahui segala sesuatu hatta tentang sesuatu yang belum dan akan terjadi tentu Tuhan akan dengan jelas mengharamkan hukum rokok dalam kitabnya jika memang rokok adalah haram.
Apakah yang di maksud "Daerah kemaafan"? Daerah kemaafan adalah merupakan ladang yang di berikan Tuhan bagi para ulama untuk mengadakan ijtihadnya masing-masing, terhadap hukum yang belum jelas halal dan haramnya dalam kitab Tuhan. siapapun, termasuk MUI, di berikan kebebasan untuk mengekspresikan pemikirannya berkaitan dengan hukum segala sesuatu yang kini berkembang, tetapi yang perlu di ingat adalah, kesimpulan dari ijtihad tidak boleh berujung pada hukum halal atau haram, karena sekali lagi, baik halal maupun haram adalah sesuatu yang sangat jelas ada dalam kitab Tuhan.
Permasalahan hukum rokok mulai timbul ketika ilmu kedokteran sudah sedemikian maju, banyak di antara dokter yang memberikan keterangan tentang bahaya penyakit yang di akibatkan asap rokok, di antaranya adalah penyakit paru-paru, jantung dan lainnya, tetapi apakah betul bahwa keterangan para dokter itu merupakan kemufakatan mutlak seluruh dokter? Saya menjawabnya; tidak! Kenapa? Izinkan saya menceritakan dulu pengalaman saya ketika saya berkonsultasi dengan seorang dokter yang spesialisasinya mendiagnosa dan mengobati penyakit dalam. Ketika saya datang ke tempat prakteknya, saya lihat dokter itu sedang merokok dan beberapa saat setelah habis dia mengambil lagi sebatang rokok baru untuk di nyalakan lagi. Saya heran dan bertanya padanya; dokter, saya lihat dari tadi anda tidak berhenti merokok, padahal sebagai dokter anda tentu mafhum kalau merokok itu akan mengakibatkan paru-paru menjadi hancur di samping penyakit-penyakit yang lainnya, terlebih lagi bukankah agama mengharamkan sesuatu yang akan berbahaya bagi tubuh? Dokter itu menjawab; Oh tidak betul juga itu, yang namanya penyakit tidak bisa di deteksi gejalanya oleh apa dan darimana, penyakit datangnya langsung dari Tuhan. Buktinya, saya sudah banyak mendiagnosa pasien yang paru-parunya rusak parah padahal mereka tidak merokok, saya juga banyak mendiagnosa pasien yang paru-parunya bersih padahal mereka adalah perokok kelas berat, dokter melanjutkan kata-katanya, contohnya seperti saya sendiri, saya ini adalah perokok kelas berat tapi paru-paru saya fine-fine saja, ok lah jika memang paru-paru yang rusak itu di sebabkan oleh rokok tapi itu bukanlah deteksi dari teori medis, itu hanya anggapan umum sebagian dokter saja. Dokter menyambung lagi; saya katakan pada anda tentang teori medis, anda tahu penyakit kangker kulit? Saya menjawab, iya. Nah, secara teori medis penyakit kangker kulit di sebabkan karena tubuh yang terkena sinar matahari secara langsung dan terus menerus, jika demikian, seharusnya banyak diantara petani kita yang terkena kangker kulit, para petani itu setiap hari terpanggang di bawah terik sinar matahari secara langsung, tapi belum pernah sekalipun saya mendengar atau melihat mereka terkena kangker kulit, mereka tetap segar bugar. Jadi, biar hukum itu adil, ketika merokok di haramkan, bertani juga harusnya di haramkan dong? sebab, secara teori medis kedua-duanya sangat berbahaya bagi tubuh.
Dialog antara saya dan dokter berlangsung beberapa lamanya, sambil sesekali dokter menyodorkan batang-batang rokoknya ke arah saya. Saya yang memang tidak begitu suka rokok dengan terpaksa ikut mengambil dan menyalakan rokok sebagai penghormatan atas ajakannya yang bersahabat. Tidak ada kesimpulan apapun dalam benak saya ketika saya keluar dari ruang dokter itu, cuma dalam perjalanan tiba-tiba saya ingat akan kaidah usul yang telah saya sebutkan di atas: al-ashl fil-asy-ya' al-ibahah.
Ketika pada saat ini hukum rokok marak di perbincangkan, saya jadi teringat akan dokter itu lagi, saya ingin berkonsultasi lagi dengannya, tapi karena kini saya berada di tempat yang jauh, maka keinginan saya hanyalah sebatas kerinduan. Alangkah indah jika saya bertemu dokter itu lagi, merokok bersamanya, sambil tak lupa saya berhayal mengajak MUI bersama KH Ma'ruf Aminnya, Prof Ali Mustofa Ya'kubnya dan pengurus MUI lainnya, bapak-bapak Kiyai mari kita ngrokok bareng yuk! Jangan takut, nanti saya yang traktir, bila perlu nanti pulangnya saya bawakan anda masing-masing 5 bungkus rokok sebagai persediaan untuk rokoan di rumah.
Ahirul kalam, saya yang memang tadinya tidak suka merokok dan bernitat untuk berhenti sama sekali dari segala aktivitas merokok, jadi mengurungkan niat saya. Saya cuma ingin meyakinkan diri bahwa apa yang MUI fatwakan itu bukanlah merupakan suatu kebenaran yang tidak ada keraguan di dalamnya, bahkan bisa jadi justru apa yang MUI fatwakan itu adalah merupakan kesalahan yang tidak ada keraguan padanya.
Salam manis selalu untuk MUI. By; Fatur Rafael.
Rabu, 04 Februari 2009
Ammar dan Bilal, simbol berdarah dari ketulusan cinta dan keteguhan iman
Kisah ini bermula dari seorang budak wanita hitam Abesinia bernama Sumayyah yang menikah dengan pria miskin kesepian yang bernama Yasir yang pindah ke Makkah dari kampung halamannya di padang pasir Yaman demi hidup yang lebih baik. Setelah beberapa lama waktu di Makkah Yasir mendapat pekerjaan sebagai pelayan, Yasir memberanikan diri meminta pada Sumayyah untuk menjadi istrinya, gayungpun bersambut, Sumayyah bersedia menerima Yasir sebagai suaminya. Beberapa waktu berselang dari pernikahan mereka lahirlah seorang anak laki-laki bernama 'Ammar.
Hari berlalu, bulan berganti dan tahunpun menjelang. Pada saat itu di Makkah muncul seorang Nabi baru dengan membawa ajaran baru bernama Islam, Nabi baru itu bernama Muhammad. Nabi baru itu menjanjikan segala perubahan ke arah yang lebih baik, melepaskan manusia dari segala alam jahiliyah yang telah lama mengungkung masyarakat Arab teristimewa sukunya sendiri yaitu suku Quraisy.
Keluarga Yasir merupakan keluarga yang menaruh perhatian yang mendalam terhadap Islam sejak awal penyebarannya, mereka masuk ke dalam Islam dengan kerelaan hati, cinta yang tulus dan iman yang teguh. Tiada peduli bahwa dengan masuknya mereka ke dalam Islam bahaya besar akan mengancam hidup mereka, ancaman itu datang dari Abu Jahl, Umayyah bin Khalaf dan wadia balanya yang geram dengan perkembangan Islam. Mereka mengancam keluarga Yasir dengan siksaan yang sangat berat, tujuannya adalah agar tidak ada lagi orang yang akan memeluk Islam. Ancaman itu pada ahirnya terbukti beberapa saat setelah keluarga Yasir memproklamirkan keislamannya.
Setiap hari Abu Jahl dan wadia balanya menggiring keluarga Yasir ke padang pasir panas di pinggiran kota Makkah di mana Abu Jahl akan menyiksa mereka di bawah terik matahari sampai malam menjelang. Pada setiap rangkaian siksaan yang di lakukan, Abu Jahl selalu menggunakan jenis siksaan yang baru yang lebih kejam dari hari ke hari, tujuannya adalah untuk membuat mereka menyerah dan segera berpaling dari Islam, mencaci maki dan membantah segala pesan yang di bawa Muhammad. Namun keteguhan iman dan cinta yang tulus membuat Yasir, Sumayyah dan Ammar tidak mematuhi perintah Abu Jahl dan rela terus menerus di siksa oleh para kafir itu.
Untuk membuktikan cinta yang tulus dan iman yang teguh, keluarga Ammar melipat gandakan kesabaran dalam menerima setiap siksaan yang terus menerus mendera mereka. Bagaimana Nabi melihat nasib mereka? Nabi pada waktu itu berada pada posisi yang lemah, walaupun Nabi adalah termasuk di antara anggota keluarga bangsawan Quraisy tetapi dalam menyebarkan Islam Nabi benar-benar sendiri. Karena miskin dan tidak berdaya Nabi tidak memiliki sarana pertahanan yang bisa melindungi para pengikutnya dari kebiadaban dan kedzaliman Abu Jahl dan wadia balanya. Nabi hanya bisa mendatangi mereka di waktu-waktu jeda penyiksaan untuk memberikan simpati dan dukung moral bagi mereka.
Nabi Muhammad SAAW adalah pribadi yang berahlak mulia, berperasaan halus dan tersimpan di dadanya kasih tulus Yesus Al-Masih. Sebagai seorang yang berperasaan halus, Nabi di perlihatkan contoh terbaik dari cinta yang sangat tulus dan iman yang teguh pada diri Ammar dan keluarganya dalam menghadapi tangan-tangan kejam Abu Jahl dan wadia balanya. Tetapi Nabi tidak dapat memprotes tindakan Abu Jahl dan membalas mereka dengan hukuman yang setimpal, betapa remuk jiwa Nabi kala itu. Setiap hari Nabi menyaksikan reaksi sadis Abu Jahl yang memuas siksaan pada Ammar dan keluarganya. Seolah-seolah puas dengan penampilannya, para penyiksa itu terus memberi semangat pada antek-anteknya untuk terus mendera siksaan yang lebih kejam pada pengikut Nabi. Seperti di jelaskan di atas, Nabi ada bersama mereka tetapi hanya dukungan moral dan simpati yang bisa di berikan Nabi. Dalam situasi penuh kelemahan, keputus asaan dan kesengsaraan total mereka hanya bisa berdoa pada Tuhan, berharap agar mendapat bantuan dan kemenangan segera tiba. Nabi memberi kekuatan pada hati mereka tentang janji Tuhan pada orang-orang yang mau bersabar, dan meneguhkan hati mereka dalam perlawanan terhadap para penyiksanya.
Hari demi hari Nabi menyaksikan wanita tua yang setia bernama Sumayyah, laki-laki yang juga tua bernama Yasir dan seorang pemuda yang sedang tumbuh dan dadanya di penuhi cinta tulus pada Nabi yang bernama Ammar, betapapun mereka terus menerus di dera siksaan, mereka adalah simbol berdarah bagi keteguhan iman. Mereka sama sekali tidak menunjukkan kelemahan di hadapan Nabi, selalu berusaha menyembunyikan rasa sakit dan keputus asaan mereka dan menunjukkan ketahanan diri dalam rangka pengabdian pada keimanan dan cinta yang tulus pada Nabi. Nabi sewaktu-waktu akan meninggalkan mereka dalam linangan air mata dan akan datang kembali menjenguk duka mereka di besok hari.
Kejadian terus berulang dari hari ke hari, hingga suatu hari Nabi tidak lagi melihat Sumayyah dan Yasir, tidak terdengar lagi teriakan Abu Jahl ketika menyiksa mereka. Nabi hanya melihat Ammar berdiri menunduk tidak lagi terikat tangan dan kakikinya, Nabi mendekati Ammar dan memanggilnya, tetapi Ammar semakin menunduk di hadapan Nabi, dan berusaha kuat untuk menyembunyikan wajahnya dari pandangan Nabi. Nabi heran melihat perubahan sikap Ammar yang biasanya begitu tegar dan kuat dalam menghadapi siksaan seberat apapun, kini nampak begitu lemah, Nabi berusaha mengangkat wajah Ammar dan menyuruh untuk memandang dirinya, hal ini Membuat Ammar berusaha kuat untuk semakin menyembunyikan wajahnya. Sekilas Nabi melihat air mata mengalir deras di pipi Ammar, Nabi baru menyadari mungkin Ammar telah mengalami siksaan paling kejam dan Ammar pasti telah menyaksikan kematian kedua orang tuanya di hadapan mata kepalanya akibat siksaan Abu Jahl.
Tapi walaupun tidak ada lagi penyiksaan kenapa Ammar masih berdiri di situ? Tidakkah Ammar ingin kembali ke kota dan menemui Nabi? pada saat tangisan Ammar makin menjadi, Nabi berusaha untuk menenangkan Ammar dan memuliakan nama kedua orang tuanya, memuji keteguhan imannya tetapi anehnya Ammar tidak sedikitpun hawatir terhadap nasib yang akan menimpa orang tuanya. Ammar menanggung derita yang lebih berat, Ammar berkata; wahai Nabi Allah, aku telah mengatakan sesuatu yang sebelumnya sangat aku benci. Kini jelaslah bagi Nabi, akibat siksaan yang mendera dirinya dan kedua orang tuanya, Ammar telah kehilangan kesadarannya. Sebagai manusia, Ammar pun punya perasaan dan emosi yang membatasi kemampuannya untuk bertahan. Ketika kesadarannya hilang Ammar telah mengucapkan sesuatu yang menyenangkan Abu Jahl dan mengecewakan dirinya sendiri dengan membantah Nabi, sebagai upahnya Ammar pun di bebaskan dari segala siksaan. Segala kekecewaan, kegelisahan yang di rasakannya mengalahkan rasa sakit dari siksaan Abu Jahl. Ammar berdiri sendiri menangis dalam padang pasir yang sunyi, rasa malu pada Nabi yang begitu menyelimuti hatinya membuat Ammar enggan untuk kembali ke kota untuk bertemu Nabi. Dalam kesedihan dan ketidak berdayaan, ketika tidak ada lagi dalam fikiran Ammar tempat untuk berteduh, Nabi menghibur hati Ammar; wahai Ammar, jangan hawatir terhadap apa yang engkau katakan jika hatimu sendiri tidak meyakininya, percayalah bahwa Allah maha mengampuni. Mendengar perkataan Nabi, Ammar pun menjadi gembira, bersama Nabi, Ammar kembali ke kota Makkah.
Kisah penyiksaan yang lain adalah apa yang telah di lakukan Umayyah bin Khalaf terhadap seorang budak bernama Bilal bin Abi robbah, Bilal adalah seorang budak yang masuk Islam dalam kelompok pertama, Bilal kemudian menjadi Muadz-dzin tetap Rasulullah.
Setiap hari di sebuah daerah dekat Makkah, satu kaleng air di panaskan di bawah terik matahari padang pasir. Setelah air mendidih Umayyah bin Khalaf memasukkan kepala Bilal ke dalam air itu sampai Bilal tercekik. Setiap kali penyiksa melepas tangannya Bilal berusaha menarik nafas dan mengatakan "Ahad" "Ahad" (Allah maha Tunggal), meskipun terus menerus di siksa Bilal terus menggumamkan "Ahad, Ahad". Selanjutnya jika Bilal telah kehilangan kesadaran dan hampir mati, penyiksa akan meninggalkan Bilal begitu saja dan membiarkan Bilal di cambuki oleh orang-orang yang kalap dan bodoh. Tanpa belas kasihan mereka mengganggu Bilal, menyumpahinya, menyeret tubuhnya di atas tanah seperti menyeret anjing, mereka juga tidak segan meludahi wajah Bilal. Bilal tetap berkata "Ahad, Ahad", ucapan bilal adalah simbol yang di wariskan pada generasi muslim berikutnya jika menghadapi saat-saat yang kritis.
Kisah-kisah ini menggambarkan status orang-orang yang mencintai dengan tulus Nabi Muhammad, walaupun mereka sangat menderita dan kesepian. Kisah ini juga mengabarkan pada kita tentang betapa keimanan yang teguh pada Tuhan tidak akan bisa di goyahkan oleh apapun sekalipun nyawa adalah taruhannya. Allahu Akbar wa lil-lahil-hamd.
Cirebon-menjelang subuh.
Hari berlalu, bulan berganti dan tahunpun menjelang. Pada saat itu di Makkah muncul seorang Nabi baru dengan membawa ajaran baru bernama Islam, Nabi baru itu bernama Muhammad. Nabi baru itu menjanjikan segala perubahan ke arah yang lebih baik, melepaskan manusia dari segala alam jahiliyah yang telah lama mengungkung masyarakat Arab teristimewa sukunya sendiri yaitu suku Quraisy.
Keluarga Yasir merupakan keluarga yang menaruh perhatian yang mendalam terhadap Islam sejak awal penyebarannya, mereka masuk ke dalam Islam dengan kerelaan hati, cinta yang tulus dan iman yang teguh. Tiada peduli bahwa dengan masuknya mereka ke dalam Islam bahaya besar akan mengancam hidup mereka, ancaman itu datang dari Abu Jahl, Umayyah bin Khalaf dan wadia balanya yang geram dengan perkembangan Islam. Mereka mengancam keluarga Yasir dengan siksaan yang sangat berat, tujuannya adalah agar tidak ada lagi orang yang akan memeluk Islam. Ancaman itu pada ahirnya terbukti beberapa saat setelah keluarga Yasir memproklamirkan keislamannya.
Setiap hari Abu Jahl dan wadia balanya menggiring keluarga Yasir ke padang pasir panas di pinggiran kota Makkah di mana Abu Jahl akan menyiksa mereka di bawah terik matahari sampai malam menjelang. Pada setiap rangkaian siksaan yang di lakukan, Abu Jahl selalu menggunakan jenis siksaan yang baru yang lebih kejam dari hari ke hari, tujuannya adalah untuk membuat mereka menyerah dan segera berpaling dari Islam, mencaci maki dan membantah segala pesan yang di bawa Muhammad. Namun keteguhan iman dan cinta yang tulus membuat Yasir, Sumayyah dan Ammar tidak mematuhi perintah Abu Jahl dan rela terus menerus di siksa oleh para kafir itu.
Untuk membuktikan cinta yang tulus dan iman yang teguh, keluarga Ammar melipat gandakan kesabaran dalam menerima setiap siksaan yang terus menerus mendera mereka. Bagaimana Nabi melihat nasib mereka? Nabi pada waktu itu berada pada posisi yang lemah, walaupun Nabi adalah termasuk di antara anggota keluarga bangsawan Quraisy tetapi dalam menyebarkan Islam Nabi benar-benar sendiri. Karena miskin dan tidak berdaya Nabi tidak memiliki sarana pertahanan yang bisa melindungi para pengikutnya dari kebiadaban dan kedzaliman Abu Jahl dan wadia balanya. Nabi hanya bisa mendatangi mereka di waktu-waktu jeda penyiksaan untuk memberikan simpati dan dukung moral bagi mereka.
Nabi Muhammad SAAW adalah pribadi yang berahlak mulia, berperasaan halus dan tersimpan di dadanya kasih tulus Yesus Al-Masih. Sebagai seorang yang berperasaan halus, Nabi di perlihatkan contoh terbaik dari cinta yang sangat tulus dan iman yang teguh pada diri Ammar dan keluarganya dalam menghadapi tangan-tangan kejam Abu Jahl dan wadia balanya. Tetapi Nabi tidak dapat memprotes tindakan Abu Jahl dan membalas mereka dengan hukuman yang setimpal, betapa remuk jiwa Nabi kala itu. Setiap hari Nabi menyaksikan reaksi sadis Abu Jahl yang memuas siksaan pada Ammar dan keluarganya. Seolah-seolah puas dengan penampilannya, para penyiksa itu terus memberi semangat pada antek-anteknya untuk terus mendera siksaan yang lebih kejam pada pengikut Nabi. Seperti di jelaskan di atas, Nabi ada bersama mereka tetapi hanya dukungan moral dan simpati yang bisa di berikan Nabi. Dalam situasi penuh kelemahan, keputus asaan dan kesengsaraan total mereka hanya bisa berdoa pada Tuhan, berharap agar mendapat bantuan dan kemenangan segera tiba. Nabi memberi kekuatan pada hati mereka tentang janji Tuhan pada orang-orang yang mau bersabar, dan meneguhkan hati mereka dalam perlawanan terhadap para penyiksanya.
Hari demi hari Nabi menyaksikan wanita tua yang setia bernama Sumayyah, laki-laki yang juga tua bernama Yasir dan seorang pemuda yang sedang tumbuh dan dadanya di penuhi cinta tulus pada Nabi yang bernama Ammar, betapapun mereka terus menerus di dera siksaan, mereka adalah simbol berdarah bagi keteguhan iman. Mereka sama sekali tidak menunjukkan kelemahan di hadapan Nabi, selalu berusaha menyembunyikan rasa sakit dan keputus asaan mereka dan menunjukkan ketahanan diri dalam rangka pengabdian pada keimanan dan cinta yang tulus pada Nabi. Nabi sewaktu-waktu akan meninggalkan mereka dalam linangan air mata dan akan datang kembali menjenguk duka mereka di besok hari.
Kejadian terus berulang dari hari ke hari, hingga suatu hari Nabi tidak lagi melihat Sumayyah dan Yasir, tidak terdengar lagi teriakan Abu Jahl ketika menyiksa mereka. Nabi hanya melihat Ammar berdiri menunduk tidak lagi terikat tangan dan kakikinya, Nabi mendekati Ammar dan memanggilnya, tetapi Ammar semakin menunduk di hadapan Nabi, dan berusaha kuat untuk menyembunyikan wajahnya dari pandangan Nabi. Nabi heran melihat perubahan sikap Ammar yang biasanya begitu tegar dan kuat dalam menghadapi siksaan seberat apapun, kini nampak begitu lemah, Nabi berusaha mengangkat wajah Ammar dan menyuruh untuk memandang dirinya, hal ini Membuat Ammar berusaha kuat untuk semakin menyembunyikan wajahnya. Sekilas Nabi melihat air mata mengalir deras di pipi Ammar, Nabi baru menyadari mungkin Ammar telah mengalami siksaan paling kejam dan Ammar pasti telah menyaksikan kematian kedua orang tuanya di hadapan mata kepalanya akibat siksaan Abu Jahl.
Tapi walaupun tidak ada lagi penyiksaan kenapa Ammar masih berdiri di situ? Tidakkah Ammar ingin kembali ke kota dan menemui Nabi? pada saat tangisan Ammar makin menjadi, Nabi berusaha untuk menenangkan Ammar dan memuliakan nama kedua orang tuanya, memuji keteguhan imannya tetapi anehnya Ammar tidak sedikitpun hawatir terhadap nasib yang akan menimpa orang tuanya. Ammar menanggung derita yang lebih berat, Ammar berkata; wahai Nabi Allah, aku telah mengatakan sesuatu yang sebelumnya sangat aku benci. Kini jelaslah bagi Nabi, akibat siksaan yang mendera dirinya dan kedua orang tuanya, Ammar telah kehilangan kesadarannya. Sebagai manusia, Ammar pun punya perasaan dan emosi yang membatasi kemampuannya untuk bertahan. Ketika kesadarannya hilang Ammar telah mengucapkan sesuatu yang menyenangkan Abu Jahl dan mengecewakan dirinya sendiri dengan membantah Nabi, sebagai upahnya Ammar pun di bebaskan dari segala siksaan. Segala kekecewaan, kegelisahan yang di rasakannya mengalahkan rasa sakit dari siksaan Abu Jahl. Ammar berdiri sendiri menangis dalam padang pasir yang sunyi, rasa malu pada Nabi yang begitu menyelimuti hatinya membuat Ammar enggan untuk kembali ke kota untuk bertemu Nabi. Dalam kesedihan dan ketidak berdayaan, ketika tidak ada lagi dalam fikiran Ammar tempat untuk berteduh, Nabi menghibur hati Ammar; wahai Ammar, jangan hawatir terhadap apa yang engkau katakan jika hatimu sendiri tidak meyakininya, percayalah bahwa Allah maha mengampuni. Mendengar perkataan Nabi, Ammar pun menjadi gembira, bersama Nabi, Ammar kembali ke kota Makkah.
Kisah penyiksaan yang lain adalah apa yang telah di lakukan Umayyah bin Khalaf terhadap seorang budak bernama Bilal bin Abi robbah, Bilal adalah seorang budak yang masuk Islam dalam kelompok pertama, Bilal kemudian menjadi Muadz-dzin tetap Rasulullah.
Setiap hari di sebuah daerah dekat Makkah, satu kaleng air di panaskan di bawah terik matahari padang pasir. Setelah air mendidih Umayyah bin Khalaf memasukkan kepala Bilal ke dalam air itu sampai Bilal tercekik. Setiap kali penyiksa melepas tangannya Bilal berusaha menarik nafas dan mengatakan "Ahad" "Ahad" (Allah maha Tunggal), meskipun terus menerus di siksa Bilal terus menggumamkan "Ahad, Ahad". Selanjutnya jika Bilal telah kehilangan kesadaran dan hampir mati, penyiksa akan meninggalkan Bilal begitu saja dan membiarkan Bilal di cambuki oleh orang-orang yang kalap dan bodoh. Tanpa belas kasihan mereka mengganggu Bilal, menyumpahinya, menyeret tubuhnya di atas tanah seperti menyeret anjing, mereka juga tidak segan meludahi wajah Bilal. Bilal tetap berkata "Ahad, Ahad", ucapan bilal adalah simbol yang di wariskan pada generasi muslim berikutnya jika menghadapi saat-saat yang kritis.
Kisah-kisah ini menggambarkan status orang-orang yang mencintai dengan tulus Nabi Muhammad, walaupun mereka sangat menderita dan kesepian. Kisah ini juga mengabarkan pada kita tentang betapa keimanan yang teguh pada Tuhan tidak akan bisa di goyahkan oleh apapun sekalipun nyawa adalah taruhannya. Allahu Akbar wa lil-lahil-hamd.
Cirebon-menjelang subuh.
Senin, 02 Februari 2009
Mutiara di sekeliling Nabi Muhammad SAAW
Dalam sejarah hidupnya yang mulia, Nabi Muhammad memiliki 11 istri dan beberapa jariah serta putra dan putri. Berikut adalah nama-nama mereka.
Istri-istri Nabi
1. Hadijah binti Huwailid bin Asad bin 'Abd Uzza bin Qushai bin Kilab.
Pada waktu menikah dengan Rasulullah Hadijah telah menginjak usia senja yaitu 40 tahun, beliau menikah dengan Nabi setelah 2 kali menjadi janda, sementara Nabi sendiri pada waktu itu berusia 25 tahun. Hadijah adalah wanita pertama yang beriman dengan kenabian Muhammad SAAW, dari Hadijah lahir putra putri Nabi selain Ibrahim yang lahir dari seorang jariah Nabi yang bernama Mariah Al-Qibtiyah. Hadijah menemani hidup Nabi selama 25 tahun sampai dirinya berpulang ke hadhrat Allah mendahului Nabi, Hadijah meninggal di makkah 3 tahun sebelum hijrah Nabi ke Madinah, meninggalnya Hadijah begitu membuat Nabi berduka sehingga tahun wafatnya Hadijah dinamai oleh Nabi dengan "'Am Al-huzni", tahun duka cita. Hadijah adalah istri yang paling di cintai Nabi sehingga sampai sekian lama setelah ketiadaannya Nabi senantiasa menyebut namanya, hal itu pernah membuat 'Aisyah cemburu dan mengucapkan kata-kata yang tidak pantas di hadapan Nabi. selama beristrikan Hadijah Nabi tidak menikah lagi dengan siapapun.
2. Saudah binti Zam'ah bin Qais bin Abd Syams bin Abd Wudd bin Nadhr.
Menikah dengan Nabi setelah wafatnya Hadijah, Saudah adalah janda dari Sakran bin Amr bin Abd Syams. Menikah dengan Nabi dalam usia 55 tahun dan Nabi pada waktu itu berusia 50 tahun, Nabi memberikan mahar pada Saudah sejumlah 400 dirham.
3. 'Aisyah binti Abu Bakar bin Abi Quhafah.
Walaupun masih dalam perdebatan di kalangan ahli sejarah tentang usia pernikahan Aisyah dengan Nabi, sebuah buku sejarah Nabi yang berjudul "Samirul Mu'minin" mengabarkan bahwa Nabi melamar Aisyah pada tahun 10 kenabian atau 3 tahun sebelum Nabi hijrah ke Madinah, masih dalam tahun yang sama dengan wafatnya Hadijah. Pada waktu itu Aisyah berusia "6 tahun" dan mulai hidup serumah dengan Nabi pada usia 9 tahun atau tahun ke 1 dari kalender hijriah. Kebersamaan Aisyah dengan Nabi berlangsung sekitar 9 tahun lamanya, pada saat Nabi wafat usia Aisyah adalah 18 tahun. Aisyah meninggal di Madinah pada tahun 53 hijriah dalam usia 66 tahun.
4. Hafshah binti Umar bin Al-Khath-thab bin Nufail.
Hafshah adalah janda dari Unais bin Hudzafah salah seorang anggota yang syahid pada perang Badar. Hafshah menikah dengan Nabi pada tahun 3 hijriah, dengan mahar sebesar 400 dirham. Ketika itu usia Nabi sekitar 55 tahun. Hafshah wafat pada tahun 54 hijriah dalam usia 60 tahun.
5. Ummu Salamah binti Abi Umayyah bin Al-Mughirah bin Abdullah bin Amr bin Makhzum.
Nama sebenarnya adalah Hindun binti Abi Umayyah Al-Makhzumiyah. Ummu salamah adalah janda dari Abdullah bin Jahsyi atau yang di kenal dengan Abu Salamah bin Abd Asad. Ummu Salamah meninggal dalam usia 84 tahun, meninggal pada tahun 59 hijriah.
6. Ummu Habibah binti Abu Sofyan bin Harb bin Umayyah bin Abd Syams.
Namanya adalah Ramlah, Ramlah merupakan saudara dari Muawiyah. Ramlah adalah salah seorang istri Nabi yang ikut hijrah ke Habsyah (Ethiopia) periode ke 2. Nabi menikahi Ramlah dengan mahar 400 dinar. Ramlah adalah janda dari Ubaidullah bin Jahsy yg ketika hijrah ke Habsyah berpindah ke agama Kristian sementara Ramlah tetap bertahan dengan Islam, oleh sebab itu Nabi menikahinya. Ramlah meninggal di Madinah pada tahun 44 hijriah.
7. Zainab binti Jahsy bin Riab bin Ya'mur bin Shabirah bin Murrah.
Zainab adalah sepupu Nabi, putri dari bibi Nabi yang bernama Umaimah binti Abd Muthollib. Zainab adalah mantan istri dari Zaid bin Haritsah yang merupakan anak angkat Nabi, hal ini bermaksud untuk membatalkan hukum jahiliah yang mengharamkan seorang bapak angkat menikahi istri anak angkatnya. Pernikahan dengan Nabi membuat Zainab selalu membanggakan dirinya di hadapan istri-istri Nabi yang lain, betapa tidak, yang menikahkan dirinya dengan Nabi adalah Allah SWT secara langsung, berbeda dengan istri Nabi yang lain yang menikah dengan di dampingi wali-walinya. Zainab menikah dengan Nabi pada tahun 5 hijriah.
8. Zainab binti Huzaimah bin Harits bin Abdullah bin Amr bin Abd manaf Al-Hilaliyah.
Zainab binti Huzaimah menikah dengan Nabi pada tahun 3 hijriah, pernikahannya dengan Nabi hanya berlangsung 2 atau 3 bulan. Zainab adalah janda dari Ubaidah bin Al-Harits dan Jahm bin Amr Al-Harits yang merupakan saudara sepupunya. Zainab meninggal pada saat Nabi masih hidup, Zainab di makamkan di Baqi'.
Selama hidupnya Zainab di kenal dengan sebutan Ummul-masakin (ibu orang-orang miskin) hal ini karena perhatian dan kasih sayangnya terhadap orang miskin
9. Maimunah binti Harits bin Hazn bin Bahir bin Huzam Al-Hilaliah.
Maimunah adalah saudara satu ibu dengan Zainab binti Huzaimah. Maimunah adalah bibi dari Halid bin Walid dan Ibnu 'Abbas. Menikah dengan Nabi pada saat berusia 60 tahun, Nabi memberi mahar sebanyak 400 dirham. Kebersamaannya dengan Nabi hanya berlangsung 2 tahun. Sebelum menikah dengan Nabi Maimunah adalah istri dari Abi Rahm bin Abd Uzza bin Abi Qais. Maimunah meninggal di daerah bernama Siraf pada tahun 51 hijriah.
10. Juwairiah binti Harits bin Abi Dhirar Al-Khuza'iyah.
Juwairiah adalah janda dari Musyaffi' bin Shafwan Al-Musthaliq. Pernah menjadi tawanan kaum muslimin dan menjadi budak dari Tsabit bin Qais Al-Anshari. Juwairiah membebaskan dirinya dari Tsabit bin Qais, setelah bebas lalu menyerahkan dirinya pada Nabi. Nabi kemudian menikahinya.
11. Shafiyah binti Huyai bin Akhthab.
Shafiyah adalah keturunan dari Nabi Harun AS. Sebelum menjadi istri Nabi, Nabi menyerahkannya pada Dhihyah Al-Kalby, hal ini mengundang protes dari seorang sahabat yang mengatakan bahwa tidaklah pantas Nabi menyerahkan Shafiyah pada Dhihyah karena Shafiyah adalah pembesar dari bani Quraidzhah dan bani Nadhir. Mendengar hal ini Nabi memberi kemerdekaan pada Shafiyah lalu Nabi menikahinya. Shafiyah meninggal pada bulan Ramadhan tahun 50 hijriah di zaman Muawiyah bin Abu Sofyan.
Ada satu cerita menarik mengenai Shafiyah ini, suatu ketika Nabi memasuki kamar Shafiyah dan Nabi mendapati Shafiyah dalam keadaan menangis. Nabi bertanya pada Shafiyah; apa yang menyebabkan engkau menangis wahai Shafiyah? Shafiyah menjawab; Aisyah dan Hafshah telah memperolok-olok aku, mereka berdua merasa lebih tinggi kedudukannya sebagai istri Nabi di banding aku. Nabi berkata; mengapa tidak engkau katakan bahwa Harun AS adalah ayahku, Musa AS adalah pamanku dan Muhammad SAAW adalah suamiku, setelah semua itu, bagaimana bisa mereka lebih tinggi darimu?
Jariyah-jariyah Nabi
1. Mariah Al-Qibthiyyah.
Mariah adalah Ibu dari Ibrahim. Mariah adalah hadiah dari raja Mesir untuk Rasulullah. Meninggal pada masa pemerintahan Umar bin Khoth-thob.
2. Raihanah Al-Quradzhiyyah.
Raihanah meninggal pada saat Nabi masih hidup, di makamkan di pekuburan Baqi'.
3. Khaulah binti Hakim.
Khaulah binti Hakim adalah salah seorang wanita yang menghibahkan dirinya pada Nabi.
4. Zainab binti Jahsy.
Zainab dan para jariah lainnya pada ahirnya menjadi Istri Nabi.
Ada 2 orang wanita yang Nabi lepaskan sebelum Nabi mencampurinya yaitu;
1. Amrah
2. Umaimah
Di antara seluruh istri Nabi yang di nikahi dalam keadaan gadis hanyalah Aisyah Abu Bakar, sementara yang lainnya adalah berstatus janda.
Putra-putri Nabi
1. Zainab.
Zainab adalah putri sulung Rasulullah SAAW, lahir pada waktu usia Rasul 30 tahun.
2. Ruqayyah.
Ruqayyah lahir 3 tahun setelah Zainab atau 7 tahun sebelum Rasul diangkat menjadi Nabi, Ruqayyah adalah salah seorang di antara istri Utsman bin Affan, khalifah ke 3.
3. Fathimah Az-zahra AS.
Fathimah lahir 1 tahun setelah Rasul di angkat menjadi Nabi, menikah dengan Imam Ali AS pada tahun 2 hijriah dalam usia 15 tahun 5 bulan sementara pada waktu itu usia Imam Ali adalah 21 tahun 5 bulan. Fathimah adalah salah seorang keluarga Rasul yang paling pertama menyusul Rasulullah menghadap Hadhrat Allah SWT, selisih waktunya adalah 6 bulan. Fathimah Az-zahra AS adalah putri yang paling Nabi cintai, lahir dari Fathimah 2 orang permata Nabi yaitu Hasan dan Husain. Alaihim Salam.
4. Abdullah (Ath-thoyib, Ath-thohir)
Abdullah meninggal pada waktu masih bayi di masa Muhammad belum di angkat menjadi Nabi.
5. Ibrahim.
Anak Rasulullah dari Mariah Al-Qibthiyyah, lahir pada tahun 8 hijriah, juga dalam keadaan masih bayi, Nabi sempat menitikkan air mata dalam melepas kepergian Ibrahim ke alam baqa.
Sehari setelah wafatnya Ibrahim terjadi gejala alam yang di anggap luar biasa pada waktu itu, gerhana matahari. Orang ramai menghubungkan peristiwa alam itu dengan wafatnya Ibrahim sehingga Nabi perlu memberi tahukan pada mereka bahwa gerhana matahari tidak ada sangkut pautnya dengan kematian atau kehidupan seseorang. Gerhana hanyalah merupakan salah satu tanda di antara tanda-tanda kebesaran Allah SWT.
6. Ummu Kaltsum.
Lahir setelah di utusnya Rasul menjadi Nabi atau ba'dal bi'tsah. Menikah dengan Utsman bin Affan pada tahun 3 hijriah setelah meninggalnya Ruqayyah, dengan sebab menikahi 2 putri Nabi Utsman mendapat gelar Dzun-nurain atau pemilik 2 cahaya.
7. Al-Qasim.
Al-Qasim adalah kakak dari Zainab, lahir sebelum tahun kenabian, dengan namanya lah Nabi bergelar yaitu Abul-Qasim. Al-Qasim meninggal pada waktu kecil.
Sekianlah biografi singkat para mutiara yang ada di sekeliling Rasulullah SAAW. Mereka adalah orang-orang yang hidup dalam sejarah emas anak manusia. Kehidupan Nabi adalah kehidupan terbaik di sepanjang zaman, baik sebelum beliau di dzahirkan ke dunia maupun setelah beliau kembali ke Hadhrat yang maha wujud, Tuhan semesta alam.
_______****_______
Cirebon, Selasa 3 feb 2009 jam 2:30 am.
Istri-istri Nabi
1. Hadijah binti Huwailid bin Asad bin 'Abd Uzza bin Qushai bin Kilab.
Pada waktu menikah dengan Rasulullah Hadijah telah menginjak usia senja yaitu 40 tahun, beliau menikah dengan Nabi setelah 2 kali menjadi janda, sementara Nabi sendiri pada waktu itu berusia 25 tahun. Hadijah adalah wanita pertama yang beriman dengan kenabian Muhammad SAAW, dari Hadijah lahir putra putri Nabi selain Ibrahim yang lahir dari seorang jariah Nabi yang bernama Mariah Al-Qibtiyah. Hadijah menemani hidup Nabi selama 25 tahun sampai dirinya berpulang ke hadhrat Allah mendahului Nabi, Hadijah meninggal di makkah 3 tahun sebelum hijrah Nabi ke Madinah, meninggalnya Hadijah begitu membuat Nabi berduka sehingga tahun wafatnya Hadijah dinamai oleh Nabi dengan "'Am Al-huzni", tahun duka cita. Hadijah adalah istri yang paling di cintai Nabi sehingga sampai sekian lama setelah ketiadaannya Nabi senantiasa menyebut namanya, hal itu pernah membuat 'Aisyah cemburu dan mengucapkan kata-kata yang tidak pantas di hadapan Nabi. selama beristrikan Hadijah Nabi tidak menikah lagi dengan siapapun.
2. Saudah binti Zam'ah bin Qais bin Abd Syams bin Abd Wudd bin Nadhr.
Menikah dengan Nabi setelah wafatnya Hadijah, Saudah adalah janda dari Sakran bin Amr bin Abd Syams. Menikah dengan Nabi dalam usia 55 tahun dan Nabi pada waktu itu berusia 50 tahun, Nabi memberikan mahar pada Saudah sejumlah 400 dirham.
3. 'Aisyah binti Abu Bakar bin Abi Quhafah.
Walaupun masih dalam perdebatan di kalangan ahli sejarah tentang usia pernikahan Aisyah dengan Nabi, sebuah buku sejarah Nabi yang berjudul "Samirul Mu'minin" mengabarkan bahwa Nabi melamar Aisyah pada tahun 10 kenabian atau 3 tahun sebelum Nabi hijrah ke Madinah, masih dalam tahun yang sama dengan wafatnya Hadijah. Pada waktu itu Aisyah berusia "6 tahun" dan mulai hidup serumah dengan Nabi pada usia 9 tahun atau tahun ke 1 dari kalender hijriah. Kebersamaan Aisyah dengan Nabi berlangsung sekitar 9 tahun lamanya, pada saat Nabi wafat usia Aisyah adalah 18 tahun. Aisyah meninggal di Madinah pada tahun 53 hijriah dalam usia 66 tahun.
4. Hafshah binti Umar bin Al-Khath-thab bin Nufail.
Hafshah adalah janda dari Unais bin Hudzafah salah seorang anggota yang syahid pada perang Badar. Hafshah menikah dengan Nabi pada tahun 3 hijriah, dengan mahar sebesar 400 dirham. Ketika itu usia Nabi sekitar 55 tahun. Hafshah wafat pada tahun 54 hijriah dalam usia 60 tahun.
5. Ummu Salamah binti Abi Umayyah bin Al-Mughirah bin Abdullah bin Amr bin Makhzum.
Nama sebenarnya adalah Hindun binti Abi Umayyah Al-Makhzumiyah. Ummu salamah adalah janda dari Abdullah bin Jahsyi atau yang di kenal dengan Abu Salamah bin Abd Asad. Ummu Salamah meninggal dalam usia 84 tahun, meninggal pada tahun 59 hijriah.
6. Ummu Habibah binti Abu Sofyan bin Harb bin Umayyah bin Abd Syams.
Namanya adalah Ramlah, Ramlah merupakan saudara dari Muawiyah. Ramlah adalah salah seorang istri Nabi yang ikut hijrah ke Habsyah (Ethiopia) periode ke 2. Nabi menikahi Ramlah dengan mahar 400 dinar. Ramlah adalah janda dari Ubaidullah bin Jahsy yg ketika hijrah ke Habsyah berpindah ke agama Kristian sementara Ramlah tetap bertahan dengan Islam, oleh sebab itu Nabi menikahinya. Ramlah meninggal di Madinah pada tahun 44 hijriah.
7. Zainab binti Jahsy bin Riab bin Ya'mur bin Shabirah bin Murrah.
Zainab adalah sepupu Nabi, putri dari bibi Nabi yang bernama Umaimah binti Abd Muthollib. Zainab adalah mantan istri dari Zaid bin Haritsah yang merupakan anak angkat Nabi, hal ini bermaksud untuk membatalkan hukum jahiliah yang mengharamkan seorang bapak angkat menikahi istri anak angkatnya. Pernikahan dengan Nabi membuat Zainab selalu membanggakan dirinya di hadapan istri-istri Nabi yang lain, betapa tidak, yang menikahkan dirinya dengan Nabi adalah Allah SWT secara langsung, berbeda dengan istri Nabi yang lain yang menikah dengan di dampingi wali-walinya. Zainab menikah dengan Nabi pada tahun 5 hijriah.
8. Zainab binti Huzaimah bin Harits bin Abdullah bin Amr bin Abd manaf Al-Hilaliyah.
Zainab binti Huzaimah menikah dengan Nabi pada tahun 3 hijriah, pernikahannya dengan Nabi hanya berlangsung 2 atau 3 bulan. Zainab adalah janda dari Ubaidah bin Al-Harits dan Jahm bin Amr Al-Harits yang merupakan saudara sepupunya. Zainab meninggal pada saat Nabi masih hidup, Zainab di makamkan di Baqi'.
Selama hidupnya Zainab di kenal dengan sebutan Ummul-masakin (ibu orang-orang miskin) hal ini karena perhatian dan kasih sayangnya terhadap orang miskin
9. Maimunah binti Harits bin Hazn bin Bahir bin Huzam Al-Hilaliah.
Maimunah adalah saudara satu ibu dengan Zainab binti Huzaimah. Maimunah adalah bibi dari Halid bin Walid dan Ibnu 'Abbas. Menikah dengan Nabi pada saat berusia 60 tahun, Nabi memberi mahar sebanyak 400 dirham. Kebersamaannya dengan Nabi hanya berlangsung 2 tahun. Sebelum menikah dengan Nabi Maimunah adalah istri dari Abi Rahm bin Abd Uzza bin Abi Qais. Maimunah meninggal di daerah bernama Siraf pada tahun 51 hijriah.
10. Juwairiah binti Harits bin Abi Dhirar Al-Khuza'iyah.
Juwairiah adalah janda dari Musyaffi' bin Shafwan Al-Musthaliq. Pernah menjadi tawanan kaum muslimin dan menjadi budak dari Tsabit bin Qais Al-Anshari. Juwairiah membebaskan dirinya dari Tsabit bin Qais, setelah bebas lalu menyerahkan dirinya pada Nabi. Nabi kemudian menikahinya.
11. Shafiyah binti Huyai bin Akhthab.
Shafiyah adalah keturunan dari Nabi Harun AS. Sebelum menjadi istri Nabi, Nabi menyerahkannya pada Dhihyah Al-Kalby, hal ini mengundang protes dari seorang sahabat yang mengatakan bahwa tidaklah pantas Nabi menyerahkan Shafiyah pada Dhihyah karena Shafiyah adalah pembesar dari bani Quraidzhah dan bani Nadhir. Mendengar hal ini Nabi memberi kemerdekaan pada Shafiyah lalu Nabi menikahinya. Shafiyah meninggal pada bulan Ramadhan tahun 50 hijriah di zaman Muawiyah bin Abu Sofyan.
Ada satu cerita menarik mengenai Shafiyah ini, suatu ketika Nabi memasuki kamar Shafiyah dan Nabi mendapati Shafiyah dalam keadaan menangis. Nabi bertanya pada Shafiyah; apa yang menyebabkan engkau menangis wahai Shafiyah? Shafiyah menjawab; Aisyah dan Hafshah telah memperolok-olok aku, mereka berdua merasa lebih tinggi kedudukannya sebagai istri Nabi di banding aku. Nabi berkata; mengapa tidak engkau katakan bahwa Harun AS adalah ayahku, Musa AS adalah pamanku dan Muhammad SAAW adalah suamiku, setelah semua itu, bagaimana bisa mereka lebih tinggi darimu?
Jariyah-jariyah Nabi
1. Mariah Al-Qibthiyyah.
Mariah adalah Ibu dari Ibrahim. Mariah adalah hadiah dari raja Mesir untuk Rasulullah. Meninggal pada masa pemerintahan Umar bin Khoth-thob.
2. Raihanah Al-Quradzhiyyah.
Raihanah meninggal pada saat Nabi masih hidup, di makamkan di pekuburan Baqi'.
3. Khaulah binti Hakim.
Khaulah binti Hakim adalah salah seorang wanita yang menghibahkan dirinya pada Nabi.
4. Zainab binti Jahsy.
Zainab dan para jariah lainnya pada ahirnya menjadi Istri Nabi.
Ada 2 orang wanita yang Nabi lepaskan sebelum Nabi mencampurinya yaitu;
1. Amrah
2. Umaimah
Di antara seluruh istri Nabi yang di nikahi dalam keadaan gadis hanyalah Aisyah Abu Bakar, sementara yang lainnya adalah berstatus janda.
Putra-putri Nabi
1. Zainab.
Zainab adalah putri sulung Rasulullah SAAW, lahir pada waktu usia Rasul 30 tahun.
2. Ruqayyah.
Ruqayyah lahir 3 tahun setelah Zainab atau 7 tahun sebelum Rasul diangkat menjadi Nabi, Ruqayyah adalah salah seorang di antara istri Utsman bin Affan, khalifah ke 3.
3. Fathimah Az-zahra AS.
Fathimah lahir 1 tahun setelah Rasul di angkat menjadi Nabi, menikah dengan Imam Ali AS pada tahun 2 hijriah dalam usia 15 tahun 5 bulan sementara pada waktu itu usia Imam Ali adalah 21 tahun 5 bulan. Fathimah adalah salah seorang keluarga Rasul yang paling pertama menyusul Rasulullah menghadap Hadhrat Allah SWT, selisih waktunya adalah 6 bulan. Fathimah Az-zahra AS adalah putri yang paling Nabi cintai, lahir dari Fathimah 2 orang permata Nabi yaitu Hasan dan Husain. Alaihim Salam.
4. Abdullah (Ath-thoyib, Ath-thohir)
Abdullah meninggal pada waktu masih bayi di masa Muhammad belum di angkat menjadi Nabi.
5. Ibrahim.
Anak Rasulullah dari Mariah Al-Qibthiyyah, lahir pada tahun 8 hijriah, juga dalam keadaan masih bayi, Nabi sempat menitikkan air mata dalam melepas kepergian Ibrahim ke alam baqa.
Sehari setelah wafatnya Ibrahim terjadi gejala alam yang di anggap luar biasa pada waktu itu, gerhana matahari. Orang ramai menghubungkan peristiwa alam itu dengan wafatnya Ibrahim sehingga Nabi perlu memberi tahukan pada mereka bahwa gerhana matahari tidak ada sangkut pautnya dengan kematian atau kehidupan seseorang. Gerhana hanyalah merupakan salah satu tanda di antara tanda-tanda kebesaran Allah SWT.
6. Ummu Kaltsum.
Lahir setelah di utusnya Rasul menjadi Nabi atau ba'dal bi'tsah. Menikah dengan Utsman bin Affan pada tahun 3 hijriah setelah meninggalnya Ruqayyah, dengan sebab menikahi 2 putri Nabi Utsman mendapat gelar Dzun-nurain atau pemilik 2 cahaya.
7. Al-Qasim.
Al-Qasim adalah kakak dari Zainab, lahir sebelum tahun kenabian, dengan namanya lah Nabi bergelar yaitu Abul-Qasim. Al-Qasim meninggal pada waktu kecil.
Sekianlah biografi singkat para mutiara yang ada di sekeliling Rasulullah SAAW. Mereka adalah orang-orang yang hidup dalam sejarah emas anak manusia. Kehidupan Nabi adalah kehidupan terbaik di sepanjang zaman, baik sebelum beliau di dzahirkan ke dunia maupun setelah beliau kembali ke Hadhrat yang maha wujud, Tuhan semesta alam.
_______****_______
Cirebon, Selasa 3 feb 2009 jam 2:30 am.
Kamis, 29 Januari 2009
Catatan pagi
Daripada mikir yang tidak-tidak lebih baik menulis walau sengawur apapun.
Komentar saya di situs Jaringan Islam Liberal dalam editorial yang di tulis Abd Moqsith Gazali, yang berkaitan dengan ultah NU yang ke 83 ternyata ada yang doyan juga untuk menanggapi. Dalam komentar tersebut saya memaparkaran fenomena dalam tubuh Islam, yang meniscayakan adanya keberbagaian Madzhab. Saya melegalkan adanya keberbagaian Madzhab setelah membaca adanya sinyalemen dari Hadits Rasul yang berbunyi "ikhtilafu ummati rahmatatun, perbedaan ummatku adalah rahmat. Hadits tersebut di riwayatkan oleh Nasar Al-Maqdisi secara marfu' dalam kitabnya yang berjudul Al-Hujjah, demikian juga Al-Baihaqy meriwayatkan dari Qosim bin Muhammad dalam Al-Madkhal dan Yahya bin Said meriwayatkan dari Umar bin Abd Aziz.
Sinyalemen ke dua adalah Hadits Nabi yang berbunyi "innakum fi zamanin man 'amila minkum 'usyro ma umiro bihi halaka, tsumma ya'-tii zamanun man 'amila minkum bi'usyri ma umiro bihi naja. Sesungguhnya kalian (sahabat) berada pada zaman di mana jika diantara kalian mengamalkan agama sebanyak 80% dari ajarannya maka kalian akan celaka, kemudian akan datang suatu zaman yang jika diantara kalian mengamalkan ajaran agama 20% saja maka kalian akan selamat. Hadits riwayat Tirmidzi dari Abu Hurairah dalam kitab Al-Fitan Hadits nomor 192. Sinyalemen terahir dari Rasulullah ini meniscayakan adanya pergeseran kualitas keberagamaan umat islam dari yang paling sempurna seperti sahabat-sahabat Rasulullah, sampai keberagamaan yang asal beragama seperti yang terlihat pada kebanyakan orang di zaman ini, dengan kata lain seorang yang beragama islam sepeninggal Rasulullah tidaklah harus 100% mengikuti beliau dalam hal ibadah, ahlak, jihad, peneraman hukum dlsb.
Saya yakin seyakin-yakinnya siapapun dia adanya, sesuper apapun tingkat keislamannya tidak bakal mampu mengejar tingkat keislaman seperti Islamnya Rasulullah SAAW.
Komentar saya di situs Jaringan Islam Liberal dalam editorial yang di tulis Abd Moqsith Gazali, yang berkaitan dengan ultah NU yang ke 83 ternyata ada yang doyan juga untuk menanggapi. Dalam komentar tersebut saya memaparkaran fenomena dalam tubuh Islam, yang meniscayakan adanya keberbagaian Madzhab. Saya melegalkan adanya keberbagaian Madzhab setelah membaca adanya sinyalemen dari Hadits Rasul yang berbunyi "ikhtilafu ummati rahmatatun, perbedaan ummatku adalah rahmat. Hadits tersebut di riwayatkan oleh Nasar Al-Maqdisi secara marfu' dalam kitabnya yang berjudul Al-Hujjah, demikian juga Al-Baihaqy meriwayatkan dari Qosim bin Muhammad dalam Al-Madkhal dan Yahya bin Said meriwayatkan dari Umar bin Abd Aziz.
Sinyalemen ke dua adalah Hadits Nabi yang berbunyi "innakum fi zamanin man 'amila minkum 'usyro ma umiro bihi halaka, tsumma ya'-tii zamanun man 'amila minkum bi'usyri ma umiro bihi naja. Sesungguhnya kalian (sahabat) berada pada zaman di mana jika diantara kalian mengamalkan agama sebanyak 80% dari ajarannya maka kalian akan celaka, kemudian akan datang suatu zaman yang jika diantara kalian mengamalkan ajaran agama 20% saja maka kalian akan selamat. Hadits riwayat Tirmidzi dari Abu Hurairah dalam kitab Al-Fitan Hadits nomor 192. Sinyalemen terahir dari Rasulullah ini meniscayakan adanya pergeseran kualitas keberagamaan umat islam dari yang paling sempurna seperti sahabat-sahabat Rasulullah, sampai keberagamaan yang asal beragama seperti yang terlihat pada kebanyakan orang di zaman ini, dengan kata lain seorang yang beragama islam sepeninggal Rasulullah tidaklah harus 100% mengikuti beliau dalam hal ibadah, ahlak, jihad, peneraman hukum dlsb.
Saya yakin seyakin-yakinnya siapapun dia adanya, sesuper apapun tingkat keislamannya tidak bakal mampu mengejar tingkat keislaman seperti Islamnya Rasulullah SAAW.
Sabtu, 24 Januari 2009
Misteri pemikiran
Celine Dion begitu syahdu menyanyikan lagu ini; my heart will go on; hatiku ingin beranjak. Judul lagu yang di nyanyikan Celine Dion itu seirama dengan suasana hatiku saat ini yang juga ingin beranjak. Hatiku ingin beranjak ke tempat yang sangat jauh, ke tempat yang belum pernah di diami oleh apapun, ke tempat di mana nama Tuhan tidak lagi terdengar menyeramkan, ke Tempat di mana Tuhan adalah kekuatan dahsyat yang tak perlu lagi di takuti, ke tempat yang tiada lagi pembahasan tentang neraka yang begitu menakutkan hati; syurga yg begitu menggiurkan hati, ke tempat di mana tidak lagi terdengar dogma-dogma kafir musyrik dan murtad mulhid, ke tempat di mana hati, akal, fikiran dan seluruh raga ini bisa menyatu dalam kedamaian yang abadi.
Malam makin kelam di tingkahi hujan nan rintik beriak. Satu demi satu suara-suara syahdu Celine Dion, Mariah Carey, Agnes Monica, Siti Nur Haliza, Rossa, Jewel dan Britney Spears mengantarkan Aku pada suasana yang semakin tak menentu, menggelamayar laksana bintang yang kadang berkelip dan kadang enggan.
Di saat kalut seperti ini tiba-tiba hati dan fikiranku teringat akan seseorang yang bernama Yesus Al-masih, air mata tak terasa berlinang dalam mengenangnya. Sejarah manusia agung itu sejak lama mengisi dalam bingkai hatiku dan menawan pemikiranku selain manusia agung lainnya yaitu Muhammad SAAW.
Betapa tidak, manusia agung itu di lahirkan tanpa seorang bapak, membaktikan seluruh hidupnya pada Ibundanya sebelum berpindah pada kebaktian total pada Tuhannya. Manusia agung itu tidak pernah di risaukan oleh apapun, tidak punya seorang istri yang akan membuat hatinya terus menerus prihatin, tidak di punyainya anak yg akan membuatnya risau hari demi hari, makan sekedar apa yang dapat di temuinya, tidak di punyainya rumah untuknya berteduh.
Dialah Yesus sang manusia agung yang di suatu hari setelah hidupnya berahir fitnah kejam dari sebagian manusia bertubi-tubi menghantam kemuliaannya dengan menganggapnya sebagai Tuhan. Dialah Yesus manusia agung yang selama hidupnya menebarkan kasih di seluruh penjuru bumi. Dialah Yesus yang pernah bersabda bahwa betapapun besar kasihku pada mahluk Tuhan tapi aku tidak akan tinggal diam untuk mengadili mereka yang telah menuhankan aku di pengadilan ahirat kelak. Dialah Yesus yang pernah berkata; jika ada yang menampar pipi kirimu maka berikanlah pipi kananmu. Dialah Yesus yang namanya akan tetap abadi bersanding dengan nama manusia-manusia agung lainnya.
Tulisan ini sepertinya tidak sinkron antara judul dan isi, ma'lum suasana hati sedang berada di titik nadir senadir-nadirnya. Daripada semakin lama semakin nggaladrah lebih baik berhenti dan berganti aktivitas, shalat malam.
Allahumma shalli 'ala Muhammad wa-aali Muhammad wa-'alaa 'Isa 'alihim salaam.
Malam makin kelam di tingkahi hujan nan rintik beriak. Satu demi satu suara-suara syahdu Celine Dion, Mariah Carey, Agnes Monica, Siti Nur Haliza, Rossa, Jewel dan Britney Spears mengantarkan Aku pada suasana yang semakin tak menentu, menggelamayar laksana bintang yang kadang berkelip dan kadang enggan.
Di saat kalut seperti ini tiba-tiba hati dan fikiranku teringat akan seseorang yang bernama Yesus Al-masih, air mata tak terasa berlinang dalam mengenangnya. Sejarah manusia agung itu sejak lama mengisi dalam bingkai hatiku dan menawan pemikiranku selain manusia agung lainnya yaitu Muhammad SAAW.
Betapa tidak, manusia agung itu di lahirkan tanpa seorang bapak, membaktikan seluruh hidupnya pada Ibundanya sebelum berpindah pada kebaktian total pada Tuhannya. Manusia agung itu tidak pernah di risaukan oleh apapun, tidak punya seorang istri yang akan membuat hatinya terus menerus prihatin, tidak di punyainya anak yg akan membuatnya risau hari demi hari, makan sekedar apa yang dapat di temuinya, tidak di punyainya rumah untuknya berteduh.
Dialah Yesus sang manusia agung yang di suatu hari setelah hidupnya berahir fitnah kejam dari sebagian manusia bertubi-tubi menghantam kemuliaannya dengan menganggapnya sebagai Tuhan. Dialah Yesus manusia agung yang selama hidupnya menebarkan kasih di seluruh penjuru bumi. Dialah Yesus yang pernah bersabda bahwa betapapun besar kasihku pada mahluk Tuhan tapi aku tidak akan tinggal diam untuk mengadili mereka yang telah menuhankan aku di pengadilan ahirat kelak. Dialah Yesus yang pernah berkata; jika ada yang menampar pipi kirimu maka berikanlah pipi kananmu. Dialah Yesus yang namanya akan tetap abadi bersanding dengan nama manusia-manusia agung lainnya.
Tulisan ini sepertinya tidak sinkron antara judul dan isi, ma'lum suasana hati sedang berada di titik nadir senadir-nadirnya. Daripada semakin lama semakin nggaladrah lebih baik berhenti dan berganti aktivitas, shalat malam.
Allahumma shalli 'ala Muhammad wa-aali Muhammad wa-'alaa 'Isa 'alihim salaam.
Jumat, 23 Januari 2009
Euphoria Obama
Dunia begitu gegap gempita menyambut terpilihnya Barrack Husein Obama sebagai presiden yg ke 44 dari negara Amerika serikat. Kerinduan akan adanya kedamaian abadi di seluruh dunia melalui perbaikan di bidang ekonomi, keamanan, keadilan serta tegaknya nilai-nilai HAM di dunia internasional membuat masyarakat dunia berharap penuh pada sosok manusia kulit hitam itu.
Tak urung seluruh media televisi yg ada di Indonesia juga tidak bosan-bosannya mengulas profil Obama yg nota-bene pernah tinggal beberapa tahun di Indonesia semasa kecilnya, puncaknya pada acara inaugurate Obama tanpa kecuali seluruh televisi Indonesia secara serentak menayangkannya, seoalah-olah betul-betul ada ikatan emosional yg kuat antara Indonesia dan pribadi Obama sehingga dengan terpilihnya obama akan ada kebijakan-kebijakannya secara husus yg akan menguntungkan Indonesia. Walaupun belum ada bukti kongkritnya bolehlah masyarakat Indonesia sedikit berharap. Padahal bisa jadi Obama sendiri justru telah lupa sama sekali pada Indonesia, negeri yg pernah di diaminya semasa kecil ini.
Memori masa kecil bisa terlupakan sama sekali oleh segala pergulatan hidup sehari-hari yg di hadapi Obama. Jangankan Obama, itu terlalu jauh, di Indonesia sendiri banyak contoh orang-orang desa yg menemui kesuksesan dalam perantauannya di Jakarta, entah itu menjadi pejabat, pengusaha, artis dlsb yg lupa pada tanah kelahirannya. Boro-boro akan berperan penting dalam memajukan tanah kelahirannya, sekedar menginjakkan kaki di tanah kelahirannya itupun tidak lagi di lakukannya.
Obama tumbuh dan besar dalam lingkungan keluarga yg multi ragam, ayahnya berkewarga negaraan kenya beragama Islam, ibunya warga negara Amerika beragama kristian, punya ayah tiri berkewarga negaraan Indonesia, adiknya yg bernama Maya sutoro kini menikah dengan warga negara Kanada dan Obama sendiri berkewarga negaraan Amerika. Melihat fakta yg ada dari kehidupan Obama beberapa pengamat memprediksi Obama akan lebih peka dalam menangani segala persoalan hususnya menyangkut masalah yg kini sedang bergolak di timur tengah antara israel dan Palestine serta umumnya yg menyangkut dunia Islam yg selama pemerintahan Bush telah mendapat perlakuan diskriminatif yg begitu rupa dg di terapkannya politik standar ganda.
Kita lihat kiprah Obama dalam waktu dekat ini, manuver apa yang akan di lakukannya untuk membuat dunia yang lebih baik. Dunia yang bebas dari segala diskriminasi ras, agama, ekonomi, keadilan dan tetek bengek permasalahan dunia lainnya yang selama ini masyarakat dunia begitu sesak memikirkannya, tetapi jangan pula di lupakan bahwa Obama tidak bekerja sendiri untuk menyelesaikan masalah-masalah dalam negeri Amerika maupun yang berkaitan dengan tata politik dunia karena bagaimanapun ada kekuatan internal dalam negeri Amerika lainnya selain gedung putih yang pastinya akan terus memonitor kinerja Obama. Apa yang di lakukan Obama akan menguntungkan mereka atau tidak, Obamapun pasti tidak akan memungkiri hal itu demi memperkuat posisi dirinya sebagai presiden tidak hanya untuk 1 periode saja tapi persiapan pula bagi periode selanjutnya apalagi jika di lihat dari keadaan dirinya yang berkulit hitam dan satu-satunya yang pernah mejadi presiden di Amerika, komunitas kulit hitam di Amerika bukanlah marupakan kelompok mayoritas, mereka hanya berjumlah 10% saja dari keseluruhan penduduk Amerika, selain itu juga sekian lama ras kulit hitam menjadi warga kelas dua di Amerka, jadi pencitraan diri adalah merupakan sesuatu yang akan terus di pertahankan Obama dengan cara menyenangkan kelompok ras kulit putih yang memiliki kedudukan strategis di Amerika.
Alhasil, segala gegap gempita dunia dalam menyambut terpilihnya Obama dan segala harapan akan adanya dunia baru yang lebih baik hanyalah ibarat mimpi di siang hari jika dalam beberapa bulan ke depan tidak ada langkah konkrit dari Obama untuk menyelesaikan konflik antara Palestine dan israel, masalah di Palestine adalah ujian pertama bagi Obama di dunia internasional sebelum menangani masalah-masalah lainnya yang lebih dahsyat. kita tunggu..
Tak urung seluruh media televisi yg ada di Indonesia juga tidak bosan-bosannya mengulas profil Obama yg nota-bene pernah tinggal beberapa tahun di Indonesia semasa kecilnya, puncaknya pada acara inaugurate Obama tanpa kecuali seluruh televisi Indonesia secara serentak menayangkannya, seoalah-olah betul-betul ada ikatan emosional yg kuat antara Indonesia dan pribadi Obama sehingga dengan terpilihnya obama akan ada kebijakan-kebijakannya secara husus yg akan menguntungkan Indonesia. Walaupun belum ada bukti kongkritnya bolehlah masyarakat Indonesia sedikit berharap. Padahal bisa jadi Obama sendiri justru telah lupa sama sekali pada Indonesia, negeri yg pernah di diaminya semasa kecil ini.
Memori masa kecil bisa terlupakan sama sekali oleh segala pergulatan hidup sehari-hari yg di hadapi Obama. Jangankan Obama, itu terlalu jauh, di Indonesia sendiri banyak contoh orang-orang desa yg menemui kesuksesan dalam perantauannya di Jakarta, entah itu menjadi pejabat, pengusaha, artis dlsb yg lupa pada tanah kelahirannya. Boro-boro akan berperan penting dalam memajukan tanah kelahirannya, sekedar menginjakkan kaki di tanah kelahirannya itupun tidak lagi di lakukannya.
Obama tumbuh dan besar dalam lingkungan keluarga yg multi ragam, ayahnya berkewarga negaraan kenya beragama Islam, ibunya warga negara Amerika beragama kristian, punya ayah tiri berkewarga negaraan Indonesia, adiknya yg bernama Maya sutoro kini menikah dengan warga negara Kanada dan Obama sendiri berkewarga negaraan Amerika. Melihat fakta yg ada dari kehidupan Obama beberapa pengamat memprediksi Obama akan lebih peka dalam menangani segala persoalan hususnya menyangkut masalah yg kini sedang bergolak di timur tengah antara israel dan Palestine serta umumnya yg menyangkut dunia Islam yg selama pemerintahan Bush telah mendapat perlakuan diskriminatif yg begitu rupa dg di terapkannya politik standar ganda.
Kita lihat kiprah Obama dalam waktu dekat ini, manuver apa yang akan di lakukannya untuk membuat dunia yang lebih baik. Dunia yang bebas dari segala diskriminasi ras, agama, ekonomi, keadilan dan tetek bengek permasalahan dunia lainnya yang selama ini masyarakat dunia begitu sesak memikirkannya, tetapi jangan pula di lupakan bahwa Obama tidak bekerja sendiri untuk menyelesaikan masalah-masalah dalam negeri Amerika maupun yang berkaitan dengan tata politik dunia karena bagaimanapun ada kekuatan internal dalam negeri Amerika lainnya selain gedung putih yang pastinya akan terus memonitor kinerja Obama. Apa yang di lakukan Obama akan menguntungkan mereka atau tidak, Obamapun pasti tidak akan memungkiri hal itu demi memperkuat posisi dirinya sebagai presiden tidak hanya untuk 1 periode saja tapi persiapan pula bagi periode selanjutnya apalagi jika di lihat dari keadaan dirinya yang berkulit hitam dan satu-satunya yang pernah mejadi presiden di Amerika, komunitas kulit hitam di Amerika bukanlah marupakan kelompok mayoritas, mereka hanya berjumlah 10% saja dari keseluruhan penduduk Amerika, selain itu juga sekian lama ras kulit hitam menjadi warga kelas dua di Amerka, jadi pencitraan diri adalah merupakan sesuatu yang akan terus di pertahankan Obama dengan cara menyenangkan kelompok ras kulit putih yang memiliki kedudukan strategis di Amerika.
Alhasil, segala gegap gempita dunia dalam menyambut terpilihnya Obama dan segala harapan akan adanya dunia baru yang lebih baik hanyalah ibarat mimpi di siang hari jika dalam beberapa bulan ke depan tidak ada langkah konkrit dari Obama untuk menyelesaikan konflik antara Palestine dan israel, masalah di Palestine adalah ujian pertama bagi Obama di dunia internasional sebelum menangani masalah-masalah lainnya yang lebih dahsyat. kita tunggu..
Kamis, 08 Januari 2009
Mengetuk kemaha besaran Tuhan, simpati untuk palestine
Hari ini adalah hari ke 12 tentara israel menyerbu dengan brutal Palestine di wilayah Gaza, tindakan keji israel menyebabkan Gaza menjadi sangat porak poranda, gelap dan tak lagi berbentuk, sementara korban dari warga sipil Palestine begitu banyak berjatuhan tak terkecuali anak-anak dan wanita turut menjadi korbannya, kemarin saya lihat Al-Jazeera menayangkan dengan jelas anak-anak yg tidak berdosa terbujur kaku tidak lagi bernyawa, saya sebagai warga dunia yg masih memiliki hati nurani begitu miris melihat pemandangan seperti itu.
Israel yg di dukung penuh oleh amerika serikat yg merupakan sekutu kentalnya dalam segala tindak terorisme global sama sekali tidak menghiraukan seruan dan tekanan internasional supaya mereka menghentikan serangan kejinya dan menarik mundur pasukannya dari Gaza, segala upaya diplomasi yg di lakukan di DK PBB juga nampaknya akan sia-sia belaka malah membuat israel semakin membabi buta, barangkali nurani para pemimpin israel sudah sedemikian tertutup dari kebenaran sehingga tidak peduli lagi akan segala derita kemanusiaan.
Hanya Tuhan yg tahu maksud tersembunyi dari para pemimpin israel, apakah memang mereka telah berniat menghabisi seluruh warga Palestine sekaligus memusnahkan wilayah Palestine dari muka bumi dan kemudian menjadikannya sebagai israel raya. Wallahu a'lam. Wilayah israel yg dulunya begitu kecil dan malah tidak terlihat di peta dunia kini menjadi semakin luas berkat tindakannya mencaplok sebagian besar wilayah palestine, merekapun tidak segan mengusir rakyat Palestine dari negaranya, kini rakyat Palestine hanya tersisa di Gaza dan tepi barat yg masing-masingnya terisolasi oleh tembok-tembok pembatas yg di buat israel sementara sebagian lagi mengungsi ke negara lain.
Amerika serikat yg begitu pro aktif menjadi polisi dunia jika ada kekuatan-kekuatan yg di anggapnya akan menjadi biang keladi kerusuhan dunia, nampak tidak sedikitpun berusaha menghentikan segala tindak kejahatan yg di lakukan israel terhadap Palestine hanya karena Palestine mayoritas penduduknya adalah muslim. Coba jika hal yg sama di lakukan oleh negara muslim seperti Irak, Pakistan, Afganistan, Iran dll, maka amerika dengan tanpa menghiraukan lagi nilai-nilai HAM menyerbu dengan kekuatan penuh negara-negara itu, jadi baik PBB maupun amerika dan negara sekutunya seolah membiarkan segala tindak kejahatan yg di lakukan israel dan membiarkan pemusnahan secara perlahan negara Palestine.
Hal lain yg membuat saya begitu kecewa adalah ketidak berdayaan negara-negara muslim yg lain untuk membantu menahan laju kebiadaban israel atas Palestine padahal israel hanyalah kekuatan yg tidak begitu besar di timur tengah sana jika negara-negara muslim di timur tengah mau bersatu padu. Memang bukan israelnya yg menjadi ketakutan utama negara-negara muslim timur tengah itu, peran penting amerika dalam mendukung segala kebijakan israel membuat negara-negara muslim timur tengah berfikir 1000 kali untuk mencoba membantu Palestine, syndrom american phobia begitu besar menghantui negara-negara muslim timur tengah hatta arab saudi yg seharusnya menjadi pioneer terdepan bagi negara muslim lainnya justru kadang berada di bawah ketiak amerika serikat sehingga menutup mata terhadap segala yg terjadi di palestine. Alhasil, peran penting negara-negara muslim untuk membela Palestine adalah juga sesuatu yg tidak bisa di harapkan lagi.
Maka satu-satunya yg masih bisa di harapkan untuk menghentikan dan sekaligus menghancurkan israel adalah hanya dengan mengetuk kemaha besaran Tuhan, biar Tuhan sendiri yg bertindak untuk menghakimi israel. Doa-doa umat muslim di seluruh penjuru dunia Islam yg di lakukan bertahun-tahun meminta kebebasan Palestine dari cengkraman kebiadaban israelpun seolah-oleh tidak membekas sama sekali. Mungkin Tuhan punya rencana lain berkaitan dengan Palestine ini, sebuah rencana yg tidak akan bisa di indikasi oleh manusia manapun.
Saya beriman dan tetap akan memupuk keyakinan dalam hati bahwa Tuhan memang ada dan senantiasa mengawasi segala gerak gerik seluruh manusia, Tuhan juga pasti mengetahui bahwa di bagian bumi yg lain di mana saya berpijak kini ada segerombolan manusia biadab sedang melakukan tindakan yg brutal dan keji melampaui batas kewajaran dan menistakan segala norma kemanusiaan, betapa tidak, anak-anak kecil yg tidak berdosa menjadi korban kebiadaban israel, anak-anak kecil itu mati bergelimpangan di jalanan yg membuat nurani begitu tercabik-cabik. Saya yg bukan siapa-siapa dari anak-anak kecil tak berdosa itu turut merasakan kepedihan yg mendalam atas kematian tragis mereka, lalu bagaimana dengan orang tua dan kerabat anak-anak itu? Bagaimana menurut pendapat-Mu wahai Tuhanku? Tidakkah Engkau adalah dzat yg memiliki belas kasih yg tiada terbatas sehingga rasa kasih sayang orang tua terhadap bayinya tidak seberapa di banding rasa kasih-Mu terhadap hamba-hamba-Mu? Tuhanku, saya beriman dengan segala sifat Rahman dan Rahim-Mu, meskipun segala kebodohan yg ada pada diriku selalu salah dalam memahami ma'na Rahman dan Rahim-Mu tetapi apakah saya juga tidak boleh berfikir dan memikirkan jika menurut saya disana memang ada kenyataan yg bertolak belakang dengan segala teori Rahman dan Rahim-Mu?
Tuhanku, saya tahu melalui Al-quran yg saya baca bahwa engkau telah mengunggulkan israel atas segala bangsa dan itu sepenuhnya adalah hak Engkau tetapi apakah Engkau juga akan membiarkan terus menerus israel menghancurkan, meruntuhkan, memporak porandakan dan menguasai segala sesuatu yg ada di Palestine dan membunuhi semua manusia yg ada di dalamnya tak terkecuali anak-anak?
Wahai Tuhanku, betapa, apa yg telah israel lakukan bukan kali ini saja, jauh di masa yg lalu israel telah melakukan hal yg sama seperti sekarang dan entah sampai kapan mereka akan terus melakukan kebiadaban di palestine. Haruskah saya terus percaya terhadap manusia-manusia yg duduk-duduk saja di meja perundingan. PBB, OKI, LIGA ARAB dan organisasi lainnya, semua itu tiada berguna wahai Tuhanku. Arab saudi, sebuah negara yg di dalamnya ada rumah-Mu dan ada kota nabi-Mu yg semestinya menjadi front terdepan dari negara-negara muslim yg ada di timur tengah untuk memberi bantuan yg maksimal terhadap segala penderitaan Palestina nyaris tidak terdengar suaranya, untuk apa saya percaya terhadap ungkapan "jika arab mulia maka Islam juga akan ikut mulia" kalau memang negara-negara arab justru adalah negara-negara yg pengecut?
Maafkan saya wahai Tuhanku, saya membaca kitab-Mu yg mengisahkan peperangan yg di lakukan oleh Nabi-Mu dan sahabat-sahabatnya, tidak selamanya pasukan Islam memenangi peperangan dan bahkan pernah mengalami keadaan yg kacau balau, pasukan muslim banyak yg terbunuh dan hampir mundur dari arena perang namun jika saat yg begitu genting menimpa pasukan muslim, dengan kebijaksanaan-Mu Engkau akan kirimkan pasukan-pasukan Malaikat untuk membantu pasukan muslim memenangkan peperangan, tidakkah Engkau juga akan mengirimkan pasukan yg sama demi membantu pasukan Islam Palestine? Apakah belum saatnya atau apakah keadaan Palestine sekarang belum segenting dulu ketika pasukan Nabi begitu kocar kacir tiada berdaya?
Maafkan saya wahai Tuhanku, saya dengar Engkau memiliki Malaikat-Malaikat yg begitu gagah perkasa, bahkan ada diantara Malaika-Mu yg tubuhnya sangat besar yg kepalanya berada di ujung langit ke tujuh dan telapak kakinya berada di permukaan bumi yg ke tujuh pula, Subhanaka, maha besar Engkau wahai Tuhanku, tidakkah Engkau berkenan untuk menggerakkan salah satu di antara mereka untuk menginjakkan kakinya di bumi israel? Tuhanku, di penghujung tahun 2004 yg lalu tsunami begitu dahsyat mengguncang Aceh darus-salam, meluluh lantakkan apa saja yg ada di sana dan menewaskan ratusan ribu manusia dalam sekejap, tidakkah Engkau juga berkenan menghancurkan israel dengan tsunami yg sama atau lebih besar dari itu?
Tuhanku, saya beriman dengan segala takdir-Mu apapun yg terjadi, hanya kegundahan saya sebagai manusia kadang tidak bisa menerima begitu saja segala kejadian yg dahsyat yg tidak bisa di cerna oleh akal, maafkan saya wahai Tuhanku atas segala tulisan yg tertuang disini. Saya bodoh wahai Tuhanku, saya jahil wahai Tuhanku, saya kemprung wahai Tuhanku, saya nranyak wahai Tuhanku, saya suka mendzhalimi diri wahai Tuhanku, mudah-mudahan Engkau berkenan memaafkan saya dan bangsa Palestine wahai Tuhanku.
Israel yg di dukung penuh oleh amerika serikat yg merupakan sekutu kentalnya dalam segala tindak terorisme global sama sekali tidak menghiraukan seruan dan tekanan internasional supaya mereka menghentikan serangan kejinya dan menarik mundur pasukannya dari Gaza, segala upaya diplomasi yg di lakukan di DK PBB juga nampaknya akan sia-sia belaka malah membuat israel semakin membabi buta, barangkali nurani para pemimpin israel sudah sedemikian tertutup dari kebenaran sehingga tidak peduli lagi akan segala derita kemanusiaan.
Hanya Tuhan yg tahu maksud tersembunyi dari para pemimpin israel, apakah memang mereka telah berniat menghabisi seluruh warga Palestine sekaligus memusnahkan wilayah Palestine dari muka bumi dan kemudian menjadikannya sebagai israel raya. Wallahu a'lam. Wilayah israel yg dulunya begitu kecil dan malah tidak terlihat di peta dunia kini menjadi semakin luas berkat tindakannya mencaplok sebagian besar wilayah palestine, merekapun tidak segan mengusir rakyat Palestine dari negaranya, kini rakyat Palestine hanya tersisa di Gaza dan tepi barat yg masing-masingnya terisolasi oleh tembok-tembok pembatas yg di buat israel sementara sebagian lagi mengungsi ke negara lain.
Amerika serikat yg begitu pro aktif menjadi polisi dunia jika ada kekuatan-kekuatan yg di anggapnya akan menjadi biang keladi kerusuhan dunia, nampak tidak sedikitpun berusaha menghentikan segala tindak kejahatan yg di lakukan israel terhadap Palestine hanya karena Palestine mayoritas penduduknya adalah muslim. Coba jika hal yg sama di lakukan oleh negara muslim seperti Irak, Pakistan, Afganistan, Iran dll, maka amerika dengan tanpa menghiraukan lagi nilai-nilai HAM menyerbu dengan kekuatan penuh negara-negara itu, jadi baik PBB maupun amerika dan negara sekutunya seolah membiarkan segala tindak kejahatan yg di lakukan israel dan membiarkan pemusnahan secara perlahan negara Palestine.
Hal lain yg membuat saya begitu kecewa adalah ketidak berdayaan negara-negara muslim yg lain untuk membantu menahan laju kebiadaban israel atas Palestine padahal israel hanyalah kekuatan yg tidak begitu besar di timur tengah sana jika negara-negara muslim di timur tengah mau bersatu padu. Memang bukan israelnya yg menjadi ketakutan utama negara-negara muslim timur tengah itu, peran penting amerika dalam mendukung segala kebijakan israel membuat negara-negara muslim timur tengah berfikir 1000 kali untuk mencoba membantu Palestine, syndrom american phobia begitu besar menghantui negara-negara muslim timur tengah hatta arab saudi yg seharusnya menjadi pioneer terdepan bagi negara muslim lainnya justru kadang berada di bawah ketiak amerika serikat sehingga menutup mata terhadap segala yg terjadi di palestine. Alhasil, peran penting negara-negara muslim untuk membela Palestine adalah juga sesuatu yg tidak bisa di harapkan lagi.
Maka satu-satunya yg masih bisa di harapkan untuk menghentikan dan sekaligus menghancurkan israel adalah hanya dengan mengetuk kemaha besaran Tuhan, biar Tuhan sendiri yg bertindak untuk menghakimi israel. Doa-doa umat muslim di seluruh penjuru dunia Islam yg di lakukan bertahun-tahun meminta kebebasan Palestine dari cengkraman kebiadaban israelpun seolah-oleh tidak membekas sama sekali. Mungkin Tuhan punya rencana lain berkaitan dengan Palestine ini, sebuah rencana yg tidak akan bisa di indikasi oleh manusia manapun.
Saya beriman dan tetap akan memupuk keyakinan dalam hati bahwa Tuhan memang ada dan senantiasa mengawasi segala gerak gerik seluruh manusia, Tuhan juga pasti mengetahui bahwa di bagian bumi yg lain di mana saya berpijak kini ada segerombolan manusia biadab sedang melakukan tindakan yg brutal dan keji melampaui batas kewajaran dan menistakan segala norma kemanusiaan, betapa tidak, anak-anak kecil yg tidak berdosa menjadi korban kebiadaban israel, anak-anak kecil itu mati bergelimpangan di jalanan yg membuat nurani begitu tercabik-cabik. Saya yg bukan siapa-siapa dari anak-anak kecil tak berdosa itu turut merasakan kepedihan yg mendalam atas kematian tragis mereka, lalu bagaimana dengan orang tua dan kerabat anak-anak itu? Bagaimana menurut pendapat-Mu wahai Tuhanku? Tidakkah Engkau adalah dzat yg memiliki belas kasih yg tiada terbatas sehingga rasa kasih sayang orang tua terhadap bayinya tidak seberapa di banding rasa kasih-Mu terhadap hamba-hamba-Mu? Tuhanku, saya beriman dengan segala sifat Rahman dan Rahim-Mu, meskipun segala kebodohan yg ada pada diriku selalu salah dalam memahami ma'na Rahman dan Rahim-Mu tetapi apakah saya juga tidak boleh berfikir dan memikirkan jika menurut saya disana memang ada kenyataan yg bertolak belakang dengan segala teori Rahman dan Rahim-Mu?
Tuhanku, saya tahu melalui Al-quran yg saya baca bahwa engkau telah mengunggulkan israel atas segala bangsa dan itu sepenuhnya adalah hak Engkau tetapi apakah Engkau juga akan membiarkan terus menerus israel menghancurkan, meruntuhkan, memporak porandakan dan menguasai segala sesuatu yg ada di Palestine dan membunuhi semua manusia yg ada di dalamnya tak terkecuali anak-anak?
Wahai Tuhanku, betapa, apa yg telah israel lakukan bukan kali ini saja, jauh di masa yg lalu israel telah melakukan hal yg sama seperti sekarang dan entah sampai kapan mereka akan terus melakukan kebiadaban di palestine. Haruskah saya terus percaya terhadap manusia-manusia yg duduk-duduk saja di meja perundingan. PBB, OKI, LIGA ARAB dan organisasi lainnya, semua itu tiada berguna wahai Tuhanku. Arab saudi, sebuah negara yg di dalamnya ada rumah-Mu dan ada kota nabi-Mu yg semestinya menjadi front terdepan dari negara-negara muslim yg ada di timur tengah untuk memberi bantuan yg maksimal terhadap segala penderitaan Palestina nyaris tidak terdengar suaranya, untuk apa saya percaya terhadap ungkapan "jika arab mulia maka Islam juga akan ikut mulia" kalau memang negara-negara arab justru adalah negara-negara yg pengecut?
Maafkan saya wahai Tuhanku, saya membaca kitab-Mu yg mengisahkan peperangan yg di lakukan oleh Nabi-Mu dan sahabat-sahabatnya, tidak selamanya pasukan Islam memenangi peperangan dan bahkan pernah mengalami keadaan yg kacau balau, pasukan muslim banyak yg terbunuh dan hampir mundur dari arena perang namun jika saat yg begitu genting menimpa pasukan muslim, dengan kebijaksanaan-Mu Engkau akan kirimkan pasukan-pasukan Malaikat untuk membantu pasukan muslim memenangkan peperangan, tidakkah Engkau juga akan mengirimkan pasukan yg sama demi membantu pasukan Islam Palestine? Apakah belum saatnya atau apakah keadaan Palestine sekarang belum segenting dulu ketika pasukan Nabi begitu kocar kacir tiada berdaya?
Maafkan saya wahai Tuhanku, saya dengar Engkau memiliki Malaikat-Malaikat yg begitu gagah perkasa, bahkan ada diantara Malaika-Mu yg tubuhnya sangat besar yg kepalanya berada di ujung langit ke tujuh dan telapak kakinya berada di permukaan bumi yg ke tujuh pula, Subhanaka, maha besar Engkau wahai Tuhanku, tidakkah Engkau berkenan untuk menggerakkan salah satu di antara mereka untuk menginjakkan kakinya di bumi israel? Tuhanku, di penghujung tahun 2004 yg lalu tsunami begitu dahsyat mengguncang Aceh darus-salam, meluluh lantakkan apa saja yg ada di sana dan menewaskan ratusan ribu manusia dalam sekejap, tidakkah Engkau juga berkenan menghancurkan israel dengan tsunami yg sama atau lebih besar dari itu?
Tuhanku, saya beriman dengan segala takdir-Mu apapun yg terjadi, hanya kegundahan saya sebagai manusia kadang tidak bisa menerima begitu saja segala kejadian yg dahsyat yg tidak bisa di cerna oleh akal, maafkan saya wahai Tuhanku atas segala tulisan yg tertuang disini. Saya bodoh wahai Tuhanku, saya jahil wahai Tuhanku, saya kemprung wahai Tuhanku, saya nranyak wahai Tuhanku, saya suka mendzhalimi diri wahai Tuhanku, mudah-mudahan Engkau berkenan memaafkan saya dan bangsa Palestine wahai Tuhanku.
Minggu, 04 Januari 2009
Khotbah-khotbah keranjang sampah
Hari jum'at kemarin, saya berkesempatan untuk memperbaiki Handphone saya yg rusak beberapa hari lamanya, saya berangkat dari rumah jam 9 pagi dan sampai di counter Handphone jam 10 pagi, ketika hari semakin beranjak siang saya mencari Masjid untuk melaksanakan shalat jum'at, saya berjalan kaki menyusuri jalanan pagongan menuju Masjid merah yg terkenal di kota Cirebon yg berada di daerah Panjunan, tetapi sayang kata orang-orang di sekitar situ Masjid merah tidak di pakai untuk shalat jum'at, terpaksa saya pergi dari Masjid merah untuk mencari Masjid yg lainnya yg di gunakan untuk shalat jum'at, setelah berputar-putar sebentar barulah saya menemukan sebuah Masjid yg bernama Masjid Al-syafi'i.
Melihat dari namanya sebelumnya saya menduga kalau di Masjid ini tentu dalam segala ritual ibadahnya akan merujuk kepada ajaran-ajaran Imam Syafi'i atau berpedoman kepada Madzhab Syafi'i, saya sempat gembira karena berarti saya akan berjum'atan dengan cara yg tidak berbeda dengan shalat jum'at di Masjid yg ada di kampung saya, maksudnya adzannya sama dua kali plus iqamah, Fatihahnya lengkap dengan Bismillahnya dan setelah shalat selesai ada dzikir berjamaahnya dll. Tetapi apa yg saya duga ternyata meleset, di Masjid Al-syafi'i adzan jum'at di lakukan satu kali, dalam membaca Fatihah Bismillahnya menghilang dan setelah shalat selesai para jamaah sibuk berdoa masing-masing kemudian satu persatu membubarkan diri keluar dari Masjid.
Saya memahami dan menyadari kalau di dalam Islam terjadi banyak perbedaan menyangkut banyak hal tak terkecuali dengan tata cara ibadah shalat jum'at, jadi hal yg seperti di atas tidak membuat saya mendongkol ataupun kecewa, yg penting shalatnya masih berkiblat ke arah Ka'bah dan dalam jumlah rokaatnya tidak terjadi penambahan ataupun pengurangan. Saya fikir mungkin yg mendanai pembangunan Masjid ini yg dominan adalah orang yg bernama Syafi'i jadi Masjidnya juga di namai sesuai dengan nama orang yg mendanainya, tidak ada sangkut pautnya dengan Madzhab Syafi'i.
Seperti biasa dalam setiap shalat jum'at yg saya hadiri, saya mencermati dengan saksama khotbah yg di sampaikan oleh sang khatib. Di kampung saya sendiri tidak ada satupun khatib yg menjadi favorit saya karena khotbah yg di sampaikan terlalu monoton dari itu ke itu saja, terlalu tekstual. Bahkan ada beberapa khatib yg membuat saya sebel karena berkhotbah seperti sedang membaca puisi-puisi Arab, tidak ada satu katapun bahasa Indonesia yg keluar dari mulutnya, saya memandangnya sebagai khatib yg egois dan keterlaluan, tidak memahami jamaah yg mendengarkan mengerti atau tidak yg dia khotbahkan, alih-alih mendapat pencerahan para jamaah malah pada tidur, bobo, ngorok dan lain-lain, memang ada juga jamaah yg memandang ke depan ke arah dimana khatib berdiri tapi dengan tatapan mata yg kosong tanpa arti, ada juga yg pura-pura manggut-manggut padahal saya yakin dia tidak mengerti, saya sendiri bingung mencerna kata-kata khatib itu karena kadang pengucapan kalimatnya tidak jelas seperti mendengung.
Saya sungguh heran dengan khatib arabiah itu, apa yg di fikirkannya dengan khotbah model seperti itu padahal inti dari khotbah adalah bukan untuk di dengar tok tapi juga agar para jamaah yg hadir bisa memahami dan mendapat pencerahan perihal Agamanya. Bagaimana mungkin jamaah akan mengerti dan mendapat pencerahan jika bahasa sang khatib tidak di mengerti, kasihan para jamaah yg awam itu yg untuk memahami khotbah berbahasa Indonesia saja terlihat susah payah, apalagi jika khobah di lakukan dengan memakai bahasa "Osama bin laden".
Saya ingin mengutip firman Tuhan dalam surah Ibrahim ayat 4; Wamaa arsalnaa min rasuulin illaa bi-lisaani qoumihii li-yubayyina lahum. Artinya: tidaklah Kami utus seorang Rasul kecuali dengan bahasa kaumnya agar supaya mereka memahami segala penjelasan yg di sampaikan.
Seorang khatib ibarat Rasul yg berkhotbah di tengah kaumnya, jadi sudah semestinya bahasa yg di pakai sang khatib haruslah mengikuti bahasa kaumnya. Karena Yesus al-masih di utus di sekitar wilayah Palestina dan Israel maka bahasa yg di gunakan adalah bahasa ibrani, karena Muhammad SAAW di utus di wilayah Arab maka bahasa yg di gunakan tentunya juga dengan bahasa arab dan karena khatib-khatib yg ada di Jawa berkhotbah di daerah jawa maka seharusnya bahasa yg di gunakan untuk berkhotbah adalah bahasa jawa, begitu seterusnya dengan daerah-daerah yg lain.
Saya juga ingin mengutip sabda Nabi Muhammad SAAW agar seseorang berbicara menurut kadar kemampuan orang yg mendengarnya. Jika berbicara kepada banyak orang dengan bahasa yg tidak mereka mengerti itu adalah salah satu bentuk kesia-siaan, dzhalim dan termasuk kebodohan murakkab. Semoga Tuhan memberi hidayah pada para khatib yg berlaku demikian.
Kembali ke masjid Al-syafi'i, khotbah di Masjid Syafi'i Alhamdulillah memakai bahasa Indonesia yg Insya Allah akan dapat di mengerti oleh para jamaah yg hadir. Pada mulanya Saya terkesan dengan kefasihan sang khatib dalam menyampaikan muqaddimah dalam bahasa arab namun beberapa saat kemudian kekaguman saya berubah menjadi kekecewaan yg mendalam ketika khatib menyampaikan khotbahnya dengan tema Ahlus-sunnah wal jamaah dan lawan-lawannya. Khatib menjelaskan bahwa lawan Ahlus-sunnah secara umum adalah Syiah atau Rafidhah, khatib tidak mengerti kalau Syiah itu berbeda dengan Rafidhah dan lawannya secara husus adalah Ahlul-bid'ah atau Ahlul-hawa. Saya tidak begitu memperhatikan khotbah semacam itu yang hanya berisi caci maki yg tiada guna, selain itu juga khotbah semacam itu sangat tidak relevan dengan kondisi umat Islam saat ini yg begitu mendambakan persatuan dan kesatuan di tambah lagi dengan adanya perang yg tidak seimbang di timur tengah sana antara saudara-saudara muslim di Palestina dan yahudi israel yg telah menewaskan banyak muslim yg tiada berdosa. Ketika Ahmadi nejad yg syiah menyampaikan simpati yg mendalam terhadap muslim Palestina yg mayoritas Sunni, khatib di Masjid Al-Syafi'i justru mencaci maki Syiah, hal ini mengingatkan saya pada ketika Imam Khomaini yg Syiah menganjurkan pada para pengikutnya untuk selalu shalat berjamaah dengan saudara-saudaranya dari golongan Ahlus-sunnah wal-jamaah supaya tetap terjalin persatuan, sementara pada saat yg sama Al-jabrin yg merupakan salah seorang Ulama sunni-wahabi dengan tegas memfatwakan bahwa darah Syiah adalah halal hukumnya dan wanita-wanitanya haram untuk di nikahi. Laa haula walaa quwwata illaa billaah.
Khatib di Masjid Al-syafi'i itu mungkin lupa bahwa segala caci maki yg di lontarkannya tidak akan merubah apapun yg berkaitan dg Syiah karena memang Syiah mempunyai aturan main sendiri dengan dalil-dalil atau hujjah-hujjah yg tidak bisa di anggap remeh dan kadang tidak bisa di bantah, sementara itu juga golongan Ahlul-bidah yg di tuduh khatib sebagai golongan sesat, itu juga hanya berdasar kepada asumsi khatib saja dengan mengacu pada pendapat Al-albani, Al-'utsaimin dan orang-orang yg semacamnya yg kadang menuduh dengan memakai tuduhan yg tidak kena mengena antara dalil dan madlulnya.
Khotbah semacam itu sangatlah absurd di pandang dari kebutuhan yg ada, saya yakin para jamaah yg hadir tidak datang ke Masjid hanya untuk mendengar caci maki semacam itu. Saya jadi teringat ketika membaca sejarah Muawiyah dan anak cucunya yg mencaci maki Ali selama 80 tahun sampai suatu saat ada seorang pemimpin yg saleh bernama Umar bin abd aziz menghentikan segala khotbah yg seperti itu dan mengahiri setiap khotbahnya dengan ayat Al-quran yg berbunyi; Innallaha ya'muru bil-'adli wal-ihsaan sampai ahir ayat. Khatib di Masjid Syafi'i juga menjadikan ayat itu sebagai penutup dari khotbahnya tetapi sayang caci maki terhadap golongan tertentu tetap tidak berhenti.
Saya mengakui kalau khatib di Masjid Al-syafii bukanlah satu-satunya khatib model begitu. Saya pernah shalat jumat di Jakarta, Bandung, Lampung, Palembang, Jambi, Ambon, Poso, Palu dan daerah-daerah lain yg pernah saya kunjungi, selalu saja ada khatib yg materi khotbahnya di penuhi caci maki. Ada yg mencaci maki faham Islam golongan tertentu, ada yg mencaci maki Ulama tertentu, ada yg mencaci maki artis bahkan ada juga yg habis-habisan mencaci maki pemerintah dengan gagahnya.
Menurut saya khotbah-khotbah seperti itu lebih pantas di masukkan ke dalam kategori khotbah-khotbah keranjang sampah, naif dan tidak berguna serta jauh dari pesan-pesan Taqwa. Bagaimana menurut Anda?
Melihat dari namanya sebelumnya saya menduga kalau di Masjid ini tentu dalam segala ritual ibadahnya akan merujuk kepada ajaran-ajaran Imam Syafi'i atau berpedoman kepada Madzhab Syafi'i, saya sempat gembira karena berarti saya akan berjum'atan dengan cara yg tidak berbeda dengan shalat jum'at di Masjid yg ada di kampung saya, maksudnya adzannya sama dua kali plus iqamah, Fatihahnya lengkap dengan Bismillahnya dan setelah shalat selesai ada dzikir berjamaahnya dll. Tetapi apa yg saya duga ternyata meleset, di Masjid Al-syafi'i adzan jum'at di lakukan satu kali, dalam membaca Fatihah Bismillahnya menghilang dan setelah shalat selesai para jamaah sibuk berdoa masing-masing kemudian satu persatu membubarkan diri keluar dari Masjid.
Saya memahami dan menyadari kalau di dalam Islam terjadi banyak perbedaan menyangkut banyak hal tak terkecuali dengan tata cara ibadah shalat jum'at, jadi hal yg seperti di atas tidak membuat saya mendongkol ataupun kecewa, yg penting shalatnya masih berkiblat ke arah Ka'bah dan dalam jumlah rokaatnya tidak terjadi penambahan ataupun pengurangan. Saya fikir mungkin yg mendanai pembangunan Masjid ini yg dominan adalah orang yg bernama Syafi'i jadi Masjidnya juga di namai sesuai dengan nama orang yg mendanainya, tidak ada sangkut pautnya dengan Madzhab Syafi'i.
Seperti biasa dalam setiap shalat jum'at yg saya hadiri, saya mencermati dengan saksama khotbah yg di sampaikan oleh sang khatib. Di kampung saya sendiri tidak ada satupun khatib yg menjadi favorit saya karena khotbah yg di sampaikan terlalu monoton dari itu ke itu saja, terlalu tekstual. Bahkan ada beberapa khatib yg membuat saya sebel karena berkhotbah seperti sedang membaca puisi-puisi Arab, tidak ada satu katapun bahasa Indonesia yg keluar dari mulutnya, saya memandangnya sebagai khatib yg egois dan keterlaluan, tidak memahami jamaah yg mendengarkan mengerti atau tidak yg dia khotbahkan, alih-alih mendapat pencerahan para jamaah malah pada tidur, bobo, ngorok dan lain-lain, memang ada juga jamaah yg memandang ke depan ke arah dimana khatib berdiri tapi dengan tatapan mata yg kosong tanpa arti, ada juga yg pura-pura manggut-manggut padahal saya yakin dia tidak mengerti, saya sendiri bingung mencerna kata-kata khatib itu karena kadang pengucapan kalimatnya tidak jelas seperti mendengung.
Saya sungguh heran dengan khatib arabiah itu, apa yg di fikirkannya dengan khotbah model seperti itu padahal inti dari khotbah adalah bukan untuk di dengar tok tapi juga agar para jamaah yg hadir bisa memahami dan mendapat pencerahan perihal Agamanya. Bagaimana mungkin jamaah akan mengerti dan mendapat pencerahan jika bahasa sang khatib tidak di mengerti, kasihan para jamaah yg awam itu yg untuk memahami khotbah berbahasa Indonesia saja terlihat susah payah, apalagi jika khobah di lakukan dengan memakai bahasa "Osama bin laden".
Saya ingin mengutip firman Tuhan dalam surah Ibrahim ayat 4; Wamaa arsalnaa min rasuulin illaa bi-lisaani qoumihii li-yubayyina lahum. Artinya: tidaklah Kami utus seorang Rasul kecuali dengan bahasa kaumnya agar supaya mereka memahami segala penjelasan yg di sampaikan.
Seorang khatib ibarat Rasul yg berkhotbah di tengah kaumnya, jadi sudah semestinya bahasa yg di pakai sang khatib haruslah mengikuti bahasa kaumnya. Karena Yesus al-masih di utus di sekitar wilayah Palestina dan Israel maka bahasa yg di gunakan adalah bahasa ibrani, karena Muhammad SAAW di utus di wilayah Arab maka bahasa yg di gunakan tentunya juga dengan bahasa arab dan karena khatib-khatib yg ada di Jawa berkhotbah di daerah jawa maka seharusnya bahasa yg di gunakan untuk berkhotbah adalah bahasa jawa, begitu seterusnya dengan daerah-daerah yg lain.
Saya juga ingin mengutip sabda Nabi Muhammad SAAW agar seseorang berbicara menurut kadar kemampuan orang yg mendengarnya. Jika berbicara kepada banyak orang dengan bahasa yg tidak mereka mengerti itu adalah salah satu bentuk kesia-siaan, dzhalim dan termasuk kebodohan murakkab. Semoga Tuhan memberi hidayah pada para khatib yg berlaku demikian.
Kembali ke masjid Al-syafi'i, khotbah di Masjid Syafi'i Alhamdulillah memakai bahasa Indonesia yg Insya Allah akan dapat di mengerti oleh para jamaah yg hadir. Pada mulanya Saya terkesan dengan kefasihan sang khatib dalam menyampaikan muqaddimah dalam bahasa arab namun beberapa saat kemudian kekaguman saya berubah menjadi kekecewaan yg mendalam ketika khatib menyampaikan khotbahnya dengan tema Ahlus-sunnah wal jamaah dan lawan-lawannya. Khatib menjelaskan bahwa lawan Ahlus-sunnah secara umum adalah Syiah atau Rafidhah, khatib tidak mengerti kalau Syiah itu berbeda dengan Rafidhah dan lawannya secara husus adalah Ahlul-bid'ah atau Ahlul-hawa. Saya tidak begitu memperhatikan khotbah semacam itu yang hanya berisi caci maki yg tiada guna, selain itu juga khotbah semacam itu sangat tidak relevan dengan kondisi umat Islam saat ini yg begitu mendambakan persatuan dan kesatuan di tambah lagi dengan adanya perang yg tidak seimbang di timur tengah sana antara saudara-saudara muslim di Palestina dan yahudi israel yg telah menewaskan banyak muslim yg tiada berdosa. Ketika Ahmadi nejad yg syiah menyampaikan simpati yg mendalam terhadap muslim Palestina yg mayoritas Sunni, khatib di Masjid Al-Syafi'i justru mencaci maki Syiah, hal ini mengingatkan saya pada ketika Imam Khomaini yg Syiah menganjurkan pada para pengikutnya untuk selalu shalat berjamaah dengan saudara-saudaranya dari golongan Ahlus-sunnah wal-jamaah supaya tetap terjalin persatuan, sementara pada saat yg sama Al-jabrin yg merupakan salah seorang Ulama sunni-wahabi dengan tegas memfatwakan bahwa darah Syiah adalah halal hukumnya dan wanita-wanitanya haram untuk di nikahi. Laa haula walaa quwwata illaa billaah.
Khatib di Masjid Al-syafi'i itu mungkin lupa bahwa segala caci maki yg di lontarkannya tidak akan merubah apapun yg berkaitan dg Syiah karena memang Syiah mempunyai aturan main sendiri dengan dalil-dalil atau hujjah-hujjah yg tidak bisa di anggap remeh dan kadang tidak bisa di bantah, sementara itu juga golongan Ahlul-bidah yg di tuduh khatib sebagai golongan sesat, itu juga hanya berdasar kepada asumsi khatib saja dengan mengacu pada pendapat Al-albani, Al-'utsaimin dan orang-orang yg semacamnya yg kadang menuduh dengan memakai tuduhan yg tidak kena mengena antara dalil dan madlulnya.
Khotbah semacam itu sangatlah absurd di pandang dari kebutuhan yg ada, saya yakin para jamaah yg hadir tidak datang ke Masjid hanya untuk mendengar caci maki semacam itu. Saya jadi teringat ketika membaca sejarah Muawiyah dan anak cucunya yg mencaci maki Ali selama 80 tahun sampai suatu saat ada seorang pemimpin yg saleh bernama Umar bin abd aziz menghentikan segala khotbah yg seperti itu dan mengahiri setiap khotbahnya dengan ayat Al-quran yg berbunyi; Innallaha ya'muru bil-'adli wal-ihsaan sampai ahir ayat. Khatib di Masjid Syafi'i juga menjadikan ayat itu sebagai penutup dari khotbahnya tetapi sayang caci maki terhadap golongan tertentu tetap tidak berhenti.
Saya mengakui kalau khatib di Masjid Al-syafii bukanlah satu-satunya khatib model begitu. Saya pernah shalat jumat di Jakarta, Bandung, Lampung, Palembang, Jambi, Ambon, Poso, Palu dan daerah-daerah lain yg pernah saya kunjungi, selalu saja ada khatib yg materi khotbahnya di penuhi caci maki. Ada yg mencaci maki faham Islam golongan tertentu, ada yg mencaci maki Ulama tertentu, ada yg mencaci maki artis bahkan ada juga yg habis-habisan mencaci maki pemerintah dengan gagahnya.
Menurut saya khotbah-khotbah seperti itu lebih pantas di masukkan ke dalam kategori khotbah-khotbah keranjang sampah, naif dan tidak berguna serta jauh dari pesan-pesan Taqwa. Bagaimana menurut Anda?
Jumat, 02 Januari 2009
Kritik untuk para penganjur Agama (Tela'ah sederhana atas surah Al-baqoroh ayat 44)
Ata'muruunan-naasa bil-birri wa-tansauna anfusakum wa-antum tatluunal-kitaab, afalaa ta'qiluun?
Wahai ulama Yahudi, apakah pantas bagi kalian yang selalu menyuruh manusia berbuat baik, sementara kalian melupakan diri sendiri. Tidak kah kalian berakal?
Ayat diatas di turunkan kepada Nabi Muhammad SAAW terdapat dalam surah Al-baqarah ayat 44 berkenaan dengan perilaku Ulama Yahudi yg sering berlawanan dengan apa yg mereka ucapkan. Mereka menyuruh masyarakat untuk berbuat baik dengan cara beriman terhadap kenabian Muhammad SAAW-jika tiba waktunya Muhammad di angkat menjadi Nabi-akan tetapi justru merekalah yg pertama berpaling dan menentang keras terhadap kenabian Muhammad. Mereka membelakangi dan mengangkangi kebenaran yg ada di dalam kitab Taurat perihal akan datangnya seorang nabi dari keturunan Ismail yg berkebangsaan Arab bernama Muhammad. Ulama Yahudi lupa bahwa Taurat mengancam dan mencela dengan keras orang yg perkataannya bertolak belakang dengan perbuatannya.
Meskipun ayat diatas di turunkan berkaitan dengan Ulama Yahudi namun bisa juga di terapkan pada masyarakat Islam hususnya pada mereka yg memiliki gelar sebagai Ulama, Kiyai, Ustadz, Muballigh, Mursyid tarekat, para Khatib dan penganjur Islam lainnya berdasarkan kaidah: Kullu aayatin waradat dzamman lil-kuffaari wal-munaafiqiin, jarrot bidzailihaa 'alaa 'ushootil-mu'miniin. Artinya: setiap ayat yg di dalamnya ada celaan terhadap orang-orang kafir dan munafik, imbasnya juga bisa mengenai orang-orang yg beriman yg memiliki prilaku yg sama dengan orang-orang kafir atau munafik. Jadi Kita tidak bisa mengatakan bahwa ayat tersebut di turunkan berkenaan dengan Ulama Yahudi semata.
Seorang Ulama, Ustadz, Kiyai, Khatib, Mursyid tarekat atau penganjur Agama lainnya adalah mereka yg di berikan kelebihan oleh Tuhan dalam hal ilmu Agama yg di maksudkan untuk mengajak orang-orang awam dalam merentas jalan yg lurus, jalan yg akan mendapat rido Tuhan. Mereka berkewajiban memberi pengajaran ke arah mana jalan yg harus di lalui serta perbuatan apa saja yg mesti di lakukan dan mana jalan harus di hindari serta perbuatan apa saja yg mesti di jauhi.
Oleh karenanya jika mereka konsisten dan istiqomah dalam menyampaikan kebenaran sambil menjaga keseimbangan antara ucapan dan prilakunya sendiri mereka akan mendapatkan kedudukan yg tinggi di mata Tuhan dan dalam lingkungan masyarakatpun akan menjadi manusia yg di hormati dan di mulyakan. Sebaliknya jika mereka hanya bisa memberi pengajaran yg baik tapi lupa akan dirinya sendiri tentu akan menjadi manusia yg hina di mata masyarakat apatah lagi di mata Tuhan.
Sayang seribu sayang, pada kenyataannya tidak sedikit mereka yg di serahi amanat menjadi penganjur Agama tidak konsisten terhadap ucapannya sendiri, mereka telah merusak fondasi yg di bangunnya sendiri, mereka bisa mengantarkan masyarakat ke arah jalan yg benar namun menjerumuskan dirinya ke jurang kehancuran.
Cobalah kita fikirkan. Apakah pantas di sebut Ulama jika yg di kejar hanya kedudukan duniawi yg bersifat sementara dengan segala selorohnya yg tiada guna. Apakah pantas di sebut kiyai jika yg di kejar hanya harta benda dunia, lupa akan kemewahan abadi di ahirat kelak. Apakah pantas di sebut Ustadz jika tidak bisa menahan diri dari godaan wanita cantik, mengumbar syahwatnya untuk berpoligami ria dengan dalih "Sunnah Rasul". Apakah pantas di sebut Mursyid tarekat jika yg di kejar hanya keinginan untuk menjadi istimewa di mata pengikutnya. Apakah pantas jika ada penganjur Agama yg hanya menjadi corong para penguasa demi menapakkan kekuasaan yg kejam dan dzhalim terhadap rakyat banyak. Dampak dari segala keburukan mereka sangat jelas dapat kita saksikan dalam kehidupan masa kini yg begitu carut marut, maka jika ada yg berkata bahwa Ulama yg buruk akan membawa akibat yg sangat buruk pada kehidupan sangatlah benar adanya.
Imam Al-qurtubi di dalam tafsirnya mengisahkan tentang perjalanan mi'raj Rasulullah pada waktu beliau melihat banyak orang yg menggunting lidahnya sendiri dengan gunting yg terbuat dari bara api, beliau bertanya pada Jibril, wahai Jibril siapakah gerangan mereka? Jibril menjawab; mereka adalah gambaran dari orang-orang yg ketika hidupnya menjadi penganjur Agama yg menganjurkan orang lain untuk berbuat baik namun mereka telah melupakan dirinya sendiri, padahal mereka di beri pengetahuan tentang kitab Tuhan lebih dari orang lain, mereka hanya bisa bicara tapi perbuatannya berlawanan dengan apa yg mereka ucapkan.
Dalam riwayat yg lain Nabi bersabda; pada hari kiamat kelak ada seorang yg di datangkan di hadapan Tuhan, kemudian dia di lemparkan ke dalam neraka yg menjadikan ususnya terburai, usus yg terburai itu melilit tubuhnya sebagaiman keledai yg memutari penggilingan gandum, sekerumunan penghuni neraka bertanya padanya apa yg menyebabkan dirimu di siksa sedemikian rupa? Salah seorang diantaranya berkata, apakah dulu ketika di dunia engkau adalah orang yg menganjurkan untuk berbuat baik dan mencegah perbuatan keji? Dia menjawab, benar, dahulu ketika aku hidup di dunia aku menganjurkan orang untuk berbuat baik namun aku sendiri tidak melakukannya, dahulu aku mencegah orang untuk berbuat mungkar namun aku sendiri gemar melakukannya.
Pada kali yg lain Rosulullah SAW juga bersabda; diantara manusia yg paling berat siksanya di ahirat kelak adalah Ulama yg ilmunya tidak bisa memberi manfaat bagi dirinya sendiri.
Abul-aswad ad-duali dalam syairnya berkata; laa tanha 'an khuluqin wata'tii mitslahuu, 'aarun 'alaika idzaa fa'alta 'adzhiimun. Janganlah kamu mencegah perilaku buruk jika dirimu sendiri masih berbuat sama, sungguh itu adalah sangat tercela jika dirimu berbuat demikian.
Ibnu ruslan dalam zubadnya juga bersyair; fa'alimun bi'ilmihi lam ya'malan, mu'adzzabun min qobli 'ubbaadil-watsan. Seorang alim yg tidak mengamalkan ilmunya, akan di siksa sebelum penyembah berhala.
Maka dari itu hendaknya seseorang yg di serahi tugas untuk menjadi penganjur Agama harus terus menerus menyempurnakan pengetahuannya berkaitan dengan kitab Tuhan dan sunnah nabinya sambil terus menerus melakukan koreksi diri serta berhati-hati terhadap keinginan segala hawa nafsu dan bisikan iblis mengingat ancaman yg begitu dahsyat jika mereka menyimpang dari aturan Tuhan, ancaman yg jauh lebih mengerikan di banding ancaman terhadap manusia awam.
Wallahu a'lam wa'ilmuhu atam.
Wahai ulama Yahudi, apakah pantas bagi kalian yang selalu menyuruh manusia berbuat baik, sementara kalian melupakan diri sendiri. Tidak kah kalian berakal?
Ayat diatas di turunkan kepada Nabi Muhammad SAAW terdapat dalam surah Al-baqarah ayat 44 berkenaan dengan perilaku Ulama Yahudi yg sering berlawanan dengan apa yg mereka ucapkan. Mereka menyuruh masyarakat untuk berbuat baik dengan cara beriman terhadap kenabian Muhammad SAAW-jika tiba waktunya Muhammad di angkat menjadi Nabi-akan tetapi justru merekalah yg pertama berpaling dan menentang keras terhadap kenabian Muhammad. Mereka membelakangi dan mengangkangi kebenaran yg ada di dalam kitab Taurat perihal akan datangnya seorang nabi dari keturunan Ismail yg berkebangsaan Arab bernama Muhammad. Ulama Yahudi lupa bahwa Taurat mengancam dan mencela dengan keras orang yg perkataannya bertolak belakang dengan perbuatannya.
Meskipun ayat diatas di turunkan berkaitan dengan Ulama Yahudi namun bisa juga di terapkan pada masyarakat Islam hususnya pada mereka yg memiliki gelar sebagai Ulama, Kiyai, Ustadz, Muballigh, Mursyid tarekat, para Khatib dan penganjur Islam lainnya berdasarkan kaidah: Kullu aayatin waradat dzamman lil-kuffaari wal-munaafiqiin, jarrot bidzailihaa 'alaa 'ushootil-mu'miniin. Artinya: setiap ayat yg di dalamnya ada celaan terhadap orang-orang kafir dan munafik, imbasnya juga bisa mengenai orang-orang yg beriman yg memiliki prilaku yg sama dengan orang-orang kafir atau munafik. Jadi Kita tidak bisa mengatakan bahwa ayat tersebut di turunkan berkenaan dengan Ulama Yahudi semata.
Seorang Ulama, Ustadz, Kiyai, Khatib, Mursyid tarekat atau penganjur Agama lainnya adalah mereka yg di berikan kelebihan oleh Tuhan dalam hal ilmu Agama yg di maksudkan untuk mengajak orang-orang awam dalam merentas jalan yg lurus, jalan yg akan mendapat rido Tuhan. Mereka berkewajiban memberi pengajaran ke arah mana jalan yg harus di lalui serta perbuatan apa saja yg mesti di lakukan dan mana jalan harus di hindari serta perbuatan apa saja yg mesti di jauhi.
Oleh karenanya jika mereka konsisten dan istiqomah dalam menyampaikan kebenaran sambil menjaga keseimbangan antara ucapan dan prilakunya sendiri mereka akan mendapatkan kedudukan yg tinggi di mata Tuhan dan dalam lingkungan masyarakatpun akan menjadi manusia yg di hormati dan di mulyakan. Sebaliknya jika mereka hanya bisa memberi pengajaran yg baik tapi lupa akan dirinya sendiri tentu akan menjadi manusia yg hina di mata masyarakat apatah lagi di mata Tuhan.
Sayang seribu sayang, pada kenyataannya tidak sedikit mereka yg di serahi amanat menjadi penganjur Agama tidak konsisten terhadap ucapannya sendiri, mereka telah merusak fondasi yg di bangunnya sendiri, mereka bisa mengantarkan masyarakat ke arah jalan yg benar namun menjerumuskan dirinya ke jurang kehancuran.
Cobalah kita fikirkan. Apakah pantas di sebut Ulama jika yg di kejar hanya kedudukan duniawi yg bersifat sementara dengan segala selorohnya yg tiada guna. Apakah pantas di sebut kiyai jika yg di kejar hanya harta benda dunia, lupa akan kemewahan abadi di ahirat kelak. Apakah pantas di sebut Ustadz jika tidak bisa menahan diri dari godaan wanita cantik, mengumbar syahwatnya untuk berpoligami ria dengan dalih "Sunnah Rasul". Apakah pantas di sebut Mursyid tarekat jika yg di kejar hanya keinginan untuk menjadi istimewa di mata pengikutnya. Apakah pantas jika ada penganjur Agama yg hanya menjadi corong para penguasa demi menapakkan kekuasaan yg kejam dan dzhalim terhadap rakyat banyak. Dampak dari segala keburukan mereka sangat jelas dapat kita saksikan dalam kehidupan masa kini yg begitu carut marut, maka jika ada yg berkata bahwa Ulama yg buruk akan membawa akibat yg sangat buruk pada kehidupan sangatlah benar adanya.
Imam Al-qurtubi di dalam tafsirnya mengisahkan tentang perjalanan mi'raj Rasulullah pada waktu beliau melihat banyak orang yg menggunting lidahnya sendiri dengan gunting yg terbuat dari bara api, beliau bertanya pada Jibril, wahai Jibril siapakah gerangan mereka? Jibril menjawab; mereka adalah gambaran dari orang-orang yg ketika hidupnya menjadi penganjur Agama yg menganjurkan orang lain untuk berbuat baik namun mereka telah melupakan dirinya sendiri, padahal mereka di beri pengetahuan tentang kitab Tuhan lebih dari orang lain, mereka hanya bisa bicara tapi perbuatannya berlawanan dengan apa yg mereka ucapkan.
Dalam riwayat yg lain Nabi bersabda; pada hari kiamat kelak ada seorang yg di datangkan di hadapan Tuhan, kemudian dia di lemparkan ke dalam neraka yg menjadikan ususnya terburai, usus yg terburai itu melilit tubuhnya sebagaiman keledai yg memutari penggilingan gandum, sekerumunan penghuni neraka bertanya padanya apa yg menyebabkan dirimu di siksa sedemikian rupa? Salah seorang diantaranya berkata, apakah dulu ketika di dunia engkau adalah orang yg menganjurkan untuk berbuat baik dan mencegah perbuatan keji? Dia menjawab, benar, dahulu ketika aku hidup di dunia aku menganjurkan orang untuk berbuat baik namun aku sendiri tidak melakukannya, dahulu aku mencegah orang untuk berbuat mungkar namun aku sendiri gemar melakukannya.
Pada kali yg lain Rosulullah SAW juga bersabda; diantara manusia yg paling berat siksanya di ahirat kelak adalah Ulama yg ilmunya tidak bisa memberi manfaat bagi dirinya sendiri.
Abul-aswad ad-duali dalam syairnya berkata; laa tanha 'an khuluqin wata'tii mitslahuu, 'aarun 'alaika idzaa fa'alta 'adzhiimun. Janganlah kamu mencegah perilaku buruk jika dirimu sendiri masih berbuat sama, sungguh itu adalah sangat tercela jika dirimu berbuat demikian.
Ibnu ruslan dalam zubadnya juga bersyair; fa'alimun bi'ilmihi lam ya'malan, mu'adzzabun min qobli 'ubbaadil-watsan. Seorang alim yg tidak mengamalkan ilmunya, akan di siksa sebelum penyembah berhala.
Maka dari itu hendaknya seseorang yg di serahi tugas untuk menjadi penganjur Agama harus terus menerus menyempurnakan pengetahuannya berkaitan dengan kitab Tuhan dan sunnah nabinya sambil terus menerus melakukan koreksi diri serta berhati-hati terhadap keinginan segala hawa nafsu dan bisikan iblis mengingat ancaman yg begitu dahsyat jika mereka menyimpang dari aturan Tuhan, ancaman yg jauh lebih mengerikan di banding ancaman terhadap manusia awam.
Wallahu a'lam wa'ilmuhu atam.
Langganan:
Postingan (Atom)