Judul catatan ini hakikatnya adalah sebuah pertanyaan yang tiada perlu jawaban, biarkan ia menguap di ketebalan dinding-dinding ketidak tahuan dan kelemahan manusia, sebab, jika di jawabpun hanya akan memunculkan ragam jawaban yang tiada pasti benarnya.
Umat Islam yang di pimpin pribadi agung, Muhammad Saaw telah melintasi perjalanan zaman beberapa lama. Telah timbul di dalamnya berbagai macam bentuk pergumulan, pertikaian dan pertengkaran yang kadang berujung saling memerangi dan membunuh satu sama lain, semua bertahan di balik teks ayat suci dan sabda suci yang kian lama kian menjerembabkan mereka dalam bingkai-bingkai penafsiran berselubung gelora hawa nafsu.
Umat Islam kini telah kehilangan jejak sejarah, telah terbagi-bagi menjadi berbagai sekte yang beberapa di antaranya selalu bermusuhan dalam kegelapan selama berabad-abad, di tambah lagi dengan ancaman berbagai gagasan dari luar yang muncul di permukaan yang semakin mengombang ambingkan mereka dalam lautan ketidak pastian.
Tiada di ragukan lagi, dalam situasi di mana masing-masing kelompok menganggap dan merasa mewakili Islam yang sejati, mereka perlu kembali kepada al-Quran, as-Sunnah, dan menyegarkan kembali ingatan kepada sejarah generasi Islam pertama pada awal pertumbuhannya, ya'ni generasi sahabat Nabi. Para sahabat mampu memahami Islam tanpa bantuan unsur-unsur agama yang baru tumbuh setelah masa pewahyuan berahir; filsafat, mistikisme, tradisi, sejarah dan lainnya.
Kendati demikian, tiada pelak tetap saja akan ada pertanyaan yang mengusik, kepada sahabat yang mana kita harus kembali? Kepada al-Quran yang mana kita harus berpegang? Kepada sabda suci riwayat siapa kita harus berpaling?
Apakah kita akan kembali pada al-Qur'an yang di gunakan dalam istana-istana sayyidina Utsman, yang telah menghidupkan kembali aristokrasi Quraisy dan ikut berperan dalam pengusiran Abu Dzar, seorang sahabat besar, dari kota Nabi? Atau apakah kita akan berpegang pada al-Quran yang di bawa Abu Dzar dalam pengasingannya di Gurun Rabadzah dan mati dalam keadaan kesepian? Atau apakah kita akan berpegang pada al-Quran yang tersimpan di dada Imam 'Ali yang kata Nabi al-Quran akan selalu bersama Ali di manapun Ali berada? Atau haruskah kita berpegang pada al-Quran yang telah di pajang di ujung bayonet oleh Amr bin Ash dalam mempertahankan kerajaan rasial dan dalam mendukung dinasti Umayyah yang membeda-bedakan golongan? Kepada sahabat dan al-Quran yang mana kita akan kembali?
Jika acuannya adalah Sunnah Nabi, juga tiada luput dari pertanyaan semacam itu. Sungguh tepat apa yang di katakan Imam Ali ketika beliau menjelaskan tentang hadits-hadits yang di riwayatkan dari Nabi Saaw; sesungguhnya di antara hadits-hadits yang beredar di kalangan orang banyak ada yang haq dan ada yang bathil. Yang benar dan yang bohong. Ada yang benar-benar di hafal dari Rasulullah dan ada juga yang hanya hasil angan-angan orang. Dan telah ada yang berani memalsukan ucapan beliau di masa hidupnya, sehingga Nabi pernah mengancam dengan sabdanya: siapa yang membuat kebohongan tentang aku, hendaknya ia siap-siap mendiami tempatnya di neraka.
Damai di hati damai di bumi, damai dalam kasih Tuhan Allah Swt..KINGDOM of HEAVEN adalah blog yg mengedepankan persaudaraan lintas agama, suku maupun ras dan menghormati segala kecenderungan yg di anut oleh setiap orang. Jangan ada caci maki maupun kata-kata kotor di sini, mari kita ciptakan kerajaan sorga di dunia ini sebelum kita memasuki kerajaan sorga abadi yg sesungguhnya di ahirat kelak..Welcome to my Palace
Tampilkan postingan dengan label Al-Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Al-Islam. Tampilkan semua postingan
Rabu, 28 Oktober 2009
Selayang pandang tentang al-Quran
Al-Quran jika di tinjau dari segi bahasa adalah kalimat shifat yang mengikuti wazan fu'lan. Terambil dari qara-a yaqra-u qur-anan yang berarti mengumpulkan.
Kalam Tuhan yang di turunkan kepada Nabi Muhammad Saaw, di namakan al-Quran, sebab al-Quran mengumpulkan sejumlah surat atau merupakan koleksi dari 114 surat yang ada. Atau karena al-Quran mengumpulkan intisari dari kitab-kitab Tuhan yang di turunkan pada Nabi-Nabi yang terdahulu.
Al-Jahid berkata: Tuhan memberikan nama kitabnya berbeda dengan nama-nama yang di berikan orang Arab kepada kumpulan pembicaraan mereka. Tuhan menamakan kalamNya dengan al-Quran, sedang orang Arab menamakan kumpulan syairnya dengan diwan, Tuhan menamakan sebagian isi al-Quran dengan surat, orang Arab menamakan sebagian isi diwannya dengan qasidah, Tuhan menamakan sebagian isi suratnya dengan ayat, orang Arab menamakan sebagian isi qasidahnya dengan bait.
Secara bahasa, Quran bisa juga di artikan sesuatu yang fungsinya untuk di baca, apapun bentuknya.
Sedangkan jika di artikan menurut istilah, al-Quran adalah nama bagi sebuah kitab agama yang di wahyukan kepada Nabi Muhammad Saaw oleh Tuhan, di wahyukan dengan cara berangsur-angsur, yang tiada dapat di tandingi oleh siapapun, di nukilkan dari Nabi Muhammad Saaw kepada umatnya dengan cara mutawatir, dan membacanya adalah ibadah, untuk di amalkan isinya dan di sampaikan kepada seluruh manusia dan jin.
Di sini saya bawakan 2 buah ayat sebagai keterangan. "Hai Rasul, sampaikan apa yang telah di turunkan Tuhan kepadamu". (QS al-Maidah 67) dan "maka berpeganglah dengan apa yang telah di wahyukan kepadamu". (QS Zukhruf 43).
Al-Quran merupakan kalam Tuhan yang mencakup keterangan berbagai macam permasalahan. Tuhan berfirman: "dan kami turunkan kepada engkau al-Kitab, sebagai penjelasan atas segala sesuatu". (QS an-Nahl).
Rasulullah Saaw menjelaskan melalui hadits yang di riwayatkan oleh at-Tirmidzi bahwa al-Quran adalah: Kitab Tuhan yang di dalamnya ada habar tentang orang-orang sebelum kamu dan orang-orang sesudah kamu, dan hukum yang terjadi di antara kamu.
Al-Quran terdiri dari 30 juz, 114 surat dan 6236 ayat, dan hitungan ayat yang sejumlah itulah yang perlu di hargai, bukan 6666 ayat seperti apa yang selama ini orang-orang katakan tanpa ada dasar kenyataannya. Jika anda tidak percaya silahkan anda hitung seluruh ayat al-Quran, 6236 atau 6666. Memang, dalam menetapkan jumlah ayat, telah terjadi perbedaan ulama, tetapi yang jelas bahwa di antara pendapat-pendapat ulama itu, setelah saya hitung sendiri tidak ada sama sekali yang mendekati jumlah 6666 ayat. Apa ada maksud lain di balik pendapat yang mengatakan 6666 ayat itu, saya tidak tahu. Wallahu A'lam.
Al-Quran merupakan kitab yang tersusun sedemikian rapih dan terang. Tuhan berfirman: "ini adalah kitab yang ayat-ayatnya muhkamah lagi tersusun indah dan di perincikannya, yang datang dari Tuhan yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.
Maksudnya, inilah ayat-ayat al-Quran yang di susun indah dan teguh yang tetap berlaku di sepanjang zaman, tidak berubah maupun rusak dan menjelaskan bermacam pembicaraan di sekitar tauhid, hukum, pengajaran, kiasan dan berbagai hal lainnya.
Sebagai kitab suci yang di turunkan kepada NabiNya yang suci, al-Quran tidak sedikitpun mengandung kelemahan, ia menjelaskan pula tentang berbagai macam petunjuk guna sebagai jalan bagi kebahagiaan dunia maupun akhirat. Dengan kesempurnaan yang ada, tidak ada satupun segala sesuatu yang al-Quran alpakan. Firman Tuhan: "tidak kami alpakan sesuatupun dalam al-Quran". (QS al-An'am). Menurut sebagian ulama, maksud ayat ini adalah: bahwa tidak ada satupun yang menjadi kebutuhan bagi manusia yang tidak di sebutkan dasar-dasarnya dalam al-Quran. Ayat ini menerangkan pula bahwa Tuhan mengetahui segala macam kebutuhan mahluknya. Atau tidak ada sesuatupun dari dalil-dalil keTuhanan dan dasar-dasar hukum yang Tuhan alpakan.
Al-Quran semenjak masa di wahyukan hingga masa kini, benar-benar bersih dari segala macam bentuk kontaminasi, penambahan ataupun pengurangan. Ia tetap senantiasa terpelihara dalam tulisan ataupun dalam hafalan. Karena tidak putus-putusnya dari masa ke masa di setiap tempat, ada manusia-manusia yang rela mencurahkan waktunya untuk menghafal dan mengarungi samudera ilmunya, menyelam menggapai mutiaranya. Firman Tuhan: "sesungguhnya kami yang menurunkan adz-Dzikra dan kami pula yang akan menjaganya". (QS al-Hijr).
Setiap orang Islam yang sadar, sudah pasti mengakui bahwa al-Quran adalah fondasi yang utama dari agama ini, yang karenanya berbegang kepadanya merupakan kewajiban yang tidak perlu di ragukan lagi, namun, di karenakan ia adalah masakan yang mentah, di perlukan sejumlah sarana untuk memasaknya sebelum di sajikan kepada masyarakat luas untuk di ni'mati. Sarana itu adalah hadtis Nabi yang shahih, pendapat para sahabat yang adil dan para ulama yang tsiqah, di samping sarana penunjang yang lainnya.
Panembahan, 24 Oktober 2009
Kalam Tuhan yang di turunkan kepada Nabi Muhammad Saaw, di namakan al-Quran, sebab al-Quran mengumpulkan sejumlah surat atau merupakan koleksi dari 114 surat yang ada. Atau karena al-Quran mengumpulkan intisari dari kitab-kitab Tuhan yang di turunkan pada Nabi-Nabi yang terdahulu.
Al-Jahid berkata: Tuhan memberikan nama kitabnya berbeda dengan nama-nama yang di berikan orang Arab kepada kumpulan pembicaraan mereka. Tuhan menamakan kalamNya dengan al-Quran, sedang orang Arab menamakan kumpulan syairnya dengan diwan, Tuhan menamakan sebagian isi al-Quran dengan surat, orang Arab menamakan sebagian isi diwannya dengan qasidah, Tuhan menamakan sebagian isi suratnya dengan ayat, orang Arab menamakan sebagian isi qasidahnya dengan bait.
Secara bahasa, Quran bisa juga di artikan sesuatu yang fungsinya untuk di baca, apapun bentuknya.
Sedangkan jika di artikan menurut istilah, al-Quran adalah nama bagi sebuah kitab agama yang di wahyukan kepada Nabi Muhammad Saaw oleh Tuhan, di wahyukan dengan cara berangsur-angsur, yang tiada dapat di tandingi oleh siapapun, di nukilkan dari Nabi Muhammad Saaw kepada umatnya dengan cara mutawatir, dan membacanya adalah ibadah, untuk di amalkan isinya dan di sampaikan kepada seluruh manusia dan jin.
Di sini saya bawakan 2 buah ayat sebagai keterangan. "Hai Rasul, sampaikan apa yang telah di turunkan Tuhan kepadamu". (QS al-Maidah 67) dan "maka berpeganglah dengan apa yang telah di wahyukan kepadamu". (QS Zukhruf 43).
Al-Quran merupakan kalam Tuhan yang mencakup keterangan berbagai macam permasalahan. Tuhan berfirman: "dan kami turunkan kepada engkau al-Kitab, sebagai penjelasan atas segala sesuatu". (QS an-Nahl).
Rasulullah Saaw menjelaskan melalui hadits yang di riwayatkan oleh at-Tirmidzi bahwa al-Quran adalah: Kitab Tuhan yang di dalamnya ada habar tentang orang-orang sebelum kamu dan orang-orang sesudah kamu, dan hukum yang terjadi di antara kamu.
Al-Quran terdiri dari 30 juz, 114 surat dan 6236 ayat, dan hitungan ayat yang sejumlah itulah yang perlu di hargai, bukan 6666 ayat seperti apa yang selama ini orang-orang katakan tanpa ada dasar kenyataannya. Jika anda tidak percaya silahkan anda hitung seluruh ayat al-Quran, 6236 atau 6666. Memang, dalam menetapkan jumlah ayat, telah terjadi perbedaan ulama, tetapi yang jelas bahwa di antara pendapat-pendapat ulama itu, setelah saya hitung sendiri tidak ada sama sekali yang mendekati jumlah 6666 ayat. Apa ada maksud lain di balik pendapat yang mengatakan 6666 ayat itu, saya tidak tahu. Wallahu A'lam.
Al-Quran merupakan kitab yang tersusun sedemikian rapih dan terang. Tuhan berfirman: "ini adalah kitab yang ayat-ayatnya muhkamah lagi tersusun indah dan di perincikannya, yang datang dari Tuhan yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.
Maksudnya, inilah ayat-ayat al-Quran yang di susun indah dan teguh yang tetap berlaku di sepanjang zaman, tidak berubah maupun rusak dan menjelaskan bermacam pembicaraan di sekitar tauhid, hukum, pengajaran, kiasan dan berbagai hal lainnya.
Sebagai kitab suci yang di turunkan kepada NabiNya yang suci, al-Quran tidak sedikitpun mengandung kelemahan, ia menjelaskan pula tentang berbagai macam petunjuk guna sebagai jalan bagi kebahagiaan dunia maupun akhirat. Dengan kesempurnaan yang ada, tidak ada satupun segala sesuatu yang al-Quran alpakan. Firman Tuhan: "tidak kami alpakan sesuatupun dalam al-Quran". (QS al-An'am). Menurut sebagian ulama, maksud ayat ini adalah: bahwa tidak ada satupun yang menjadi kebutuhan bagi manusia yang tidak di sebutkan dasar-dasarnya dalam al-Quran. Ayat ini menerangkan pula bahwa Tuhan mengetahui segala macam kebutuhan mahluknya. Atau tidak ada sesuatupun dari dalil-dalil keTuhanan dan dasar-dasar hukum yang Tuhan alpakan.
Al-Quran semenjak masa di wahyukan hingga masa kini, benar-benar bersih dari segala macam bentuk kontaminasi, penambahan ataupun pengurangan. Ia tetap senantiasa terpelihara dalam tulisan ataupun dalam hafalan. Karena tidak putus-putusnya dari masa ke masa di setiap tempat, ada manusia-manusia yang rela mencurahkan waktunya untuk menghafal dan mengarungi samudera ilmunya, menyelam menggapai mutiaranya. Firman Tuhan: "sesungguhnya kami yang menurunkan adz-Dzikra dan kami pula yang akan menjaganya". (QS al-Hijr).
Setiap orang Islam yang sadar, sudah pasti mengakui bahwa al-Quran adalah fondasi yang utama dari agama ini, yang karenanya berbegang kepadanya merupakan kewajiban yang tidak perlu di ragukan lagi, namun, di karenakan ia adalah masakan yang mentah, di perlukan sejumlah sarana untuk memasaknya sebelum di sajikan kepada masyarakat luas untuk di ni'mati. Sarana itu adalah hadtis Nabi yang shahih, pendapat para sahabat yang adil dan para ulama yang tsiqah, di samping sarana penunjang yang lainnya.
Panembahan, 24 Oktober 2009
Senin, 28 September 2009
Renungkanlah firman Tuhan ini wahai saudaraku
Dan janganlah kalian memaki apa yang mereka sembah selain Allah, sebab mereka akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa dasar pengetahuan (QS al-An'am 108).
Di dalam ayat ini Tuhan memberi peringatan terhadap kaum muslim, bahwa apapun yang di sembah oleh non muslim janganlah di caci maki, sebab ketika mereka telah panas hati akibat caci maki kita, niscaya mereka juga tiada segan akan balik mencaci maki Allah Tuhan kita. Lebih baik tunjukkan pada mereka alasan yang masuk akal bagaimana lemah dan buruknya menyembah selain Allah. Apapun bentuknya, caci maki tidaklah menjadikan keadaan bertambah baik, bahkan akan menjadi semakin carut marut. Jika mereka mencaci maki Allah karena membalas caci maki kita atas sesembahan mereka, justru kita akan berdosa, sebab kita lah yang memulai.
Di dalam bahasa Arab ada ungkapan: al-badi-u adzhlamu, yang memulai lebih dulu, dialah yang lebih dzhalim.
Di dalam ayat ini juga kita dapat mengambil pengertian bahwa caci maki yang timbul karena perbedaan pandangan dan pendirian lebih banyak di karenakan tiadanya pengetahuan pada mereka yang melakukannya. Ketika orang yang bodoh menendang kesana kemari, maka mereka yang punya pengetahuan memandangnya dengan senyum simpul.
Pelajaran yang kita ambil dari ayat ini seyogyanya kita kaitkan juga dengan sabda Rasul yang berbunyi: termasuk dosa yang sangat besar adalah seseorang yang mencerca ayah bundanya. Para sahabat bertanya: wahai Rasulullah, adakah orang yang mencerca ayahnya? Rasul menjawab: dia memaki ayah seseorang, kemudian orang itu memaki ayahnya pula. Di makinya ibunya, diapun balas memaki ibunya pula.
Orang Islam terikat dengan larangan keras ini, hususnya jika berhadapan dengan mereka yang beragama Nasrani. Terkadang di dalam perdebatan yang acapkali terjadi, orang-orang Nasrani tiada segan untuk menyakiti hati kaum muslim dengan mengatakan Nabi Muhammad Saaw adalah Nabi palsu, Nabi pengumbar syahwat, Nabi pedophilia, menyebarkan Islam dengan kilatan cahaya pedang, dan kata-kata yang lebih sadis dari itu semua, sebagaimana yang pernah saya alami sendiri ketika ikut chating di forum Islam-Kristen. Betapa sakitnya hati saya mendengar kata-kata mereka, namun ketika saya hendak membalas mereka dengan memaki al-Masih, sudah pasti sayapun akan keluar dari Islam. Sebab, al-Masih yang mereka anggap sebagai Tuhan itu sesungguhnya adalah Nabi yang patut di imani dan di muliakan oleh orang Islam. Membalas caci maki mereka terhadap Nabi Muhammad Saaw dengan memaki al-Masih adalah dosa besar, apa lagi jika kita yang memulai memaki al-Masih, kemudian mereka balas lagi dengan memaki Nabi Saaw, alangkah berlipat dosa-dosa itu, yang semuanya adalah dosa besar. Dosa pertama adalah memaki al-Masih dan dosa kedua menyebabkan orang memaki Nabi suci Muhammad Saaw.
Sesungguhnya, jika orang Islam berpegang teguh pada agamanya, kecil kemungkinan akan terjadi perbantahan yang mengakibatkan timbulnya caci memaki. Ayat di atas menegaskan bahwa timbulnya pertengkaran di sebabkan tidak adanya pengetahuan. Pepatah mengatakan: jika isi otak tidak ada, padahal mulut ingin bicara, maka yang terjadi isi usus yang di keluarkan. Begitu juga dengan orang Kristen yang betul memegang teguh agamanya, mereka tidak mungkin akan mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan hati, kebohongan maupun makian terhadap orang yang tidak seagama dengan mereka, sebab di dalam Injil di katakan: kasihanilah musuhmu, atau, jika pipi kananmu di tampar, berilah pula pipi kirimu.
Salam damai penuh cinta.
Cirebon 26 September 2009
Di dalam ayat ini Tuhan memberi peringatan terhadap kaum muslim, bahwa apapun yang di sembah oleh non muslim janganlah di caci maki, sebab ketika mereka telah panas hati akibat caci maki kita, niscaya mereka juga tiada segan akan balik mencaci maki Allah Tuhan kita. Lebih baik tunjukkan pada mereka alasan yang masuk akal bagaimana lemah dan buruknya menyembah selain Allah. Apapun bentuknya, caci maki tidaklah menjadikan keadaan bertambah baik, bahkan akan menjadi semakin carut marut. Jika mereka mencaci maki Allah karena membalas caci maki kita atas sesembahan mereka, justru kita akan berdosa, sebab kita lah yang memulai.
Di dalam bahasa Arab ada ungkapan: al-badi-u adzhlamu, yang memulai lebih dulu, dialah yang lebih dzhalim.
Di dalam ayat ini juga kita dapat mengambil pengertian bahwa caci maki yang timbul karena perbedaan pandangan dan pendirian lebih banyak di karenakan tiadanya pengetahuan pada mereka yang melakukannya. Ketika orang yang bodoh menendang kesana kemari, maka mereka yang punya pengetahuan memandangnya dengan senyum simpul.
Pelajaran yang kita ambil dari ayat ini seyogyanya kita kaitkan juga dengan sabda Rasul yang berbunyi: termasuk dosa yang sangat besar adalah seseorang yang mencerca ayah bundanya. Para sahabat bertanya: wahai Rasulullah, adakah orang yang mencerca ayahnya? Rasul menjawab: dia memaki ayah seseorang, kemudian orang itu memaki ayahnya pula. Di makinya ibunya, diapun balas memaki ibunya pula.
Orang Islam terikat dengan larangan keras ini, hususnya jika berhadapan dengan mereka yang beragama Nasrani. Terkadang di dalam perdebatan yang acapkali terjadi, orang-orang Nasrani tiada segan untuk menyakiti hati kaum muslim dengan mengatakan Nabi Muhammad Saaw adalah Nabi palsu, Nabi pengumbar syahwat, Nabi pedophilia, menyebarkan Islam dengan kilatan cahaya pedang, dan kata-kata yang lebih sadis dari itu semua, sebagaimana yang pernah saya alami sendiri ketika ikut chating di forum Islam-Kristen. Betapa sakitnya hati saya mendengar kata-kata mereka, namun ketika saya hendak membalas mereka dengan memaki al-Masih, sudah pasti sayapun akan keluar dari Islam. Sebab, al-Masih yang mereka anggap sebagai Tuhan itu sesungguhnya adalah Nabi yang patut di imani dan di muliakan oleh orang Islam. Membalas caci maki mereka terhadap Nabi Muhammad Saaw dengan memaki al-Masih adalah dosa besar, apa lagi jika kita yang memulai memaki al-Masih, kemudian mereka balas lagi dengan memaki Nabi Saaw, alangkah berlipat dosa-dosa itu, yang semuanya adalah dosa besar. Dosa pertama adalah memaki al-Masih dan dosa kedua menyebabkan orang memaki Nabi suci Muhammad Saaw.
Sesungguhnya, jika orang Islam berpegang teguh pada agamanya, kecil kemungkinan akan terjadi perbantahan yang mengakibatkan timbulnya caci memaki. Ayat di atas menegaskan bahwa timbulnya pertengkaran di sebabkan tidak adanya pengetahuan. Pepatah mengatakan: jika isi otak tidak ada, padahal mulut ingin bicara, maka yang terjadi isi usus yang di keluarkan. Begitu juga dengan orang Kristen yang betul memegang teguh agamanya, mereka tidak mungkin akan mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan hati, kebohongan maupun makian terhadap orang yang tidak seagama dengan mereka, sebab di dalam Injil di katakan: kasihanilah musuhmu, atau, jika pipi kananmu di tampar, berilah pula pipi kirimu.
Salam damai penuh cinta.
Cirebon 26 September 2009
Senin, 09 Maret 2009
Dialog Fatur Rafael VS Kabayanis di situs JIL -Jaringan Islam Liberal-
Fatur Rafael menulis; Syeh Nasar Al-Maqdisi dalam bukunya Al-Hujjah meriwayatkan secara marfu’ Hadits Nabi yg berbunyi; “Ikhtilafu ummati rahmatun”, demikian pula Al-Baihaqy meriwayatkan dr Qasim bin Muhammad dalam Al-Madkhal, Yahya bin Said meriwayatkan pula dari Umar bin Abd Aziz, kemudian Yahya berkata tidaklah membahagiakan aku jika sekiranya tidak ada perbedaan di antara umat Muhammad SAAW karena jikalau dalam umat ini tidak ada perbedaan maka tidak akan ada rukhshah di dalamnya. I.H, Al-la-aalil-mantsuroh, Badruddin Az-zarkasyi 745 H - 794 H.
Bagi saya Islam adalah ibarat taman bunga yg di penuhi berbagai aneka bunga dg aroma dan warna yg semuanya memikat yg masing-masing orang bisa memetiknya sesuai dg seleranya, seseorang tak dapat di larang atau di caci maki jika dia memetik bunga mawar yg di pandangnya sebagai bunga yg paling indah, begitu pula jika ada yg lainnya yg memetik bunga melati. Tentu masing-masing punya alasan kenapa memetik yg ini dan bukan yg itu. Yg penting masing-masing pemetik tidak boleh saling menghina dengan menganggap bunga yg di petiknya adalah bunga yg paling indah dan bunga yg di petik orang lain adalah jelek lalu semua orang di paksa untuk memetik bunga yg sama dengan yg dirinya petik. Bisa juga di ibaratkan sebagai meja perjamuan yg berisi berbagai makanan yg lezat-lezat, semua orang bisa meni’matinya sesuai keinginan hatinya.
Masing-masing orang Islam di bolehkan untuk mengikuti kecenderungan Madzhab apapun yg bisa menenangkan hatinya selagi tidak menyimpang dari ajaran pokok bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah. So betapa susahnya kita mengikuti 100% ajaran Rasulullah semasa beliau hidup, untuk hal yg demikian kita harus betul-betul faham seluruh isi Al-Quran dan faham seluruh Hadits Nabi padahal kita semua tidak ada yg pernah tau berapa juta jumlah Hadits nabi, kita manusia yg terbatas dan hanya bisa mengamalkan Islam dg terbatas pula maka benarlah ketika Rasul bersabda bahwa orang Islam di ahir zaman bisa selamat walaupun hanya mengikuti Islam 20% saja.
#8. Dikirim oleh Fatur rafael pada 28/01 02:20 PM
Kabayanis menulis; @ fatur rafael…
ummat sekarang susah mengikuti 100% ajaran rasul....karena belajarnya dari kitab2 yang ditulis oleh seorang manusia walau dalam kapasitas seorang ulama sekalipun ....beda hal nya dengan sahabat-sahabat rasul...tabiin ..dan tabiin tabiin… mereka belajar, beriman dan melaksanakan ajaran Rasulululloh dari fenomena “Living Al-Qur’an” dengan tidak bergantung 89% kepada bahasa2 tulisan. Mereka saat itu belajar dan mengamalkan agama melalui uswah, yaitu segala tutur kata, prilaku, pemikiran, dan segala sesuatu tanpa terbiaskan sedikitpun oleh makna tertulis dari untaian tulisan.... maklum saja metode yang dikembangkan oleh Yang Maha Pengasih adalah melalui Paradigma “UMMI” yaitu suatu bentuk kecerdasan fitriah yang tidak bergantung pada bahasa tulisan yang dapat menimbulkan multitafsir atas makna tertulis yang ditulis orang seorang manusia lainnya… walaupun pada masa rasul “sebenarnya” telah berkembang pesat budaya litera yang dimulai ketika jaman Nabi Isa Al-Masih. Tentu salah satu keunggulan dari kecerdasan UMMIYIN tersebut adalah terjauhkannya ummat dari liberalisasi faham akibat beda penafsiran makna tertulis dari suatu ayat.... Maka nikmatilah wahai rafael....engkau terjebak faham beragama hasil menafsirkan untaian-untaian tulisan tanpa tergugah Qolbu anda untuk menunaikan hak “fuad” untuk menerima rasa dan karsa yang tak mungkin tergambar utuh oleh untaian tulisan..... dan nikmatilah kesombongan akibat berani menafsirkan makna tertulis versi apapun.... karena kera dimanapun demikian adanya walau orang jawa menyebutnya “ketek”...orang sunda nyebutnya “lutung” orang inggris nyebutnya “monkey” padahal kalau di-Iqro dengan Mata, telingga dan “Fuad” secara simultan maka kera adalah kera sebagaiman kita lihat dengan seluruh panca indra yang tidak mungkin fenomena utuhnya tersebut diuraikan dalam bentuk untaian tulisan.... Pendek kata Sunatulloh telah berlaku di muka bumi ini, yaitu Manusia yang digelari Al-Amin yang ditugasi menyempurnakan dienul Islam adalah seorang “UMMI” bukan seorang fatur rafael yang jago baca tulisan doang...wang.... maka pantas aja melegalkan perbedaan faham, mazhab, golongan, aliran, fikroh, dan akhirnya kepentingan politis.. yang memicu perpecahan ummat dan melahirkan generasi muslim yang seibarat buih di laut dan melestarikannya terus diombang-ambing gelombang.... BEWARE THE REDUCTIONIST MUSLIM
#9. Dikirim oleh kabayanist pada 28/01 05:17 PM
Rafael menulis; Makasih mba Aryanti Palupi,..kang Kabayan kayanya yg melegalkan adanya keberbagaian Madzhab bukan cuma Fatur rafael deh, Fatur hanya mengutip dr berbagai sumber yg Fatur ketahui dan itu adalah merupakan sebuah keniscayaan yg tidak dapat di pungkiri. Umar bin Abd Aziz, Hasan Bashri, Junaid Al-baghdadi, Yahya bin said dan Rabiah Adawiyah mereka itu adalah tabi’in lho tp mereka tidak memungkiri adanya berbagai corak keislaman. Jika kang kabayan adalah penganut Islam yg betul-betul murni 100% seperti Islamnya Rasulullah dan para sahabat, tentu Fatur ingin belajar pada anda karena bagaimanapun Fatur ingin juga memiliki Islam yg sempurna tetapi mungkinkah itu kang Kabayan? Sementara dalam sejarah sahabat, tabi’in dan tabi’ tabi’in yg pernah Fatur baca tidak ada seorangpun yg bernama Kabayan termasuk di dalamnya. kang Kabayan, Fatur memang gemar membaca doang wang karena dengan membaca maka Fatur jadi tau sedikit tentang Islam, bukankah kang Kabayan juga tahu tentang adanya Islam yg kang Kabayan anggap telah di reduksi oleh para ulama, juga dari membaca?
Yang terahir, Fatur pernah baca dan belajar adanya Hadits Rasul yg berbunyi “Innakum fi zamanin man ‘amila minkum ‘usyro ma umiro bihii halaka, tsumma ya’-tii zamanun man ‘amila minkum bi ‘usyri ma umiro bihi naja.” sesungguhnya kalian berada pada zaman dimana jika kalian mengamalkan sebanyak 80% dari ajaran agama maka kalian akan tetap celaka, kemudian nanti datang suatu zaman jika diantara kalian hanya bisa mengamalkan 20% saja dari ajaran agama, kalian akan selamat. (HR Tirmidzi dr Abu Hurairah dalam buku Al-Fitan Hadits ke 192). Bagaimana Hadits ini menurut anda kang Kabayan? trimakasih, mohon maaf bila terlihat kasar.
#16. Dikirim oleh Fatur rafael pada 29/01 10:29 PM
Kabayanis menulis; Islam harus dibedakan dengan penganutnya yaitu muslim....muslimin...muslimat.... saking PD-nya berabab-abab “berislam” dari hasil ekstrasi makna literal… Ummat sekarang sudah tidak bisa dan tak mau jujur untuk membedakan dirinya adalah muslim dan islam adalah dinul Islam sebagaimana kemurniannya tetap terjaga 100%. Tapi itu masih dalam koridor kemanusiawian..... Apa sebab semacam fatur tak lekang tuk tau bahwa dirinya adalah muslim 30% misalnya???...karena kitab2 yang dibacanya tak mungkin menuntun “fuad” dalam dirinya tuk “membaca” fenomena Dinul Islam 100% murni yang kemurniannya tak mungkin hanya dijangkau nalar hasil bimbingan literal-literal kitab kuning ...hijau..atau warna apalah.... apalagi adanya klaim bahwa ulama adalah mata air suci tentang Islam.... maka islamlah yang dilebur harus manut kepada ulama.... bukan sebaliknya… jadilah fatur berani mencak-mencak kaya diuraikannya.... pendek kata tak bisa lagi mencerna pengetahuan tentang fenomena dinul Islam yang tetap murni tak bermazhab, berfikroh, berorganisasi-organisasian...karena fatur dkk membatasi dirinya bahwa yang betul-betul sumber islam yang haq itu adalah yang berasal dari kitab2 hasl karya para ulamanya.... wah hebat donk.... sekiranya ulama yang mengukir untaian tulisan dalam kitabnya lahir pasca tabiin tabiin… maka kita bisa pastikan bahwa para tabiin..sahabat rasul… bahkan rasul itu sendiri adalah kurang murni dalam berislam.... karena meraka hidup sebelum ulama2 yang nulis kitab yang disahihkan oleh fatur dan kawan2.... duh sangat muliakah ulama yang dianut fatur?..... sehingga curahan pikiran dan tulisannya mampu menghapus fenomena berislam ala rasul dan sahabatnya yang tak lekang jaman terus murni hingga akhir jaman...tak mengenal mazhab, fikroh, aliran ...bahkan tak mengenal NU sekalipun.... padahal sehebat-hebatnya tulisan ulama paling afdhol mereka adalah pewaris para nabi.... ya kalo pewaris generasi pertama… tetapi gimana jadinya jika ulama tersebut pewaris generasi ke-100.... pasti sisa warisannya tak sebesar ulama generasi pertama.... tapi tak apalah ...proses hidup yang kabayan dan nenek moyang kabayan tempuh tetap belum mau mengakui bahwa muslim yang menyatakan dirinya demikian adalah karena belum “kaaffah” sehingga menjadi penista terhadap ajaran yang dianutnya walau hal itu pasti tidak akan diakui dan dirasakannya karena “taklid’ yang sudah menjadi hukum wajib dalam ber"NU"....kabayan sih pinginnya kita semua jujur .... bolehlah ummat NU adalah NU murni tapi harus tetap jujur bahwa mereka belum berislam sebagaima muslimin yang haq.... bolehlah ummat wahabi adalah wahabi murni tetapi jangan pernah mengklaim bahwa mereka adalah muslimin yang haq. Dan kabayan tentu juga berusaha jujur bahwa kami adalah penganut kabayanisme.... yang belum berhak menyandang titel muslimin yang haq karena untuk mencapai hal itu tak mungkin diusung oleh “kami” saja tanpa melibatkan ummat hanif lainnya yang berusaha masuk ke dalam islam secara kaaffah… dan tak mungkin ada muslim kaaffah… karena ke-kaaffahan hanya dapat terjelma dalam koridor “kaum” muslimin bukan individu seorang muslim.... pendeknya dalam surah al-baqoroh ditetapkan prosesnya adalah mu’min dahulu kemudian masuk islam secara kaaffah secara bersama-sama… sebagaimana rasul telah mengapainya dan begitu pula para sahabat.... JUJURLAH...WALAU KEJUJURAN ITU ADALAH PAHIT KETIKA MENGETAHUI BAHWA UMMAT NU kadarnya sekian persen dari muslimin yang haq..... dan jika baru sekian persen saja sudah “PD” dan stuck berstagnan dalam bentuk NU doang.... maka jangan salahkan Rasul yang telah menyempurnakan Dinul Islam 100% murni yang tidak pernah terbiaskan oleh budaya literal karena dibangun melalui uswah dan bukan melalui tulisan-tulisan para ulama yang kadarnya hanya sebagai pewaris nabi....
#27. Dikirim oleh kabayanist pada 06/02 06:11 PM
Rafael menulis; Baiklah.. Tidak di ragukan lagi, di tengah situasi sekarang ini di saat kaum muslimin telah kehilangan jejak sejarah dan kemudian mereka terpecah dalam berbagai macam madzhab, sekte ataupun firqah (bukan fikroh), yang semuanya mengklaim kebenaran atas dirinya sendiri dan selalu bertengkar dalam kegelapan selama beratus2 tahun, atau ketika kaum muslimin merasa takut di tengah derasnya gelombang pemikiran dan gagasan. Mereka harus kembali kepada Al-Quran dan mengikuti cara hidup kaum muslimin generasi sahabat Nabi.
Para sahabat memang bisa memahami pesan Islam tanpa bantuan fiqih, tasauf, filsafat dan unsur2 agama lainnya yg baru timbul setelah masa pewahyuan berahir. Namun, tetap saja akan ada pertanyaan yang akan selalu mengusik hati yaitu kepada Al-Quran dan sahabat yang mana kita harus berpegang? Apakah kita harus berpegang kepada Al-Quran yang di gunakan di istana-istana sayyidina Utsman khalifah Ketiga yang telah menumbuhkan kembali aristokrasi dan ikut berperan dalam mengasingkan dan mengusir Abu Dzar dari kota Nabi? Atau apakah kita akan berbegang dengan Al-Quran yang di bawa Abu Dzar dalam pengasingannya hingga ia menemui kematian di gurun pasir Rabadzah dalam keadaan kesepian dan terdzhalimi? Atau apakah kita akan berpegang pada Al-Quran yang di pajang di ujung bayonet oleh Amr bin Ash demi mempertahankan kerajaan rasial dan dalam mendukung dinasti Umayyah yang membeda2kan golongan? Atau apakah kita akan berpegang kepada Al-Quran yang ada dalam dada Ali bin Abi Thalib yang kata Nabi Al-Quran akan selalu bersama Ali dimanapun Ali berada? Kepada Al-Quran dan sahabat yang mana kita harus berpegang?.
Catatan: Saya tidak bermaksud mengatakan Al-Quran lebih dari satu, yang saya maksud adalah corak penafsirannya. Saya hanya ingin menandaskan tentang ketidak benaran orang2 yang berpendapat bahwa karena para sahabat bergaul dan hidup dengan Nabi maka di antara mereka tidak ada perbedaan dalam hal pemikiran, penafsiran dan cara pandang terhadap Islam.
#30. Dikirim oleh Fatur rafael pada 10/02 08:20 AM
Kabayanis menulis; mohon maaf mas fatur.... jika kami meminjam anda sebagai korban dari literalisasi Al-Qur’an… sehingga hanya untuk ber “syahadah” (tidak hanya baca kitab al-Qur’an saja)harus merujuk kepada sahabat nabi atau ulama yang ini atau yang itu.... pendek kata ketika ayat pertama diwahyukan kepada rasululloh tak secuilpun perintah baca tulisan, walau ulama dan ahli kitab menerjemahkan “IQRO” hanya dengan arti “bacalah’ yang merujuk hanya kepada baca tulisan. Yang jelas tak termaktub sedikit pun untaian ayat pertama yang diturunkan via malaikat jibril dalam bentuk untaian tulisan. Dan jika kita mau ber-hanif ria dengan didukung kesabaran.... maka serta merta kita akan terbimbing bahwa perintah “IQRO” bukanlah semata-mata diartikan baca tulisan.... Tetapi mau gimana lagi… rentang waktu pembiasan Al-Qur’an oleh penganut budaya literal telah sedemikian massive. Seakan tidak sah jika seseorang mengetahui dan bersyahadah kepada Al-Qur’an kalo tidak melalui baca “Kitab Al-Qur’an” terlebih dahulu. Sungguh tepat dalam salah satu ayat diterangkan bahwa ayat2 Alloh akan terpampang di segenap ufuk dan dalam diri manusia itu sendiri sehingga dengan demikian maka diketahuilah Bahwa “AL-QUR’AN” adalah benar..... fakta nyatanya adalah sebagaimana dirasakan atau dialami oleh orang warga indonesia yang sangat beruntung, yaitu almarhum bapak Muhtar Lubis ketika dengan seijin Alloh beliau disempatkan berjumpa dengan seorang ahli pertanian alami dari jepang yaitu tuan Masanobu Fukuoka.... pak muhtar lubis begitu tercengang ketika menyimak untaian hikmah dari mulut masanobu… karena substansi-nya berselaras dengan Al-Qur’an.... Padahal masanobu bukanlah muslim.... bahkan beliau mencerca semua agama yang diketahuinya… tetapi ketika ditanya oleh muhtar lubis apakah tahu didunia ini ada agama islam???… Masanobu berkata tidak mengetahuinya.... Bagaimana mungkin orang yang tak tahu ada agama islam tetapi dari lisannya terucap substansi Al-Qur’an??… jawabnya adalah karena Fenomena utuh Al-Qur’an awalnya bukanlah untaian tulisan… tetapi merupakan ayat Alloh yang terpampang di segenaf ufuk dan dalam kehidupan ummat manusia itu sendiri.... yang tak hanya melulu harus dibaca via kitab-kitab .... tetapi sejatinya dapat dengan mudah di"IQRO" di alam semesta ini sebagaimana dilakukan oleh masanobu sebagai ahli pertanian alami yang sumber ilmunya adalah alam raya ini termasuk fenomena manusia di dalamnya ....so ...mau bagaimana lagi???… kalo sekedar bangga dan sok benar hanya dengan bergantung dari makna tertulis???.... maka nikmatilah perbedaan penafsiran dari untaian makna tertulis yang ditulis “pasti” oleh seorang manusia yang tak mungkin terbebas dari subjektifitas ketika menuliskan untaian tulisan....dan akhirnya membiaskan fenomena utuh dari Al-Qur’an dan Dinul Islam itu sendiri. Maka Masanobu Fukuoka adalah contoh nyata di jaman mutakhir ini bahwa pengetahuan ttg Al-Qur’an tidak hanya dapat diperoleh melalui untaian tulisan saja .... Subhanalloh… Walhamdulillah Wallahu Akbar.....dengan demikian tinggallah kita ber “quantum leaf” ria.... jadikanlah untaian tulisan apapun hanyalah sebagai gerbang awal bagi kita dalam meraih pengetahuan hakiki dari suatu fenomena.... jangan sampai untaian tulisan itu membelenggu kita untuk menggapai pengetahuan lainnya yang tak bisa terjangkau hanya melalui langkah literalisasi.... Jikalau keberhasilan hidup manusia sejatinya harus bergantung kepada untaian tulisan!!!… niscaya Rasulullah yang UMMI adalah orang pertama yang kesekian yang akan tak berdaya dalam meraih sukses hidup di dunia ini… tetapi Subhanalloh ternyata sebaliknya… rasul secara tak terbantahkan Ke-UMMI-annya adalah seorang yang diutus untuk menyempurnakan Dinul Islam.... Wallahu ‘alam
#39. Dikirim oleh kabayanist pada 26/02 05:34 PM
Rafael menulis; Kang Kabayan yg baik, mungkin selamanya kita akan terus berbeda pendapat dan ini adalah sesuatu yg wajar2 saja. Pendapat saya bisa benar dan juga bisa salah, demikian juga dengan pendapat yg lainnya, di dunia ini memang tidak ada satupun pendapat yg tidak bisa di bantah oleh pendapat lainnya, jadi, tetaplah hanya Tuhan Allah dzat ingkang murbeng wiseso saja yg merupakan kebenaran mutlak dan abadi, Kita semua sebenarnya lemah, ringkih dan terbatas sehingga terus meraba2 dalam menggapai kebenaran yg hakiki. Oleh karena menyadari hal itu, saya kerap melazimkan istighfar, meminta pengampunan pd Tuhan atas segala pemikiran, perkataan dan perbuatan yg tidak sesuai dgn kebenaran yg di maksud Tuhan. Bukankah di dalam istighfar ada pengakuan bahwa kita lemah dan terbatas? Bukankah dalam istighfar ada ma’na tersirar tentang sebuah kepatuhan dan ketawadhu’an? Hasbunallah wani’mal wakiil.
Saya berharap mudah2an di suatu hari kelak kita bisa bersua di alam nyata, di alam nyata kita bisa berdialog dengan lebih jujur, terbuka dan bebas dari segala kepalsuan. Saya sering membayangkan duduk berhadapan dgn anda lalu kita berdialog, berdebat sekeras2nya atau berbicara tentang apapun sambil menyeruput kopi bersama, sesekali di iringi derai tawa riang. Ya, betapapun pendapat kita berbeda 417 drajat tp kita tidak harus memungkiri kalo kita sebenarnya adalah masih 1 keluarga besar dalam rumah tangga Tuhan yg sudah sepatutnya tetap saling mencintai, menghormati dan memaafkan. Mari kita saling memaafkan dalam hal2 yg kita tidak sepakat atasnya dan saling mendukung dan membantu dalam hal2 yg kita sepakati.
Ahir kata, saya ingin mengisahkan pada anda kang Kabayan, sebuah cerita tentang seorang Nabi yg bernama Ibrahim AS. Setiap hari, ketika Ibrahim akan makan pagi, terlebih dahulu mengundang orang2 untuk makan bersamanya. Di suatu pagi yg cerah, datang ke rumah Ibrahim seorang Majusi untuk ikut makan bersama Ibrahim, tetapi Ibrahim menolak orang Majusi itu dgn alasan apa yg di hidangkannya hanyalah untuk di makan oleh yg muslim2 dan hanif saja, akibat penolakan Ibrahim orang Majusi tersebut pulang dgn perasaan penuh kecewa. Selang beberapa saat, Tuhan menegur Ibrahim, wahai Ibrahim; apa hakmu menolak memberi makan Majusi itu? Bukankah Aku yg maha besar, maha kaya dan maha benar tidak pernah pilih kasih untuk memberi rizki pada siapapun tak terkecuali Majusi itu? Bukankah rizki yg ada padamu adalah Aku yg memberi? Mengapa hanya di monopoli untuk dirimu dan kaummu saja? Dengan kejadian itu, Ibrahim menjadi lebih terbuka dan tidak lagi memandang orang untuk diajak makan bersamanya. Atas kebenaran dan keabsahan cerita Ibrahim itu, terserah pada pilihan anda untuk mempercayainya atau tidak. Saya sendiri percaya kalau cerita itu adalah benar dan pernah terjadi.
#40. Dikirim oleh Fatur rafael pada 28/02 09:47 AM
Kabayanis menulis; Pertama kabayan mohon maaf.... kabayan sadar sepenuhnya bahwa apapun takwil dan tafsir dari semua wacana di forum ini ....sejatinya ditulis oleh seorang manusia “siapun dia” pasti mempunyai subyektifitas.... maka sejujurnya kabayan tak ingin ada yang mempercayai dan menshahihkan untaian tulisan yang dirilis kabayan… kalo tanpa tabayyun kepada fenomena utuhnya di alam nyata.... Keterbatasan untaian tulisan inilah yang sejatinya ingin kabayan wanti-wantikan.... jangan sampai kita keliru melihat fenomena “kera” akibat orang sunda menuliskanya dengan untaian kata “lutung"… orang jawa dengan untaian kata “ketek” dan orang inggris menuliskan kata “monkey”. padahal digunjingkan sehebat apapun… didebat-kusirkan semalam suntuk pun… si kera adalah kera yang dapat kita “IQRO” fenomenanya secara utuh di alam nyata.... dan bahkan mungkin dia sedang terbahak-bahak menertawakan manusia seperti kita gara2 mempermasalahkan suatu untaian tulisan tentang dirinya… akibat adanya perbedaan ungkapan literal semata.... pingin tahu kera sesungguhnya mah tinggal lihat bersama-sama di alam nyatanya dengan segala panca indra walaupun tidak dijelmakan secara literal-pun ternyata sang kera adalah sang kera itu sendiri.... semoga semua ini adalah ibroh terhadap Agungnya Sunatullah atas ke-UMMI-an Rasululloh yang tak perlu lagi ditafsiri dengan pemaknaan “Buta Huruf” tetapi lebih tepat jika dimaknai sebagai “suatu kecerdasan manusia yang tidak sepenuhnya bergantung pada budaya literal” karena untaian tulisan (literal) akan berpotensi melahirkan makna multi-interpretasi dengan efek globalnya adalah memecah-belah pemikiran ummat dan menjauhkannya dari ke-Rahmat-an Dinul Islam..... Wassalam
#41. Dikirim oleh kabayanist pada 02/03 06:20 PM
KOMENTAR TAMBAHAN
Setuju, Mas Fatur Rafael.
Tidak ada itu yang namanya Islam murni dan Islam sesat. Setiap individu yang mengaku Islam punya pemahaman sendiri tentang Islamnya, dan itu sunnatullah. Kenapa harus dipermasalahkan? Ada yang percaya Imama Mahdinya sudah datang dianggap sesat. Ada yang salat dengan bahasa jawa dianggap melenceng. Orang bebas memilih jalan yang dianggap paling pas dengan hatinya untuk bersama dengan Yang Maha Sempurna. Kalau memang sebuah metode tertentu dianggap paling bisa mendekatkan dirinya dengan Sang Pencipta, kenapa kita harus pusing? Itu kan urusan yang bersangkutan dengan Allah. Biarlah Allah saja yang menjadi hakim atas semuanya. Kita jangan sampai menyerobot jabatan Allah sebagai hakim.
#13. Dikirim oleh ariyanti palupi pada 29/01 02:44 PM
Mas Fatur Rafael,
Kalau saya pikir, kemungkinan hadis itu maksudnya adalah anjuran agar kita jangan sampai berlebihan dalam beragama. Menganggap pemahaman mayoritas tentang Islam sebagai satu-satunya Islam yang benar, apalagi kalau sampai mengatakan orang lain “sesat” karena sedikit berbeda dari anggapan arus utama itu tadi kok keliatan seperti tindakan yang berlebihan. Allah sendiri mengecam keras segala tindakan yang berlebihan, dan saya pikir beragama juga tidak luput dari hal ini. Jadi, yang hanya bisa mengamalkan 20% itu tadi kemungkinan adalah mereka-mereka yang tidak berlebihan dalam beragama. tentang apa yang dimaksud “berlebihan” itu sendiri saya rasa juga tergantung tiap individu yang datang dari berbagai latar belakang pengalaman hidup yang berbeda-beda. Saya teringat ucapan teman saya yang menganut aliran Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, bahwa semakin kita ngotot untuk mempertahankan keyakinan bahwa kita paling benar, dan yang lain salah, semakin kita jauh dari Yang Maha Sempurna, semakin kita melupakan esensi dari keberagamaan itu sendiri. Saya mengklaim diri saya sebagai seorang Muslim, tapi saya hanya bisa memaknai Islam berdasarkan pengalaman hidup saya yang bisa salah bisa juga benar. kita tidak akan pernah tahu mana Islam yang “murni” itu, kalau memang ada. kita hanya bisa tahu, Islam kita masing-masing, karena masing-masing individu tidak ada yang sama. kita diciptakan secara unik oleh Tuhan, Sang Maha Kreatif. Jadi alangkah anehnya kalau kita “menyesatkan” orang lain hanya karena mereka berusaha untuk jujur dengan keunikan mereka sendiri. Hanya pada Sang Maha Benarlah kebenaran mutlak itu berada. Kita dikaruniai akal dan hati dalam beragama, dan saya pikir meletakkan kebenaran agama di atas kehendak Allah untuk menjadikan agama itu sendiri sebagai rahmat bagi seluruh alam semesta kok agak absurd bagi saya. Tapi itulah pandangan saya, mungkin ada yang tidak setuju. tidak apa-apa. itulah hidup. Sudah kehendak Allah kayaknya.
Selamat ultah NU, semoga bertambah dewasa dalam menyikapi perbedaan, dan dapat membawa Islam ke arah yang mendewasakan, bukan meninabobokkan. Semoga Allah memberi pentunjuk.
#21. Dikirim oleh Ariyanti Palupi pada 02/02 10:59 AM
Kadang saya masih heran ada saja orang yang mengklaim 100% sesuai dan pas tak kurang dan tak lebih menjalankan islam seperti yang dijalankan Rasulullah dan hebatnya mereka mengklaim lagi langsung belajar dari Al Qur’an dan al hadist dan selalu mengesampingkan produk produk ulama sebagai sesuatu yang literal kata kabayanist. Mampukah kita dengan modal ilmu agama yang pas pasan menafsiri alquran dan alkhadist? Begitu angkuhkah kita mengesampingkan karya karya ulama sebelum kita yang notabene bersumber dari alquran dan alkhadist dengan cara kita langsung dari sumbernya yang masih mentah? Kalau hanya klaim-klaiman lalu siapa yang menilai bahwa kita yang paling pas dan sesuai dengan kanjeng nabi? Dan ternyata pula wahabian pun merujuk juga pada karangan karangan ulama cuman ulama ulama wahabi saja jadi apa bedanya?
Saya sangat setuju dengan pandangan mas fatur rafael dan tidak setuju dengan cara pandang kabayanist,bolehkan berbeda pendapat?
Akhirnya Selamat atas hari lahirnya NU semoga bisa menjadi benteng terhadap gempuran wahabi di indonesia dan tetap menjadikan islam rahmatan lil’alamin
#23. Dikirim oleh taufiq pada 03/02 03:22 PM
Mas Fatur
analoginya mungkin seperti ini :
andaikata Mas fatur rafael mau naik haji, jelas dong anda akan naik pesawat, cepat, praktis dan disesuaikan dengan masa kini, tapi ada orang yang bersikukuh beribadah sesuai dengan cara nabi persis 100 %, maka karena onta yang ada di indonesia tidak bisa berenang membawa dia ke mekkah, maka dia bersikukuh untuk menaikkan ontanya ikut naik pesawat menuju ke mekkah.
Mas fatur, berjalanlah terus.. tidak perlu konfirmasi dengan orang yang bersebrangan,karena tidak akan ketemu dan membuang energi,memang kita belum tentu benar dan orang lain yang bersebrangan belum tentu salah,tapi yang pasti diantaranya sudah berbeda persepsi, semoga kita semua termasuk dengan kawan2 kita yang berbeda dan bersebrangan secepatnya menemukan kebenaran.
#32. Dikirim oleh ardianto pada 13/02 01:12 PM
Kepada mas “kabayanist”,
kalau kita mau berkeras hati mengikuti setiap jengkal tindak tanduk nabi dan para sahabatnya dalam berislam yang kata mas kabayanist “murni” 100%, kok sepertinya kita akan hidup di jaman 1400 tahun yang lalu. Islam itu hidup, mas kabayanist, bukan benda mati yang bentuk dan rupanya sama dari abad ke abad. Kalau kita mau mengesampingkan pentingnya ide materialisme historis, termasuk dalam menelaah Islam, berarti kita telah menjadikan islam itu seperti batu. Keberadaan mahzab-mahzab atau pikiran-pikiran yang lahir untuk memahami Alquran tentu saja tidak bisa terhindarkan karena manusia dilahirkan dengan keunikan dan pengalaman hidup yang berbeda-beda, dalam masa-masa yang berbeda pula, dan itu semua akan mempengaruhi cara pandang manusia tersebut terhadap sesuatu, termasuk Alquran. Kalau mas Kabayanist mengandaikan adanya satu Islam saja yaitu islam “murni 100%” seperti kata mas Kabayanist, kok saya pikir kita seperti memaksakan untuk beranggapan bahwa setiap kepala yang ada di bumi ini diciptakan sama persis sebangun dan seruang oleh Allah, yang notabene tidak mungkin, karena sifatnya yang Maha Kreatif, Allah itu menciptakan setiap kepala tadi dengan keunikan yang luar biasa. jadi kalau mau menganggap kerja pemahaman setiap manusia ini bisa dan harus sama, jangan-jangan kita sudah bersikap angkuh tidak mau mengakui sunnatullah bahwa perbedaan-perbedaan itu ada dan akan selalu ada. Tinggal kita bagaimana menyikapi perbedaan-perbedaan tersebut tanpa menyebut pihak lain Islamnya cuma 30% hanya karena kita merasa Islam kita 100%. Bukan begitu, mas kabayanist?
#33. Dikirim oleh ariyanti palupi pada 13/02 10:30 PM
Bagi saya Islam adalah ibarat taman bunga yg di penuhi berbagai aneka bunga dg aroma dan warna yg semuanya memikat yg masing-masing orang bisa memetiknya sesuai dg seleranya, seseorang tak dapat di larang atau di caci maki jika dia memetik bunga mawar yg di pandangnya sebagai bunga yg paling indah, begitu pula jika ada yg lainnya yg memetik bunga melati. Tentu masing-masing punya alasan kenapa memetik yg ini dan bukan yg itu. Yg penting masing-masing pemetik tidak boleh saling menghina dengan menganggap bunga yg di petiknya adalah bunga yg paling indah dan bunga yg di petik orang lain adalah jelek lalu semua orang di paksa untuk memetik bunga yg sama dengan yg dirinya petik. Bisa juga di ibaratkan sebagai meja perjamuan yg berisi berbagai makanan yg lezat-lezat, semua orang bisa meni’matinya sesuai keinginan hatinya.
Masing-masing orang Islam di bolehkan untuk mengikuti kecenderungan Madzhab apapun yg bisa menenangkan hatinya selagi tidak menyimpang dari ajaran pokok bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah. So betapa susahnya kita mengikuti 100% ajaran Rasulullah semasa beliau hidup, untuk hal yg demikian kita harus betul-betul faham seluruh isi Al-Quran dan faham seluruh Hadits Nabi padahal kita semua tidak ada yg pernah tau berapa juta jumlah Hadits nabi, kita manusia yg terbatas dan hanya bisa mengamalkan Islam dg terbatas pula maka benarlah ketika Rasul bersabda bahwa orang Islam di ahir zaman bisa selamat walaupun hanya mengikuti Islam 20% saja.
#8. Dikirim oleh Fatur rafael pada 28/01 02:20 PM
Kabayanis menulis; @ fatur rafael…
ummat sekarang susah mengikuti 100% ajaran rasul....karena belajarnya dari kitab2 yang ditulis oleh seorang manusia walau dalam kapasitas seorang ulama sekalipun ....beda hal nya dengan sahabat-sahabat rasul...tabiin ..dan tabiin tabiin… mereka belajar, beriman dan melaksanakan ajaran Rasulululloh dari fenomena “Living Al-Qur’an” dengan tidak bergantung 89% kepada bahasa2 tulisan. Mereka saat itu belajar dan mengamalkan agama melalui uswah, yaitu segala tutur kata, prilaku, pemikiran, dan segala sesuatu tanpa terbiaskan sedikitpun oleh makna tertulis dari untaian tulisan.... maklum saja metode yang dikembangkan oleh Yang Maha Pengasih adalah melalui Paradigma “UMMI” yaitu suatu bentuk kecerdasan fitriah yang tidak bergantung pada bahasa tulisan yang dapat menimbulkan multitafsir atas makna tertulis yang ditulis orang seorang manusia lainnya… walaupun pada masa rasul “sebenarnya” telah berkembang pesat budaya litera yang dimulai ketika jaman Nabi Isa Al-Masih. Tentu salah satu keunggulan dari kecerdasan UMMIYIN tersebut adalah terjauhkannya ummat dari liberalisasi faham akibat beda penafsiran makna tertulis dari suatu ayat.... Maka nikmatilah wahai rafael....engkau terjebak faham beragama hasil menafsirkan untaian-untaian tulisan tanpa tergugah Qolbu anda untuk menunaikan hak “fuad” untuk menerima rasa dan karsa yang tak mungkin tergambar utuh oleh untaian tulisan..... dan nikmatilah kesombongan akibat berani menafsirkan makna tertulis versi apapun.... karena kera dimanapun demikian adanya walau orang jawa menyebutnya “ketek”...orang sunda nyebutnya “lutung” orang inggris nyebutnya “monkey” padahal kalau di-Iqro dengan Mata, telingga dan “Fuad” secara simultan maka kera adalah kera sebagaiman kita lihat dengan seluruh panca indra yang tidak mungkin fenomena utuhnya tersebut diuraikan dalam bentuk untaian tulisan.... Pendek kata Sunatulloh telah berlaku di muka bumi ini, yaitu Manusia yang digelari Al-Amin yang ditugasi menyempurnakan dienul Islam adalah seorang “UMMI” bukan seorang fatur rafael yang jago baca tulisan doang...wang.... maka pantas aja melegalkan perbedaan faham, mazhab, golongan, aliran, fikroh, dan akhirnya kepentingan politis.. yang memicu perpecahan ummat dan melahirkan generasi muslim yang seibarat buih di laut dan melestarikannya terus diombang-ambing gelombang.... BEWARE THE REDUCTIONIST MUSLIM
#9. Dikirim oleh kabayanist pada 28/01 05:17 PM
Rafael menulis; Makasih mba Aryanti Palupi,..kang Kabayan kayanya yg melegalkan adanya keberbagaian Madzhab bukan cuma Fatur rafael deh, Fatur hanya mengutip dr berbagai sumber yg Fatur ketahui dan itu adalah merupakan sebuah keniscayaan yg tidak dapat di pungkiri. Umar bin Abd Aziz, Hasan Bashri, Junaid Al-baghdadi, Yahya bin said dan Rabiah Adawiyah mereka itu adalah tabi’in lho tp mereka tidak memungkiri adanya berbagai corak keislaman. Jika kang kabayan adalah penganut Islam yg betul-betul murni 100% seperti Islamnya Rasulullah dan para sahabat, tentu Fatur ingin belajar pada anda karena bagaimanapun Fatur ingin juga memiliki Islam yg sempurna tetapi mungkinkah itu kang Kabayan? Sementara dalam sejarah sahabat, tabi’in dan tabi’ tabi’in yg pernah Fatur baca tidak ada seorangpun yg bernama Kabayan termasuk di dalamnya. kang Kabayan, Fatur memang gemar membaca doang wang karena dengan membaca maka Fatur jadi tau sedikit tentang Islam, bukankah kang Kabayan juga tahu tentang adanya Islam yg kang Kabayan anggap telah di reduksi oleh para ulama, juga dari membaca?
Yang terahir, Fatur pernah baca dan belajar adanya Hadits Rasul yg berbunyi “Innakum fi zamanin man ‘amila minkum ‘usyro ma umiro bihii halaka, tsumma ya’-tii zamanun man ‘amila minkum bi ‘usyri ma umiro bihi naja.” sesungguhnya kalian berada pada zaman dimana jika kalian mengamalkan sebanyak 80% dari ajaran agama maka kalian akan tetap celaka, kemudian nanti datang suatu zaman jika diantara kalian hanya bisa mengamalkan 20% saja dari ajaran agama, kalian akan selamat. (HR Tirmidzi dr Abu Hurairah dalam buku Al-Fitan Hadits ke 192). Bagaimana Hadits ini menurut anda kang Kabayan? trimakasih, mohon maaf bila terlihat kasar.
#16. Dikirim oleh Fatur rafael pada 29/01 10:29 PM
Kabayanis menulis; Islam harus dibedakan dengan penganutnya yaitu muslim....muslimin...muslimat.... saking PD-nya berabab-abab “berislam” dari hasil ekstrasi makna literal… Ummat sekarang sudah tidak bisa dan tak mau jujur untuk membedakan dirinya adalah muslim dan islam adalah dinul Islam sebagaimana kemurniannya tetap terjaga 100%. Tapi itu masih dalam koridor kemanusiawian..... Apa sebab semacam fatur tak lekang tuk tau bahwa dirinya adalah muslim 30% misalnya???...karena kitab2 yang dibacanya tak mungkin menuntun “fuad” dalam dirinya tuk “membaca” fenomena Dinul Islam 100% murni yang kemurniannya tak mungkin hanya dijangkau nalar hasil bimbingan literal-literal kitab kuning ...hijau..atau warna apalah.... apalagi adanya klaim bahwa ulama adalah mata air suci tentang Islam.... maka islamlah yang dilebur harus manut kepada ulama.... bukan sebaliknya… jadilah fatur berani mencak-mencak kaya diuraikannya.... pendek kata tak bisa lagi mencerna pengetahuan tentang fenomena dinul Islam yang tetap murni tak bermazhab, berfikroh, berorganisasi-organisasian...karena fatur dkk membatasi dirinya bahwa yang betul-betul sumber islam yang haq itu adalah yang berasal dari kitab2 hasl karya para ulamanya.... wah hebat donk.... sekiranya ulama yang mengukir untaian tulisan dalam kitabnya lahir pasca tabiin tabiin… maka kita bisa pastikan bahwa para tabiin..sahabat rasul… bahkan rasul itu sendiri adalah kurang murni dalam berislam.... karena meraka hidup sebelum ulama2 yang nulis kitab yang disahihkan oleh fatur dan kawan2.... duh sangat muliakah ulama yang dianut fatur?..... sehingga curahan pikiran dan tulisannya mampu menghapus fenomena berislam ala rasul dan sahabatnya yang tak lekang jaman terus murni hingga akhir jaman...tak mengenal mazhab, fikroh, aliran ...bahkan tak mengenal NU sekalipun.... padahal sehebat-hebatnya tulisan ulama paling afdhol mereka adalah pewaris para nabi.... ya kalo pewaris generasi pertama… tetapi gimana jadinya jika ulama tersebut pewaris generasi ke-100.... pasti sisa warisannya tak sebesar ulama generasi pertama.... tapi tak apalah ...proses hidup yang kabayan dan nenek moyang kabayan tempuh tetap belum mau mengakui bahwa muslim yang menyatakan dirinya demikian adalah karena belum “kaaffah” sehingga menjadi penista terhadap ajaran yang dianutnya walau hal itu pasti tidak akan diakui dan dirasakannya karena “taklid’ yang sudah menjadi hukum wajib dalam ber"NU"....kabayan sih pinginnya kita semua jujur .... bolehlah ummat NU adalah NU murni tapi harus tetap jujur bahwa mereka belum berislam sebagaima muslimin yang haq.... bolehlah ummat wahabi adalah wahabi murni tetapi jangan pernah mengklaim bahwa mereka adalah muslimin yang haq. Dan kabayan tentu juga berusaha jujur bahwa kami adalah penganut kabayanisme.... yang belum berhak menyandang titel muslimin yang haq karena untuk mencapai hal itu tak mungkin diusung oleh “kami” saja tanpa melibatkan ummat hanif lainnya yang berusaha masuk ke dalam islam secara kaaffah… dan tak mungkin ada muslim kaaffah… karena ke-kaaffahan hanya dapat terjelma dalam koridor “kaum” muslimin bukan individu seorang muslim.... pendeknya dalam surah al-baqoroh ditetapkan prosesnya adalah mu’min dahulu kemudian masuk islam secara kaaffah secara bersama-sama… sebagaimana rasul telah mengapainya dan begitu pula para sahabat.... JUJURLAH...WALAU KEJUJURAN ITU ADALAH PAHIT KETIKA MENGETAHUI BAHWA UMMAT NU kadarnya sekian persen dari muslimin yang haq..... dan jika baru sekian persen saja sudah “PD” dan stuck berstagnan dalam bentuk NU doang.... maka jangan salahkan Rasul yang telah menyempurnakan Dinul Islam 100% murni yang tidak pernah terbiaskan oleh budaya literal karena dibangun melalui uswah dan bukan melalui tulisan-tulisan para ulama yang kadarnya hanya sebagai pewaris nabi....
#27. Dikirim oleh kabayanist pada 06/02 06:11 PM
Rafael menulis; Baiklah.. Tidak di ragukan lagi, di tengah situasi sekarang ini di saat kaum muslimin telah kehilangan jejak sejarah dan kemudian mereka terpecah dalam berbagai macam madzhab, sekte ataupun firqah (bukan fikroh), yang semuanya mengklaim kebenaran atas dirinya sendiri dan selalu bertengkar dalam kegelapan selama beratus2 tahun, atau ketika kaum muslimin merasa takut di tengah derasnya gelombang pemikiran dan gagasan. Mereka harus kembali kepada Al-Quran dan mengikuti cara hidup kaum muslimin generasi sahabat Nabi.
Para sahabat memang bisa memahami pesan Islam tanpa bantuan fiqih, tasauf, filsafat dan unsur2 agama lainnya yg baru timbul setelah masa pewahyuan berahir. Namun, tetap saja akan ada pertanyaan yang akan selalu mengusik hati yaitu kepada Al-Quran dan sahabat yang mana kita harus berpegang? Apakah kita harus berpegang kepada Al-Quran yang di gunakan di istana-istana sayyidina Utsman khalifah Ketiga yang telah menumbuhkan kembali aristokrasi dan ikut berperan dalam mengasingkan dan mengusir Abu Dzar dari kota Nabi? Atau apakah kita akan berbegang dengan Al-Quran yang di bawa Abu Dzar dalam pengasingannya hingga ia menemui kematian di gurun pasir Rabadzah dalam keadaan kesepian dan terdzhalimi? Atau apakah kita akan berpegang pada Al-Quran yang di pajang di ujung bayonet oleh Amr bin Ash demi mempertahankan kerajaan rasial dan dalam mendukung dinasti Umayyah yang membeda2kan golongan? Atau apakah kita akan berpegang kepada Al-Quran yang ada dalam dada Ali bin Abi Thalib yang kata Nabi Al-Quran akan selalu bersama Ali dimanapun Ali berada? Kepada Al-Quran dan sahabat yang mana kita harus berpegang?.
Catatan: Saya tidak bermaksud mengatakan Al-Quran lebih dari satu, yang saya maksud adalah corak penafsirannya. Saya hanya ingin menandaskan tentang ketidak benaran orang2 yang berpendapat bahwa karena para sahabat bergaul dan hidup dengan Nabi maka di antara mereka tidak ada perbedaan dalam hal pemikiran, penafsiran dan cara pandang terhadap Islam.
#30. Dikirim oleh Fatur rafael pada 10/02 08:20 AM
Kabayanis menulis; mohon maaf mas fatur.... jika kami meminjam anda sebagai korban dari literalisasi Al-Qur’an… sehingga hanya untuk ber “syahadah” (tidak hanya baca kitab al-Qur’an saja)harus merujuk kepada sahabat nabi atau ulama yang ini atau yang itu.... pendek kata ketika ayat pertama diwahyukan kepada rasululloh tak secuilpun perintah baca tulisan, walau ulama dan ahli kitab menerjemahkan “IQRO” hanya dengan arti “bacalah’ yang merujuk hanya kepada baca tulisan. Yang jelas tak termaktub sedikit pun untaian ayat pertama yang diturunkan via malaikat jibril dalam bentuk untaian tulisan. Dan jika kita mau ber-hanif ria dengan didukung kesabaran.... maka serta merta kita akan terbimbing bahwa perintah “IQRO” bukanlah semata-mata diartikan baca tulisan.... Tetapi mau gimana lagi… rentang waktu pembiasan Al-Qur’an oleh penganut budaya literal telah sedemikian massive. Seakan tidak sah jika seseorang mengetahui dan bersyahadah kepada Al-Qur’an kalo tidak melalui baca “Kitab Al-Qur’an” terlebih dahulu. Sungguh tepat dalam salah satu ayat diterangkan bahwa ayat2 Alloh akan terpampang di segenap ufuk dan dalam diri manusia itu sendiri sehingga dengan demikian maka diketahuilah Bahwa “AL-QUR’AN” adalah benar..... fakta nyatanya adalah sebagaimana dirasakan atau dialami oleh orang warga indonesia yang sangat beruntung, yaitu almarhum bapak Muhtar Lubis ketika dengan seijin Alloh beliau disempatkan berjumpa dengan seorang ahli pertanian alami dari jepang yaitu tuan Masanobu Fukuoka.... pak muhtar lubis begitu tercengang ketika menyimak untaian hikmah dari mulut masanobu… karena substansi-nya berselaras dengan Al-Qur’an.... Padahal masanobu bukanlah muslim.... bahkan beliau mencerca semua agama yang diketahuinya… tetapi ketika ditanya oleh muhtar lubis apakah tahu didunia ini ada agama islam???… Masanobu berkata tidak mengetahuinya.... Bagaimana mungkin orang yang tak tahu ada agama islam tetapi dari lisannya terucap substansi Al-Qur’an??… jawabnya adalah karena Fenomena utuh Al-Qur’an awalnya bukanlah untaian tulisan… tetapi merupakan ayat Alloh yang terpampang di segenaf ufuk dan dalam kehidupan ummat manusia itu sendiri.... yang tak hanya melulu harus dibaca via kitab-kitab .... tetapi sejatinya dapat dengan mudah di"IQRO" di alam semesta ini sebagaimana dilakukan oleh masanobu sebagai ahli pertanian alami yang sumber ilmunya adalah alam raya ini termasuk fenomena manusia di dalamnya ....so ...mau bagaimana lagi???… kalo sekedar bangga dan sok benar hanya dengan bergantung dari makna tertulis???.... maka nikmatilah perbedaan penafsiran dari untaian makna tertulis yang ditulis “pasti” oleh seorang manusia yang tak mungkin terbebas dari subjektifitas ketika menuliskan untaian tulisan....dan akhirnya membiaskan fenomena utuh dari Al-Qur’an dan Dinul Islam itu sendiri. Maka Masanobu Fukuoka adalah contoh nyata di jaman mutakhir ini bahwa pengetahuan ttg Al-Qur’an tidak hanya dapat diperoleh melalui untaian tulisan saja .... Subhanalloh… Walhamdulillah Wallahu Akbar.....dengan demikian tinggallah kita ber “quantum leaf” ria.... jadikanlah untaian tulisan apapun hanyalah sebagai gerbang awal bagi kita dalam meraih pengetahuan hakiki dari suatu fenomena.... jangan sampai untaian tulisan itu membelenggu kita untuk menggapai pengetahuan lainnya yang tak bisa terjangkau hanya melalui langkah literalisasi.... Jikalau keberhasilan hidup manusia sejatinya harus bergantung kepada untaian tulisan!!!… niscaya Rasulullah yang UMMI adalah orang pertama yang kesekian yang akan tak berdaya dalam meraih sukses hidup di dunia ini… tetapi Subhanalloh ternyata sebaliknya… rasul secara tak terbantahkan Ke-UMMI-annya adalah seorang yang diutus untuk menyempurnakan Dinul Islam.... Wallahu ‘alam
#39. Dikirim oleh kabayanist pada 26/02 05:34 PM
Rafael menulis; Kang Kabayan yg baik, mungkin selamanya kita akan terus berbeda pendapat dan ini adalah sesuatu yg wajar2 saja. Pendapat saya bisa benar dan juga bisa salah, demikian juga dengan pendapat yg lainnya, di dunia ini memang tidak ada satupun pendapat yg tidak bisa di bantah oleh pendapat lainnya, jadi, tetaplah hanya Tuhan Allah dzat ingkang murbeng wiseso saja yg merupakan kebenaran mutlak dan abadi, Kita semua sebenarnya lemah, ringkih dan terbatas sehingga terus meraba2 dalam menggapai kebenaran yg hakiki. Oleh karena menyadari hal itu, saya kerap melazimkan istighfar, meminta pengampunan pd Tuhan atas segala pemikiran, perkataan dan perbuatan yg tidak sesuai dgn kebenaran yg di maksud Tuhan. Bukankah di dalam istighfar ada pengakuan bahwa kita lemah dan terbatas? Bukankah dalam istighfar ada ma’na tersirar tentang sebuah kepatuhan dan ketawadhu’an? Hasbunallah wani’mal wakiil.
Saya berharap mudah2an di suatu hari kelak kita bisa bersua di alam nyata, di alam nyata kita bisa berdialog dengan lebih jujur, terbuka dan bebas dari segala kepalsuan. Saya sering membayangkan duduk berhadapan dgn anda lalu kita berdialog, berdebat sekeras2nya atau berbicara tentang apapun sambil menyeruput kopi bersama, sesekali di iringi derai tawa riang. Ya, betapapun pendapat kita berbeda 417 drajat tp kita tidak harus memungkiri kalo kita sebenarnya adalah masih 1 keluarga besar dalam rumah tangga Tuhan yg sudah sepatutnya tetap saling mencintai, menghormati dan memaafkan. Mari kita saling memaafkan dalam hal2 yg kita tidak sepakat atasnya dan saling mendukung dan membantu dalam hal2 yg kita sepakati.
Ahir kata, saya ingin mengisahkan pada anda kang Kabayan, sebuah cerita tentang seorang Nabi yg bernama Ibrahim AS. Setiap hari, ketika Ibrahim akan makan pagi, terlebih dahulu mengundang orang2 untuk makan bersamanya. Di suatu pagi yg cerah, datang ke rumah Ibrahim seorang Majusi untuk ikut makan bersama Ibrahim, tetapi Ibrahim menolak orang Majusi itu dgn alasan apa yg di hidangkannya hanyalah untuk di makan oleh yg muslim2 dan hanif saja, akibat penolakan Ibrahim orang Majusi tersebut pulang dgn perasaan penuh kecewa. Selang beberapa saat, Tuhan menegur Ibrahim, wahai Ibrahim; apa hakmu menolak memberi makan Majusi itu? Bukankah Aku yg maha besar, maha kaya dan maha benar tidak pernah pilih kasih untuk memberi rizki pada siapapun tak terkecuali Majusi itu? Bukankah rizki yg ada padamu adalah Aku yg memberi? Mengapa hanya di monopoli untuk dirimu dan kaummu saja? Dengan kejadian itu, Ibrahim menjadi lebih terbuka dan tidak lagi memandang orang untuk diajak makan bersamanya. Atas kebenaran dan keabsahan cerita Ibrahim itu, terserah pada pilihan anda untuk mempercayainya atau tidak. Saya sendiri percaya kalau cerita itu adalah benar dan pernah terjadi.
#40. Dikirim oleh Fatur rafael pada 28/02 09:47 AM
Kabayanis menulis; Pertama kabayan mohon maaf.... kabayan sadar sepenuhnya bahwa apapun takwil dan tafsir dari semua wacana di forum ini ....sejatinya ditulis oleh seorang manusia “siapun dia” pasti mempunyai subyektifitas.... maka sejujurnya kabayan tak ingin ada yang mempercayai dan menshahihkan untaian tulisan yang dirilis kabayan… kalo tanpa tabayyun kepada fenomena utuhnya di alam nyata.... Keterbatasan untaian tulisan inilah yang sejatinya ingin kabayan wanti-wantikan.... jangan sampai kita keliru melihat fenomena “kera” akibat orang sunda menuliskanya dengan untaian kata “lutung"… orang jawa dengan untaian kata “ketek” dan orang inggris menuliskan kata “monkey”. padahal digunjingkan sehebat apapun… didebat-kusirkan semalam suntuk pun… si kera adalah kera yang dapat kita “IQRO” fenomenanya secara utuh di alam nyata.... dan bahkan mungkin dia sedang terbahak-bahak menertawakan manusia seperti kita gara2 mempermasalahkan suatu untaian tulisan tentang dirinya… akibat adanya perbedaan ungkapan literal semata.... pingin tahu kera sesungguhnya mah tinggal lihat bersama-sama di alam nyatanya dengan segala panca indra walaupun tidak dijelmakan secara literal-pun ternyata sang kera adalah sang kera itu sendiri.... semoga semua ini adalah ibroh terhadap Agungnya Sunatullah atas ke-UMMI-an Rasululloh yang tak perlu lagi ditafsiri dengan pemaknaan “Buta Huruf” tetapi lebih tepat jika dimaknai sebagai “suatu kecerdasan manusia yang tidak sepenuhnya bergantung pada budaya literal” karena untaian tulisan (literal) akan berpotensi melahirkan makna multi-interpretasi dengan efek globalnya adalah memecah-belah pemikiran ummat dan menjauhkannya dari ke-Rahmat-an Dinul Islam..... Wassalam
#41. Dikirim oleh kabayanist pada 02/03 06:20 PM
KOMENTAR TAMBAHAN
Setuju, Mas Fatur Rafael.
Tidak ada itu yang namanya Islam murni dan Islam sesat. Setiap individu yang mengaku Islam punya pemahaman sendiri tentang Islamnya, dan itu sunnatullah. Kenapa harus dipermasalahkan? Ada yang percaya Imama Mahdinya sudah datang dianggap sesat. Ada yang salat dengan bahasa jawa dianggap melenceng. Orang bebas memilih jalan yang dianggap paling pas dengan hatinya untuk bersama dengan Yang Maha Sempurna. Kalau memang sebuah metode tertentu dianggap paling bisa mendekatkan dirinya dengan Sang Pencipta, kenapa kita harus pusing? Itu kan urusan yang bersangkutan dengan Allah. Biarlah Allah saja yang menjadi hakim atas semuanya. Kita jangan sampai menyerobot jabatan Allah sebagai hakim.
#13. Dikirim oleh ariyanti palupi pada 29/01 02:44 PM
Mas Fatur Rafael,
Kalau saya pikir, kemungkinan hadis itu maksudnya adalah anjuran agar kita jangan sampai berlebihan dalam beragama. Menganggap pemahaman mayoritas tentang Islam sebagai satu-satunya Islam yang benar, apalagi kalau sampai mengatakan orang lain “sesat” karena sedikit berbeda dari anggapan arus utama itu tadi kok keliatan seperti tindakan yang berlebihan. Allah sendiri mengecam keras segala tindakan yang berlebihan, dan saya pikir beragama juga tidak luput dari hal ini. Jadi, yang hanya bisa mengamalkan 20% itu tadi kemungkinan adalah mereka-mereka yang tidak berlebihan dalam beragama. tentang apa yang dimaksud “berlebihan” itu sendiri saya rasa juga tergantung tiap individu yang datang dari berbagai latar belakang pengalaman hidup yang berbeda-beda. Saya teringat ucapan teman saya yang menganut aliran Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, bahwa semakin kita ngotot untuk mempertahankan keyakinan bahwa kita paling benar, dan yang lain salah, semakin kita jauh dari Yang Maha Sempurna, semakin kita melupakan esensi dari keberagamaan itu sendiri. Saya mengklaim diri saya sebagai seorang Muslim, tapi saya hanya bisa memaknai Islam berdasarkan pengalaman hidup saya yang bisa salah bisa juga benar. kita tidak akan pernah tahu mana Islam yang “murni” itu, kalau memang ada. kita hanya bisa tahu, Islam kita masing-masing, karena masing-masing individu tidak ada yang sama. kita diciptakan secara unik oleh Tuhan, Sang Maha Kreatif. Jadi alangkah anehnya kalau kita “menyesatkan” orang lain hanya karena mereka berusaha untuk jujur dengan keunikan mereka sendiri. Hanya pada Sang Maha Benarlah kebenaran mutlak itu berada. Kita dikaruniai akal dan hati dalam beragama, dan saya pikir meletakkan kebenaran agama di atas kehendak Allah untuk menjadikan agama itu sendiri sebagai rahmat bagi seluruh alam semesta kok agak absurd bagi saya. Tapi itulah pandangan saya, mungkin ada yang tidak setuju. tidak apa-apa. itulah hidup. Sudah kehendak Allah kayaknya.
Selamat ultah NU, semoga bertambah dewasa dalam menyikapi perbedaan, dan dapat membawa Islam ke arah yang mendewasakan, bukan meninabobokkan. Semoga Allah memberi pentunjuk.
#21. Dikirim oleh Ariyanti Palupi pada 02/02 10:59 AM
Kadang saya masih heran ada saja orang yang mengklaim 100% sesuai dan pas tak kurang dan tak lebih menjalankan islam seperti yang dijalankan Rasulullah dan hebatnya mereka mengklaim lagi langsung belajar dari Al Qur’an dan al hadist dan selalu mengesampingkan produk produk ulama sebagai sesuatu yang literal kata kabayanist. Mampukah kita dengan modal ilmu agama yang pas pasan menafsiri alquran dan alkhadist? Begitu angkuhkah kita mengesampingkan karya karya ulama sebelum kita yang notabene bersumber dari alquran dan alkhadist dengan cara kita langsung dari sumbernya yang masih mentah? Kalau hanya klaim-klaiman lalu siapa yang menilai bahwa kita yang paling pas dan sesuai dengan kanjeng nabi? Dan ternyata pula wahabian pun merujuk juga pada karangan karangan ulama cuman ulama ulama wahabi saja jadi apa bedanya?
Saya sangat setuju dengan pandangan mas fatur rafael dan tidak setuju dengan cara pandang kabayanist,bolehkan berbeda pendapat?
Akhirnya Selamat atas hari lahirnya NU semoga bisa menjadi benteng terhadap gempuran wahabi di indonesia dan tetap menjadikan islam rahmatan lil’alamin
#23. Dikirim oleh taufiq pada 03/02 03:22 PM
Mas Fatur
analoginya mungkin seperti ini :
andaikata Mas fatur rafael mau naik haji, jelas dong anda akan naik pesawat, cepat, praktis dan disesuaikan dengan masa kini, tapi ada orang yang bersikukuh beribadah sesuai dengan cara nabi persis 100 %, maka karena onta yang ada di indonesia tidak bisa berenang membawa dia ke mekkah, maka dia bersikukuh untuk menaikkan ontanya ikut naik pesawat menuju ke mekkah.
Mas fatur, berjalanlah terus.. tidak perlu konfirmasi dengan orang yang bersebrangan,karena tidak akan ketemu dan membuang energi,memang kita belum tentu benar dan orang lain yang bersebrangan belum tentu salah,tapi yang pasti diantaranya sudah berbeda persepsi, semoga kita semua termasuk dengan kawan2 kita yang berbeda dan bersebrangan secepatnya menemukan kebenaran.
#32. Dikirim oleh ardianto pada 13/02 01:12 PM
Kepada mas “kabayanist”,
kalau kita mau berkeras hati mengikuti setiap jengkal tindak tanduk nabi dan para sahabatnya dalam berislam yang kata mas kabayanist “murni” 100%, kok sepertinya kita akan hidup di jaman 1400 tahun yang lalu. Islam itu hidup, mas kabayanist, bukan benda mati yang bentuk dan rupanya sama dari abad ke abad. Kalau kita mau mengesampingkan pentingnya ide materialisme historis, termasuk dalam menelaah Islam, berarti kita telah menjadikan islam itu seperti batu. Keberadaan mahzab-mahzab atau pikiran-pikiran yang lahir untuk memahami Alquran tentu saja tidak bisa terhindarkan karena manusia dilahirkan dengan keunikan dan pengalaman hidup yang berbeda-beda, dalam masa-masa yang berbeda pula, dan itu semua akan mempengaruhi cara pandang manusia tersebut terhadap sesuatu, termasuk Alquran. Kalau mas Kabayanist mengandaikan adanya satu Islam saja yaitu islam “murni 100%” seperti kata mas Kabayanist, kok saya pikir kita seperti memaksakan untuk beranggapan bahwa setiap kepala yang ada di bumi ini diciptakan sama persis sebangun dan seruang oleh Allah, yang notabene tidak mungkin, karena sifatnya yang Maha Kreatif, Allah itu menciptakan setiap kepala tadi dengan keunikan yang luar biasa. jadi kalau mau menganggap kerja pemahaman setiap manusia ini bisa dan harus sama, jangan-jangan kita sudah bersikap angkuh tidak mau mengakui sunnatullah bahwa perbedaan-perbedaan itu ada dan akan selalu ada. Tinggal kita bagaimana menyikapi perbedaan-perbedaan tersebut tanpa menyebut pihak lain Islamnya cuma 30% hanya karena kita merasa Islam kita 100%. Bukan begitu, mas kabayanist?
#33. Dikirim oleh ariyanti palupi pada 13/02 10:30 PM
Senin, 16 Februari 2009
Nasib Al-Quran pada zaman ini
'An Ibn 'Umar RDA; qöla Rasulullahi SAW, inna hadzihil qulub tashda-u kama yashda-ul-hadidu idza ashabahul-maa', qiila ya Rasulallah wamaa jilaa-uha? Qoola; katsrotu dzikrul-maut wa tilawatul-Qur'an.
Dari Abdullah bin Umar ra, meriwayatkan, "Sesungguhnya hati ini dapat berkarat sebagaimana berkaratnya besi bila terkena air."Rasul di tanya, wahai Rasulallah, bagaimana cara membersihkannya? Rasul menjawab, perbanyaklah mengingat mati dan baca Al-Quran. (HR Baihaqi)
Bertumpuknya dosa pada manusia dan lalai dari mengingat kemahabesaran Tuhan bisa menjadi sebab berkaratnya hati sebagaimana besi jika terkena air. Maka untuk membersihkan segala karat yang ada di hati bisa di lakukan dengan cara banyak mengingat mati dan membaca Al-Quran. Hati ibarat kaca, semakin sering di bersihkan, hati akan semakin bersinar dan mudah menerima segala kebaikan dan kebenaran.
Sebaliknya, jika manusia tetap terkungkung dalam lingkaran nafsu dan perbuatan-perbuatan tercela, maka akan semakin jauh dari Tuhan dan rahmatnya. Berkaitan dengan pembersihan hati, banyak di antara guru sufi yang mengarahkan murid-muridnya supaya menggunakan waktu sebaik-baiknya dengan berzuhud dan memperbanyak baca Al-Quran dan mentadabburi ma'na yang terkandung di dalamnya.
Di sebutkan dalam suatu hadits, jika seseorang melakukan sebuah dosa, maka akan tertitik di hatinya satu noda hitam, jika seseorang itu bertaubat, titik hitam akan sirna, tetapi jika orang itu melakukan dosa kedua, noda hitam akan bertambah, apabila dosa terus di lakukan noda yang tadinya sedikit akan bertambah banyak dan pada puncaknya hati akan menjadi hitam kelam. Seseorang, jika hatinya sudah begitu kelam akan sulit untuk cenderung pada kebaikan dan akan tertutup baginya segala kebenaran.
Berkenaan dengan hal ini Tuhan berfirman; "Kallä, bal räna 'ala qulübihim mä känü yaksibün."Sekali-kali tidak, sebenarnya apa yang telah mereka perbuat telah menjadikan karat pada hati mereka. (Q surah Al-Muthaffifin ayat 14).
Nabi suci Muhammad SAAW bersabda, "Saya tinggalkan untuk kalian dua nasihat; satu yang berbicara dan satu lagi yang diam. Yang berbicara adalah Al-Quran dan yang hanya diam adalah mengingat mati."Orang yang cenderung pada kebenaran sudah barang tentu akan dengan senang hati menerima nasihat ini, akan tetapi orang-orang yang menganggap bahwa agama tidaklah penting dan berguna maka dia akan mengabaikan nasihat seperti ini yang di anggapnya sebagai sesuatu yang tidak masuk akal.
Generasi Islam pada zaman sahabat, tabiin dan tabi' tabi'in meyakini bahwa Al-Quran adalah firman Tuhan yang sebagiannya berisi tentang perintah, mereka membacanya sepanjang malam dan memikirkannya, kemudian di ejawantahkan dalam hidup sehari-hari. Sedangkan pada masa sekarang, walaupun masih banyak orang mempelajari Al-Quran tapi hanya sebatas pada huruf-hurufnya saja, syiar Al-Quran memang masih terus bergaung tetapi hanya sebatas untuk MTQ. Generasi Islam sekarang sudah begitu banyak yang tidak lagi menganggap Al-Quran sebagai landasan hidup yang akan bisa memberi kebahagiaan dan keselamatan bagi mereka.
Al-Quran hanya menjadi pajangan usang ruang tamu, terasa berat bagi tangan mereka untuk mengambilnya terlebih membuka dan membacanya. Sinyal dari Nabi yang mengisyaratkan bahwa di ahir zaman kelak agama hanya tinggal nama dan Al-Quran hanya tinggal tulisan nampaknya akan segera terbukti.
Dari Abdullah bin Umar ra, meriwayatkan, "Sesungguhnya hati ini dapat berkarat sebagaimana berkaratnya besi bila terkena air."Rasul di tanya, wahai Rasulallah, bagaimana cara membersihkannya? Rasul menjawab, perbanyaklah mengingat mati dan baca Al-Quran. (HR Baihaqi)
Bertumpuknya dosa pada manusia dan lalai dari mengingat kemahabesaran Tuhan bisa menjadi sebab berkaratnya hati sebagaimana besi jika terkena air. Maka untuk membersihkan segala karat yang ada di hati bisa di lakukan dengan cara banyak mengingat mati dan membaca Al-Quran. Hati ibarat kaca, semakin sering di bersihkan, hati akan semakin bersinar dan mudah menerima segala kebaikan dan kebenaran.
Sebaliknya, jika manusia tetap terkungkung dalam lingkaran nafsu dan perbuatan-perbuatan tercela, maka akan semakin jauh dari Tuhan dan rahmatnya. Berkaitan dengan pembersihan hati, banyak di antara guru sufi yang mengarahkan murid-muridnya supaya menggunakan waktu sebaik-baiknya dengan berzuhud dan memperbanyak baca Al-Quran dan mentadabburi ma'na yang terkandung di dalamnya.
Di sebutkan dalam suatu hadits, jika seseorang melakukan sebuah dosa, maka akan tertitik di hatinya satu noda hitam, jika seseorang itu bertaubat, titik hitam akan sirna, tetapi jika orang itu melakukan dosa kedua, noda hitam akan bertambah, apabila dosa terus di lakukan noda yang tadinya sedikit akan bertambah banyak dan pada puncaknya hati akan menjadi hitam kelam. Seseorang, jika hatinya sudah begitu kelam akan sulit untuk cenderung pada kebaikan dan akan tertutup baginya segala kebenaran.
Berkenaan dengan hal ini Tuhan berfirman; "Kallä, bal räna 'ala qulübihim mä känü yaksibün."Sekali-kali tidak, sebenarnya apa yang telah mereka perbuat telah menjadikan karat pada hati mereka. (Q surah Al-Muthaffifin ayat 14).
Nabi suci Muhammad SAAW bersabda, "Saya tinggalkan untuk kalian dua nasihat; satu yang berbicara dan satu lagi yang diam. Yang berbicara adalah Al-Quran dan yang hanya diam adalah mengingat mati."Orang yang cenderung pada kebenaran sudah barang tentu akan dengan senang hati menerima nasihat ini, akan tetapi orang-orang yang menganggap bahwa agama tidaklah penting dan berguna maka dia akan mengabaikan nasihat seperti ini yang di anggapnya sebagai sesuatu yang tidak masuk akal.
Generasi Islam pada zaman sahabat, tabiin dan tabi' tabi'in meyakini bahwa Al-Quran adalah firman Tuhan yang sebagiannya berisi tentang perintah, mereka membacanya sepanjang malam dan memikirkannya, kemudian di ejawantahkan dalam hidup sehari-hari. Sedangkan pada masa sekarang, walaupun masih banyak orang mempelajari Al-Quran tapi hanya sebatas pada huruf-hurufnya saja, syiar Al-Quran memang masih terus bergaung tetapi hanya sebatas untuk MTQ. Generasi Islam sekarang sudah begitu banyak yang tidak lagi menganggap Al-Quran sebagai landasan hidup yang akan bisa memberi kebahagiaan dan keselamatan bagi mereka.
Al-Quran hanya menjadi pajangan usang ruang tamu, terasa berat bagi tangan mereka untuk mengambilnya terlebih membuka dan membacanya. Sinyal dari Nabi yang mengisyaratkan bahwa di ahir zaman kelak agama hanya tinggal nama dan Al-Quran hanya tinggal tulisan nampaknya akan segera terbukti.
Sabtu, 13 Desember 2008
Mari belajar Alquran
Alquan adalah kitab suci firman Allah SWT yg di turunkan pada hambanya yg suci, seorang Nabi yg bernama Muhammad SAAW yg di maksudkan utk memperbaiki pri hidup manusia baik yg berhubungan dg kehidupan individual maupun tata pergaulan antar manusia, di dalamnya berisi tentang kisah-kisah umat manusia terdahulu sebagai i'tibar bagi ummat Muhammad akibat apa yg akan menimpa ummat ini jika berlaku seperti ummat-ummat terdahulu, Alquran menyuruh ummat ini untuk belajar dari kejatuhan ummat masa lalu, kemudian Alquran juga memaparkan tentang hukum-hukum kemanusiaan dr mulai zaman nabi sampi ahir zaman serta perma'luman kepada seluruh manusia bahwa Tuhan adalah esa.
Membaca Alquran walaupun tidak mengerti maksudnya akan mendatangkan pahala bagi yg membacanya, itulah yg di sepakati oleh para ulama walaupun tentu akan lebih baik lg jika setelah di baca Alquran di pahami, di tadabburi dan di tafakkuri kemudian di ejawantahkan dalam kehidupan sehari-hari.
Nabi Muhammad SAAW bersabda, khoirukum man ta'allamal-qur-aana wa'allamahu.
Sebaik-baik kamu adalah orang yg belajar Alquran dan kemudian mengajarkannya pada orang lain ( HR Bukhari, Ibnu majah, Abu dawud dan Tirmidzi).
Dalam beberapa kitab hadits, hadits ini di nyatakan dengan huruf "laa" (yg artinya dan) ya'ni belajar dan mengajar sebagaimana tersebut di atas. Dengan demikian maka pahala terbesar adalah bagi siapa yg belajar Alquran lalu mengajarkannya pada yg lain, tetapi pada beberapa kitab yg lainnya hadits ini di riwayatkan dengan huruf "au" (yg artinya adalah atau") ma'na yg demikian adalah yg terbaik diantara kamu ialah yg belajar Alquran atau mengajarkannya, dg penjelasan hadits ini maka pahala yg di peroleh keduanya sama saja, baik ia belajar untuk diri sendiri atau mengajarkannya pada yg lain.
Alquran adalah pondasi utama agama islam, maka menjaganya serta menyebarkannya bergantung pada keyakinan ini. Dengan demikian keutamaan belajar dan mengajarkannya telah di ketahui dg sangat jelas.
Walau bagaimanapun terdapat tingkatan kebaikan yg berlainan, yg terbaik adalah mempelajari Alquran berikut ma'nanya dan maksudnya, sedangkan sekurang-kurangnya adalah belajar mengenai lafadzhnya dulu.
Pada beberapa waktu yg terahir kehidupan keagamaan ummat islam sungguh sangat menyedihkan, para pemuda yg menjadi harapan bagi masa depan agama ini tampak tidak akrab lagi dengan yg namanya Alquran, mereka lebih gemar terhadap hal-hal yg sebetulnya tidak berguna, daripada duduk-duduk di masjid utk mempelajari Alquran mereka lebih suka nongkrong di mall atau di kafe-kafe menghabiskan waktu yg tiada guna.
Di kampung-kampung juga semarak suara Alquran setelah sholat maghrib di setiap rumah seperti di era 80an sampai 90an kini tidak terdengar lagi, mereka lebih suka nongkrong di depan tv melihat tayangan-tayangan yg kadang kurang mendidik nurani manusia, tidak orang tua tidak anak-anak semua sama saja lebih suka pada hal-hal yg tidak berguna, nampaknya era globalisasi di segala bidang telah mengakibatkan manusia tidak lagi rindu akan perbaikan diri teristimewa perbaikan yg berhubungan dengan kehidupan beragama.
Jika demikian siapa yg mesti bertanggung jawab terhadap segala kemunduran ini, bagaimana mungkin agama ini akan kembali mencapai puncak kejayaan jika ummat tidak lagi menaruh perhatian terhadap kitab sucinya? lihatlah betapa banyak dari ummat ini yg sama sekali buta akan Alquran, membacanyapun mereka tidak bisa apalagi mengetahui maksudnya!
Nampaknya benarlah sabda Nabi yg menyatakan bahwa di besok hari ummat ini akan berkembang menjadi ummat yg besar tapi tidak mempunyai wibawa di mata ummat-ummat lainnya, seolah-olah ibarat buih di tengah lautan terombang ambing kesana kemari. Inilah ummat islam, ummat yg tidak peduli lagi akan panduan hidup bagi mereka, ummat islam adalah kapal besar yg sebentar lagi akan karam sementara tidak ada satupun nahkoda yg sanggup membawanya menuju dermaga yg ada di ujung sana.
Wahai ummat islam kembalilah pada Alquran, cintai, pelajari, tadabburi, tafakkuri dan amalkan lah isinya.
Membaca Alquran walaupun tidak mengerti maksudnya akan mendatangkan pahala bagi yg membacanya, itulah yg di sepakati oleh para ulama walaupun tentu akan lebih baik lg jika setelah di baca Alquran di pahami, di tadabburi dan di tafakkuri kemudian di ejawantahkan dalam kehidupan sehari-hari.
Nabi Muhammad SAAW bersabda, khoirukum man ta'allamal-qur-aana wa'allamahu.
Sebaik-baik kamu adalah orang yg belajar Alquran dan kemudian mengajarkannya pada orang lain ( HR Bukhari, Ibnu majah, Abu dawud dan Tirmidzi).
Dalam beberapa kitab hadits, hadits ini di nyatakan dengan huruf "laa" (yg artinya dan) ya'ni belajar dan mengajar sebagaimana tersebut di atas. Dengan demikian maka pahala terbesar adalah bagi siapa yg belajar Alquran lalu mengajarkannya pada yg lain, tetapi pada beberapa kitab yg lainnya hadits ini di riwayatkan dengan huruf "au" (yg artinya adalah atau") ma'na yg demikian adalah yg terbaik diantara kamu ialah yg belajar Alquran atau mengajarkannya, dg penjelasan hadits ini maka pahala yg di peroleh keduanya sama saja, baik ia belajar untuk diri sendiri atau mengajarkannya pada yg lain.
Alquran adalah pondasi utama agama islam, maka menjaganya serta menyebarkannya bergantung pada keyakinan ini. Dengan demikian keutamaan belajar dan mengajarkannya telah di ketahui dg sangat jelas.
Walau bagaimanapun terdapat tingkatan kebaikan yg berlainan, yg terbaik adalah mempelajari Alquran berikut ma'nanya dan maksudnya, sedangkan sekurang-kurangnya adalah belajar mengenai lafadzhnya dulu.
Pada beberapa waktu yg terahir kehidupan keagamaan ummat islam sungguh sangat menyedihkan, para pemuda yg menjadi harapan bagi masa depan agama ini tampak tidak akrab lagi dengan yg namanya Alquran, mereka lebih gemar terhadap hal-hal yg sebetulnya tidak berguna, daripada duduk-duduk di masjid utk mempelajari Alquran mereka lebih suka nongkrong di mall atau di kafe-kafe menghabiskan waktu yg tiada guna.
Di kampung-kampung juga semarak suara Alquran setelah sholat maghrib di setiap rumah seperti di era 80an sampai 90an kini tidak terdengar lagi, mereka lebih suka nongkrong di depan tv melihat tayangan-tayangan yg kadang kurang mendidik nurani manusia, tidak orang tua tidak anak-anak semua sama saja lebih suka pada hal-hal yg tidak berguna, nampaknya era globalisasi di segala bidang telah mengakibatkan manusia tidak lagi rindu akan perbaikan diri teristimewa perbaikan yg berhubungan dengan kehidupan beragama.
Jika demikian siapa yg mesti bertanggung jawab terhadap segala kemunduran ini, bagaimana mungkin agama ini akan kembali mencapai puncak kejayaan jika ummat tidak lagi menaruh perhatian terhadap kitab sucinya? lihatlah betapa banyak dari ummat ini yg sama sekali buta akan Alquran, membacanyapun mereka tidak bisa apalagi mengetahui maksudnya!
Nampaknya benarlah sabda Nabi yg menyatakan bahwa di besok hari ummat ini akan berkembang menjadi ummat yg besar tapi tidak mempunyai wibawa di mata ummat-ummat lainnya, seolah-olah ibarat buih di tengah lautan terombang ambing kesana kemari. Inilah ummat islam, ummat yg tidak peduli lagi akan panduan hidup bagi mereka, ummat islam adalah kapal besar yg sebentar lagi akan karam sementara tidak ada satupun nahkoda yg sanggup membawanya menuju dermaga yg ada di ujung sana.
Wahai ummat islam kembalilah pada Alquran, cintai, pelajari, tadabburi, tafakkuri dan amalkan lah isinya.
Jumat, 12 Desember 2008
Hati (alqolbu) yg suci
Ketinggian derajat manusia di sisi Allah SWT dan di sisi manusia lainnya adalah di dasarkan pada kesucian hatinya, kelapangan dada, dan suka berbuat baik terhadap sesama manusia.
Allah SWT memuji Nabi ibrahim AS karena ibrahim memiliki hati yg suci, jiwa yg luhur dan iman yg kuat. Hati yg suci adalah hati yg bebas dari menyekutukan Tuhan, mencintai sesama manusia selayaknya mencintai dirinya sendiri dan selalu memaafkan segala kesalahan manusia betapapun buruk perlakuan terhadapnya.
Hati yg suci adalah hati yg bersih dr keraguan, kemunafikan, riya', dengki, merasa paling hebat, dan sifat tercela lainnya.
Nabi di dalam doanya memanjatkan Allahumma inni as-aluka qolban saliimaa.
Ya Allah aku meminta padamu hati yg selamat/suci. hati yg selamat adalah hati yg di jauhkan dr segala bencana hawa nafsu dan lintasan-lintasan yg buruk, hati yg selalu rindu akan ridho Tuhan.
Ulama ahli jiwa memberikan solusi pada kita cara untuk memperbaiki hati yaitu dg cara
1. Membaca Alquran dg tadabbur, menghayati setiap kalimat yg kita baca.
2. Menyedikitkan makan.
3. Qiyamul-lail
4. Merendahkan diri di hadapan Allah pd waktu sahr.
5. Berkumpul dg orang-orang yg shalih.
6. Banyak merenung
7. Menyingkirkan diri dari orang-orang yg bergurau yg berlebihan.
8. Meninggalkan perbincangan tentang hal-hal yg tidak berguna.
9. Makan hanya yg halal saja, dan ini adalah merupakan puncak dr semuanya.
Jika ingin punya hati yg bersih suci jauhilah makanan yg haram, baik haram dr segi fisiknya maupun haram dr segi sifatnya. jangan pernah mimpi ingin punya hati yg suci jika anda adalah koruptor, penipu, suka makan harta yatim, dan dzhalim terhadap sesama.
Ahirnya, Walaa tukhzinii yauma yub'atsun, yauma laa yanfa'u maalun walaa banuun, illaa man atal-laaha biqolbin saliim.
Allah SWT memuji Nabi ibrahim AS karena ibrahim memiliki hati yg suci, jiwa yg luhur dan iman yg kuat. Hati yg suci adalah hati yg bebas dari menyekutukan Tuhan, mencintai sesama manusia selayaknya mencintai dirinya sendiri dan selalu memaafkan segala kesalahan manusia betapapun buruk perlakuan terhadapnya.
Hati yg suci adalah hati yg bersih dr keraguan, kemunafikan, riya', dengki, merasa paling hebat, dan sifat tercela lainnya.
Nabi di dalam doanya memanjatkan Allahumma inni as-aluka qolban saliimaa.
Ya Allah aku meminta padamu hati yg selamat/suci. hati yg selamat adalah hati yg di jauhkan dr segala bencana hawa nafsu dan lintasan-lintasan yg buruk, hati yg selalu rindu akan ridho Tuhan.
Ulama ahli jiwa memberikan solusi pada kita cara untuk memperbaiki hati yaitu dg cara
1. Membaca Alquran dg tadabbur, menghayati setiap kalimat yg kita baca.
2. Menyedikitkan makan.
3. Qiyamul-lail
4. Merendahkan diri di hadapan Allah pd waktu sahr.
5. Berkumpul dg orang-orang yg shalih.
6. Banyak merenung
7. Menyingkirkan diri dari orang-orang yg bergurau yg berlebihan.
8. Meninggalkan perbincangan tentang hal-hal yg tidak berguna.
9. Makan hanya yg halal saja, dan ini adalah merupakan puncak dr semuanya.
Jika ingin punya hati yg bersih suci jauhilah makanan yg haram, baik haram dr segi fisiknya maupun haram dr segi sifatnya. jangan pernah mimpi ingin punya hati yg suci jika anda adalah koruptor, penipu, suka makan harta yatim, dan dzhalim terhadap sesama.
Ahirnya, Walaa tukhzinii yauma yub'atsun, yauma laa yanfa'u maalun walaa banuun, illaa man atal-laaha biqolbin saliim.
Kamis, 11 Desember 2008
Islam agama yg mudah
Ada tiga prinsip di dalam aturan-aturan hukum islam yg menyebabkan islam menjadi agama yg mudah utk di ikuti manusia. Islam datang dari Allah yg maha agung, sudah barang tentu Allah memahami kelemahan yg ada pada manusia sehingga sangat mustahil kalau Allah akan membuat aturan-aturan hidup yg semena-mena yg akan memberatkan manusia. Allah berfirman, Allah berkehendak utk meringankan kamu, dan manusia di ciptakan dalam keadaan lemah. Annisa': 23.
1. 'Adamul-haroj.
'Adam artinya tidak ada, alharoj artinya susah, sempit atau dalam bahasa jawanya rupek, jadi 'adamul-haroj adalah tidak ada kesempitan/kesusahan di dalam agama islam. 'adamul-haroj adalah salah satu di antara ketentuan dalam penerapan hukum yg ada dalam islam terutama berkenaan dg mereka yg baru memeluk islam sebab dg kurangnya penerangan tentang masalah ini banyak orang islam yg tidak sanggup untuk menarik perhatian orang di luar islam supaya menjadi tertarik terhadap islam, bahkan banyak di antara orang islam sendiri yg menyempitkan jalan untuk maju dg segala kemudahan yg ada dalam islam, mereka menutup jalan bagi diri sendiri dan orang lain untuk menaruh perhatian terhadap islam, akibatnya adalah banyak anak-anak dr agama ini yg lebih memilih keluar dari islam yg mereka anggap sebagai agama yg terlalu banyak aturan yg memberatkan, sungguh tragis jika islam hanya di pandang dr segi hukum pancung, potong tangan, jenggot, jilbab dan tetek bengek hukum lainnya yg sifatnya kondisional. padahal entah berapa puluh ayat di dalam Alqur'an yg menegaskan akan segala kemudahan dalam agama ini. salah satu contohnya adalah ayat Wamaa ja'ala 'alaikum fid-diini min haroj,
Alhaj: 78.
tidak kami jadikan di dalam agama ini kesempitan. kemudian ada pd surah al-a'raf 158, albaqarah 185 dan 286, annisa' 28, almaidah 6 dan masih banyak lagi ayat-ayat yg sejenis yg menggambarkan betapa agama islam mudah untuk di ikuti. tidak kalah penting juga banyak hadits yg memperkuat argumen-argumen yg ada dalam Alqur'an. Nabi pernah bersabda dalam haditsnya yg terkenal
yassiru wa-laa tu'assiru basy-syiru walaa tunaffiru. mudahkanlah jangan mempersulit, beri kabar gembira jangan bikin mereka lari (HR bukhari).
2. Taqlilut-takalif.
Taqlil artinya sedikit, takalif adalah jama' dr taklif artinya beban. Taqlil takalif berarti meminimalisir beban. jika islam mempunyai ketentuan 'adamul-haroj maka dg segala kemudahan yg ada otomatis bebanpun menjadi berkurang sebab dg banyaknya beban berarti seseorang menjadi susah atau sempit.
Perhatikanlah dan fikirkanlah kandungan ayat Alqur'an di bawah ini yg artinya Hai segala mereka yg punya iman jangan kalian bertanya tentang sesuatu yg jika di ungkap akan memberatkan kalian dst. almaidah 101.
Kaum muslimin di perintahkan utk tidak bertanya tentang hal-hal yg akan memberatkan merekan sendiri tentang hukum-hukum yg belum ada ayat alqur'an untuk menjelaskannya sebagaimana telah kejadian pd umat-umat terdahulu yg bertanya tentang banyak hal namun kemudian menjadi ingkar dan menentang setelah datang penjelasan pd mereka. jadi jalankanlah saja hukum yg sudah ada jangan bertanya macam-macam yg nanti hanya akan menambah beban kalian. Nabi sering sekali diam terhadap pertanyaan yg di ajukan sahabat karena khawatir jawabannya akan menyebabkan terjadinya hukum baru yg membuat sulit kaum muslimin, contohnya ketika seorang sahabat bertanya apakah ibadah haji wajib di laksanakan tiap tahun, nabi mendiamkan pertanyaan itu dan hanya berkata dzaruunii maa taraktukum, perhatikan lah saja apa yg telah aku tinggalkan utk kalian dan jang banyak bertanya sebab dg banyak bertanya kalian akan binasa seperti umat-umat terdahulu.
3. Tadrij fit-tasyri'.
Tadrij artinya berangsur-angsur fit-tasyri' artinya dalam menetapkan undang-undang.
Islam datang di tengah-tengah masyarakat arab yg sudah tentu memiliki tradisi yg telah berlaku, diantara tradisi-tradisi yg ada, ada yg bertentangan dg islam seperti kebiasaan minum khomr. maka islam akan membiarkan segala tradisi yg baik dan membasmi segala tradisi yg buruk namun wlupun di anggap buruk islam tidak serta merta membasminya seketika itu juga. Contohnya yg berhubungan dg khomr, terlebih dahulu mereka diajak berdialog, lebih banyak manakah manfaat dan madhorot dr khomr itu, ketika mereka sudah memahami bahwa di dalam khomr justru madhorot yg lebih besar dr manfaatnya aturan di kembangkan agar mereka meninggalkan minum khomr sebelum sholat di laksanakan sampai sholat selesai namun khomr tetap belum di haramkan dan ketika kesadaran para muslimin terhadap islam meningkat barulah muncul ultimatum dr Alqur'an melalui lisan Nabi Muhammad bahwa khomr adalah kotor dan orang yg meminumnya di anggap telah melakukan perbuatan syetan, barulah ketika itu muncul undang-undang bahwa hukum khomr adalah haram.
1. 'Adamul-haroj.
'Adam artinya tidak ada, alharoj artinya susah, sempit atau dalam bahasa jawanya rupek, jadi 'adamul-haroj adalah tidak ada kesempitan/kesusahan di dalam agama islam. 'adamul-haroj adalah salah satu di antara ketentuan dalam penerapan hukum yg ada dalam islam terutama berkenaan dg mereka yg baru memeluk islam sebab dg kurangnya penerangan tentang masalah ini banyak orang islam yg tidak sanggup untuk menarik perhatian orang di luar islam supaya menjadi tertarik terhadap islam, bahkan banyak di antara orang islam sendiri yg menyempitkan jalan untuk maju dg segala kemudahan yg ada dalam islam, mereka menutup jalan bagi diri sendiri dan orang lain untuk menaruh perhatian terhadap islam, akibatnya adalah banyak anak-anak dr agama ini yg lebih memilih keluar dari islam yg mereka anggap sebagai agama yg terlalu banyak aturan yg memberatkan, sungguh tragis jika islam hanya di pandang dr segi hukum pancung, potong tangan, jenggot, jilbab dan tetek bengek hukum lainnya yg sifatnya kondisional. padahal entah berapa puluh ayat di dalam Alqur'an yg menegaskan akan segala kemudahan dalam agama ini. salah satu contohnya adalah ayat Wamaa ja'ala 'alaikum fid-diini min haroj,
Alhaj: 78.
tidak kami jadikan di dalam agama ini kesempitan. kemudian ada pd surah al-a'raf 158, albaqarah 185 dan 286, annisa' 28, almaidah 6 dan masih banyak lagi ayat-ayat yg sejenis yg menggambarkan betapa agama islam mudah untuk di ikuti. tidak kalah penting juga banyak hadits yg memperkuat argumen-argumen yg ada dalam Alqur'an. Nabi pernah bersabda dalam haditsnya yg terkenal
yassiru wa-laa tu'assiru basy-syiru walaa tunaffiru. mudahkanlah jangan mempersulit, beri kabar gembira jangan bikin mereka lari (HR bukhari).
2. Taqlilut-takalif.
Taqlil artinya sedikit, takalif adalah jama' dr taklif artinya beban. Taqlil takalif berarti meminimalisir beban. jika islam mempunyai ketentuan 'adamul-haroj maka dg segala kemudahan yg ada otomatis bebanpun menjadi berkurang sebab dg banyaknya beban berarti seseorang menjadi susah atau sempit.
Perhatikanlah dan fikirkanlah kandungan ayat Alqur'an di bawah ini yg artinya Hai segala mereka yg punya iman jangan kalian bertanya tentang sesuatu yg jika di ungkap akan memberatkan kalian dst. almaidah 101.
Kaum muslimin di perintahkan utk tidak bertanya tentang hal-hal yg akan memberatkan merekan sendiri tentang hukum-hukum yg belum ada ayat alqur'an untuk menjelaskannya sebagaimana telah kejadian pd umat-umat terdahulu yg bertanya tentang banyak hal namun kemudian menjadi ingkar dan menentang setelah datang penjelasan pd mereka. jadi jalankanlah saja hukum yg sudah ada jangan bertanya macam-macam yg nanti hanya akan menambah beban kalian. Nabi sering sekali diam terhadap pertanyaan yg di ajukan sahabat karena khawatir jawabannya akan menyebabkan terjadinya hukum baru yg membuat sulit kaum muslimin, contohnya ketika seorang sahabat bertanya apakah ibadah haji wajib di laksanakan tiap tahun, nabi mendiamkan pertanyaan itu dan hanya berkata dzaruunii maa taraktukum, perhatikan lah saja apa yg telah aku tinggalkan utk kalian dan jang banyak bertanya sebab dg banyak bertanya kalian akan binasa seperti umat-umat terdahulu.
3. Tadrij fit-tasyri'.
Tadrij artinya berangsur-angsur fit-tasyri' artinya dalam menetapkan undang-undang.
Islam datang di tengah-tengah masyarakat arab yg sudah tentu memiliki tradisi yg telah berlaku, diantara tradisi-tradisi yg ada, ada yg bertentangan dg islam seperti kebiasaan minum khomr. maka islam akan membiarkan segala tradisi yg baik dan membasmi segala tradisi yg buruk namun wlupun di anggap buruk islam tidak serta merta membasminya seketika itu juga. Contohnya yg berhubungan dg khomr, terlebih dahulu mereka diajak berdialog, lebih banyak manakah manfaat dan madhorot dr khomr itu, ketika mereka sudah memahami bahwa di dalam khomr justru madhorot yg lebih besar dr manfaatnya aturan di kembangkan agar mereka meninggalkan minum khomr sebelum sholat di laksanakan sampai sholat selesai namun khomr tetap belum di haramkan dan ketika kesadaran para muslimin terhadap islam meningkat barulah muncul ultimatum dr Alqur'an melalui lisan Nabi Muhammad bahwa khomr adalah kotor dan orang yg meminumnya di anggap telah melakukan perbuatan syetan, barulah ketika itu muncul undang-undang bahwa hukum khomr adalah haram.
Selasa, 09 Desember 2008
Alqur'an adalah firman Tuhan
Dan jika kamu dalam keraguan terhadap apa yg kami turunkan pd hamba kami (Muhammad) maka datangkanlah satu surah saja yg sebanding dg Alqur'an dan ajaklah para pembantu kamu selain Allah, jika kamu orang-orang yg benar. Q albaqarah:23.
Kalau ada di kalangan orientalist atau orang-orang di luar islam atau bahkan dari orang islam sendiri yg menuduh bahwa Alquran bukan wahyu dari Tuhan yg di turunkan pd Nabi Muhammad SAW, atau ada yg menuduh bahwa Alquran adalah bikinan Muhammad sendiri maka kita bisa bantah pendapat demikian setidaknya dg 4 hal saja.
Pertama, kalau betul Alquran adalah bikinan Muhammad sendiri, tentu sebelum beliau di utus menjadi Nabi sudah ada kata-kata beliau yg serupa dg Alquran, sebagaimana yg biasa terjadi di kalangan ahli filsafat dan para pujangga yg ada di dunia ini, tetapi yg demikian tidak terdapat pada di Nabi. contoh, sokrates ahli filsafat yg hidup pd tahun 470 SM, sebelum dia terkenal sebagai ahli filsafat yg besar banyak kata-katanya yg mengandung falsafah telah di ketahui oleh kawan-kawannya atau murid-muridnya sebelum beliau menjelma menjadi filosuf yg besar. demikian juga yg terjadi dg murid socrates yg bernama plato dan murid plato yg bernama aristoteles, banyak kata-katanya yg mengandung falsafah telah di ketahui oleh sahabat-sahabatnya sebelum keduanya menjadi filosuf yg besar. Tetapi keadaan Nabi tidaklah begitu, kata-kata yg mengandung Alquran tidak pernah keluar dari lidahnya sebelum beliau resmi di utus menjadi Rasul/Nabi.
Kedua, kalau betul bahwa Alquran adalah bikinan Muhammad tentu sebelumnya sudah ada rancangan dan rencana pembuatan Alquran yg telah di ketahui lebih dulu oleh para sahabatnya yg akrab terutama istrinya sendiri yg bernama khadijah, sebagaimana terjadi di kalangan ahli politik misalnya segala rancangan atau rencana yg ada di kepalanya telah di ketahui oleh sahabat maupun istrinya melalu pembicaraannya, curhatnya atau keluhannya dan menurut kebiasaan para politikus tdk dapat menyembunyikan rancangan dan rencana politiknya pada sahabat dan pengikutnya yg setia, karena tentu saja utk melaksanakan rencana politnya seorang politikus perlu dukungan dan bantuan orang lain, bagaimana mungkin hal tersebut dapat di dukung kalau tidak di ketahui maksud dan tujuannya? bahkan kerap kali rencana telah bocor lebih dahulu sampai ke telinga musuh-musuhnya sehingga pd ahirnya gagallah rencana politiknya utk di jalankan tp yg demikian tdk pernah terjadi pd Nabi bahkan beliau sendiri tdk mengetahui akan menerima wahyu berupa Alquran.
Ketiga, kalau betul Alquran adlh bikinan Muhammad maka tantangan yg beberapa kali di sampaikan Alquran agar para lawan membuat ayat yg nilai sastranya sebanding dg Alquran tentu akan di terima dg gembira oleh para penantangnya, bukankah itu adlh salah satu jalan bagi mereka utk memberangus Muhammad dan Alqurannya supaya tidak terseber lebih luas? pd kenyataannya sampai hari ini tiada satupun mahluq yg membuat rangkaian kata yg seindah Alquran. bukankah dulu di zaman Muhammad kebudayaan sastra arab sedang berada di puncak kejayaannya? sehingga di mana-mana para sastrawan saling beradu kata-kata sebagai simbol dr kebanggaan suku masing-masing jika berhasil memenangkan karya sastranya atas yg lain. Nabi Muhammad sebelum di utus jadi Nabi tdk terkenal sbgai sastrawan bahkan di kalangan sukunya sendiri.
Keempat, para pakar bahasa arab pd masa Muhammad pernah mendatangi Nabi membujuk nabi supaya tidak melanjutkan pembacaan dan penyiaran Alquran, bujukan itu di jawab Nabi dg membaca beberapa ayat Alquran, mendengar Alquran di bacakan mereka tercengang dan pada ahirnya kembali pada kaumnya sambil berkata bahwa apa yg di bacakan oleh Muhammad bukanlah susunan kata-kata manusia.
Bukankah dg adanya kesaksian tadi dan bukti-bukti yg telah di sebutkan di atas, menunjukkan dg pasti bahwa Alquran adalah wahyu dr Allah SWT, dan bukan produk dr Nabi Muhammad karena beliau di kenal sebagai ummyy, tidak bisa menulis dan membaca sementara Nabi tdk pernah berguru pd orang-orang sebelumnya, Nabi juga tdk di kenal di kalangan sastrawan maupun pakar bahasa arab ketika itu.
Wallahu a'lam
Kalau ada di kalangan orientalist atau orang-orang di luar islam atau bahkan dari orang islam sendiri yg menuduh bahwa Alquran bukan wahyu dari Tuhan yg di turunkan pd Nabi Muhammad SAW, atau ada yg menuduh bahwa Alquran adalah bikinan Muhammad sendiri maka kita bisa bantah pendapat demikian setidaknya dg 4 hal saja.
Pertama, kalau betul Alquran adalah bikinan Muhammad sendiri, tentu sebelum beliau di utus menjadi Nabi sudah ada kata-kata beliau yg serupa dg Alquran, sebagaimana yg biasa terjadi di kalangan ahli filsafat dan para pujangga yg ada di dunia ini, tetapi yg demikian tidak terdapat pada di Nabi. contoh, sokrates ahli filsafat yg hidup pd tahun 470 SM, sebelum dia terkenal sebagai ahli filsafat yg besar banyak kata-katanya yg mengandung falsafah telah di ketahui oleh kawan-kawannya atau murid-muridnya sebelum beliau menjelma menjadi filosuf yg besar. demikian juga yg terjadi dg murid socrates yg bernama plato dan murid plato yg bernama aristoteles, banyak kata-katanya yg mengandung falsafah telah di ketahui oleh sahabat-sahabatnya sebelum keduanya menjadi filosuf yg besar. Tetapi keadaan Nabi tidaklah begitu, kata-kata yg mengandung Alquran tidak pernah keluar dari lidahnya sebelum beliau resmi di utus menjadi Rasul/Nabi.
Kedua, kalau betul bahwa Alquran adalah bikinan Muhammad tentu sebelumnya sudah ada rancangan dan rencana pembuatan Alquran yg telah di ketahui lebih dulu oleh para sahabatnya yg akrab terutama istrinya sendiri yg bernama khadijah, sebagaimana terjadi di kalangan ahli politik misalnya segala rancangan atau rencana yg ada di kepalanya telah di ketahui oleh sahabat maupun istrinya melalu pembicaraannya, curhatnya atau keluhannya dan menurut kebiasaan para politikus tdk dapat menyembunyikan rancangan dan rencana politiknya pada sahabat dan pengikutnya yg setia, karena tentu saja utk melaksanakan rencana politnya seorang politikus perlu dukungan dan bantuan orang lain, bagaimana mungkin hal tersebut dapat di dukung kalau tidak di ketahui maksud dan tujuannya? bahkan kerap kali rencana telah bocor lebih dahulu sampai ke telinga musuh-musuhnya sehingga pd ahirnya gagallah rencana politiknya utk di jalankan tp yg demikian tdk pernah terjadi pd Nabi bahkan beliau sendiri tdk mengetahui akan menerima wahyu berupa Alquran.
Ketiga, kalau betul Alquran adlh bikinan Muhammad maka tantangan yg beberapa kali di sampaikan Alquran agar para lawan membuat ayat yg nilai sastranya sebanding dg Alquran tentu akan di terima dg gembira oleh para penantangnya, bukankah itu adlh salah satu jalan bagi mereka utk memberangus Muhammad dan Alqurannya supaya tidak terseber lebih luas? pd kenyataannya sampai hari ini tiada satupun mahluq yg membuat rangkaian kata yg seindah Alquran. bukankah dulu di zaman Muhammad kebudayaan sastra arab sedang berada di puncak kejayaannya? sehingga di mana-mana para sastrawan saling beradu kata-kata sebagai simbol dr kebanggaan suku masing-masing jika berhasil memenangkan karya sastranya atas yg lain. Nabi Muhammad sebelum di utus jadi Nabi tdk terkenal sbgai sastrawan bahkan di kalangan sukunya sendiri.
Keempat, para pakar bahasa arab pd masa Muhammad pernah mendatangi Nabi membujuk nabi supaya tidak melanjutkan pembacaan dan penyiaran Alquran, bujukan itu di jawab Nabi dg membaca beberapa ayat Alquran, mendengar Alquran di bacakan mereka tercengang dan pada ahirnya kembali pada kaumnya sambil berkata bahwa apa yg di bacakan oleh Muhammad bukanlah susunan kata-kata manusia.
Bukankah dg adanya kesaksian tadi dan bukti-bukti yg telah di sebutkan di atas, menunjukkan dg pasti bahwa Alquran adalah wahyu dr Allah SWT, dan bukan produk dr Nabi Muhammad karena beliau di kenal sebagai ummyy, tidak bisa menulis dan membaca sementara Nabi tdk pernah berguru pd orang-orang sebelumnya, Nabi juga tdk di kenal di kalangan sastrawan maupun pakar bahasa arab ketika itu.
Wallahu a'lam
Senin, 08 Desember 2008
Indahnya Toleransi
Toleransi adalah merupakan suatu keharusan yg wajib di miliki oleh setiap manusia dalam mengarungi kehidupan ini. tanpa toleransi kehidupan akan mengalami kesemrawutan yg sangat parah mengingat kecenderungan manusia yg begitu beragam, seseorang tak dapat memaksa orang lain untuk mengikuti kecenderungannya manakala dia sudah memiliki kecenderungan yg telah menjadi pilihan bagi hidupnya, hal ini berlaku mulai dr skala kecil setingkat keluarga maupun dalam skala yg lebih luas lagi.
Kita lihat segala pergolakan yg terjadi di negara ini, beberapa waktu lalu kerusuhan demi kerusuhan timbul, perbedaan kecil yg seharusnya bisa dengan mudah di atasi malah berubah menjadi konflik yg tiada berujung bahkan yg lebih tragis lagi adlah ketika sekelompok manusia tega membunuh manusia lainnya atas nama ideologi tertentu. lihatlah kerusuhan di aceh, ambon, pontianak, poso dan daerah lainnya lalu lihat pula bom demi bom yg kerap terjadi yg membuat kesedihan dan kepedihan begitu tumpang tindih yg akibatnya adalah tercabik-cabiknya keharmonisan, keserasian dan keseimbangan kehidupan.
Ya segala peristiwa itu lahir dr manusia-manusia yg buta sama sekali akan ma'na toleransi!
Sesungguhnya kita tidak faham sepenuhnya akan hakikat kehidupan ini sehingga apa maksud dr iblis yg tidak toleran saja pada adam ketika Allah memerintahkannya bersujud supaya tidak ada sejarawan manapun yg menceritakan permusuhan yg begitu abadi? kenapa pula qabil tidak toleran saja pada habil supaya tidak terjadi pembunuhan pertama yg begitu di kenal dlm sejarah kehidupan? itu adalah bintik-bintik hitam yg tidak dapat di hapus oleh air dalam kehidupan apapun.
Sayang duhai sayang, ketiadaan toleransi tidaklah berubah oleh pergantian masa, suasana, ruang dan waktu. di suatu zaman kita mengenal adanya namrudz, fir'aun, jalut, herodes, abu jahal dan abulahab yg merupakan butawan-butawan toleransi dr zaman, suasana, ruang dan waktu yg berbeda, demi Tuhan wajah kehidupan begitu kelam jika kt sempat membaca sejarah mereka semua.
Jika kita bisa melihat kehidupan masalalu lewat pintu sejarah, di zaman sekarang begitu banyak informasi yg kita tau dr banyak media tentang masih adanya para butawan toleransi yg tidak kalah mengerikan dr generasi yg telah lalu, ada george w bush, jhon howard, toni blair, polpot serta saddam hussain yg br beberapa taun lalu meninggal dan manusia-manusia menjijikan lainnya yg angan kitapun bahkan enggan utk mengingatnya.
Ada juga para pembunuh toleransi yg mengatas namakan islam dan jihadnya, alasan apapun tidak akan di benarkan oleh islam ketika osama bin laden-jika benar dia yg menjadi otaknya-menghancur leburkan dua menara kembar di WTC yg mengakibatkan ribuan manusia tewas secara mengenaskan, lalu ada juga imam samudra, amrozi, ali ghufron dan semacamnya yg ketika hidupnya selalu meneriakkan takbir dg lantang di setiap kesempatan. apa yg mereka fikirkan ketika bertakbir dan apa pula yg mereka fikirkan jika melihat ribuan manusia menangis pilu akibat ulah mereka? Demi Tuhan mereka adalah manusia-manusia pendosa jika para madzhlum tidak berkenan memaafkan mereka.
Mari kita belajar toleransi lewat pintu islam, Nabi suci Muhammad Saaw bersabda dlm salah satu haditsnya bahwa dirinya di utus dg membawa agama yg lurus dan penuh toleransi, dg toleransi beliau berhasil membawa sebagian besar bangsa arab yg terkenal dg fanatik kesukuannya berlabuh ke dalam pelukan islam, kita dapat membayangkan ketika kekuasaan telah berada dlm genggamannya yg memungkinkan beliau dapat memaksa siapapun utk memeluk islam namun beliau tdk melakukannya dan membiarkan yahudi bebas melaksanakan ajaran agamanya sepanjang tidak berkhianat dan bikin onar di dalam daerah kekuasaan beliau. jika demikian perlakuan beliau terhadap manusia yg berbeda keyakinan, terhadap ummatnya tentu lebih dari itu, maka pantaslah jika di katakan bahwa kehidupan Nabi adalah kehidupan terbaik sepanjang zaman, sebelum atau zaman sesudah kehidupan beliau.
Beberapa waktu berselang tibalah sebuah zaman di mana penghianatan terhadap toleransi tumbuh benih demi benih, perang demi perang berkobar di antara sesama muslim, munculnya nabi-nabi palsu, timbulnya firqoh-firqoh dll yg tidak di ragukan lagi telah membawa dampak psikologis dalam jiwa umat islam hingga masa kini. di waktu itu timbul kelompok khawarij di susul syiah dan muncul pula kelompok sunni (ahl sunnah wal jamaah) dan berbagai kelompok lainnya yg hampir semuanya tidak mengenal kata toleransi terhadap kelompok lainnya. sungguh kita patut bersedih dg apa yg telah terjadi dan sungguh tidak ada hikmah apapun dg bermunculannya kelompok-kelompok itu bila sikap toleran tidak di kembangkan.
Kita menyadari sepenuhnya bahwa perbedaan dlm hal apapun adalah sebuah keniscayaan yg susah utk di elakkan, mengingat latar belakang pemikiran, pendidikkan, lingkungan dan realitas yg ada tp itu semua bukanlah alasan yg bisa menjadi keabsahan untuk menyudutkan, memojokkan dan bahkan menganggap sesat yg berbeda dg kita, yg perlu kita kembangkan di sepanjang sikap toleran kita adalah bahwa kebenaran mutlak hanya milik Allah semata, manusia dalam kelompok apapun tidak boleh menghukumi kelompok lainnya berdasar firman Tuhan dlm al-isro' ayat 84 di situ di tegaskan semua akan beramal menurut kecenderungan masing-masing biarlah nanti Tuhan saja yg mengetahui siapa yg paling benar jalannya. yg kita perlukan adalah sikap toleran, tidak memonopoli kebenaran dan tawadhu' terhadap sesama muslim karena bagaimanapun mereka semua berada dlm kafilah pencari kebenaran.
Alquran yg abadi dalam surah alhujurat aya 10 menggambarkan tentang perlunya ishlah antara sesama muslim karena mereka semua adalah saudara dalam iman, kemudian secara lugas Alquran pun meminta pada seluruh muslim untuk tidak menghina suatu kaum/kelompok/firqoh di sebabkan boleh jadi kelompok yg di hina justru lebih baik dari yg menghina, tidak layak pula bagi sesama muslim untuk saling memburuk-burukkan yg lain dg cara menerapkan istilah-istilah yg buruk bagi yg lainnya, cukuplah ayat ini sebagai bukti akan wajibnya toleransi terhadap kelompok-kelompok yg berbeda dan itu merupakan syarat mutlak bagi terciptanya persatuan seluruh umat islam.
Alangkah indah jika ayat tersebut di jadikan pedoman bagi seluruh kelompok yg ada dalam lingkungan islam, kita bisa ilustrasikan islam sebagai taman bunga, berwarna warni, semua terlihat indah dg aneka warna dan aroma yg semuanya bisa menjadi satu kesatuan dalam keindahan yg manusia akan terpesona dan ingin memetik salah satunya. betapa luas samudra islam sehingga sungai apapun akan bermuara padanya melalu jalur yg berbeda-beda.
Terahir dari apa yg ingin saya tuliskan di sini adalah sabda Nabi yg mulia ketika menyikapi siapa di antara kelompok-kelompok yg akan selamat, Nabi menyebutkan mereka adalah ahl shofa wal-wafa', yai itu manusia-manusia yg jernih hatinya lagi pemurah. Saya kira ahl shofa wal-wafa' bisa terdapat dalam kelompok manapun mengingat Nabi tidak menyebutkan secara pasti kelompok mana yg akan selamat di akhirat kelak. Wallahu a'lam wa-'ilmuhu atam.
Salam
Kita lihat segala pergolakan yg terjadi di negara ini, beberapa waktu lalu kerusuhan demi kerusuhan timbul, perbedaan kecil yg seharusnya bisa dengan mudah di atasi malah berubah menjadi konflik yg tiada berujung bahkan yg lebih tragis lagi adlah ketika sekelompok manusia tega membunuh manusia lainnya atas nama ideologi tertentu. lihatlah kerusuhan di aceh, ambon, pontianak, poso dan daerah lainnya lalu lihat pula bom demi bom yg kerap terjadi yg membuat kesedihan dan kepedihan begitu tumpang tindih yg akibatnya adalah tercabik-cabiknya keharmonisan, keserasian dan keseimbangan kehidupan.
Ya segala peristiwa itu lahir dr manusia-manusia yg buta sama sekali akan ma'na toleransi!
Sesungguhnya kita tidak faham sepenuhnya akan hakikat kehidupan ini sehingga apa maksud dr iblis yg tidak toleran saja pada adam ketika Allah memerintahkannya bersujud supaya tidak ada sejarawan manapun yg menceritakan permusuhan yg begitu abadi? kenapa pula qabil tidak toleran saja pada habil supaya tidak terjadi pembunuhan pertama yg begitu di kenal dlm sejarah kehidupan? itu adalah bintik-bintik hitam yg tidak dapat di hapus oleh air dalam kehidupan apapun.
Sayang duhai sayang, ketiadaan toleransi tidaklah berubah oleh pergantian masa, suasana, ruang dan waktu. di suatu zaman kita mengenal adanya namrudz, fir'aun, jalut, herodes, abu jahal dan abulahab yg merupakan butawan-butawan toleransi dr zaman, suasana, ruang dan waktu yg berbeda, demi Tuhan wajah kehidupan begitu kelam jika kt sempat membaca sejarah mereka semua.
Jika kita bisa melihat kehidupan masalalu lewat pintu sejarah, di zaman sekarang begitu banyak informasi yg kita tau dr banyak media tentang masih adanya para butawan toleransi yg tidak kalah mengerikan dr generasi yg telah lalu, ada george w bush, jhon howard, toni blair, polpot serta saddam hussain yg br beberapa taun lalu meninggal dan manusia-manusia menjijikan lainnya yg angan kitapun bahkan enggan utk mengingatnya.
Ada juga para pembunuh toleransi yg mengatas namakan islam dan jihadnya, alasan apapun tidak akan di benarkan oleh islam ketika osama bin laden-jika benar dia yg menjadi otaknya-menghancur leburkan dua menara kembar di WTC yg mengakibatkan ribuan manusia tewas secara mengenaskan, lalu ada juga imam samudra, amrozi, ali ghufron dan semacamnya yg ketika hidupnya selalu meneriakkan takbir dg lantang di setiap kesempatan. apa yg mereka fikirkan ketika bertakbir dan apa pula yg mereka fikirkan jika melihat ribuan manusia menangis pilu akibat ulah mereka? Demi Tuhan mereka adalah manusia-manusia pendosa jika para madzhlum tidak berkenan memaafkan mereka.
Mari kita belajar toleransi lewat pintu islam, Nabi suci Muhammad Saaw bersabda dlm salah satu haditsnya bahwa dirinya di utus dg membawa agama yg lurus dan penuh toleransi, dg toleransi beliau berhasil membawa sebagian besar bangsa arab yg terkenal dg fanatik kesukuannya berlabuh ke dalam pelukan islam, kita dapat membayangkan ketika kekuasaan telah berada dlm genggamannya yg memungkinkan beliau dapat memaksa siapapun utk memeluk islam namun beliau tdk melakukannya dan membiarkan yahudi bebas melaksanakan ajaran agamanya sepanjang tidak berkhianat dan bikin onar di dalam daerah kekuasaan beliau. jika demikian perlakuan beliau terhadap manusia yg berbeda keyakinan, terhadap ummatnya tentu lebih dari itu, maka pantaslah jika di katakan bahwa kehidupan Nabi adalah kehidupan terbaik sepanjang zaman, sebelum atau zaman sesudah kehidupan beliau.
Beberapa waktu berselang tibalah sebuah zaman di mana penghianatan terhadap toleransi tumbuh benih demi benih, perang demi perang berkobar di antara sesama muslim, munculnya nabi-nabi palsu, timbulnya firqoh-firqoh dll yg tidak di ragukan lagi telah membawa dampak psikologis dalam jiwa umat islam hingga masa kini. di waktu itu timbul kelompok khawarij di susul syiah dan muncul pula kelompok sunni (ahl sunnah wal jamaah) dan berbagai kelompok lainnya yg hampir semuanya tidak mengenal kata toleransi terhadap kelompok lainnya. sungguh kita patut bersedih dg apa yg telah terjadi dan sungguh tidak ada hikmah apapun dg bermunculannya kelompok-kelompok itu bila sikap toleran tidak di kembangkan.
Kita menyadari sepenuhnya bahwa perbedaan dlm hal apapun adalah sebuah keniscayaan yg susah utk di elakkan, mengingat latar belakang pemikiran, pendidikkan, lingkungan dan realitas yg ada tp itu semua bukanlah alasan yg bisa menjadi keabsahan untuk menyudutkan, memojokkan dan bahkan menganggap sesat yg berbeda dg kita, yg perlu kita kembangkan di sepanjang sikap toleran kita adalah bahwa kebenaran mutlak hanya milik Allah semata, manusia dalam kelompok apapun tidak boleh menghukumi kelompok lainnya berdasar firman Tuhan dlm al-isro' ayat 84 di situ di tegaskan semua akan beramal menurut kecenderungan masing-masing biarlah nanti Tuhan saja yg mengetahui siapa yg paling benar jalannya. yg kita perlukan adalah sikap toleran, tidak memonopoli kebenaran dan tawadhu' terhadap sesama muslim karena bagaimanapun mereka semua berada dlm kafilah pencari kebenaran.
Alquran yg abadi dalam surah alhujurat aya 10 menggambarkan tentang perlunya ishlah antara sesama muslim karena mereka semua adalah saudara dalam iman, kemudian secara lugas Alquran pun meminta pada seluruh muslim untuk tidak menghina suatu kaum/kelompok/firqoh di sebabkan boleh jadi kelompok yg di hina justru lebih baik dari yg menghina, tidak layak pula bagi sesama muslim untuk saling memburuk-burukkan yg lain dg cara menerapkan istilah-istilah yg buruk bagi yg lainnya, cukuplah ayat ini sebagai bukti akan wajibnya toleransi terhadap kelompok-kelompok yg berbeda dan itu merupakan syarat mutlak bagi terciptanya persatuan seluruh umat islam.
Alangkah indah jika ayat tersebut di jadikan pedoman bagi seluruh kelompok yg ada dalam lingkungan islam, kita bisa ilustrasikan islam sebagai taman bunga, berwarna warni, semua terlihat indah dg aneka warna dan aroma yg semuanya bisa menjadi satu kesatuan dalam keindahan yg manusia akan terpesona dan ingin memetik salah satunya. betapa luas samudra islam sehingga sungai apapun akan bermuara padanya melalu jalur yg berbeda-beda.
Terahir dari apa yg ingin saya tuliskan di sini adalah sabda Nabi yg mulia ketika menyikapi siapa di antara kelompok-kelompok yg akan selamat, Nabi menyebutkan mereka adalah ahl shofa wal-wafa', yai itu manusia-manusia yg jernih hatinya lagi pemurah. Saya kira ahl shofa wal-wafa' bisa terdapat dalam kelompok manapun mengingat Nabi tidak menyebutkan secara pasti kelompok mana yg akan selamat di akhirat kelak. Wallahu a'lam wa-'ilmuhu atam.
Salam
Senin, 01 Desember 2008
Tuhanku adalah ALLAH.
Tiada Tuhan selain Allah
Tuhan, sejak dulu sampai skrg telah menjadi objek pengimanan dan penolakan. Manusia, sebelum di bagi dlm kelompok agama bahkan sebelum di bagi dlm kelompok teis dan politeis, telah terbagi dlm dua aliran besar, ateisme dan teisme. Istilah ini berasal dr kata yunani atheos (tanpa Tuhan) dari a (tidak) dan theos (Tuhan). Ateis adlh kelompok yg menolak adanya Tuhan sang maha pencipta. Dlm bahasa agama di sebut juga al-ilhad.
Existensi Tuhan adlh salah satu masalah yg paling fundamental manusia, krn penerimaan dan penolakan trhadapnya kan memberikan konsekuensi yg fundamental pula. Alam luas yg di asumsikan sebagai produk entitas yg maha sempurna dan mahabijaksana dg tujuan yg sempurna berbeda dg alam yg di asumsikan sbg akibat dr kebetulan belaka atau insiden. Manusia yg memandang alam sebagai hasil penciptaan Tuhan mahabijaksana adlh manusia yg optimis dan bertujuan pasti sedangkan manusia yg memandang alam sbg akibat dr serangkaian peristiwa acak atau chaos adlh manusia yg pesimis, gamang dan di liputi segala kerisauan akan kemungkinan-kemungkinan yg tak dapat di prediksi.
Umat manusia sejak awal kehadirannya di atas pentas dunia telah memberikan nama yg berbeda-beda, sesuai dg bahasa yg di gunakan masing2, kepada kausa prima alam kebendaan. Orang persia menyebutnya "khoda atau yazdan", org inggris menyebutnya "Lord atau God". Kita di indonesia menyebutnya Tuhan atau sang hyang widi wasa, sedangkan dlm pemahaman islam dia adlh Allah Swt. dialah Tuhan yg maha sempurna. kepercayaan kepadanya adlh merupakan bagian integral dr kehidupan manusia, baik terbentuk dlm sebuah lembaga transendental yg di sebut sbg "agama" maupun tdk di agamakan.
*_*
Dialah Allah, puncak dr segala harapan. Ujung dr segala impian yg di tangannya tergenggam segala rona kehidupan, yg kemuliaannya tidak berkurang di sebabkan ketaatan ataupun pembangkangan mahluk terhadapnya. Dzat yg bersemayam di dalamnya segala sifat yg sempurna, jauh dr segala sifat kekurangan, tiada lidah yg sanggup utk memuliakan kebesaran, keindahan dan kesempurnaannya. Semua terdiam dalam kelu, semua tiada berguna dan di suatu saat nanti Tuhan akan berseru "limanil mulkul yaum? Kekuasaan siapakah hari kebangkitan ini? Hari itu Tuhan berkuasa penuh atas segala mahluknya. Dialah Allah Tuhanku dan Tuhan kalian semua. Tuhan bagi segala yg ada, yg abadi dan tak kan pernah sirna selama lamanya..
Tuhan, sejak dulu sampai skrg telah menjadi objek pengimanan dan penolakan. Manusia, sebelum di bagi dlm kelompok agama bahkan sebelum di bagi dlm kelompok teis dan politeis, telah terbagi dlm dua aliran besar, ateisme dan teisme. Istilah ini berasal dr kata yunani atheos (tanpa Tuhan) dari a (tidak) dan theos (Tuhan). Ateis adlh kelompok yg menolak adanya Tuhan sang maha pencipta. Dlm bahasa agama di sebut juga al-ilhad.
Existensi Tuhan adlh salah satu masalah yg paling fundamental manusia, krn penerimaan dan penolakan trhadapnya kan memberikan konsekuensi yg fundamental pula. Alam luas yg di asumsikan sebagai produk entitas yg maha sempurna dan mahabijaksana dg tujuan yg sempurna berbeda dg alam yg di asumsikan sbg akibat dr kebetulan belaka atau insiden. Manusia yg memandang alam sebagai hasil penciptaan Tuhan mahabijaksana adlh manusia yg optimis dan bertujuan pasti sedangkan manusia yg memandang alam sbg akibat dr serangkaian peristiwa acak atau chaos adlh manusia yg pesimis, gamang dan di liputi segala kerisauan akan kemungkinan-kemungkinan yg tak dapat di prediksi.
Umat manusia sejak awal kehadirannya di atas pentas dunia telah memberikan nama yg berbeda-beda, sesuai dg bahasa yg di gunakan masing2, kepada kausa prima alam kebendaan. Orang persia menyebutnya "khoda atau yazdan", org inggris menyebutnya "Lord atau God". Kita di indonesia menyebutnya Tuhan atau sang hyang widi wasa, sedangkan dlm pemahaman islam dia adlh Allah Swt. dialah Tuhan yg maha sempurna. kepercayaan kepadanya adlh merupakan bagian integral dr kehidupan manusia, baik terbentuk dlm sebuah lembaga transendental yg di sebut sbg "agama" maupun tdk di agamakan.
*_*
Dialah Allah, puncak dr segala harapan. Ujung dr segala impian yg di tangannya tergenggam segala rona kehidupan, yg kemuliaannya tidak berkurang di sebabkan ketaatan ataupun pembangkangan mahluk terhadapnya. Dzat yg bersemayam di dalamnya segala sifat yg sempurna, jauh dr segala sifat kekurangan, tiada lidah yg sanggup utk memuliakan kebesaran, keindahan dan kesempurnaannya. Semua terdiam dalam kelu, semua tiada berguna dan di suatu saat nanti Tuhan akan berseru "limanil mulkul yaum? Kekuasaan siapakah hari kebangkitan ini? Hari itu Tuhan berkuasa penuh atas segala mahluknya. Dialah Allah Tuhanku dan Tuhan kalian semua. Tuhan bagi segala yg ada, yg abadi dan tak kan pernah sirna selama lamanya..
Minggu, 30 November 2008
Tentang roja' dan khauf
Roja' adalah harapan pada Allah dan khouf adalah perasaan takut pada Allah. Sesungguhnya roja' dan khouf adalah dua hal yg tak dapat di pisahkan, karena jika seseorang mempunyai roja' tapi tanpa di sertai dengan adanya khouf maka orang tersebut akan selalu berbuat ceroboh dan jika seseorang hanya memiliki rasa takut tanpa ada pengharapan orang tersebut pasti akan terbentur keputus asaan. jadi khouf dan roja' adalah seperti sayap burung jika sayap yg sebelahnya putus burung tersebut tdk akan bisa terbang dg sempurna.
Roja' adalah senangnya hati dalam mengharapkan sesuatu yg di inginkan tapi apabila tidak ada usaha dan langkah utk mencapainya itu bukanlah roja' tapi lebih tepat jika di sebut angan kosong atau kebodohan. para ulama ahli jiwa mengatakan bahwa dunia adalah ladang akhirat dan hati di ibaratkan sebagai tanah sedang iman adalah bibit yg di tebarkan, sikap yg taat adalah ibarat tanah yg siap utk di bajak dan kemudian di airi sehingga suburlah tanah itu. sedangkan hati yang keras dan kering oleh keserakahan dunia adalah laksana tanang keras yg gersang dan tidak bisa di tumbuhi benih. hari kiamat adalah hari panen tiba di mana seseorang tak dapat memetik sesuatu kecuali apa yg telah dia tanam. tidak ada benih yg bisa tumbuh kecuali benih iman, iman tak akan tumbuh subur dalam hati yg busuk dan ahlak yg buruk.
Demikianlah setiap orang mencari lahan yg baik utk di tanami dg benih yg baik pula, lalu di peliharanya dg memberikan pupuk atau yg lainnya yg di butuhkan utk kelangsungan hidup benih tersebut kemudian ia bersihkan duri atau rumput liar yg akan mengganggu pertumbuhannya, kemudian ia menunggu hasilnya maka penantian yg demikianlah yg di sebut roja'. akan tetapi jika benih di tanam di tanah yg keras lg gersang di dataran tinggi yg tdk bisa di airi, sementara sang penanam bersikap masa bodoh sambil menunggu hasilnya maka penantian yg demikian bukanlah roja' tp ketertipuan atau kebodohan.
Adapun khouf adalah merupakan cambuk yg di gunakan Allah utk menggiring hamba-hambanya menuju ilmu dan amal supaya dg keduanya manusia bisa dekat dg Allah swt. Khouf adalah kesakitan hati karena membayangkan sesuatu yg di takuti yg akan menimpa diri di masa yg akan datang, maka khouf akan dapat mencegah seorang manusia untuk berbuat ma'siat dan mendorong ketaatan pada Allah swt. kurangnya khouf pada seseorang akan menyebabkan dia menjadi orang yg lalai dan berani berbuat ma'shiyat sedang khouf yg berlebihan tanpa di barengi dg roja' akan menyebabkan orang menjadi pesimis dan gamang dalam menjalani hidup di dunia.
Roja' adalah senangnya hati dalam mengharapkan sesuatu yg di inginkan tapi apabila tidak ada usaha dan langkah utk mencapainya itu bukanlah roja' tapi lebih tepat jika di sebut angan kosong atau kebodohan. para ulama ahli jiwa mengatakan bahwa dunia adalah ladang akhirat dan hati di ibaratkan sebagai tanah sedang iman adalah bibit yg di tebarkan, sikap yg taat adalah ibarat tanah yg siap utk di bajak dan kemudian di airi sehingga suburlah tanah itu. sedangkan hati yang keras dan kering oleh keserakahan dunia adalah laksana tanang keras yg gersang dan tidak bisa di tumbuhi benih. hari kiamat adalah hari panen tiba di mana seseorang tak dapat memetik sesuatu kecuali apa yg telah dia tanam. tidak ada benih yg bisa tumbuh kecuali benih iman, iman tak akan tumbuh subur dalam hati yg busuk dan ahlak yg buruk.
Demikianlah setiap orang mencari lahan yg baik utk di tanami dg benih yg baik pula, lalu di peliharanya dg memberikan pupuk atau yg lainnya yg di butuhkan utk kelangsungan hidup benih tersebut kemudian ia bersihkan duri atau rumput liar yg akan mengganggu pertumbuhannya, kemudian ia menunggu hasilnya maka penantian yg demikianlah yg di sebut roja'. akan tetapi jika benih di tanam di tanah yg keras lg gersang di dataran tinggi yg tdk bisa di airi, sementara sang penanam bersikap masa bodoh sambil menunggu hasilnya maka penantian yg demikian bukanlah roja' tp ketertipuan atau kebodohan.
Adapun khouf adalah merupakan cambuk yg di gunakan Allah utk menggiring hamba-hambanya menuju ilmu dan amal supaya dg keduanya manusia bisa dekat dg Allah swt. Khouf adalah kesakitan hati karena membayangkan sesuatu yg di takuti yg akan menimpa diri di masa yg akan datang, maka khouf akan dapat mencegah seorang manusia untuk berbuat ma'siat dan mendorong ketaatan pada Allah swt. kurangnya khouf pada seseorang akan menyebabkan dia menjadi orang yg lalai dan berani berbuat ma'shiyat sedang khouf yg berlebihan tanpa di barengi dg roja' akan menyebabkan orang menjadi pesimis dan gamang dalam menjalani hidup di dunia.
Kamis, 27 November 2008
Jum'atan
Tulisan ini terinspirasi ketika saya baru saja pulang dari melaksanakan ibadah sholat jum'at yg saya lakukan di masjid maqbulud-du'a dekat rumah, seperti biasa ritual itu di hadiri oleh ratusan muslim dari berbagai kalangan muda, tua maupun anak kecil. Saya lihat yang terbanyak dari mereka adalah tertidur pd saat khotbah berlangsung jadi mereka sebenarnya melaksanakan jum'atan hanya karena panggilan kewajiban dan tok hanya sampai sebatas itu padahal jika di renungkan secara mendalam sebetulnya ada hikmah yg banyak yg dapat di ambil dari peristiwa jumatan itu di antaranya mendengarkan peristiwa aktual keagamaan apa yg akan di sampaikan oleh sang khatib, tapi ya sungguh hadirin yg tertidur kala khotbah berlangsung itu tdk bisa di salahkan secara sepihak karena saya lihat dan dengar khatib selalu saja mengkhotbahkan sesuatu yg sudah kerapkali di putar tiap tahun dari teks-teks yg ada di perpustakaan masjid, sungguh membosankan. Namun demikian khatib yg tadi membacakan teks khotbah tidak separah khatib yg satunya lg yg biasa membacakan teks dalam bahasa arab full tanpa mengerti bahwa dominan dr para jamaah adalah buta terhadap bahasa arab jadi jamaah hanya menonton orang sedang berdiri di atas mimbar sambil mendengarkan perkataan yg sama sekali tidak di mengerti oleh mereka, ini adalah sesuatu yg sia-sia padahal dg pergulatan kehidupan yg semakin menyibukkan manusia mereka jarang sekali mau menghadiri kajian-kajian agama dan satu-satunya kesempatan waktu yg mereka punya adalah ketika hari jum'at datang. Ini seharusnya di manfaatkan utk para khatib untuk memberi pengajaran dan nasehat yg bermutu tp apa daya jika khatib tetap saja seperti itu maka masyarakatpun akan menjadi tetap seperti itu, mereka kerapkali mendengar khatib meneriakkan kata-kata taqwa tanpa menyentuh esensi dr taqwa itu sendiri, taqwa selalu saja berma'na sederhana menjauhi larangan dan menjalankan perintah, kayanya jika cuma seperti itu anak kecil juga tau dan entah sampai kapan khatib di masjid maqbulud-du'a dan para jama'ahnya melakukan ritual yg tanpa ma'na, kosong dan tidak berpengaruh dalam kehidupan masyarakat sehari-hari..
Langganan:
Postingan (Atom)