Rabu, 29 April 2009

Tuhan adalah cahaya langit dan bumi


Al-Quran surah An-Nur ayat 35. Tuhan adalah cahaya langit dan bumi, perumpamaan cahanya adalah laksana ceruk yang di dalamnya terdapat pelita. Pelita itu ada di dalam kaca, kaca itu laksana bintang yang berkelipan, yang di nyalakan dari pohon zaitun yang di berkahi, yang tidak terdapat di sebelah timur maupun barat yang minyaknya memberikan cahaya sekalipun tidak tersentuh oleh api, cahaya diatas cahaya.

Itulah Tuhan. Tuhan adalah cahaya, cahaya itu tersembunyi di dalam jiwa manusia; itulah cahaya yang di nyalakan dengan minyak zaitun, yang tiada dari timur maupun barat.

Sinagog Yahudi dengan sepuluh hijabnya adalah simbolisasi dari tubuh manusia dengan berbagai macam lapisannya. Di dalam sinagog tersebut ada pelita yang tiada padam untuk selama-lamanya yang minyaknya di buat dari pohon zaitun murni.

Yang di maksud cahaya adalah yang ada dalam diri manusia, Al-Quran menyebutkan, adalah cahaya yang di minyaki dengan minyak yang tidak di dapatkan di timur maupun di barat, itu hanya bisa di rasakan ketika seseorang bersemadi dalam dirinya. Cahaya itu bukanlah cahaya yang dapat di indera oleh mata, tapi cahaya bagi setiap yang ada.

Di dalam diri setiap manusia ada tanda-tanda yang tiada terlihat, ya'ni cahaya kebenaran yang bersinar dalam hati apabila manusia tidak lagi di dominasi oleh pengaruh luar. Syetan, Iblis, hawa nafsu dan lainnya.

Seorang sufi bersayair; katupkan bibirmu, pejamkan matamu, dan sumbat telingamu. Bila anda tidak bisa merasakan adanya cahaya Tuhan maka tertawakanlah kami.

Dengan menutup segala persepsi eksternal, lalu memusatkan perhatian pada diri sendiri, manusia akan mampu membaca kilasan real cahaya ke-Tuhan-an yang tiada bisa di jelaskan oleh pribadi lain dari yang merasakannya. Oleh karenanya maka timbullah ana al-Haq, laisa fi jubbati siwa Allah, Subhanii, tiada sesuatu yang ada kecuali aku dan lain-lain.

Dialog singkat Ya'qub As dan malaikat maut

Pada suatu hari, telah terjadi dialog antara Ya'qub AS dengan malaikat maut. Inilah petikannya:

Ya'qub: wahai Izrail, saya ingin minta sesuatu padamu.

Izrail: apa itu?

Ya'qub: saya ingin jika ajalku sudah dekat dan anda akan mencabut ruhku, tolong kasih tahu saya.

Izrail: baiklah, nanti saya akan memberi beberapa tanda padamu sebagai kabar telah mendekatnya ajalmu.

Ketika ajal Ya'qub telah dekat, Izrail datang menghadap Ya'qub.

Ya'qub berkata pada Izrail, anda datang kepadaku apakah hanya sekedar untuk berkunjung ataukah anda akan mencabut ruhku?

Izrail menjawab, saya datang untuk mencabut ruhmu wahai Ya'qub.

Ya'qub memprotes keputusan Izrail, bukankah dulu anda pernah berkata akan memberi tanda padaku sebelum anda mencabut ruhku?

Izrail menjawab, saya telah memberimu beberapa tanda tapi sayang anda tidak menyadarinya.

Ya'qub, mana tanda-tanda yang anda janjikan itu?

Wahai Ya'qub, bukankah dahulu rambut di kepalamu berwarna hitam pekat, bukankah dulu anda memiliki fisik yang kuat tak tergoyah, bukankah dulu anda terlihat begitu tegap gagah perkasa?

Maka, jika kini seluruh rambutmu telah memutih, fisikmu terlihat lemah, ringkih sakit-sakitan dan anda kini terlihat berjalan bungkuk sempoyongan, itu tandanya tidak lama lagi ajalmu akan segera tiba.

* * *

Sebaik-baik waktu adalah yang di pergunakan untuk jalan ketaatan pada Tuhan dan berkhidmat pada sesama. Barang siapa ingin menjaga keberkahan waktunya, maka jadikanlah perkataannya sebagai dzikir, diamnya untuk bertafakkur, dan segala gerak lakunya mengarah pada perbuatan yang baik.

Senin, 27 April 2009

Mengenal Tuhan

- Tuhan adalah indah, Dia mencintai keindahan. Indah adalah sifat pribadinya. Muhammad SAAW bersabda, kholaqa al-insana 'ala shurotih, manusia di cipta atas bentuk-Nya, Nya mengarah kepada bentuk wajah Tuhan, yang di maksud adalah keindahan-Nya. Oleh karenanya thabi'at manusia selalu cenderung pada keindahan. Tuhan mencintai keindahan sebelum segala sesuatu tercipta. Maka, Tuhan adalah keindahan dan kecintaan. Keindahan-Nya adalah cinta, dan cinta-Nya adalah keindahan. Tuhan adalah pencinta dan di cintai pada saat yang sama. Tuhan menyaksikan diri-Nya sendiri dalam cermin keindahan-Nya. Tuhan mencintai diri-Nya sendiri, maka, la yuhibbu Allah ghoiru Allah, tidak mencintai Tuhan kecuali Tuhan itu sendiri. Sebuah cinta mutlak yang tiada terbatas dan bertepi.

- Hanya Tuhan yang ada, maka, segala sesuatu selain Dia pada hakikatnya adalah 'adum, ketiadaan, non entiti. Tuhan menyatakan keberadaan diri-Nya dalam bentuk "ke-Aku-an" seorang pencari jalan kebenaran (salik). Karena itu, pengenalan akan ke-Aku-an diri seseorang adalah bergantung pada pengenalan akan Tuhannya, man 'arafa rabbahu fa qad 'arafa nafsahu.

Pengenalah terhadap Tuhan haruslah di dahulukan sebelum mengenal diri sendiri, benarlah apa yang di katakan orang bahwa, siapa yang telah melupakan Tuhan berarti ia telah melupakan dirinya sendiri.

Seseorang yang telah melupakan Tuhan berarti ia telah melupakan diri sendiri. Seorang darwish dengan mengenakan jubah hitam memasuki zawiyah imam Junaid, dia di tanya, ada apa dengan pakaian berkabungnya itu? Dia menjawab, Tuhannya telah mati, lalu ia di usir berkali-kali.

Rupanya, ketika berkata seperti itu, darwish dalam keadaan melupakan Tuhan dan dirinya sendiri, karena kebodohannya, maka pantaslah ia mengenakan jubah hitamnya.

- Al-Quran berkata, fadzkuruni adzkurkum wasykuru li wa la takfurun. Bila Tuhan di ingat sebagai manifestasi bagi segala sesuatu yang maujud, berarti seolah-olah Dia di tiadakan, sebab, kufr (kafir) berarti meniadakan dan menganggap ma siwa Allah sebagai pelaku, padahal semua yang ada adalah lahir dari pancaran gerak-Nya.

Selasa, 14 April 2009

Untuk Nabi tercinta

Kepada hadhrat nabi tercinta, nabi yang terpilih. Kami haturkan shalawat dan salam atas-mu wahai nabi yang mulia, rasul yang agung, yang berjiwa lembut dan penyayang terhadap sesama.

Wahai sayyid kami, wahai nabi kami, wahai kekasih kami, wahai pelipur duka kami. wahai rasulullah, wahai nabi Allah, wahai kekasih Allah, wahai penghias keindahan di kerajaan Tuhan, wahai cahaya singgasana Tuhan, wahai manusia terbaik pilihan Tuhan, wahai syafaat bagi mereka yang berdosa, wahai nabi pembawa rahmat bagi semesta alam.

Sungguh, Tuhan telah berfirman dalam kedudukan-mu yang agung "dan jika mereka yang telah mendzhalimi diri, datang bersimpuh pada-mu, beristighfar pada Tuhan, dan rasul memohonkan ampun bagi mereka, niscaya mereka akan menemui Tuhan maha penerima taubat lagi penyayang.

Wahai pemimpin kami, Muhammad Ibn Abdullah Ibn Abdul-Muthallib Ibn Hasyim, wahai sayyidina Yasin, wahai sayyidina Thaha, wahai sayyidina Munir, wahai sayyidina Basyir, wahai sayyidina Muqaddam penghulu para rasul. Inilah kami wahai junjungan kami, wahai rasulullah, kami bersimpuh, berlari kepada-mu dari dosa-dosa meminta syafaat dan perlindungan dari murka Tuhan, wahai pemberi syafaat bagi manusia, wahai pengurai segala tabir kelam, wahai penerang kegelapan, singkirkan kami dari neraka, wahai nabi yang penyayang.

Wahai penghulu kami, kami datang berziarah pada-mu, kami menetap di pintu-mu yang agung, kami mengharap syafaat dari-mu, jangan tolak kami dari haribaan-mu yang menyebabkan kami menjadi hina dan merugi, kami berharap syafaat dari kemuliaan-mu.

Wahai rasulullah junjungan kami, kami meminta syafaat pada-mu, memintakan keutamaan bagi-mu pada Tuhan, memintakan derajat yang tinggi, tempat yang mulia, Haudh yang tercipta, syafaat yang agung di hari penyaksian.

Wahai manusia terbaik yang pernah ada, jiwa kami kan menjadi tebusan untuk pusara yang kini engkau beristirah, di sana ada kelembutan, di sana ada keindahan, di sana ada kemuliaan. Engkaulah kekasih Tuhan, engkaulah pemberi syafaat, engkaulah yang di harap pertolongan-nya bagi kaki yang tergelincir.

Kami bersaksi, engkau adalah pesuruh Tuhan, sungguh, engkau telah menyampaikan risalah dengan sebenarnya, telah menunaikan amanah, menjadi penasehat bagi segenap manusia, engkaulah penyingkap tabir gelap, penyinar pekat kehidupan, engkau telah bersungguh-sungguh di jalan Allah, telah beribadah sebenar-benarnya pada Tuhan hingga ajal menjemput. Kami ucapkan Jazakallah, semoga Tuhan membalas jasa-jasa-mu dengan sebaik-baiknya.

Wahai nabi pilihan, kami meminta pertolongan pada-mu pada hari kebingungan yang besar, hari yang tiada lagi bermanfaat lagi harta maupun putera, kecuali mereka yang datang dengan hati yang selamat hati yang jernih. Syafa'ati kami wahai junjungan kami rasulullah. Salam atas-mu wahai pemimpin para rasul,

kami bersaksi, tiada Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah utusan-Nya.

Senin, 13 April 2009

Pipit-ku kini telah menikah


"Dan diantara tanda-tanda kekuasaan Tuhan, adalah di ciptakan-Nya untukmu pasangan hidup dari jenismu sendiri supaya kamu merasa tentram di sampingnya. Dan di jadikan-Nya kasih sayang di antaramu. Sesungguhnya, pada yang demikian itu, ada tanda-tanda bagi yang mau berfikir. (Qs. Ar-ruum : 21)

Menikah adalah sunnahku, barang siapa yang tidak suka sunnahku, dia bukan golonganku (Al-Hadits)

Maha suci Allah, Tuhan yang telah menciptakan mahluknya berpasang-pasangan.
Ya Allah, jika engkau memperkenankan:

Hendi Sunjaya, SE, S.Kom (Hendi), Assalam Computer

dengan

Idah Fitriyah binti Bahruddin (Pipit), Panembahan-Plered-Cirebon

untuk mengikuti sunnah rasul-Mu membangun keluarga sakinah, mawaddah, warahmah dan memberi keturunan yang salih/salihah, yang mau berbakti pada orang tuanya dan berguna bagi kehidupan.

Akad Nikah:

Hari Jum'at, 10 April 2009 pukul 08.00 WIB di masjid As-salam


SUSUNAN ACARA:



MC oleh: bapak Mas'ud Banudhi (kepala desa Panembahan)

1). Pembukaan.

2). Pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur'an oleh: ustadz Abd Wahid.

3). Sambutan-sambutan:

1). Pihak mempelai laki-laki.
2). Pihak mempelai wanita oleh: Bapak H Kusdiyanto.

4). Tawassul oleh: ustadz H Zainuddin Naim.

5). Khotbah Nikah oleh: ustadz Syamsuddin.

6). Akad Nikah oleh: ustadz Fatur Rafael.

7). Penutup/doa oleh: ustadz Fatur Rafael.

Turut mengundang:
- Ir. Nedi Hendri Junaidi, MM. (Assalam CV.)
- Ustadz Fathur Rahman/Fatur Rafael (Juara Nasional Hifdzhul Quran)
- Ustadazah Siti Zaitun, S.Ag. (Nyi Atun)
- Segenap Family

RESEPSI PERNIKAHAN:

Hari: Sabtu malam minggu
Tanggal: 11 - 12 April 2009
Waktu: Pukul 10.00 WIB s/d selesai
Tempat: Jl. Widuri No. 20 RT. 06 RW. 01 Kapling Megu Cilik Kec. Weru Kab. Cirebon
Kel. Bpk H. Warsina
Ibu Hj. Mastonah

Kel. Bpk. Bahruddin/Kyai Batu (Alm)
Ibu Fathonah

Hendi & Pipit

Komentar-komentar saya di situs JIL bag 1

Untuk kenangan perjalanan bathin, perjalanan pemikiran dan perjalanan dalam menyikapi pergolakan pemahaman agama, sengaja saya copy paste semua komentar saya di situs JIL, sampai tiba waktunya untuk saya berhenti mengomentari apapun yang ada di dunia ini yang semuanya adalah nisbi, relatif dan semu. kata Ibnu 'Arabi; Al-Wujudu kulluhu khayalun fi al-khayal, semua keadaan, seluruhnya adalah khayal di dalam khayal.

Komentar untuk tulisan Syafi'i Ma'arif yang berjudul argumen pluralisme agama. Komentar Rafael; Hanya para pemuka agama yg berjiwa bersih dan memiliki niat baiklah yg akan mampu dan mau melakukan dialog antar agama yg berma’na, dialog yg bebas dari segala bentuk prasangka, kebencian dan dendam kesumat. Selain itu, mereka juga tentu akan mampu menunjukkan kesatuan batin agama-agama maupun perbedaan formalnya. Para pemuka agama yg berjiwa bersih di harapkan terus melakukan dialog demi terciptanya iklim spiritual yg sehat bagi kehidupan keberagamaan umat manusia masa kini, mereka juga di harapkan mampu memberi kontribusi lebih banyak bagi kesetimbangan dan harmonisasi kehidupan keberagamaan masyarakat manusia yg begitu lama terkungkung dalam simpul-simpul kelam kesalah fahaman dan kebencian, akibatnya, masing-masing merasa telah terpisah jauh, seolah-olah tiada lagi kesempatan bagi masing-masing untuk saling bahu membahu dalam mewujudkan kehidupan yg lebih baik, damai dan harmonis, khususnya di bumi Palestine dan Israel, yg telah memendam bara kebencian tiada berujung.

Pada hakikatnya, Islam telah bertemu, bergaul dan berinteraksi dg tradisi Yahudi dan Nasrani lebih dr 14 abad lamanya. Islam sendiri sebetulnya adalah agama yg datang terahir untuk meneguhkan kembali tradisi Abrahamiya yg sebelumnya terjelma di dalam Yahudi dan Nasrani. Syariah sebagai perintah Tuhan, dalam banyak hal serupa dg kitab Talmud, meski dr segi penyusunannya syariah tidak menyadur dr kitab Talmud. Yesus Al-Masih, juga sebenarnya turut memberikan peranan penting dalam Islam, meski memiliki konsep yg berbeda dg pandangan Nasrani terhadapnya.

Hanya manusia yg telah mencapai puncak gunung tak terbataslah yg akan mampu menjadi pendaki sejati, ia tak kan goyah oleh jalan yg berbeda yg di tempuh kawan perjalanannya, sebab hanya jalan yg di tempuhnyalah yg terasa berma’na bagi hidupnya.
#20. Dikirim oleh Fatur rafael pada 21/03 03:16 PM

Komntar atas artikel Abd Moqsith Gazali berjudul; kapan Muhammad SAW lahir. Komentar Rafael; Tidak begitu penting kapan, dimana, dan hari apa Nabi Muhammad SAW di dzahirkan ke muka bumi ini. Sebab, tidak ada satupun sejarah masa lampau yg steril dari perselisihan ahli sejarah dalam hal ketepatan waktunya. Jika masa Nabi Muhammad, yg merupakan masa yg paling dekat dg kita di banding dg Nabi-Nabi lainnya saja belum terungkap kepastiannya sampai hari ini, apatah lagi dg Nabi-Nabi sebelum beliau. Biarlah itu semua tetap menjadi misteri gelap sejarah, yg manusia tidak perlu mempertikaikannya sampai mengeraskan urat leher dan menggemeretakkan gigi.

Sejarah hidup para Nabi memang akan selalu menarik untuk di perbincangkan sampai kapanpun, di sebabkan nilai-nilai luhur yg di bawa mereka bagi perbaikan hidup umat manusia. Kita tidak bisa membayangkan, betapa amannya dunia ini dari segala tindak kriminal, jika seluruh manusia mau mencontoh ketegasan ala Musa AS, betapa damai dunia ini jika seluruh manusia mau mencontoh kasih tulus Yesus Al-Masih, dan, betapa pertikaian adalah sesuatu yg tidak perlu ada, jika semua manusia mau meneladani moral Muhammad yg begitu toleran terhadap segala perbedaan. Sayangnya, karakter dunia yg begitu carut wa marut, yang di tingkahi pula dg nyanyian setan, tidak selalu membawa manusia pada jalan mulus yg di inginkan oleh para Nabi itu. Jadi, tetaplah dendam kesumat, kriminalitas, pertikaian, saling hujat, peperangan, saling membunuh dan blo blo blo akan tetap mewarnai perjalanan dunia ini sampai kapanpun.

Saya pribadi merasa beruntung, masih bisa menghirup udara segar ajaran para Nabi itu. walaupun sedikit, di jiwa saya masih terselip ketegasan ala Musa, di dada saya masih tersimpan kasih tulus Yesus Al-Masih, dan di hati serta fikiran saya masih terpatri toleransi ala Muhammad SAW.
#8. Dikirim oleh Fatur rafael pada 11/03 08:35 PM

Luthfi Syaukani dengan tulisan berjudul; Dua Amina.
Komentar Rafael; Apa yg di lakukan Amina Wadud sebetulnya bukanlah sesuatu yg baru dalam kasus wanita menjadi imam shalat, namun hanya skalanya saja yg mungkin berbeda. Jika Amina menjadi imam secara umum dalam shalat jum’at, dahulu pada zaman Nabi ada seorang wanita bernama Ummu Waraqah yg juga pernah menjadi imam shalat bagi keluarganya yg diantara ma’mumnya adalah laki-laki dewasa.

Mayoritas fuqaha, termasuk imam madzhab yg empat, hanya membolehkan laki-laki yg sudah baligh untuk menjadi imam shalat secara umum, sedangkan wanita hanya di perkenankan untuk menjadi imam shalat bagi wanita-wanita lainnya, tetapi tidak bagi laki-laki, walaupun keluarganya sendiri. Namun demikian, ada juga sebagian fuqaha yg membolehkan wanita menjadi imam shalat bagi laki-laki.

Mereka yg tidak membolehkan wanita menjadi imam shalat berpedoman dgn hadits Nabi yg di rawikan oleh Ibn Majah, “Janganlah seorang wanita menjadi imam bagi laki-laki”, namun, beberapa pakar hadits mendhaifkan hadits ini yg berakibat pada tidak bolehnya hadits ini di pakai sebagai sandaran hukum. Ada juga beberapa hadits yg menjadi sandaran bagi mereka tp hadits-hadits tersebut tidak menyentuh substansi tentang kepemimpinan wanita dalam shalat.

Imam Nawawi dalam bukunya Al-Majmu’, mengutip perkataan Qadhi Abu Thayyib dan Al-Abdari, bahwa beberapa fuqaha madzhab Syafi’i seperti Abu Tsur, Al-Muzanni, juga Ath-Thabari membolehkan wanita menjadi imam shalat bagi laki-laki dgn bersandar pada hadits yg di riwayatkan oleh Abu Daud yg bersumber dari Ummu Waraqah, bahwa Nabi kerap berkunjung kerumahnya, jika waktu shalat tiba, Nabi menunjuk muadzin baginya dan kemudian Nabi menyuruh Ummu Waraqah untuk menjadi imam bagi keluarganya. Keterangan yg mirip dgn ini bisa juga di lihat dalam buku Bidayah Al-Mujtahidnya Ibn Rusyd atau Subul As-Salamnya Ash-Shan’ani.

Pada pendapat saya, boleh saja seorang wanita menjadi imam shalat dalam keluarganya jika suaminya sedang tidak ada, atau suaminya sama sekali tidak bisa menjadi imam shalat. Atau bisa juga menjadi imam shalat secara umum di suatu daerah jika di daerah tersebut tidak ada satupun laki-laki yg mampu menjadi imam shalat. Atau bisa juga menjadi imam shalat kapanpun, dimanapun dan dalam kondisi apapun jika memang mayoritas fuqaha kontemporer menyetujuinya dan memberi toleransi pada kasus seperti ini. Yg terpenting, apa yg di lakukan Amina Wadud jangan dulu dianggap sesat, Amina hanya menerapkan sesuatu yg dahulunya memang pernah ada. Tuduhan sesat adalah kalimat yg sangat berat dan sebetulnya hanya Tuhan yg tau tentang siapa yg sesat. Wallahu a’lam bis-shawab, wa’ilmuhu atam.
#5. Dikirim oleh Fatur rafael pada 11/03 06:13 PM

Goenawan Muhammad dalam tulisan berjudul Mono.
Komentar Rafael; Identifikasi diri terhadap ma’na kata-kata Rasul “Aku tidak tahu” merupakan simbolisasi bagi sebuah keniscayaan umum manusia yang penuh dengan kelemahan dan ketidak tahuan. Semakin jauh manusia melanglang di ufuk pengetahuan, semakin banyak pula ketidak tahuan yang di rasa pada dirinya. Manusia memang tidak di haruskan untuk mengetahui segala sesuatu, bahkan karakter dunia yang di ciptakan begitu penuh misteri, banyak meninggalkan sesuatu yang manusia tidak tahu dan tidak akan pernah tahu untuk selama-lamanya. Tetaplah legenda bangsa Maya sebagai misteri, tetaplah Madain Shalih sebagai Misteri, tetaplah pilar-pilar Iram sebagai misteri dan ahirnya; tetaplah pula Tuhan sebagai misteri untuk selama-lamanya.

Jika Om GM menyukai ketidak tahuan Rasul tentang kapan kebangkitan Musa dan atau ada pengeculian Tuhan terhadapnya. Saya lebih suka pada kritikan Tuhan terhadap Musa ketika dia berdiri di tengah kaumnya dan mendakwakan diri sebagai yang terpandai di dunia. Arogansi Musa langsung mendapat teguran Tuhan bahwa di belahan dunia lain masih ada yang lebih alim dan lebih shalih dari pada Musa. Tuhan menitahkan Musa untuk belajar padanya (Al-Hidhr). Setelah melalui perjalanan panjang, Musa berhasil menemui dan belajar pada Al-Hidhr. Namun, maha suci Tuhan, ternyata Musa gagal menjadi murid yang baik bagi Al-Hidhr. Al-Hidhr memulangkan musa kembali pada kaumnya dalam keadaan kebingungan.
#6. Dikirim oleh Fatur rafael pada 03/03 03:25 PM

Abd Moqsith Gazali dalam; MUI dan pengharaman rokok.
Komentar Rafael; Perdebatan di sekitar hukum merokok adalah merupakan sejarah panjang di kalangan ahli agama (Islam), dan itu saya kira akan tetap berlangsung sampai kapanpun juga. Rokok dan hukumnya termasuk diantara sesuatu yg memang berada dalam lingkaran “Tuhan dan hal-hal yg tidak akan pernah selesai”.

Saya termasuk di antara orang yg tidak menyepakati apapun fatwa MUI, walaupun demikian sebagai orang yg berfikir bebas dan toleran saya tetap menghormati fatwa2 MUI itu yg merupakan bagian dari keragaman corak berfikir dalam lingkungan Islam.

Teman-teman, izinkan saya bercerita, mudah2an cerita ini bisa menjadi bahan pertimbangan bagi semua. Saya pernah konsultasi dengan seorang dokter spesialis “penyakit dalam” perihal masalah rokok ini. Saya bertanya padanya; anda kan seorang dokter, kenapa dari tadi saya lihat anda tidak berhenti merokok, bukankah itu tidak baik untuk kesehatan dan menurut dokter yg lain merokok bisa menyebabkan hancurnya paru2 dan berbagai penyakit lainnya, bukankah sesuatu yg membahayakan tubuh di haramkan agama? Dokter tersebut menjawab; O tidak, asal dari penyakit itu adalah sesuatu yang tidak bisa di deteksi oleh apapun maupun siapapun, bahkan oleh dokter yg paling expert sekalipun. Kata dia, penyakit itu datang langsung dr Tuhan, saya sudah banyak mendiagnosa pasien yg paru2nya hancur padahal dia sama sekali tidak merokok, sebaliknya saya juga banyak memeriksa pasien yg paru2nya bersih padahal pasien itu adalah pecandu rokok kelas berat, termasuk saya sendiri (dokter) adalah perokok kelas berat tp paru2 sy fine2 aja. Dokter itu menyambung lagi, secara teori medis orang yang terkena sinar matahari secara langsung dalam keadaan yg terus menerus akan terkena penyakit kangker kulit tp faktanya petani2 kita semua tetap segar bugar, belum pernah sekalipun saya mendengar atau melihat ada petani yg terkena kangker kulit, padahal mereka tiap hari terkena panas matahari secara langsung, bukankah jika merokok di haramkan bertani juga harusnya di haramkan? Saya dengan dokter itu terus terlibat dialog sambil dokter itu sesekali menyodorkan batang2 rokoknya pada saya, walaupun saya tidak begitu menyukai rokok tp demi menghormatinya saya menerimanya dan menyalakannya.

Tidak ada kesimpulan apapun yg ada dalam benak saya ketika saya keluar dari ruang dokter itu, cuma beberapa waktu kemudian saya jadi ingat tentang kaidah usul yg berbunyi “al-ashl fil-asy-ya’ al-ibahah”, Asal segala sesuatu adalah mubah kecuali terhadap sesuatu yg memang telah di hukumi haram secara mutlak, qath’i dan jelas oleh Qur’an maupun Hadits. Jadi karena tidak ada dalil yang pasti dalam Al-Quran maupun Hadits tentang hukum rokok ini saya lebih baik mengatakan kalau hukum rokok adalah mubah saja. Saya menganggap MUI lg becanda dengan fatwa haramnya itu, sebagai bentuk escapisme psikologis MUI dr segala terpaan badai kritik yg selama ini menghantam mereka.

Saya yang memang tidak begitu suka merokok tadinya berniat untuk berhenti sama sekali dari aktivitas merokok itu, tapi berhubung MUI mengharamakannya saya jadi mengurungkan niat untuk berhenti. Saya cuma ingin meyakinkan diri bahwa apa yg di fatwakan MUI itu bukanlah kebenaran yg tidak ada keraguan di dalamnya bahkan sebaliknya bisa jadi apa yg MUI fatwakan adalah merupakan kesalahan yg tidak ada keraguan padanya. Salam MUI!!
#16. Dikirim oleh Fatur rafael pada 27/02 10:07 AM

Novriantoni Kahar dalam, Petuah Roy untuk Obama.
Rafael; Tidak di pecah belah Iranpun sebetulnya pemimpin-pemimpin Arab dari dulu memang tidak bisa bersatu. Nampaknya watak ‘ashobiah kesukuan yg dari dulu mewarnai segala sejarah peperangan di antara kabilah-kabilah Arab tidak hilang hingga masa kini ketika zaman semakin beranjak modern. Sebetulnya apa yang di lakukan Mahmud Ahmadi Nejad dengan segala provokasinya adalah semata-mata agar para pemimpin Arab sadar diri dan bersatu padu dalam rangka menghentikan segala sepak terjang israel yg semakin lama kian tidak bisa terkendali.
#1. Dikirim oleh Fatur rafael pada 24/01 02:27 AM

Abd Moqsith dalam, Meuju perdamaian abadi Israel-Palestina.
Rafael; Ada hadits Nabi yg berbunyi Idza dzallatil-’arob dzallal-islaam, apabila bangsa arab menjadi bangsa yg hina maka Islampun akan hina pula, mafhum mukholafah dr hadits tersebut adalah Idza ‘azzatil-’arob ‘azzal-Islaam, apabila negeri arab berjaya maka Islampun akan jaya. Jika kt mencermati lebih jauh maka kt harus merevisi ulang apakah betul bahwa hadits tersebut adalah hadits sahih sebab hadits tersebut bertentangan dg fakta nyata bahwa negara-negara Arab adalah negara pengecut yg tidak bisa membela arab Palestine sebagai kawannya sendiri bahkan yg lebih parah ketika Liga arab mengadakan pertemuan untuk membahas masalah Palestine mereka bukannya mencari solusi yg paling cepat dan tepat agar Palestine segera keluar dr tekanan israel justru mereka saling menghujat satu sama lain di tambah lagi dengan adanya pernyataan panas dari Mahmud Ahmadi Nejad yg mengatakan bahwa bangsa arab turut terlibat dalam pembantaian warga Palestine oleh tentara israel. Nampaknya perdamaian abadi di timur tengah hanyalah harapan semu jika negara-negara Arab tidak mau bersatu padu untuk menghentikan segala rencana israel yg cenderung destruktif.
#11. Dikirim oleh Fatur rafael pada 23/01 05:56 PM

Abd Moqsith dalam, Lia Aminuddin dan problem penghapusan agama.
Rafael; Lia aminuddin sebetulnya cuma setingkat dengan dukun perempuan yg ada di kampung saya, seorang perempuan yg tdak mengerti apapun tentang masalah agama tapi jika ada yg memasuki tubuhnya dia jadi terlihat begitu pandai. Menurut pengakuannya kadang yg masuk adalah arwah wali songo, kadang tuan Abdulqadir jilani, kadang Muhammad SAW, kadang Jibril as si roh kudus itu bahkan yg lebih fantastis adalah kadang Tuhan yg memasuki dirinya. Dia bisa berbicara dg suara, dialek dan bahasa yg berbeda, bisa menerangkan tafsir quran seluas2nya dan macam2 keanehan lagi. Begitu pula yg terjadi dg Lia edenudin, menurut salah seorang mantan pengikutnya Lia sebetulnya tidak mengerti apa2 masalah agama tp jika dirinya sedang extase dan kemasukan arwah, entah itu mengaku jibril atau siapa, Lia mendadak jadi mengerti banyak hal dan bisa menafsiri Alquran. jadi Saya lebih suka menganggap Lia hanya sebagai dukun yg tersesat jalan yg semakin lama semakin tersesat dan perlu segera di selamatkan.

Terlalu besar jika membandingkan apa yg di lakukan Lia adalah seperti apa yg telah di lakukan yesus terhadap agama yahudi, dan apa yg telah di lakukan Muhammad SAW terhadap agama kristian. sebab apa yg telah di lakukan ke 2 orang itu telah berhasil merubah sebuah peradaban ke arah yg lebih baik sementara apa yg telah di lakukan Lia hanya menambah keruh suasana Indonesia saja di tengah kekeruhan yg begitu panjang mewarnai negeri ini.
#9. Dikirim oleh Fatur rafael pada 23/12 05:52 PM

Bersambung...

Selasa, 31 Maret 2009

Ra nggenah

Aku berdosa dan Tuhanku tersenyum

Aku bertaubat dan Tuhanku tertawa

Pada zhahir aku selalu patuh dengannya, pada batin aku selalu menentangnya

Tuhan selalu mendekatiku, namun aku selalu lari darinya

lalu aku terjerembab dan Tuhanpun menangkapku menarikku

padahal Tuhan tiada membutuhkanku, namun Ia peduli padaku

aku menganggapnya egois, padahal Tuhan altruis

aku menganggapnya masa bodoh, padahal Tuhan selalu sibuk

Tuhan menyapa aku dengan firmannya yang tiada bisu, namun telingaku senantiasa menuli

Tuhan hendak menutup nerakanya namun aku selalu mencari kuncinya

Tuhan mencintai aku namun aku sering pacaran dengan iblis

Tuhan cemburu padaku namun aku berperilaku dayus

Tuhan ada di mana-mana namun aku selalu kehilangannya

Tuhaaaan.......Dimana?

Minggu, 22 Maret 2009

Catatan kecil untuk pemimpin Indonesia

Alkisah, pada suatu hari, ketika Umar bin Al-Khath-thab di lantik menjadi khalifah mengganti khalifah sebelumnya yang telah mangkat, Abu Bakar Ash-shiddiq. Ketika Umar sedang lantang memaparkan visi dan misi pemerintahannya, tiba-tiba seorang pemuda berdiri sambil menggenggam erat pedang di tangannya, pemuda tersebut berkata tidak kalah lantang dengan perkataan Umar. Pemuda tersebut berkata; wahai khalifah, jika dalam kepemimpinanmu saya lihat ada perilaku anda yang bengkok dan bertentangan dengan jalan yang lurus, maka saya tidak akan segan untuk meluruskan anda dengan pedangku ini, mendengar perkataan pemuda itu, Umar tidak sedikitpun memperlihatkan kemarahan di wajahnya. Umar malah tersenyum dan memuji ketegasan pemuda tersebut yang konsisten terhadap kebenaran sekalipun berhadapan dengan penguasa negara yang memiliki pengawal dan pasukan yang banyak.

Pertanyaannya, adakah di negeri ini pemimpin yang memiliki watak seperti Umar? Sekalipun Umar adalah seorang yang di kenal kasar dan beringas, namun ia tidak sungkan untuk tunduk di bawah telapak kebenaran.

Amat berbeda jauh dengan kebanyakan pemimpin di negeri pancasila ini, negeri yang katanya berada di bawah simbol Ke-Tuhanan yang maha esa, yang katanya rakyatnya di pimpin dengan cara hikmat dan kebijaksanaan, yang katanya keadilan sosial merupakan cita-cita luhurnya. Betapa banyak di sini pemimpin yang sangat anti terhadap kritik, meskipun kritik yang di lontarkan adalah kritik yang bersifat konstruktif, kritik sering di salah pahami sebagai cacian, penghinaan, pelecehan atau bahkan dianggap sebagai pencemaran terhadap nama baik.

Pada masa lalu, ketika negeri yang carut marut ini di pimpin oleh orang yang bernama Soeharto, yang senyumnya senantiasa mengembang namun berjiwa bengis dan biadab. Tidak boleh seorangpun melontarkan kritik padanya kalau tidak ingin hidupnya di rampas, di culik, di buang atau di hilangkan sama sekali jejaknya, dahulu, Indonesia adalah ibarat sangkar raksasa yang tidak boleh bagi siapapun untuk mengepakkan sayapnya, rakyat menjadi laksana burung yang lumpuh, selalu di cekam rasa takut dan merasa bersalah jika berhadapan dengan pemimpin. Setiap lebaran tiba di adakanlah open house di tempat para pejabat, rakyat ber-sowan memohon maaf atas kesalahan yang tidak di lakukannya, sebuah fakta terbalik yang seharusnya tidak di adakan. Sesungguhnya siapa yang telah menerpurukkan negeri ini ke jurang krisis yang tiada ahir ini? Sesungguhnya siapa yang telah menghancurkan tatanan demokrasi yang katanya kepemimpinan tertinggi ada di tangan rakyat? Sesungguhnya siapa yang telah merusak lingkungan, sehingga bencana demi bencana terus menerpa negeri ini? Sesungguhnya, siapa yang gemar sekali melakukan korupsi tanpa peduli rakyat begitu menderita karenanya? Siapa yang serakah sehingga kekayaan negara seolah-olah hanya berada di kantongnya?

Mana itu keadilan sosial? Mana itu ke-Tuhanan yang maha esa? Mana itu kemanusiaan yang adil dan beradab? Mana itu kerakyatan yang di pimpin oleh hikmat dalam kebijaksanaan? Mana itu persatuan Indonesia? Omong kosong! Kemunafikan akan tetaplah sebagai kemunafikan sekalipun sentuhannya halus, belaiannya lembut dan sekalipun suara pembawanya berirama syahdu.

Sabtu, 21 Maret 2009

Pemilu, pesta penuh kemunafikan

Kurang dari 20 hari lagi, negeri tercinta Indonesia akan menghadapi sebuah pesta besar; PEMILIHAN UMUM! Ia adalah hajat lima tahunan negeri ini, guna mencari pemimpin baru, yang di harapkan mampu membawa Indonesia keluar dari krisis multi dimensional yang telah mengungkung Indonesia lebih dari satu dekade.

Ada semacam peristiwa yang sama persis yang seolah sudah menjadi hukum alam, pada setiap menjelang pemilu, orang-orang yang sudah duduk di jabatan pemerintahan dan ingin memperpanjang kedudukannya karena betapa ni'matnya menjadi pejabat, atau orang yang sudah lama ingin menjadi pejabat tapi belum ada kesempatan karena selalu tersingkir dari persaingan, atau orang yang benar-benar baru berkecimpung di dunia politik dan ingin juga ikut meni'mati kedudukan, mereka sibuk mempromosikan dirinya di hadapan rakyat agar rakyat memilihnya, dengan seabreg janji perubahan, pengentasan kemiskinan, pendidikan murah, terbukanya lapangan pekerjaan yang lebih luas, dan segala janji-janji lainnya yang sejatinya semuanya mengambang tinggi diatas awan. Setahu saya, belum ada satupun janji para pejabat pada saat kampanye yang sanggup untuk di tepati ketika ia betul-betul telah menjadi pejabat. Entah barangkali karena kesibukan yang menjadikannya lupa, atau belum menemukan solusi yang tepat untuk ternunaikannya janji-janji itu atau karena memang hati pejabat itu begitu pekat tertutup debu kemunafikan sehingga janji-janji yang dulu pernah di ucapkan menguap bersama buruknya perilaku mereka.

Negeri yang di juluki "Laksana zamrud di lintasan khatulistiwa" ini, sebetulnya adalah negeri yang sungguh-sungguh malang, betapa tidak, dengan sumber daya alam yang begitu kaya dan subur, memiliki penduduk di atas dua ratus juta dan pintar-pintar tapi tidak ada satupun yang mampu mengelola segala sumber daya yang ada demi kesejahteraan dan kemakmuran rakyat. Apa yang menghalangi para pejabat untuk memakmurkan rakyat, jika bukan karena ambisi besar mereka untuk mereguk keni'matan pribadi dari negeri ini untuk selama-lamanya sampai sepuluh bahkan jika mungkin sampai turunan mereka yang terahir hidup di dunia? Sehingga lupa akan janji-janjinya ketika kampanye, lupa bahwa penderitaan telah mencekik banyak rakyat negeri ini, lupa bahwa persatuan adalah simbol dari kemerdekaan negeri ini. Bagaimana persatuan akan tetap terjalin jika yang satu bergelimang dalam tumpukan keni'matan sementara yang lain terjerembab dalam kubangan derita yang terus menerus? Bagaimana bisa bersatu jika yang ini ingin keadilan sementara yang lain terus cuek melakukan korupsi, kolusi dan perbuatan jijik lainnya? Apanya yang salah jika sebagian rakyat lebih memilih golput daripada memilih pemimpin yang terus menerus menebar kebohongan? BERBOHONG adalah tercela dalam pandangan agama apapun, dan bukankah Islam amat mengHARAMKAN kebohongan? Kenapa MUI tidak mengharamkan para pejabat yang biasa berbohong untuk ikut pemilihan lagi, daripada mengancam masyarakat yang sadar akan kebohongan mayoritas pejabat publik dengan haramnya golput?

Langit Indonesia beberapa hari ke depan akan terus di penuhi omong kosong tanpa ma'na, penuh KEMUNAFIKAN. Jiwaku muak, benci dan jijik melihat tingkah polah mereka. Maha suci Tuhan, yang ternyata tidak hanya menciptakan yang baik-baik saja, Tuhan juga menciptakan mereka-mereka yang berperilaku buruk dan sama sekali tidak bermanfaat bagi kehidupan rakyat banyak.

Wahai rakyat Indonesia, pengalaman seharusnya telah banyak mengajarkan pada kalian tentang betapa jelas kemunafikan yang di perlihatkan para pemimpin kita terdahulu, jika ingin memilih, pilihlah pemimpin yang berjiwa bersih dan mau mencintai rakyat sepenuh hati, pemimpin yang selalu memberi simpati yang mendalam terhadap segala derita dan duka rakyatnya. jika tidak, mari kita tinggalkan seluruh pemimpin yang ada di negeri ini, untuk kita seret dan kita tuntut di suatu hari kelak di hadapan pengadilan Tuhan yang maha adil.

Hidup dan maha suci Tuhan yang telah menghalalkan GOLPUT!

Senin, 09 Maret 2009

Dialog Fatur Rafael VS Kabayanis di situs JIL -Jaringan Islam Liberal-

Fatur Rafael menulis; Syeh Nasar Al-Maqdisi dalam bukunya Al-Hujjah meriwayatkan secara marfu’ Hadits Nabi yg berbunyi; “Ikhtilafu ummati rahmatun”, demikian pula Al-Baihaqy meriwayatkan dr Qasim bin Muhammad dalam Al-Madkhal, Yahya bin Said meriwayatkan pula dari Umar bin Abd Aziz, kemudian Yahya berkata tidaklah membahagiakan aku jika sekiranya tidak ada perbedaan di antara umat Muhammad SAAW karena jikalau dalam umat ini tidak ada perbedaan maka tidak akan ada rukhshah di dalamnya. I.H, Al-la-aalil-mantsuroh, Badruddin Az-zarkasyi 745 H - 794 H.

Bagi saya Islam adalah ibarat taman bunga yg di penuhi berbagai aneka bunga dg aroma dan warna yg semuanya memikat yg masing-masing orang bisa memetiknya sesuai dg seleranya, seseorang tak dapat di larang atau di caci maki jika dia memetik bunga mawar yg di pandangnya sebagai bunga yg paling indah, begitu pula jika ada yg lainnya yg memetik bunga melati. Tentu masing-masing punya alasan kenapa memetik yg ini dan bukan yg itu. Yg penting masing-masing pemetik tidak boleh saling menghina dengan menganggap bunga yg di petiknya adalah bunga yg paling indah dan bunga yg di petik orang lain adalah jelek lalu semua orang di paksa untuk memetik bunga yg sama dengan yg dirinya petik. Bisa juga di ibaratkan sebagai meja perjamuan yg berisi berbagai makanan yg lezat-lezat, semua orang bisa meni’matinya sesuai keinginan hatinya.

Masing-masing orang Islam di bolehkan untuk mengikuti kecenderungan Madzhab apapun yg bisa menenangkan hatinya selagi tidak menyimpang dari ajaran pokok bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah. So betapa susahnya kita mengikuti 100% ajaran Rasulullah semasa beliau hidup, untuk hal yg demikian kita harus betul-betul faham seluruh isi Al-Quran dan faham seluruh Hadits Nabi padahal kita semua tidak ada yg pernah tau berapa juta jumlah Hadits nabi, kita manusia yg terbatas dan hanya bisa mengamalkan Islam dg terbatas pula maka benarlah ketika Rasul bersabda bahwa orang Islam di ahir zaman bisa selamat walaupun hanya mengikuti Islam 20% saja.
#8. Dikirim oleh Fatur rafael pada 28/01 02:20 PM

Kabayanis menulis; @ fatur rafael…
ummat sekarang susah mengikuti 100% ajaran rasul....karena belajarnya dari kitab2 yang ditulis oleh seorang manusia walau dalam kapasitas seorang ulama sekalipun ....beda hal nya dengan sahabat-sahabat rasul...tabiin ..dan tabiin tabiin… mereka belajar, beriman dan melaksanakan ajaran Rasulululloh dari fenomena “Living Al-Qur’an” dengan tidak bergantung 89% kepada bahasa2 tulisan. Mereka saat itu belajar dan mengamalkan agama melalui uswah, yaitu segala tutur kata, prilaku, pemikiran, dan segala sesuatu tanpa terbiaskan sedikitpun oleh makna tertulis dari untaian tulisan.... maklum saja metode yang dikembangkan oleh Yang Maha Pengasih adalah melalui Paradigma “UMMI” yaitu suatu bentuk kecerdasan fitriah yang tidak bergantung pada bahasa tulisan yang dapat menimbulkan multitafsir atas makna tertulis yang ditulis orang seorang manusia lainnya… walaupun pada masa rasul “sebenarnya” telah berkembang pesat budaya litera yang dimulai ketika jaman Nabi Isa Al-Masih. Tentu salah satu keunggulan dari kecerdasan UMMIYIN tersebut adalah terjauhkannya ummat dari liberalisasi faham akibat beda penafsiran makna tertulis dari suatu ayat.... Maka nikmatilah wahai rafael....engkau terjebak faham beragama hasil menafsirkan untaian-untaian tulisan tanpa tergugah Qolbu anda untuk menunaikan hak “fuad” untuk menerima rasa dan karsa yang tak mungkin tergambar utuh oleh untaian tulisan..... dan nikmatilah kesombongan akibat berani menafsirkan makna tertulis versi apapun.... karena kera dimanapun demikian adanya walau orang jawa menyebutnya “ketek”...orang sunda nyebutnya “lutung” orang inggris nyebutnya “monkey” padahal kalau di-Iqro dengan Mata, telingga dan “Fuad” secara simultan maka kera adalah kera sebagaiman kita lihat dengan seluruh panca indra yang tidak mungkin fenomena utuhnya tersebut diuraikan dalam bentuk untaian tulisan.... Pendek kata Sunatulloh telah berlaku di muka bumi ini, yaitu Manusia yang digelari Al-Amin yang ditugasi menyempurnakan dienul Islam adalah seorang “UMMI” bukan seorang fatur rafael yang jago baca tulisan doang...wang.... maka pantas aja melegalkan perbedaan faham, mazhab, golongan, aliran, fikroh, dan akhirnya kepentingan politis.. yang memicu perpecahan ummat dan melahirkan generasi muslim yang seibarat buih di laut dan melestarikannya terus diombang-ambing gelombang.... BEWARE THE REDUCTIONIST MUSLIM
#9. Dikirim oleh kabayanist pada 28/01 05:17 PM

Rafael menulis; Makasih mba Aryanti Palupi,..kang Kabayan kayanya yg melegalkan adanya keberbagaian Madzhab bukan cuma Fatur rafael deh, Fatur hanya mengutip dr berbagai sumber yg Fatur ketahui dan itu adalah merupakan sebuah keniscayaan yg tidak dapat di pungkiri. Umar bin Abd Aziz, Hasan Bashri, Junaid Al-baghdadi, Yahya bin said dan Rabiah Adawiyah mereka itu adalah tabi’in lho tp mereka tidak memungkiri adanya berbagai corak keislaman. Jika kang kabayan adalah penganut Islam yg betul-betul murni 100% seperti Islamnya Rasulullah dan para sahabat, tentu Fatur ingin belajar pada anda karena bagaimanapun Fatur ingin juga memiliki Islam yg sempurna tetapi mungkinkah itu kang Kabayan? Sementara dalam sejarah sahabat, tabi’in dan tabi’ tabi’in yg pernah Fatur baca tidak ada seorangpun yg bernama Kabayan termasuk di dalamnya. kang Kabayan, Fatur memang gemar membaca doang wang karena dengan membaca maka Fatur jadi tau sedikit tentang Islam, bukankah kang Kabayan juga tahu tentang adanya Islam yg kang Kabayan anggap telah di reduksi oleh para ulama, juga dari membaca?

Yang terahir, Fatur pernah baca dan belajar adanya Hadits Rasul yg berbunyi “Innakum fi zamanin man ‘amila minkum ‘usyro ma umiro bihii halaka, tsumma ya’-tii zamanun man ‘amila minkum bi ‘usyri ma umiro bihi naja.” sesungguhnya kalian berada pada zaman dimana jika kalian mengamalkan sebanyak 80% dari ajaran agama maka kalian akan tetap celaka, kemudian nanti datang suatu zaman jika diantara kalian hanya bisa mengamalkan 20% saja dari ajaran agama, kalian akan selamat. (HR Tirmidzi dr Abu Hurairah dalam buku Al-Fitan Hadits ke 192). Bagaimana Hadits ini menurut anda kang Kabayan? trimakasih, mohon maaf bila terlihat kasar.
#16. Dikirim oleh Fatur rafael pada 29/01 10:29 PM

Kabayanis menulis; Islam harus dibedakan dengan penganutnya yaitu muslim....muslimin...muslimat.... saking PD-nya berabab-abab “berislam” dari hasil ekstrasi makna literal… Ummat sekarang sudah tidak bisa dan tak mau jujur untuk membedakan dirinya adalah muslim dan islam adalah dinul Islam sebagaimana kemurniannya tetap terjaga 100%. Tapi itu masih dalam koridor kemanusiawian..... Apa sebab semacam fatur tak lekang tuk tau bahwa dirinya adalah muslim 30% misalnya???...karena kitab2 yang dibacanya tak mungkin menuntun “fuad” dalam dirinya tuk “membaca” fenomena Dinul Islam 100% murni yang kemurniannya tak mungkin hanya dijangkau nalar hasil bimbingan literal-literal kitab kuning ...hijau..atau warna apalah.... apalagi adanya klaim bahwa ulama adalah mata air suci tentang Islam.... maka islamlah yang dilebur harus manut kepada ulama.... bukan sebaliknya… jadilah fatur berani mencak-mencak kaya diuraikannya.... pendek kata tak bisa lagi mencerna pengetahuan tentang fenomena dinul Islam yang tetap murni tak bermazhab, berfikroh, berorganisasi-organisasian...karena fatur dkk membatasi dirinya bahwa yang betul-betul sumber islam yang haq itu adalah yang berasal dari kitab2 hasl karya para ulamanya.... wah hebat donk.... sekiranya ulama yang mengukir untaian tulisan dalam kitabnya lahir pasca tabiin tabiin… maka kita bisa pastikan bahwa para tabiin..sahabat rasul… bahkan rasul itu sendiri adalah kurang murni dalam berislam.... karena meraka hidup sebelum ulama2 yang nulis kitab yang disahihkan oleh fatur dan kawan2.... duh sangat muliakah ulama yang dianut fatur?..... sehingga curahan pikiran dan tulisannya mampu menghapus fenomena berislam ala rasul dan sahabatnya yang tak lekang jaman terus murni hingga akhir jaman...tak mengenal mazhab, fikroh, aliran ...bahkan tak mengenal NU sekalipun.... padahal sehebat-hebatnya tulisan ulama paling afdhol mereka adalah pewaris para nabi.... ya kalo pewaris generasi pertama… tetapi gimana jadinya jika ulama tersebut pewaris generasi ke-100.... pasti sisa warisannya tak sebesar ulama generasi pertama.... tapi tak apalah ...proses hidup yang kabayan dan nenek moyang kabayan tempuh tetap belum mau mengakui bahwa muslim yang menyatakan dirinya demikian adalah karena belum “kaaffah” sehingga menjadi penista terhadap ajaran yang dianutnya walau hal itu pasti tidak akan diakui dan dirasakannya karena “taklid’ yang sudah menjadi hukum wajib dalam ber"NU"....kabayan sih pinginnya kita semua jujur .... bolehlah ummat NU adalah NU murni tapi harus tetap jujur bahwa mereka belum berislam sebagaima muslimin yang haq.... bolehlah ummat wahabi adalah wahabi murni tetapi jangan pernah mengklaim bahwa mereka adalah muslimin yang haq. Dan kabayan tentu juga berusaha jujur bahwa kami adalah penganut kabayanisme.... yang belum berhak menyandang titel muslimin yang haq karena untuk mencapai hal itu tak mungkin diusung oleh “kami” saja tanpa melibatkan ummat hanif lainnya yang berusaha masuk ke dalam islam secara kaaffah… dan tak mungkin ada muslim kaaffah… karena ke-kaaffahan hanya dapat terjelma dalam koridor “kaum” muslimin bukan individu seorang muslim.... pendeknya dalam surah al-baqoroh ditetapkan prosesnya adalah mu’min dahulu kemudian masuk islam secara kaaffah secara bersama-sama… sebagaimana rasul telah mengapainya dan begitu pula para sahabat.... JUJURLAH...WALAU KEJUJURAN ITU ADALAH PAHIT KETIKA MENGETAHUI BAHWA UMMAT NU kadarnya sekian persen dari muslimin yang haq..... dan jika baru sekian persen saja sudah “PD” dan stuck berstagnan dalam bentuk NU doang.... maka jangan salahkan Rasul yang telah menyempurnakan Dinul Islam 100% murni yang tidak pernah terbiaskan oleh budaya literal karena dibangun melalui uswah dan bukan melalui tulisan-tulisan para ulama yang kadarnya hanya sebagai pewaris nabi....
#27. Dikirim oleh kabayanist pada 06/02 06:11 PM

Rafael menulis; Baiklah.. Tidak di ragukan lagi, di tengah situasi sekarang ini di saat kaum muslimin telah kehilangan jejak sejarah dan kemudian mereka terpecah dalam berbagai macam madzhab, sekte ataupun firqah (bukan fikroh), yang semuanya mengklaim kebenaran atas dirinya sendiri dan selalu bertengkar dalam kegelapan selama beratus2 tahun, atau ketika kaum muslimin merasa takut di tengah derasnya gelombang pemikiran dan gagasan. Mereka harus kembali kepada Al-Quran dan mengikuti cara hidup kaum muslimin generasi sahabat Nabi.

Para sahabat memang bisa memahami pesan Islam tanpa bantuan fiqih, tasauf, filsafat dan unsur2 agama lainnya yg baru timbul setelah masa pewahyuan berahir. Namun, tetap saja akan ada pertanyaan yang akan selalu mengusik hati yaitu kepada Al-Quran dan sahabat yang mana kita harus berpegang? Apakah kita harus berpegang kepada Al-Quran yang di gunakan di istana-istana sayyidina Utsman khalifah Ketiga yang telah menumbuhkan kembali aristokrasi dan ikut berperan dalam mengasingkan dan mengusir Abu Dzar dari kota Nabi? Atau apakah kita akan berbegang dengan Al-Quran yang di bawa Abu Dzar dalam pengasingannya hingga ia menemui kematian di gurun pasir Rabadzah dalam keadaan kesepian dan terdzhalimi? Atau apakah kita akan berpegang pada Al-Quran yang di pajang di ujung bayonet oleh Amr bin Ash demi mempertahankan kerajaan rasial dan dalam mendukung dinasti Umayyah yang membeda2kan golongan? Atau apakah kita akan berpegang kepada Al-Quran yang ada dalam dada Ali bin Abi Thalib yang kata Nabi Al-Quran akan selalu bersama Ali dimanapun Ali berada? Kepada Al-Quran dan sahabat yang mana kita harus berpegang?.

Catatan: Saya tidak bermaksud mengatakan Al-Quran lebih dari satu, yang saya maksud adalah corak penafsirannya. Saya hanya ingin menandaskan tentang ketidak benaran orang2 yang berpendapat bahwa karena para sahabat bergaul dan hidup dengan Nabi maka di antara mereka tidak ada perbedaan dalam hal pemikiran, penafsiran dan cara pandang terhadap Islam.
#30. Dikirim oleh Fatur rafael pada 10/02 08:20 AM

Kabayanis menulis; mohon maaf mas fatur.... jika kami meminjam anda sebagai korban dari literalisasi Al-Qur’an… sehingga hanya untuk ber “syahadah” (tidak hanya baca kitab al-Qur’an saja)harus merujuk kepada sahabat nabi atau ulama yang ini atau yang itu.... pendek kata ketika ayat pertama diwahyukan kepada rasululloh tak secuilpun perintah baca tulisan, walau ulama dan ahli kitab menerjemahkan “IQRO” hanya dengan arti “bacalah’ yang merujuk hanya kepada baca tulisan. Yang jelas tak termaktub sedikit pun untaian ayat pertama yang diturunkan via malaikat jibril dalam bentuk untaian tulisan. Dan jika kita mau ber-hanif ria dengan didukung kesabaran.... maka serta merta kita akan terbimbing bahwa perintah “IQRO” bukanlah semata-mata diartikan baca tulisan.... Tetapi mau gimana lagi… rentang waktu pembiasan Al-Qur’an oleh penganut budaya literal telah sedemikian massive. Seakan tidak sah jika seseorang mengetahui dan bersyahadah kepada Al-Qur’an kalo tidak melalui baca “Kitab Al-Qur’an” terlebih dahulu. Sungguh tepat dalam salah satu ayat diterangkan bahwa ayat2 Alloh akan terpampang di segenap ufuk dan dalam diri manusia itu sendiri sehingga dengan demikian maka diketahuilah Bahwa “AL-QUR’AN” adalah benar..... fakta nyatanya adalah sebagaimana dirasakan atau dialami oleh orang warga indonesia yang sangat beruntung, yaitu almarhum bapak Muhtar Lubis ketika dengan seijin Alloh beliau disempatkan berjumpa dengan seorang ahli pertanian alami dari jepang yaitu tuan Masanobu Fukuoka.... pak muhtar lubis begitu tercengang ketika menyimak untaian hikmah dari mulut masanobu… karena substansi-nya berselaras dengan Al-Qur’an.... Padahal masanobu bukanlah muslim.... bahkan beliau mencerca semua agama yang diketahuinya… tetapi ketika ditanya oleh muhtar lubis apakah tahu didunia ini ada agama islam???… Masanobu berkata tidak mengetahuinya.... Bagaimana mungkin orang yang tak tahu ada agama islam tetapi dari lisannya terucap substansi Al-Qur’an??… jawabnya adalah karena Fenomena utuh Al-Qur’an awalnya bukanlah untaian tulisan… tetapi merupakan ayat Alloh yang terpampang di segenaf ufuk dan dalam kehidupan ummat manusia itu sendiri.... yang tak hanya melulu harus dibaca via kitab-kitab .... tetapi sejatinya dapat dengan mudah di"IQRO" di alam semesta ini sebagaimana dilakukan oleh masanobu sebagai ahli pertanian alami yang sumber ilmunya adalah alam raya ini termasuk fenomena manusia di dalamnya ....so ...mau bagaimana lagi???… kalo sekedar bangga dan sok benar hanya dengan bergantung dari makna tertulis???.... maka nikmatilah perbedaan penafsiran dari untaian makna tertulis yang ditulis “pasti” oleh seorang manusia yang tak mungkin terbebas dari subjektifitas ketika menuliskan untaian tulisan....dan akhirnya membiaskan fenomena utuh dari Al-Qur’an dan Dinul Islam itu sendiri. Maka Masanobu Fukuoka adalah contoh nyata di jaman mutakhir ini bahwa pengetahuan ttg Al-Qur’an tidak hanya dapat diperoleh melalui untaian tulisan saja .... Subhanalloh… Walhamdulillah Wallahu Akbar.....dengan demikian tinggallah kita ber “quantum leaf” ria.... jadikanlah untaian tulisan apapun hanyalah sebagai gerbang awal bagi kita dalam meraih pengetahuan hakiki dari suatu fenomena.... jangan sampai untaian tulisan itu membelenggu kita untuk menggapai pengetahuan lainnya yang tak bisa terjangkau hanya melalui langkah literalisasi.... Jikalau keberhasilan hidup manusia sejatinya harus bergantung kepada untaian tulisan!!!… niscaya Rasulullah yang UMMI adalah orang pertama yang kesekian yang akan tak berdaya dalam meraih sukses hidup di dunia ini… tetapi Subhanalloh ternyata sebaliknya… rasul secara tak terbantahkan Ke-UMMI-annya adalah seorang yang diutus untuk menyempurnakan Dinul Islam.... Wallahu ‘alam
#39. Dikirim oleh kabayanist pada 26/02 05:34 PM

Rafael menulis; Kang Kabayan yg baik, mungkin selamanya kita akan terus berbeda pendapat dan ini adalah sesuatu yg wajar2 saja. Pendapat saya bisa benar dan juga bisa salah, demikian juga dengan pendapat yg lainnya, di dunia ini memang tidak ada satupun pendapat yg tidak bisa di bantah oleh pendapat lainnya, jadi, tetaplah hanya Tuhan Allah dzat ingkang murbeng wiseso saja yg merupakan kebenaran mutlak dan abadi, Kita semua sebenarnya lemah, ringkih dan terbatas sehingga terus meraba2 dalam menggapai kebenaran yg hakiki. Oleh karena menyadari hal itu, saya kerap melazimkan istighfar, meminta pengampunan pd Tuhan atas segala pemikiran, perkataan dan perbuatan yg tidak sesuai dgn kebenaran yg di maksud Tuhan. Bukankah di dalam istighfar ada pengakuan bahwa kita lemah dan terbatas? Bukankah dalam istighfar ada ma’na tersirar tentang sebuah kepatuhan dan ketawadhu’an? Hasbunallah wani’mal wakiil.

Saya berharap mudah2an di suatu hari kelak kita bisa bersua di alam nyata, di alam nyata kita bisa berdialog dengan lebih jujur, terbuka dan bebas dari segala kepalsuan. Saya sering membayangkan duduk berhadapan dgn anda lalu kita berdialog, berdebat sekeras2nya atau berbicara tentang apapun sambil menyeruput kopi bersama, sesekali di iringi derai tawa riang. Ya, betapapun pendapat kita berbeda 417 drajat tp kita tidak harus memungkiri kalo kita sebenarnya adalah masih 1 keluarga besar dalam rumah tangga Tuhan yg sudah sepatutnya tetap saling mencintai, menghormati dan memaafkan. Mari kita saling memaafkan dalam hal2 yg kita tidak sepakat atasnya dan saling mendukung dan membantu dalam hal2 yg kita sepakati.

Ahir kata, saya ingin mengisahkan pada anda kang Kabayan, sebuah cerita tentang seorang Nabi yg bernama Ibrahim AS. Setiap hari, ketika Ibrahim akan makan pagi, terlebih dahulu mengundang orang2 untuk makan bersamanya. Di suatu pagi yg cerah, datang ke rumah Ibrahim seorang Majusi untuk ikut makan bersama Ibrahim, tetapi Ibrahim menolak orang Majusi itu dgn alasan apa yg di hidangkannya hanyalah untuk di makan oleh yg muslim2 dan hanif saja, akibat penolakan Ibrahim orang Majusi tersebut pulang dgn perasaan penuh kecewa. Selang beberapa saat, Tuhan menegur Ibrahim, wahai Ibrahim; apa hakmu menolak memberi makan Majusi itu? Bukankah Aku yg maha besar, maha kaya dan maha benar tidak pernah pilih kasih untuk memberi rizki pada siapapun tak terkecuali Majusi itu? Bukankah rizki yg ada padamu adalah Aku yg memberi? Mengapa hanya di monopoli untuk dirimu dan kaummu saja? Dengan kejadian itu, Ibrahim menjadi lebih terbuka dan tidak lagi memandang orang untuk diajak makan bersamanya. Atas kebenaran dan keabsahan cerita Ibrahim itu, terserah pada pilihan anda untuk mempercayainya atau tidak. Saya sendiri percaya kalau cerita itu adalah benar dan pernah terjadi.
#40. Dikirim oleh Fatur rafael pada 28/02 09:47 AM

Kabayanis menulis; Pertama kabayan mohon maaf.... kabayan sadar sepenuhnya bahwa apapun takwil dan tafsir dari semua wacana di forum ini ....sejatinya ditulis oleh seorang manusia “siapun dia” pasti mempunyai subyektifitas.... maka sejujurnya kabayan tak ingin ada yang mempercayai dan menshahihkan untaian tulisan yang dirilis kabayan… kalo tanpa tabayyun kepada fenomena utuhnya di alam nyata.... Keterbatasan untaian tulisan inilah yang sejatinya ingin kabayan wanti-wantikan.... jangan sampai kita keliru melihat fenomena “kera” akibat orang sunda menuliskanya dengan untaian kata “lutung"… orang jawa dengan untaian kata “ketek” dan orang inggris menuliskan kata “monkey”. padahal digunjingkan sehebat apapun… didebat-kusirkan semalam suntuk pun… si kera adalah kera yang dapat kita “IQRO” fenomenanya secara utuh di alam nyata.... dan bahkan mungkin dia sedang terbahak-bahak menertawakan manusia seperti kita gara2 mempermasalahkan suatu untaian tulisan tentang dirinya… akibat adanya perbedaan ungkapan literal semata.... pingin tahu kera sesungguhnya mah tinggal lihat bersama-sama di alam nyatanya dengan segala panca indra walaupun tidak dijelmakan secara literal-pun ternyata sang kera adalah sang kera itu sendiri.... semoga semua ini adalah ibroh terhadap Agungnya Sunatullah atas ke-UMMI-an Rasululloh yang tak perlu lagi ditafsiri dengan pemaknaan “Buta Huruf” tetapi lebih tepat jika dimaknai sebagai “suatu kecerdasan manusia yang tidak sepenuhnya bergantung pada budaya literal” karena untaian tulisan (literal) akan berpotensi melahirkan makna multi-interpretasi dengan efek globalnya adalah memecah-belah pemikiran ummat dan menjauhkannya dari ke-Rahmat-an Dinul Islam..... Wassalam
#41. Dikirim oleh kabayanist pada 02/03 06:20 PM

KOMENTAR TAMBAHAN

Setuju, Mas Fatur Rafael.
Tidak ada itu yang namanya Islam murni dan Islam sesat. Setiap individu yang mengaku Islam punya pemahaman sendiri tentang Islamnya, dan itu sunnatullah. Kenapa harus dipermasalahkan? Ada yang percaya Imama Mahdinya sudah datang dianggap sesat. Ada yang salat dengan bahasa jawa dianggap melenceng. Orang bebas memilih jalan yang dianggap paling pas dengan hatinya untuk bersama dengan Yang Maha Sempurna. Kalau memang sebuah metode tertentu dianggap paling bisa mendekatkan dirinya dengan Sang Pencipta, kenapa kita harus pusing? Itu kan urusan yang bersangkutan dengan Allah. Biarlah Allah saja yang menjadi hakim atas semuanya. Kita jangan sampai menyerobot jabatan Allah sebagai hakim.
#13. Dikirim oleh ariyanti palupi pada 29/01 02:44 PM

Mas Fatur Rafael,
Kalau saya pikir, kemungkinan hadis itu maksudnya adalah anjuran agar kita jangan sampai berlebihan dalam beragama. Menganggap pemahaman mayoritas tentang Islam sebagai satu-satunya Islam yang benar, apalagi kalau sampai mengatakan orang lain “sesat” karena sedikit berbeda dari anggapan arus utama itu tadi kok keliatan seperti tindakan yang berlebihan. Allah sendiri mengecam keras segala tindakan yang berlebihan, dan saya pikir beragama juga tidak luput dari hal ini. Jadi, yang hanya bisa mengamalkan 20% itu tadi kemungkinan adalah mereka-mereka yang tidak berlebihan dalam beragama. tentang apa yang dimaksud “berlebihan” itu sendiri saya rasa juga tergantung tiap individu yang datang dari berbagai latar belakang pengalaman hidup yang berbeda-beda. Saya teringat ucapan teman saya yang menganut aliran Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, bahwa semakin kita ngotot untuk mempertahankan keyakinan bahwa kita paling benar, dan yang lain salah, semakin kita jauh dari Yang Maha Sempurna, semakin kita melupakan esensi dari keberagamaan itu sendiri. Saya mengklaim diri saya sebagai seorang Muslim, tapi saya hanya bisa memaknai Islam berdasarkan pengalaman hidup saya yang bisa salah bisa juga benar. kita tidak akan pernah tahu mana Islam yang “murni” itu, kalau memang ada. kita hanya bisa tahu, Islam kita masing-masing, karena masing-masing individu tidak ada yang sama. kita diciptakan secara unik oleh Tuhan, Sang Maha Kreatif. Jadi alangkah anehnya kalau kita “menyesatkan” orang lain hanya karena mereka berusaha untuk jujur dengan keunikan mereka sendiri. Hanya pada Sang Maha Benarlah kebenaran mutlak itu berada. Kita dikaruniai akal dan hati dalam beragama, dan saya pikir meletakkan kebenaran agama di atas kehendak Allah untuk menjadikan agama itu sendiri sebagai rahmat bagi seluruh alam semesta kok agak absurd bagi saya. Tapi itulah pandangan saya, mungkin ada yang tidak setuju. tidak apa-apa. itulah hidup. Sudah kehendak Allah kayaknya.
Selamat ultah NU, semoga bertambah dewasa dalam menyikapi perbedaan, dan dapat membawa Islam ke arah yang mendewasakan, bukan meninabobokkan. Semoga Allah memberi pentunjuk.
#21. Dikirim oleh Ariyanti Palupi pada 02/02 10:59 AM

Kadang saya masih heran ada saja orang yang mengklaim 100% sesuai dan pas tak kurang dan tak lebih menjalankan islam seperti yang dijalankan Rasulullah dan hebatnya mereka mengklaim lagi langsung belajar dari Al Qur’an dan al hadist dan selalu mengesampingkan produk produk ulama sebagai sesuatu yang literal kata kabayanist. Mampukah kita dengan modal ilmu agama yang pas pasan menafsiri alquran dan alkhadist? Begitu angkuhkah kita mengesampingkan karya karya ulama sebelum kita yang notabene bersumber dari alquran dan alkhadist dengan cara kita langsung dari sumbernya yang masih mentah? Kalau hanya klaim-klaiman lalu siapa yang menilai bahwa kita yang paling pas dan sesuai dengan kanjeng nabi? Dan ternyata pula wahabian pun merujuk juga pada karangan karangan ulama cuman ulama ulama wahabi saja jadi apa bedanya?
Saya sangat setuju dengan pandangan mas fatur rafael dan tidak setuju dengan cara pandang kabayanist,bolehkan berbeda pendapat?
Akhirnya Selamat atas hari lahirnya NU semoga bisa menjadi benteng terhadap gempuran wahabi di indonesia dan tetap menjadikan islam rahmatan lil’alamin
#23. Dikirim oleh taufiq pada 03/02 03:22 PM

Mas Fatur
analoginya mungkin seperti ini :
andaikata Mas fatur rafael mau naik haji, jelas dong anda akan naik pesawat, cepat, praktis dan disesuaikan dengan masa kini, tapi ada orang yang bersikukuh beribadah sesuai dengan cara nabi persis 100 %, maka karena onta yang ada di indonesia tidak bisa berenang membawa dia ke mekkah, maka dia bersikukuh untuk menaikkan ontanya ikut naik pesawat menuju ke mekkah.

Mas fatur, berjalanlah terus.. tidak perlu konfirmasi dengan orang yang bersebrangan,karena tidak akan ketemu dan membuang energi,memang kita belum tentu benar dan orang lain yang bersebrangan belum tentu salah,tapi yang pasti diantaranya sudah berbeda persepsi, semoga kita semua termasuk dengan kawan2 kita yang berbeda dan bersebrangan secepatnya menemukan kebenaran.
#32. Dikirim oleh ardianto pada 13/02 01:12 PM

Kepada mas “kabayanist”,
kalau kita mau berkeras hati mengikuti setiap jengkal tindak tanduk nabi dan para sahabatnya dalam berislam yang kata mas kabayanist “murni” 100%, kok sepertinya kita akan hidup di jaman 1400 tahun yang lalu. Islam itu hidup, mas kabayanist, bukan benda mati yang bentuk dan rupanya sama dari abad ke abad. Kalau kita mau mengesampingkan pentingnya ide materialisme historis, termasuk dalam menelaah Islam, berarti kita telah menjadikan islam itu seperti batu. Keberadaan mahzab-mahzab atau pikiran-pikiran yang lahir untuk memahami Alquran tentu saja tidak bisa terhindarkan karena manusia dilahirkan dengan keunikan dan pengalaman hidup yang berbeda-beda, dalam masa-masa yang berbeda pula, dan itu semua akan mempengaruhi cara pandang manusia tersebut terhadap sesuatu, termasuk Alquran. Kalau mas Kabayanist mengandaikan adanya satu Islam saja yaitu islam “murni 100%” seperti kata mas Kabayanist, kok saya pikir kita seperti memaksakan untuk beranggapan bahwa setiap kepala yang ada di bumi ini diciptakan sama persis sebangun dan seruang oleh Allah, yang notabene tidak mungkin, karena sifatnya yang Maha Kreatif, Allah itu menciptakan setiap kepala tadi dengan keunikan yang luar biasa. jadi kalau mau menganggap kerja pemahaman setiap manusia ini bisa dan harus sama, jangan-jangan kita sudah bersikap angkuh tidak mau mengakui sunnatullah bahwa perbedaan-perbedaan itu ada dan akan selalu ada. Tinggal kita bagaimana menyikapi perbedaan-perbedaan tersebut tanpa menyebut pihak lain Islamnya cuma 30% hanya karena kita merasa Islam kita 100%. Bukan begitu, mas kabayanist?
#33. Dikirim oleh ariyanti palupi pada 13/02 10:30 PM

Minggu, 22 Februari 2009

Tuhan masih mengasihi saya

Kawan-kawan, friend's, ikhwan...Tahukah kalian tempat di mana saya kini tinggal dan berpijak? Saya kini tinggal di pesantren, di sebuah tempat yang jauh dari bising kota dan keriuhan pesta manusia modern. Sunyi, senyap dan seperti tiada berperadaban. Gambaran alam di sini dengan letak geografis yang jalanannya menanjak terjal, menurun curam, sebelah sini tebing dan sebelah sana jurang. Jika malam menjelang tiada terdengar oleh telinga saya kecuali suara-suara aneh dari sejumlah binatang yang tak saya mengerti bentuk dan wujudnya, mata saya pun tidak dapat melihat apapun kecuali gelap, gelap dan gelap.

Kawan..persis di samping kamar yang biasa untuk saya istirah, berdiri dengan kokoh, garang, dan angkuh, tebing yang tinggi menjulang. Selalu ada rasa takut dalam hati ini karena ahir-ahir ini curah hujan intensitasnya begitu tinggi, tiada hari berlalu kecuali sang hujan selalu membasahi bumiku. Sering saya lihat butir-butir tanah dalam jumlah yang besar luruh dari atas tebing bersama derasnya air hujan, saya sebenarnya selalu tidak berani untuk berfikir terlalu jauh, tapi jika saya sedang merenung sendirian, tetap saja terlintas di fikiran "Andai jika tebing itu runtuh" lalu menimpa kamar saya ketika saya sedang berada di dalamnya, O my God, tamatlah riwayat hidupku. Tapi tidak, insya Allah, Tuhan yang maha kasih dan maha adil tidak akan memberhentikan hidup saya dengan cara setragis dan sekonyol itu. Amien.

Ada beberapa kawan yang kaget dengan keberadaan saya kini di sini, di tempat yang seolah-olah antah berantah ini. Mereka mengeluhkan susahnya berkomunikasi dengan saya. Email jarang di balas, SMS lama terkirim, suara telephon terputus-putus, kadang nyambung tapi dengan suara yang tidak jelas dan bikin sebal telinga. Saya juga tidak kalah bingung dengan kawan-kawan itu, di sini sinyal HP adalah sesuatu yang sangat susah di dapat, sinyal GPRS lebih parah lagi kondisinya, di sini tidak ada WARNET punya adik saya, tempat yang biasa saya duduk di dalamnya selama berjam-jam dua kali dalam seminggu, di sini tiada GRAMEDIA, tempat yang biasa saya kunjungi demi melipur dahaga kebodohan saya satu kali dalam seminggu, di sini tiada GRAGE MALL, tempat yang biasa untuk saya dan adik-adik saya berbelanja berbagai kebutuhan untuk di konsumsi pada bulan selanjutnya. Meski bingung dan tersiksa tapi saya selalu menyadari bahwa kedewasaan tidak akan di dapat kecuali setelah melalui bebagai ragam pengalaman hidup. Yah saya ada di sini dalam rangka proses pendewasaan diri sekaligus "Penuaan diri", mungkin.

Kawan..Saya adalah orang yang terbiasa berfikir kritis, bebas, namun tetap toleran pada beragam pendapat. Kini harus berkumpul di pesantren salaf (totok) dengan orang-orang yang berfikiran kolot dan fanatik yang tidak memandang kebenaran kecuali hanya ada pada tata cara mereka dalam hal ibadah pada Tuhan atau lainnya, akibatnya tiada hari saya habiskan kecuali untuk berdiskusi, berdialog dan berdebat memberi sedikit pengertian pada mereka bahwa di luar sana, walaupun mereka menjalani ibadah tidak seperti yang ada di sini tapi yang namanya kebenaran pasti akan tetap ada bersama mereka. Saya ma'lum, orang-orang di sini begitu fanatik terhadap apa yang mereka yakini karena mereka berhati-hati terhadap ajaran yang di anutnya dan semata-mata karena ingin kepatuhannya pada Tuhan tidak ternoda oleh apapun. Namun sayangnya, orang-orang yang berhati-hati dalam satu hal ternyata belum tentu berhati-hati dalam hal lainnya kaitannya dengan anggapan bahwa ibadah orang lain yang tidak sama dengan mereka adalah salah. Di sinilah letak ketidak sepakatan saya dengan mereka, saya menganggap tidak ada masalah dengan cara ibadah mereka tapi pada saat yang sama mereka kerap menyalahkan dan mencurigai tata cara ibadah saya yang sedikit berbeda dengan mereka.

Satu hal yang saya kagumi dari mereka adalah kebersahajaan mereka dalam menjalani hidup. Hidup apa adanya tanpa hiburan yang muluk-muluk seperti adat masyarakat kota, tidak ada anak-anak kecil yang riuh membicarakan PS yang baru saja di mainkan seperti kerap saya jumpai pada celoteh anak-anak perkotaan, masyarakat sini seolah-olah menjalani hari-hari yang begitu monoton dan membosankan tapi tetap tiada melupakan rasa syukur pada Tuhan Pencipta alam.

Kawan..Tuhan masih mengasihi saya, karena betapapun sulit ku bayangkan hidup mereka, tapi masih ada orang yang berjiwa malaikat yang tanpa bosan menanggung makan sehari-hari untuk saya walaupun dengan menu sangat sederhana dan seadanya. Jika anda ada di sini jangan pernah anda membayangkan akan menemukan burger, pizza, atau jenis makanan aneh lainnya yang mudah di dapatkan di kota. Saya mengenal beberapa jenis makanan di sini dengan nama yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya yang merupakan simbol dari kebersahajaan masyarakat di sini. Pernahkah anda mendengar jenis makanan yang bernama ONDOL, OBANG ABING atau SIMPRING kawan? Tentu belum pernah mendengar bukan? Pernahkah anda makan sup yang sayurnya terbuat dari batang pohon kelapa? Jika belum berarti dalam hal makanan ternyata saya lebih maju daripada anda kawan, sebab selain makanan antah berantah itu sayapun pernah merasakan berbagai macam makanan modern yang pernah ada.

Satu lagi cerita yang ingin saya kabarkan pada anda kawan, anda pernah mendengar sebutan KIYAI bukan? Nah, inilah pangkal dari semua kerisauan saya. Para santri dan masyarakat di sini meski tidak sampai pada taraf menTUHANkan kiyai, tapi tindak tanduk terhadapnya sangat jauh berbeda di banding jika dengan tindak tanduk terhadap orang biasa sekalipun umurnya begitu tua. Bagi saya, menghormati kyai karena dia adalah orang yang punya kelebihan agama adalah wajar dan sah-sah saja, namun jika harus tunduk dan pasrah secara total tanpa kita dapat membantahnya, tidak boleh berbicara sebelum kiyai bicara dulu, harus duduk di lantai sementara kyai dengan santai duduk di atas kursi, tidak boleh ada yang berkhotbah di mimbarnya kecuali dirinya dan jenis-jenis aturan yang lainnya yang menggambarkan pada kepatuhan total padanya, hal-hal seperti ini yang tidak bisa saya terima. Jangankan terhadap sesama manusia, terhadap Tuhanpun sebetulnya manusia tidak di haruskan untuk patuh secara total, adalah wajar jika sesekali kita membangkang atau berdosa asal setelah itu kita bersimpuh kembali di hadapan kemahabesarannya, bukankah dalam sebuah Hadits Qudsi Tuhan berfirman; lau lam tudznibuu ladzahaballahu bikum, waja-a biqoumin yudznibuun. Jika sekiranya kalian sama sekali tidak pernah berdosa, maka Aku (Tuhan) akan memusnahkan kalian dan menggantinya dengan kaum yang berdosa. Usut punya usut ternyata rintihan taubat orang-orang yang berdosa, begitu merdu terdengar di telinga Tuhan.

Senin, 16 Februari 2009

Nasib Al-Quran pada zaman ini

'An Ibn 'Umar RDA; qöla Rasulullahi SAW, inna hadzihil qulub tashda-u kama yashda-ul-hadidu idza ashabahul-maa', qiila ya Rasulallah wamaa jilaa-uha? Qoola; katsrotu dzikrul-maut wa tilawatul-Qur'an.
Dari Abdullah bin Umar ra, meriwayatkan, "Sesungguhnya hati ini dapat berkarat sebagaimana berkaratnya besi bila terkena air."Rasul di tanya, wahai Rasulallah, bagaimana cara membersihkannya? Rasul menjawab, perbanyaklah mengingat mati dan baca Al-Quran. (HR Baihaqi)

Bertumpuknya dosa pada manusia dan lalai dari mengingat kemahabesaran Tuhan bisa menjadi sebab berkaratnya hati sebagaimana besi jika terkena air. Maka untuk membersihkan segala karat yang ada di hati bisa di lakukan dengan cara banyak mengingat mati dan membaca Al-Quran. Hati ibarat kaca, semakin sering di bersihkan, hati akan semakin bersinar dan mudah menerima segala kebaikan dan kebenaran.

Sebaliknya, jika manusia tetap terkungkung dalam lingkaran nafsu dan perbuatan-perbuatan tercela, maka akan semakin jauh dari Tuhan dan rahmatnya. Berkaitan dengan pembersihan hati, banyak di antara guru sufi yang mengarahkan murid-muridnya supaya menggunakan waktu sebaik-baiknya dengan berzuhud dan memperbanyak baca Al-Quran dan mentadabburi ma'na yang terkandung di dalamnya.

Di sebutkan dalam suatu hadits, jika seseorang melakukan sebuah dosa, maka akan tertitik di hatinya satu noda hitam, jika seseorang itu bertaubat, titik hitam akan sirna, tetapi jika orang itu melakukan dosa kedua, noda hitam akan bertambah, apabila dosa terus di lakukan noda yang tadinya sedikit akan bertambah banyak dan pada puncaknya hati akan menjadi hitam kelam. Seseorang, jika hatinya sudah begitu kelam akan sulit untuk cenderung pada kebaikan dan akan tertutup baginya segala kebenaran.
Berkenaan dengan hal ini Tuhan berfirman; "Kallä, bal räna 'ala qulübihim mä känü yaksibün."Sekali-kali tidak, sebenarnya apa yang telah mereka perbuat telah menjadikan karat pada hati mereka. (Q surah Al-Muthaffifin ayat 14).

Nabi suci Muhammad SAAW bersabda, "Saya tinggalkan untuk kalian dua nasihat; satu yang berbicara dan satu lagi yang diam. Yang berbicara adalah Al-Quran dan yang hanya diam adalah mengingat mati."Orang yang cenderung pada kebenaran sudah barang tentu akan dengan senang hati menerima nasihat ini, akan tetapi orang-orang yang menganggap bahwa agama tidaklah penting dan berguna maka dia akan mengabaikan nasihat seperti ini yang di anggapnya sebagai sesuatu yang tidak masuk akal.

Generasi Islam pada zaman sahabat, tabiin dan tabi' tabi'in meyakini bahwa Al-Quran adalah firman Tuhan yang sebagiannya berisi tentang perintah, mereka membacanya sepanjang malam dan memikirkannya, kemudian di ejawantahkan dalam hidup sehari-hari. Sedangkan pada masa sekarang, walaupun masih banyak orang mempelajari Al-Quran tapi hanya sebatas pada huruf-hurufnya saja, syiar Al-Quran memang masih terus bergaung tetapi hanya sebatas untuk MTQ. Generasi Islam sekarang sudah begitu banyak yang tidak lagi menganggap Al-Quran sebagai landasan hidup yang akan bisa memberi kebahagiaan dan keselamatan bagi mereka.

Al-Quran hanya menjadi pajangan usang ruang tamu, terasa berat bagi tangan mereka untuk mengambilnya terlebih membuka dan membacanya. Sinyal dari Nabi yang mengisyaratkan bahwa di ahir zaman kelak agama hanya tinggal nama dan Al-Quran hanya tinggal tulisan nampaknya akan segera terbukti.

Selasa, 10 Februari 2009

Lonceng di masjid itu..

Tak terasa malam kini telah begitu larut.

Lonceng di masjid itu membunyikan suaranya dua kali, teng..teng.. berarti waktu telah menunjukkan pukul dua dini hari.

Tanpa sadar, berarti diri telah berkelana di dunia maya lebih dari enam jam. Yah enam jam yang begitu melelahkan, mengarungi dunia yang seolah tanpa batas, melewati berbagai kecamuk gagasan yang tak terkendali, menghadiri ide-ide yang mengganas buas, menyambangi segala teriakan keputus asaan yang menista sukma.

Ada mata yang mengunang nanar, taring yang menyeringai, gigi yang gemeretak, tangan yang mengejang terkepal, dada yang mendidih gemuruh, hati yang teraduk tercabik.

Hingar bingar itu terus membahana lantang di telinga jiwa, menyatu padu dalam derap tak berirama. entahlah, diri terasa sedang berada di tengah peperangan, perang melawan ketiadaan, perang melawan kehampaan, perang melawan segala kegalauan.

Lonceng di masjid itu kini terdengar begitu letih, letih memberitahu manusia bahwa waktu kan terus beranjak, betapapun manusia tetap diam tiada peduli.

Lonceng di masjid itu telah lama menghiasi malam-malamku yang sepi, menjadi teman setiaku dalam merajut rasa, melamun asa, memendam cita.

Lonceng di masjid itu selalu tegar berdiri di tepian masa, tak pudar meski matahari tak lagi berpendar, bulan tak lagi bersinar, suara adzan tak lagi terdengar.

Jumat, 06 Februari 2009

MUI, kita ngrokok bareng yuk!

Hari-hari ini di manapun tempat di Indonesia hampir semua orang membicarakan tentang fatwa haramnya rokok yang di keluarkan oleh MUI. saya menyaksikannya di kedai-kedai kopi, di angkot, di jalanan atau di manapun saja. Anehnya, mereka membicarakan fatwa haramnya rokok itu sambil menghisap rokoknya masing-masing, nampaknya mereka begitu asyik menikmati rokok-rokok itu. Saya juga sempat melihat seorang pemuda di antara kerumunan teman-temannya, dengan berapi-api membicarakan fatwa haram rokok sambil menghisap dalam-dalam rokoknya dan menghembuskan asapnya membentuk bulatan-bulatan kecil. Kesimpulan dari apa yang saya saksikan adalah, semuanya kurang setuju dengan fatwa haram MUI. Mereka, seperti juga kebanyakan yang lainnya tetap menganggap rokok sebagai sesuatu yang makruh saja hukumnya. Dengan gaya bicara yang cuek dan nyinyir mereka tidak menghiraukan bahkan terkesan menyepelekan fatwa haram MUI.

Sebetulnya, perdebatan tentang hukum rokok bukanlah kali ini saja terjadi, para ahli agama (Islam) dari dulu sampai sekarang tetap berbeda pendapat tentang masalah hukumnya, tapi kebanyakan mereka menghukumi rokok dalam dua kategori, makruh dan haram. Selain dari hukum yang dua itu saya belum pernah mengetahui lagi hukum yang lainnya, saya juga tidak tahu kalau misal di tempat-tempat yang jauh di zaman sekarang atau suatu hari nanti akan ada ulama yang menghukuminya wajib ataupun sunnah. Bagi saya, rokok adalah termasuk di antara masalah hukum yang tak kan pernah selesai sampai kapanpun di sebabkan tidak ada dalil di dalam Al-Quran maupun Hadits yang memberikan kepastian hukumnya.

Terlebih dahulu ingin saya katakan, bahwa saya adalah termasuk di antara orang yang tidak sepakat dengan apapun fatwa MUI, teristimewa dengan masalah rokok dan golput, tetapi, sebagai orang yang menyukai pemikiran liberal dan toleran saya tetap menghormati fatwa MUI itu sebagai bagian dari corak keberagaman pemikiran dalam lingkungan Islam, saya hanya menganggap MUI sedang bercanda dengan fatwa haramnya itu sebagai bentuk escapisme psikologis MUI dari derasnya badai kritik yang selama ini menghantam mereka.

Sebagaimana telah saya singgung diatas, para ulama berbeda dalam menentukan hukum rokok di antara makruh dan haram. Ulama yang menganggap makruh hukum rokok mengacu pada hadits-hadits yang berhubungan dengan makanan yang menimbulkan bau tidak sedap dan bisa mengganggu orang lain seperti bawang merah dan bawang putih. Bawang merah dan bawang putih adalah makanan yang tidak di sukai Rasulullah tapi beliau tidak sampai mengharamkannya. Beliau hanya menyuruh orang yang makan bawang merah maupun putih untuk membersihkan mulutnya lebih dahulu sebelum masuk ke masjid supaya tidak mengganggu ibadah jamaah yang lain. Para ulama meng-qiyaskan hukum makruh pada rokok dengan bawang mungkin di sebabkan karena kemiripan keduanya yang bisa menyebabkan gangguan terhadap banyak orang. Jika bawang di sebabkan baunya maka rokok di sebabkan oleh asapnya. Sedangkan ulama yang menganggap rokok haram biasanya di dasarkan pada manfaat dan madhorot yang di timbulkan olehnya, menurut ulama yang mengharamkan; rokok di haramkan karena efeknya yang berbahaya pada tubuh manusia, sesuatu yang di anggap membahayakan tubuh di haramkan agama karena ada ayat Quran yang berbunyi; wala tulqu biadikum ilat-tahlukah, jangan kalian menjerumuskan diri kepada kehancuran.

Sekarang mari kita sedikit menela'ah dan mengkritik mereka yang menghukumi rokok dengan predikat haram, sengaja saya tidak menelaah ataupun mengkritik mereka yang menganggap hukum rokok sebagai sesuatu yang makruh karena mungkin itulah hukum yang paling pas untuk masalah rokok, walaupun secara pribadi saya menganggap hukum rokok sebagai mubah saja, berdasar kaidah; al-ashl fil-asy-ya' al-ibahah, pada asalnya hukum segala sesuatu itu adalah mubah. Memang, hukum segala sesuatu adalah mubah jika tidak ada nash yang pasti dan qoth'i dalam Quran maupun Hadits tentang haram atau makruhnya.

Sebagai bahan renungan, saya akan mengutip Hadits Nabi yang berbunyi; ma ahal-lal-lahu fi kitabihi fa-huwa halalun, wa-ma har-rama fa-huwa haramun, wa-ma sakata 'an-hu fa-huwa 'afiah, fa-aqbalu minal-lahil-'afiah, fa-innal-laha lam yakun nasiyya, tsum-ma tala hadzi-hil-ayah; wa-ma kana rabbuka nasiyya, "Apa yang di halalkan Allah dalam kitabnya maka dia adalah halal, dan apa yang di haramkan maka dia adalah haram, sedangkan apa yang di diamkan tentangnya (tidak ada hukumnya) maka dia adalah yang di maafkan, maka terimalah pemafaan dari Allah, sesungguhnya Allah tidak pernah lupa, lalu Nabi membaca ayat: dan tidaklah Tuhanmu lupa (Q : S Maryam : 64)

Berdasarkan hadits di atas, ada 3 hukum yang bisa kita ambil untuk di jadikan pedoman. 1) adalah halal apa yang di halalkan oleh kitab Tuhan sampai kapanpun juga. 2) adalah haram apa yang di haramkan oleh kitab Tuhan sampai kapanpun juga. 3). Sesuatu yang tidak ada hukum tentangnya atau "daerah kemaafan.

Pada ahirnya akan terang benderanglah segala sesuatu jika kita melihat hadits di atas. Rokok adalah sesuatu yang tidak pernah di sebut di dalam kitab Tuhan, secara pasti berarti rokok termasuk dalam lingkaran yang berada di "Daerah kemaafan" yang Tuhan tidak pernah lupa dan akan mengetahui bahwa di suatu hari kelak akan ada sesuatu yang bernama rokok, karena Tuhan mengetahui segala sesuatu hatta tentang sesuatu yang belum dan akan terjadi tentu Tuhan akan dengan jelas mengharamkan hukum rokok dalam kitabnya jika memang rokok adalah haram.

Apakah yang di maksud "Daerah kemaafan"? Daerah kemaafan adalah merupakan ladang yang di berikan Tuhan bagi para ulama untuk mengadakan ijtihadnya masing-masing, terhadap hukum yang belum jelas halal dan haramnya dalam kitab Tuhan. siapapun, termasuk MUI, di berikan kebebasan untuk mengekspresikan pemikirannya berkaitan dengan hukum segala sesuatu yang kini berkembang, tetapi yang perlu di ingat adalah, kesimpulan dari ijtihad tidak boleh berujung pada hukum halal atau haram, karena sekali lagi, baik halal maupun haram adalah sesuatu yang sangat jelas ada dalam kitab Tuhan.

Permasalahan hukum rokok mulai timbul ketika ilmu kedokteran sudah sedemikian maju, banyak di antara dokter yang memberikan keterangan tentang bahaya penyakit yang di akibatkan asap rokok, di antaranya adalah penyakit paru-paru, jantung dan lainnya, tetapi apakah betul bahwa keterangan para dokter itu merupakan kemufakatan mutlak seluruh dokter? Saya menjawabnya; tidak! Kenapa? Izinkan saya menceritakan dulu pengalaman saya ketika saya berkonsultasi dengan seorang dokter yang spesialisasinya mendiagnosa dan mengobati penyakit dalam. Ketika saya datang ke tempat prakteknya, saya lihat dokter itu sedang merokok dan beberapa saat setelah habis dia mengambil lagi sebatang rokok baru untuk di nyalakan lagi. Saya heran dan bertanya padanya; dokter, saya lihat dari tadi anda tidak berhenti merokok, padahal sebagai dokter anda tentu mafhum kalau merokok itu akan mengakibatkan paru-paru menjadi hancur di samping penyakit-penyakit yang lainnya, terlebih lagi bukankah agama mengharamkan sesuatu yang akan berbahaya bagi tubuh? Dokter itu menjawab; Oh tidak betul juga itu, yang namanya penyakit tidak bisa di deteksi gejalanya oleh apa dan darimana, penyakit datangnya langsung dari Tuhan. Buktinya, saya sudah banyak mendiagnosa pasien yang paru-parunya rusak parah padahal mereka tidak merokok, saya juga banyak mendiagnosa pasien yang paru-parunya bersih padahal mereka adalah perokok kelas berat, dokter melanjutkan kata-katanya, contohnya seperti saya sendiri, saya ini adalah perokok kelas berat tapi paru-paru saya fine-fine saja, ok lah jika memang paru-paru yang rusak itu di sebabkan oleh rokok tapi itu bukanlah deteksi dari teori medis, itu hanya anggapan umum sebagian dokter saja. Dokter menyambung lagi; saya katakan pada anda tentang teori medis, anda tahu penyakit kangker kulit? Saya menjawab, iya. Nah, secara teori medis penyakit kangker kulit di sebabkan karena tubuh yang terkena sinar matahari secara langsung dan terus menerus, jika demikian, seharusnya banyak diantara petani kita yang terkena kangker kulit, para petani itu setiap hari terpanggang di bawah terik sinar matahari secara langsung, tapi belum pernah sekalipun saya mendengar atau melihat mereka terkena kangker kulit, mereka tetap segar bugar. Jadi, biar hukum itu adil, ketika merokok di haramkan, bertani juga harusnya di haramkan dong? sebab, secara teori medis kedua-duanya sangat berbahaya bagi tubuh.

Dialog antara saya dan dokter berlangsung beberapa lamanya, sambil sesekali dokter menyodorkan batang-batang rokoknya ke arah saya. Saya yang memang tidak begitu suka rokok dengan terpaksa ikut mengambil dan menyalakan rokok sebagai penghormatan atas ajakannya yang bersahabat. Tidak ada kesimpulan apapun dalam benak saya ketika saya keluar dari ruang dokter itu, cuma dalam perjalanan tiba-tiba saya ingat akan kaidah usul yang telah saya sebutkan di atas: al-ashl fil-asy-ya' al-ibahah.

Ketika pada saat ini hukum rokok marak di perbincangkan, saya jadi teringat akan dokter itu lagi, saya ingin berkonsultasi lagi dengannya, tapi karena kini saya berada di tempat yang jauh, maka keinginan saya hanyalah sebatas kerinduan. Alangkah indah jika saya bertemu dokter itu lagi, merokok bersamanya, sambil tak lupa saya berhayal mengajak MUI bersama KH Ma'ruf Aminnya, Prof Ali Mustofa Ya'kubnya dan pengurus MUI lainnya, bapak-bapak Kiyai mari kita ngrokok bareng yuk! Jangan takut, nanti saya yang traktir, bila perlu nanti pulangnya saya bawakan anda masing-masing 5 bungkus rokok sebagai persediaan untuk rokoan di rumah.

Ahirul kalam, saya yang memang tadinya tidak suka merokok dan bernitat untuk berhenti sama sekali dari segala aktivitas merokok, jadi mengurungkan niat saya. Saya cuma ingin meyakinkan diri bahwa apa yang MUI fatwakan itu bukanlah merupakan suatu kebenaran yang tidak ada keraguan di dalamnya, bahkan bisa jadi justru apa yang MUI fatwakan itu adalah merupakan kesalahan yang tidak ada keraguan padanya.

Salam manis selalu untuk MUI. By; Fatur Rafael.

Rabu, 04 Februari 2009

Ammar dan Bilal, simbol berdarah dari ketulusan cinta dan keteguhan iman

Kisah ini bermula dari seorang budak wanita hitam Abesinia bernama Sumayyah yang menikah dengan pria miskin kesepian yang bernama Yasir yang pindah ke Makkah dari kampung halamannya di padang pasir Yaman demi hidup yang lebih baik. Setelah beberapa lama waktu di Makkah Yasir mendapat pekerjaan sebagai pelayan, Yasir memberanikan diri meminta pada Sumayyah untuk menjadi istrinya, gayungpun bersambut, Sumayyah bersedia menerima Yasir sebagai suaminya. Beberapa waktu berselang dari pernikahan mereka lahirlah seorang anak laki-laki bernama 'Ammar.

Hari berlalu, bulan berganti dan tahunpun menjelang. Pada saat itu di Makkah muncul seorang Nabi baru dengan membawa ajaran baru bernama Islam, Nabi baru itu bernama Muhammad. Nabi baru itu menjanjikan segala perubahan ke arah yang lebih baik, melepaskan manusia dari segala alam jahiliyah yang telah lama mengungkung masyarakat Arab teristimewa sukunya sendiri yaitu suku Quraisy.

Keluarga Yasir merupakan keluarga yang menaruh perhatian yang mendalam terhadap Islam sejak awal penyebarannya, mereka masuk ke dalam Islam dengan kerelaan hati, cinta yang tulus dan iman yang teguh. Tiada peduli bahwa dengan masuknya mereka ke dalam Islam bahaya besar akan mengancam hidup mereka, ancaman itu datang dari Abu Jahl, Umayyah bin Khalaf dan wadia balanya yang geram dengan perkembangan Islam. Mereka mengancam keluarga Yasir dengan siksaan yang sangat berat, tujuannya adalah agar tidak ada lagi orang yang akan memeluk Islam. Ancaman itu pada ahirnya terbukti beberapa saat setelah keluarga Yasir memproklamirkan keislamannya.

Setiap hari Abu Jahl dan wadia balanya menggiring keluarga Yasir ke padang pasir panas di pinggiran kota Makkah di mana Abu Jahl akan menyiksa mereka di bawah terik matahari sampai malam menjelang. Pada setiap rangkaian siksaan yang di lakukan, Abu Jahl selalu menggunakan jenis siksaan yang baru yang lebih kejam dari hari ke hari, tujuannya adalah untuk membuat mereka menyerah dan segera berpaling dari Islam, mencaci maki dan membantah segala pesan yang di bawa Muhammad. Namun keteguhan iman dan cinta yang tulus membuat Yasir, Sumayyah dan Ammar tidak mematuhi perintah Abu Jahl dan rela terus menerus di siksa oleh para kafir itu.

Untuk membuktikan cinta yang tulus dan iman yang teguh, keluarga Ammar melipat gandakan kesabaran dalam menerima setiap siksaan yang terus menerus mendera mereka. Bagaimana Nabi melihat nasib mereka? Nabi pada waktu itu berada pada posisi yang lemah, walaupun Nabi adalah termasuk di antara anggota keluarga bangsawan Quraisy tetapi dalam menyebarkan Islam Nabi benar-benar sendiri. Karena miskin dan tidak berdaya Nabi tidak memiliki sarana pertahanan yang bisa melindungi para pengikutnya dari kebiadaban dan kedzaliman Abu Jahl dan wadia balanya. Nabi hanya bisa mendatangi mereka di waktu-waktu jeda penyiksaan untuk memberikan simpati dan dukung moral bagi mereka.

Nabi Muhammad SAAW adalah pribadi yang berahlak mulia, berperasaan halus dan tersimpan di dadanya kasih tulus Yesus Al-Masih. Sebagai seorang yang berperasaan halus, Nabi di perlihatkan contoh terbaik dari cinta yang sangat tulus dan iman yang teguh pada diri Ammar dan keluarganya dalam menghadapi tangan-tangan kejam Abu Jahl dan wadia balanya. Tetapi Nabi tidak dapat memprotes tindakan Abu Jahl dan membalas mereka dengan hukuman yang setimpal, betapa remuk jiwa Nabi kala itu. Setiap hari Nabi menyaksikan reaksi sadis Abu Jahl yang memuas siksaan pada Ammar dan keluarganya. Seolah-seolah puas dengan penampilannya, para penyiksa itu terus memberi semangat pada antek-anteknya untuk terus mendera siksaan yang lebih kejam pada pengikut Nabi. Seperti di jelaskan di atas, Nabi ada bersama mereka tetapi hanya dukungan moral dan simpati yang bisa di berikan Nabi. Dalam situasi penuh kelemahan, keputus asaan dan kesengsaraan total mereka hanya bisa berdoa pada Tuhan, berharap agar mendapat bantuan dan kemenangan segera tiba. Nabi memberi kekuatan pada hati mereka tentang janji Tuhan pada orang-orang yang mau bersabar, dan meneguhkan hati mereka dalam perlawanan terhadap para penyiksanya.

Hari demi hari Nabi menyaksikan wanita tua yang setia bernama Sumayyah, laki-laki yang juga tua bernama Yasir dan seorang pemuda yang sedang tumbuh dan dadanya di penuhi cinta tulus pada Nabi yang bernama Ammar, betapapun mereka terus menerus di dera siksaan, mereka adalah simbol berdarah bagi keteguhan iman. Mereka sama sekali tidak menunjukkan kelemahan di hadapan Nabi, selalu berusaha menyembunyikan rasa sakit dan keputus asaan mereka dan menunjukkan ketahanan diri dalam rangka pengabdian pada keimanan dan cinta yang tulus pada Nabi. Nabi sewaktu-waktu akan meninggalkan mereka dalam linangan air mata dan akan datang kembali menjenguk duka mereka di besok hari.

Kejadian terus berulang dari hari ke hari, hingga suatu hari Nabi tidak lagi melihat Sumayyah dan Yasir, tidak terdengar lagi teriakan Abu Jahl ketika menyiksa mereka. Nabi hanya melihat Ammar berdiri menunduk tidak lagi terikat tangan dan kakikinya, Nabi mendekati Ammar dan memanggilnya, tetapi Ammar semakin menunduk di hadapan Nabi, dan berusaha kuat untuk menyembunyikan wajahnya dari pandangan Nabi. Nabi heran melihat perubahan sikap Ammar yang biasanya begitu tegar dan kuat dalam menghadapi siksaan seberat apapun, kini nampak begitu lemah, Nabi berusaha mengangkat wajah Ammar dan menyuruh untuk memandang dirinya, hal ini Membuat Ammar berusaha kuat untuk semakin menyembunyikan wajahnya. Sekilas Nabi melihat air mata mengalir deras di pipi Ammar, Nabi baru menyadari mungkin Ammar telah mengalami siksaan paling kejam dan Ammar pasti telah menyaksikan kematian kedua orang tuanya di hadapan mata kepalanya akibat siksaan Abu Jahl.

Tapi walaupun tidak ada lagi penyiksaan kenapa Ammar masih berdiri di situ? Tidakkah Ammar ingin kembali ke kota dan menemui Nabi? pada saat tangisan Ammar makin menjadi, Nabi berusaha untuk menenangkan Ammar dan memuliakan nama kedua orang tuanya, memuji keteguhan imannya tetapi anehnya Ammar tidak sedikitpun hawatir terhadap nasib yang akan menimpa orang tuanya. Ammar menanggung derita yang lebih berat, Ammar berkata; wahai Nabi Allah, aku telah mengatakan sesuatu yang sebelumnya sangat aku benci. Kini jelaslah bagi Nabi, akibat siksaan yang mendera dirinya dan kedua orang tuanya, Ammar telah kehilangan kesadarannya. Sebagai manusia, Ammar pun punya perasaan dan emosi yang membatasi kemampuannya untuk bertahan. Ketika kesadarannya hilang Ammar telah mengucapkan sesuatu yang menyenangkan Abu Jahl dan mengecewakan dirinya sendiri dengan membantah Nabi, sebagai upahnya Ammar pun di bebaskan dari segala siksaan. Segala kekecewaan, kegelisahan yang di rasakannya mengalahkan rasa sakit dari siksaan Abu Jahl. Ammar berdiri sendiri menangis dalam padang pasir yang sunyi, rasa malu pada Nabi yang begitu menyelimuti hatinya membuat Ammar enggan untuk kembali ke kota untuk bertemu Nabi. Dalam kesedihan dan ketidak berdayaan, ketika tidak ada lagi dalam fikiran Ammar tempat untuk berteduh, Nabi menghibur hati Ammar; wahai Ammar, jangan hawatir terhadap apa yang engkau katakan jika hatimu sendiri tidak meyakininya, percayalah bahwa Allah maha mengampuni. Mendengar perkataan Nabi, Ammar pun menjadi gembira, bersama Nabi, Ammar kembali ke kota Makkah.

Kisah penyiksaan yang lain adalah apa yang telah di lakukan Umayyah bin Khalaf terhadap seorang budak bernama Bilal bin Abi robbah, Bilal adalah seorang budak yang masuk Islam dalam kelompok pertama, Bilal kemudian menjadi Muadz-dzin tetap Rasulullah.

Setiap hari di sebuah daerah dekat Makkah, satu kaleng air di panaskan di bawah terik matahari padang pasir. Setelah air mendidih Umayyah bin Khalaf memasukkan kepala Bilal ke dalam air itu sampai Bilal tercekik. Setiap kali penyiksa melepas tangannya Bilal berusaha menarik nafas dan mengatakan "Ahad" "Ahad" (Allah maha Tunggal), meskipun terus menerus di siksa Bilal terus menggumamkan "Ahad, Ahad". Selanjutnya jika Bilal telah kehilangan kesadaran dan hampir mati, penyiksa akan meninggalkan Bilal begitu saja dan membiarkan Bilal di cambuki oleh orang-orang yang kalap dan bodoh. Tanpa belas kasihan mereka mengganggu Bilal, menyumpahinya, menyeret tubuhnya di atas tanah seperti menyeret anjing, mereka juga tidak segan meludahi wajah Bilal. Bilal tetap berkata "Ahad, Ahad", ucapan bilal adalah simbol yang di wariskan pada generasi muslim berikutnya jika menghadapi saat-saat yang kritis.

Kisah-kisah ini menggambarkan status orang-orang yang mencintai dengan tulus Nabi Muhammad, walaupun mereka sangat menderita dan kesepian. Kisah ini juga mengabarkan pada kita tentang betapa keimanan yang teguh pada Tuhan tidak akan bisa di goyahkan oleh apapun sekalipun nyawa adalah taruhannya. Allahu Akbar wa lil-lahil-hamd.

Cirebon-menjelang subuh.