Alkisah pada suatu hari, seorang sahabat terkenal yang bernama Muadz ibn Jabal bertanya pada Rasulullah Saaw: ya Rasulallah, jelaskan padaku firman Tuhan "yauma yunfakhu fi ash-shuri fata'tuna afwaja"...Dan pada hari terompet di bunyikan, maka kalian akan datang dengan berbondong-bondong.
Mendengar pertanyaan Muadz, Nabi yang suci itu menangis tersedu-sedu, sehingga airmata membasahi bajunya. Kemudian Nabi bersabda: "wahai Muadz, engkau telah menanyakan sesuatu yang amat dahsyat. Ummatku akan di giring dari kubur mereka menuju Padang Mahsyar menjadi dua belas kelompok".
Kelompok pertama adalah: mereka yang di giring ke Padang Mahsyar dengan tiada memiliki tangan dan kaki. Terdengarlah seruan "inilah orang-orang yang dzhalim dan kejam terhadap tetangganya".
Kelompok kedua: mereka yang di giring dalam keadaan bermuka babi hutan, kepada kelompok ini terdengar seruan. "inilah orang-orang yang meremehkan perintah Tuhan".
Kelompok ketiga: mereka yang di giring dari kubur dengan perut di penuhi ular dan kalajengking, maka terdengarlah seruan "inilah orang-orang yang enggan mendermakan hartanya".
Kelompok ke empat: mereka yang di giring dalam keadaan mulut di penuhi darah, terdengar seruan untuk mereka. "inilah orang-orang yang curang dalam transaksi jual beli".
Kelompok kelima: mereka yang di giring dalam keadaan sangat busuk baunya. Kepada mereka terdengar seruan "inilah orang-orang yang baik di muka umum, padahal mereka adalah biang dari segala kejahatan".
Kelompok ke enam: mereka yang di giring dalam keadaan tenggorokan dan tengkuk terputus. "inilah orang-orang yang suka bersaksi palsu".
Kelompok ketujuh: mereka yang di giring dari kubur dengan tidak mempunyai lidah serta dari mulutnya mengalir darah dan nanah. "inilah mereka yang enggan bersaksi untuk kebenaran".
Kelompok kedelapan: mereka yang berjalan dengan wajah di bawah dan kakinya di atas. "inilah orang-orang yang telah melakukan zina dan mati sebelum sempat bertaubat".
Kelompok kesembilan: mereka yang di giring dalam keadaan wajah yang hitam kelam, sedang mulutnya di penuhi api. "inilah orang-orang yang memakan harta anak yatim secara dzhalim".
Kelompok kesepuluh: mereka yang datang ke Padang Mahsyar dengan kulit melepuh dan terkelupas. "inilah orang-orang yang durhaka pada ibu bapaknya".
Kelompok ke sebelas: adalah mereka yang datang dalam keadaan buta matanya, gigi mereka laksana tanduk sapi, bibir mereka melebar sampai ke dada, lidah menjulur sampai ke perut bahkan sampai ke paha, sedang dari mulut mereka keluar kotoran. Kepada mereka di serukan, "inilah orang-orang yang selama hidupnya suka minum-minuman keras".
Kelompok kedua belas: mereka yang di giring dari kubur dengan wajah laksana bulan purnama, mereka melalui shirat secepat cahaya, maka terdengarlah seruan, "inilah orang-orang shalih, menjauhi perbuatan mungkar dan gemar pada perbuatan baik, mereka telah meninggalkan dunia setelah melakukan pertaubatan yang sempurna. Balasan bagi mereka adalah surga, kasih dan ampunan Tuhan.
Dalam riwayat hadits yang lain, Rasul pernah bersabda: manusia akan di bangkitkan pada hari kiamat kelak, terbagi atas tiga golongan besar:
Pertama: berkendaraan, kedua: berjalan kaki, dan ketiga: berjalan dengan wajahnya. Diantara sahabat ada yang bertanya: wahai Rasulallah, adakah manusia yang berjalan dengan menggunakan wajahnya? Nabi menjawab: Tuhan yang mampu memperjalankan manusia dengan kakinya, pasti akan mampu pula memperjalankan manusia dengan wajahnya.
Saudaraku... Pernahkah anda melakukan perjalanan jauh di muka bumi ini? Pernahkah kemudian anda menderita dalam perjalanan itu? Kalau anda pernah sengsara, kalau anda pernah merasa payah, terlunta-lunta, terengah-engah, tersaruk-saruk, terlempar bahkan terpelanting dalam hidup di dunia ini, sesungguhnya itu belum seberapa dahsyat.
Bagaimanapun jauhnya, betapapun teriknya, di dunia ini masih ada tempat untuk kita bernaung, masih ada sungai untuk menyembuhkan dahaga kita, masih ada semilir angin yang kan memberi kita rasa sejuk, masih banyak tempat-tempat makan untuk kita singgahi. Tetapi, di ahirat kelak, semua itu bukan saja tiada melainkan berganti dengan segala derita yang tiada tepermanai. Mereka yang terlunta-lunta tiada yang akan sanggup untuk mengentaskannya, mereka yang meraung-raung tidak akan ada yang mempedulikannya, mereka yang merangkak tidak akan ada yang berbelas kasih padanya, semua kita sibuk dengan kepayahan diri masing-masing. "yauma yafirrul mar-u min akhih, washahibatihi wabanih" anak lupa akan ayah ibunya, ayah ibu lupa akan anak-anaknya, tiada yang di butuhkan pada saat itu kecuali amal baik, amal yang semoga akan dapat menyelamatkan kita dari segala kengerian hari itu.
Semua manusia, mau tidak mau, terpaksa ataupun tidak, harus berangkat ke padang Mahsyar itu, tempat persidangan maha tinggi di bawah pimpinan hakim yang maha besar, Tuhan Rabbul izzati.
Kepada mereka yang menganggap lucu dan tidak percaya cerita ini, di persilahkan untuk tertawa sekeras-kerasnya, sebahak-bahaknya, kelak jika ajal menjemput dan malaikat maut menampar muka anda, saya harap anda teruskan tertawa, bisa apa tidak?
Walau tara idzi adzh-dzhalimuna fi ghamarati al-mauti wa al-malaikatu basithu aidihim akhriju anfusakum, al-yauma tujzauna 'adzab al-huni bi ma kuntum taquluna 'ala Allahi ghaira al-haqqi wa kuntum 'an ayatihi tastakbirun.
Damai di hati damai di bumi, damai dalam kasih Tuhan Allah Swt..KINGDOM of HEAVEN adalah blog yg mengedepankan persaudaraan lintas agama, suku maupun ras dan menghormati segala kecenderungan yg di anut oleh setiap orang. Jangan ada caci maki maupun kata-kata kotor di sini, mari kita ciptakan kerajaan sorga di dunia ini sebelum kita memasuki kerajaan sorga abadi yg sesungguhnya di ahirat kelak..Welcome to my Palace
Selasa, 09 Juni 2009
Senin, 01 Juni 2009
Selagi masih di dunia, jangan membedakan mahluk Tuhan
Ibrahim As merupakan nabi yang memiliki kedudukan teramat mulia di sisi Tuhan, ia di juluki dengan khalilullah, sahabat karib Tuhan. Dari jalurnya yang mulia, lahir banyak nabi-nabi yang terkenal dalam sejarah manusia yaitu, Ismail, Ishaq, Ya'qub, Yusuf, Ayyub, Musa, 'Isa 'Alaihim salam, dan puncak dari semuanya adalah baginda nabi Muhammad Saw yang menjadi cincin sekaligus penutup bagi para nabi. Oleh karenanya, Ibrahim juga di juluki dengan abu'l-anbiya' atau bapak para nabi.
Ibrahim As demikian di cintai Tuhan karena kasih sayang dan kedermawanannya pada sesama, sampai-sampai para malaikat begitu kagum dengan kemurahannya, sebuah rekor fantastis adalah ketika Ibrahim As mengurbankan ribuan ekor kambing miliknya untuk di sedekahkan pada mereka yang membutuhkan.
Ibrahim As di tegur Tuhan
Cerminan dari kedermawanan Ibrahim As adalah, ia tidak makan pagi sebelum terlebih dahulu mengumpulkan banyak orang untuk di ajak ikut makan bersamanya. Namun, suatu hari di pagi yang cerah, datang bertamu ke rumah Ibrahim, seorang Majusi yang ingin juga ikut makan bersamanya, demi melihat yang datang adalah seorang Majusi, Ibrahim dengan tegas menolaknya. Ibrahim menyatakan pada Majusi itu bahwa apa yang di hidangkannya hanya untuk mereka yang hanif dan lurus saja, tidak untuk Majusi yang di anggap menyimpang dari ajaran Tuhan. Ahirnya, dengan langkah gontai, Majusi itu berlalu dari rumah Ibrahim dalam keadaan penuh rasa sedih dan kecewa.
Tidak lama berselang, Tuhan menegur apa yang telah di perbuat Ibrahim itu. Wahai Ibrahim, apa hakmu menolak makan dengan Majusi itu, padahal Aku, Tuhan yang maha besar, maha benar, maha memberi rizki tidak pernah membedakan mahluk-Ku, semua Aku kasih rizki, tiada peduli mereka yang Hanif, Majusi dan bahkan mereka yang tidak mempercayai Aku sebagai Tuhanpun tetap Aku beri rizki. Apa maksudmu wahai Ibrahim?
Teguran Tuhan adalah merupakan pelajaran yang amat berharga bagi Ibrahim, setelah kejadian itu, siapapun mereka yang datang ke rumahnya, di terima dengan ramah dan penuh penghormatan, Ibrahim lebih terbuka kepada siapapun daripada sebelumnya.
Adakah tidak patut kita mencontoh Ibrahim wahai kawanku? Ataukah kita tetap mengeraskan jiwa, membengiskan wajah pada mereka yang tidak sehaluan dengan kita? Bahkan pada yang sehaluanpun kerap kali kita tega menginjaknya? Tidakkah kita contoh moral Tuhan yang tiada mengurangi kelembutannya pada mereka yang Atheis?
Ibrahim As demikian di cintai Tuhan karena kasih sayang dan kedermawanannya pada sesama, sampai-sampai para malaikat begitu kagum dengan kemurahannya, sebuah rekor fantastis adalah ketika Ibrahim As mengurbankan ribuan ekor kambing miliknya untuk di sedekahkan pada mereka yang membutuhkan.
Ibrahim As di tegur Tuhan
Cerminan dari kedermawanan Ibrahim As adalah, ia tidak makan pagi sebelum terlebih dahulu mengumpulkan banyak orang untuk di ajak ikut makan bersamanya. Namun, suatu hari di pagi yang cerah, datang bertamu ke rumah Ibrahim, seorang Majusi yang ingin juga ikut makan bersamanya, demi melihat yang datang adalah seorang Majusi, Ibrahim dengan tegas menolaknya. Ibrahim menyatakan pada Majusi itu bahwa apa yang di hidangkannya hanya untuk mereka yang hanif dan lurus saja, tidak untuk Majusi yang di anggap menyimpang dari ajaran Tuhan. Ahirnya, dengan langkah gontai, Majusi itu berlalu dari rumah Ibrahim dalam keadaan penuh rasa sedih dan kecewa.
Tidak lama berselang, Tuhan menegur apa yang telah di perbuat Ibrahim itu. Wahai Ibrahim, apa hakmu menolak makan dengan Majusi itu, padahal Aku, Tuhan yang maha besar, maha benar, maha memberi rizki tidak pernah membedakan mahluk-Ku, semua Aku kasih rizki, tiada peduli mereka yang Hanif, Majusi dan bahkan mereka yang tidak mempercayai Aku sebagai Tuhanpun tetap Aku beri rizki. Apa maksudmu wahai Ibrahim?
Teguran Tuhan adalah merupakan pelajaran yang amat berharga bagi Ibrahim, setelah kejadian itu, siapapun mereka yang datang ke rumahnya, di terima dengan ramah dan penuh penghormatan, Ibrahim lebih terbuka kepada siapapun daripada sebelumnya.
Adakah tidak patut kita mencontoh Ibrahim wahai kawanku? Ataukah kita tetap mengeraskan jiwa, membengiskan wajah pada mereka yang tidak sehaluan dengan kita? Bahkan pada yang sehaluanpun kerap kali kita tega menginjaknya? Tidakkah kita contoh moral Tuhan yang tiada mengurangi kelembutannya pada mereka yang Atheis?
Tuhan dalam imajinasi "bocah"
Kalimat-kalimat yang nranyak, sumpah serapah, anggapan menghina yang maha kuasa dll pasti akan menghantam, kenapa?
Karena engkau telah menggambarkan sesuatu yang tiada bisa di angankan dalam khayal yang paling dalampun, tiada layak di fikirkan oleh pemikiran yang paling gilapun, sebab, Dia melampaui segala bentuk dan padanan, tiada tersekat dalam bias ruang waktu, ajaib mutlak segala yang berkaitan dengan diri-Nya, maha abstrak.
Tapi nanti dulu, aku tidak sampai kesana, aku menyadari betul bahwa membicarakan Tuhan adalah sesuatu yang percuma dan akal tiada bakal mampu untuk menguak misteri-Nya selamanya, lantas apa maksudnya?
Gambaran Tuhan pernah melintas di fikiranku pada waktu aku masih kecil, ketika aku baru saja mendengar cerita dari orang tuaku, bahwa dunia dan seluruh isinya ternyata ada yang mencipta. Aku bertanya, siapa yang mencipta semua ini? Ayahku bilang, dia adalah Allah Tuhan semesta alam, aku terus bertanya, Allah itu seperti apa, ada di mana, terus apa maksudnya mencipta semua ini? Tidurlah nak, belum waktunya kamu bertanya tentang masalah itu, jawab orang tuaku. Aku menurut.
Setelah dialog singkat itu, aku mencoba untuk memejamkan mata, tapi selalu gagal. Bayangan tentang Allah begitu menggoda anganku, terus dan terus hingga pada ahirnya dalam lelahku, terbentuk dalam bayangan fikiranku sosok seorang wanita anggun, berselendang putih, tersungging senyum keteduhan di bibirnya, memancarkan kemilau kesejukan yang tiada tara, aku bergumam, seperti itukah Allah? Sejenak kemudian, pada ahirnya akupun tertidur dalam damai.
Ketika masih kanak-kanak, kita menggambarkan Tuhan dalam bentuk-bentuk sangat sederhana. Dia bisa berupa seorang laki-laki, perempuan, cahaya, angin atau bahkan gabungan dari semuanya. Seorang anak menginginkan segala sesuatu yang bentuknya kongkrit yang bisa di lihat atau dapat di sentuh keberadaannya, hatta tentang masalah Tuhanpun, atau, paling tidak ia membutuhkan sesuatu yang bisa di bayangkan dalam batas-batas fikiran dan imajinasinya. Jika tidak , tentu ia akan mengingkari wujud-Nya atau kemungkinan ada-Nya. Ini adalah wajar. Oleh karenanya segala penggambaran tentang Tuhan dari seorang anak, tidak perlu di kuatkan atau di tentang yang berarti akan mengalihkan pikiran anak dari benda-benda kongkrit ke dalam hal-hal yang tidak terindra yang mereka anggap sebagai sesuatu yang tidak ada, akibatnya anak akan mengalami guncangan yang cukup serius.
Biarkanlah gambaran itu terus berjalan bersama imajinasinya, kelak, dalam perjalanan spiritualnya ia akan menemukan sendiri bentuk yang sesungguhnya dari Tuhan, yang penting, kita tetap menggiring fikiran mereka pada jalan yang mengarah pada me-maha-kan Tuhan.
Gambaranku tentang Tuhan pada waktu kecil pada ahirnya berubah seiring banyaknya informasi yang ku serap dari al-Quran, Hadits, dan petuah guru-guruku, Meskipun akalku tetap lemah untuk mencernanya. Last... Wujud Tuhan hanya bisa di gambarkan dengan iman yang ada dalam hati.
Karena engkau telah menggambarkan sesuatu yang tiada bisa di angankan dalam khayal yang paling dalampun, tiada layak di fikirkan oleh pemikiran yang paling gilapun, sebab, Dia melampaui segala bentuk dan padanan, tiada tersekat dalam bias ruang waktu, ajaib mutlak segala yang berkaitan dengan diri-Nya, maha abstrak.
Tapi nanti dulu, aku tidak sampai kesana, aku menyadari betul bahwa membicarakan Tuhan adalah sesuatu yang percuma dan akal tiada bakal mampu untuk menguak misteri-Nya selamanya, lantas apa maksudnya?
Gambaran Tuhan pernah melintas di fikiranku pada waktu aku masih kecil, ketika aku baru saja mendengar cerita dari orang tuaku, bahwa dunia dan seluruh isinya ternyata ada yang mencipta. Aku bertanya, siapa yang mencipta semua ini? Ayahku bilang, dia adalah Allah Tuhan semesta alam, aku terus bertanya, Allah itu seperti apa, ada di mana, terus apa maksudnya mencipta semua ini? Tidurlah nak, belum waktunya kamu bertanya tentang masalah itu, jawab orang tuaku. Aku menurut.
Setelah dialog singkat itu, aku mencoba untuk memejamkan mata, tapi selalu gagal. Bayangan tentang Allah begitu menggoda anganku, terus dan terus hingga pada ahirnya dalam lelahku, terbentuk dalam bayangan fikiranku sosok seorang wanita anggun, berselendang putih, tersungging senyum keteduhan di bibirnya, memancarkan kemilau kesejukan yang tiada tara, aku bergumam, seperti itukah Allah? Sejenak kemudian, pada ahirnya akupun tertidur dalam damai.
Ketika masih kanak-kanak, kita menggambarkan Tuhan dalam bentuk-bentuk sangat sederhana. Dia bisa berupa seorang laki-laki, perempuan, cahaya, angin atau bahkan gabungan dari semuanya. Seorang anak menginginkan segala sesuatu yang bentuknya kongkrit yang bisa di lihat atau dapat di sentuh keberadaannya, hatta tentang masalah Tuhanpun, atau, paling tidak ia membutuhkan sesuatu yang bisa di bayangkan dalam batas-batas fikiran dan imajinasinya. Jika tidak , tentu ia akan mengingkari wujud-Nya atau kemungkinan ada-Nya. Ini adalah wajar. Oleh karenanya segala penggambaran tentang Tuhan dari seorang anak, tidak perlu di kuatkan atau di tentang yang berarti akan mengalihkan pikiran anak dari benda-benda kongkrit ke dalam hal-hal yang tidak terindra yang mereka anggap sebagai sesuatu yang tidak ada, akibatnya anak akan mengalami guncangan yang cukup serius.
Biarkanlah gambaran itu terus berjalan bersama imajinasinya, kelak, dalam perjalanan spiritualnya ia akan menemukan sendiri bentuk yang sesungguhnya dari Tuhan, yang penting, kita tetap menggiring fikiran mereka pada jalan yang mengarah pada me-maha-kan Tuhan.
Gambaranku tentang Tuhan pada waktu kecil pada ahirnya berubah seiring banyaknya informasi yang ku serap dari al-Quran, Hadits, dan petuah guru-guruku, Meskipun akalku tetap lemah untuk mencernanya. Last... Wujud Tuhan hanya bisa di gambarkan dengan iman yang ada dalam hati.
Senin, 18 Mei 2009
Ketika ATHEIS A-MORAL mengacau di blog saya
O my God, apa salah saya. Saya bingung, ketika tiba-tiba seseorang yang tidak saya ketahui identitasnya, tidak saya kenal dan bersembunyi di dalam jiwa yang pengecut, mengacau di blog saya dengan kata-kata yang menjijikkan dan tidak pantas keluar dari hati dan fikiran orang yang beragama.
Judul di atas adalah gambaran selaras tentang manusia ini. Saya menganggapnya adalah ATHEIS yang tidak bermoral, karena jika dalam hatinya ada sedikit saja setitik cahaya agama --apapun itu-, tentu pantang bagi dirinya untuk mengumbar kata-kata tidak bermoral itu.
Efeknya adalah saya terpaksa menghapus gadget shoutmix yang ada di blog ini, yang tadinya saya maksudkan untuk bercengkarama dengan sahabat-sahabat saya. Munculnya manusia dzhalim ini membuat suasana menjadi tidak sehat dan keruh. Padahal dalam muqaddimah blog ini saya menjelaskan bahwa misi perdamaian sangat saya kedepankan diatas segala-galanya.
Manusia bodoh ini mungkin tidak mengerti bahasa manusia, tidak punya bahasa hati nurani. Sebuah pameo yang mengatakan bahwa "bahasa menunjukkan bangsa" memperkuat alasan saya untuk mengatakan, bahwa hakiki dari manusia ini adalah binatang, bahkan lebih buruk dari binatang.
Cobalah simak kata-kata manusia ini yang di tulis pada tanggal 13 mei 2009, dengan nama yang aneh penuh samaran, menggambarkan kemarahan, rasa benci dan jijik terhadap saya serta menganggap saya begitu rendahnya.
Semua identitas dan kata-katanya asli dari manusia biadab ini, tanpa saya kurangi ataupun tambahi begitu pula dengan bentuk huruf-hurufnya maupun simbol-simbol yang menyertainya.
mr^pret: KEMINTER RAIMU COK!
ULILPEOT: "TEMBELEK LANTUNG"
ULILPEOT: JIL = JAMA'AH ISLAM LOYO kayak L0
ULILPEOT: LO KAYAK KASINO WAJAHNYA wakakakak SEMOGA CEPET MATI KAYA KASINO WARKOP
ULILPEOT: COK RAIMU UELEK TENAN
ULILPEOT: KONTOLMU CILIK yo MAS
ULILPEOT: MAS KOEN KOK UELEK MAS!! OTAKMU HABIS GEGAR OTAK YA MAS?
ULILPEOT: MAS BLOPGMU UELEK MAS? GAK MUTU BLASSSSS!!! MATI AJA KAMU MAS
Lihatlah dan resapi, adakah semua kata-kata di atas yang mencerminkan sebuah keinginan untuk bersahabat?
Barangkali setelah menuliskan kata-kata aneh itu si ATHEIS merasa telah memenangkan sebuah pertandingan, merasa bahagia karena berhasil melecehkan serendah-rendahnya mahluk Tuhan, merasa bahwa tidak ada satupun yang tahu apa yang di lakukannya padahal Tuhan senantias melihat segala gerak mahluknya sekecil apapun apalagi berkaitan dengan sebuah kedzhaliman.
Wahai ATHEIS, i'malu ma syi'tum, silahkan teruskanlah berbuat seperti itu dalam nyata maupun dalam maya. Silahkan amalkan firman Tuhan berikut ini; in quwwatuka tamna'uka min 'adzabi fashna' ma syi'ta, jika kekuatan yang ada pada dirimu sanggup mencegah murka Tuhan, silah berbuat semaumu, silahkan umbar segala kedurjanaan dan kebejadanmu wahai ATHEIS!
Judul di atas adalah gambaran selaras tentang manusia ini. Saya menganggapnya adalah ATHEIS yang tidak bermoral, karena jika dalam hatinya ada sedikit saja setitik cahaya agama --apapun itu-, tentu pantang bagi dirinya untuk mengumbar kata-kata tidak bermoral itu.
Efeknya adalah saya terpaksa menghapus gadget shoutmix yang ada di blog ini, yang tadinya saya maksudkan untuk bercengkarama dengan sahabat-sahabat saya. Munculnya manusia dzhalim ini membuat suasana menjadi tidak sehat dan keruh. Padahal dalam muqaddimah blog ini saya menjelaskan bahwa misi perdamaian sangat saya kedepankan diatas segala-galanya.
Manusia bodoh ini mungkin tidak mengerti bahasa manusia, tidak punya bahasa hati nurani. Sebuah pameo yang mengatakan bahwa "bahasa menunjukkan bangsa" memperkuat alasan saya untuk mengatakan, bahwa hakiki dari manusia ini adalah binatang, bahkan lebih buruk dari binatang.
Cobalah simak kata-kata manusia ini yang di tulis pada tanggal 13 mei 2009, dengan nama yang aneh penuh samaran, menggambarkan kemarahan, rasa benci dan jijik terhadap saya serta menganggap saya begitu rendahnya.
Semua identitas dan kata-katanya asli dari manusia biadab ini, tanpa saya kurangi ataupun tambahi begitu pula dengan bentuk huruf-hurufnya maupun simbol-simbol yang menyertainya.
mr^pret: KEMINTER RAIMU COK!
ULILPEOT: "TEMBELEK LANTUNG"
ULILPEOT: JIL = JAMA'AH ISLAM LOYO kayak L0
ULILPEOT: LO KAYAK KASINO WAJAHNYA wakakakak SEMOGA CEPET MATI KAYA KASINO WARKOP
ULILPEOT: COK RAIMU UELEK TENAN
ULILPEOT: KONTOLMU CILIK yo MAS
ULILPEOT: MAS KOEN KOK UELEK MAS!! OTAKMU HABIS GEGAR OTAK YA MAS?
ULILPEOT: MAS BLOPGMU UELEK MAS? GAK MUTU BLASSSSS!!! MATI AJA KAMU MAS
Lihatlah dan resapi, adakah semua kata-kata di atas yang mencerminkan sebuah keinginan untuk bersahabat?
Barangkali setelah menuliskan kata-kata aneh itu si ATHEIS merasa telah memenangkan sebuah pertandingan, merasa bahagia karena berhasil melecehkan serendah-rendahnya mahluk Tuhan, merasa bahwa tidak ada satupun yang tahu apa yang di lakukannya padahal Tuhan senantias melihat segala gerak mahluknya sekecil apapun apalagi berkaitan dengan sebuah kedzhaliman.
Wahai ATHEIS, i'malu ma syi'tum, silahkan teruskanlah berbuat seperti itu dalam nyata maupun dalam maya. Silahkan amalkan firman Tuhan berikut ini; in quwwatuka tamna'uka min 'adzabi fashna' ma syi'ta, jika kekuatan yang ada pada dirimu sanggup mencegah murka Tuhan, silah berbuat semaumu, silahkan umbar segala kedurjanaan dan kebejadanmu wahai ATHEIS!
Sabtu, 02 Mei 2009
Al-'ithrah ath-thahirah (Biorgrafi singkat) keluarga suci sang nabi


Mereka adalah manusia-manusia suci pilihan Tuhan, yang pernah di hadirkan ke muka bumi sebagai rahmat bagi alam semesta.
Nabi Muhammad SAAW, Fathimah putrinya, Ali Ibn Abi Tahlib menantunya, dan 12 keturunan beliau yang di kalangan kelompok Syiah di kenal sebagai manusia-manusia ma'shum (di jaga dari kesalahan), manusia-manusia yang patut di teladani jalan hidupnya, manusia-manusia yang Tuhan telah berfirman di dalam Al-Quran berkaitan dengan mereka; Qul la as-alukum 'alaih ajran illa al-mawaddata fi al-qurba, katakan pada umatmu wahai Muhammad, aku tidak meminta upah apapun dari kalian kecuali rasa cinta kalian pada kerabatku.
Tragisnya, sejarah kelam tiada usang menghitamkan sejarah hidup mereka. Satu persatu dari mereka di aniaya, di lecehkan, di racun dan bahkan di bunuh oleh orang-orang yang mengaku sebagai umat Muhammad SAW. Maka, ucapan Shari'ati yang mengatakan; Islam adalah agama yang memiliki sejarah paling tragis dan kelam adalah ucapan yang benar dan tidak perlu di perdebatkan lagi. Orang-orang yang tadinya ikut andil membawa Islam berkembang pesat adalah juga yang pada ahirnya menusuk Islam dari dalam sekaligus turut memporak porandakan sendi-sendinya --di antaranya dengan cara mencaci maki, melecehkan, merampas hak dan membunuhi keluarga Muhammad SAW satu demi satu. Kecuali Rasulullah, imam Ja'far, dan Al-Mahdi, seluruh nama yang ada dalam biografi ini meninggal dengan cara yang tidak wajar. Ada yang di siksa, di racun ataupun di tikam.
Di perlukan uraian yang panjang untuk mengetengahkan kembali sejarah kelam itu, tetapi, berhubung tulisan ini saya maksudkan hanya untuk menampilkan biografi singkat nabi, putrinya, menantunya, dan 12 keturunannya, maka bagi mereka yang penasaran dengan ungkapan Shari'ati di atas, di persilahkan untuk merujuk pada buku-buku sejarah yang di tulis pada kurun-kurun awal perkembangan Islam, tentunya dengan merujuk pada buku-buku sejarah yang betul-betul obyektif dan menceritakan apa adanya yang terjadi tanpa di kurangi atau di lebih-lebihkan, tidak juga di tulis oleh penulis-penulis sejarah bayaran, yang isi tulisannya sudah barang tentu di sesuaikan dengan selera yang membayarnya.
* * *
Dengan menyebut nama Tuhan yang memiliki kasih tiada terbatas. Inilah biografi singkat hamba-hamba yang shalih dari kalangan keluarga nabi. Semoga dengan menulis nama-nama mereka di blog ini, berkah dan kebahagiaan akan senantiasa menyambangi hidup saya. Amien
1. Nabi Muhammad SAAW (Al-Mushtafa)
Nama - Muhammad.
Gelar - Al-Amien, Al-Musthafa, Ar-Rasul.
Panggilan - Abul-Qasim. Qasim adalah anak nabi yang sulung, meninggal pada waktu masih bayi.
Lahir - Hari jum'at, tanggal 17 rabiul-awwal.
Nama ayah - Abdullah ibn Abd Muthallib.
Nama ibu - Aminah binti Wahab.
Nabi meninggal dalam usia 63 tahun, pada hari senin bulan shafar tahun 11 Hijriyah. Beliau di makamkan di rumah beliau sendiri, yang sekarang berada di sekitar masjid nabawi Medinah.
2. Hadhrat Fathimah Az-Zahra
Nama - Fathimah.
Gelar - Az-Zahra.
Panggilan - Ummul-Aimma.
Lahir - Az-Zahra lahir di Makkah pada hari jum'at tanggal 20 jumadits-tsani. Fathimah adalah putri yang paling di cintai nabi, sehingga apabila Fatima marah terhadap seseorang, nabi akan ikut marah pada orang tersebut, apabila Fatima menyukai seseorang, nabi pun akan ikut menyukainya.
Nama ayah - Muhammad Ibn Abdullah.
Nama Ibu - Khadijah binti Khuwailid.
Az-Zahra meninggal di Medinah dalam usia sangat muda, 18 tahun. Fatima adalah keluarga nabi yang paling pertama menyusul nabi menghadap ke haribaan Tuhan. Di kisahkan, Fatima sakit setelah adanya perlakuan dari orang-orang munafik, yang mendobrak pintu rumahnya, sehingga Fatima terdorong dan menabrak dinding rumahnya. Masalah ini muncul ketika orang-orang munafik itu memaksa keluarga Fatima untuk membaiat pengangkatan Abu Bakar sebagai Khalifah. Jenazah Fatima di kuburkan pada malam hari, Fatima berwasiat agar prosesi penguburannya tidak di ketahui oleh siapapun kecuali keluarga dan orang-orang dekatnya. Fatima Az-Zahra di kebumikan di taman Baqi'.
3. Hadhrat Ali Al-Murtadho.
Nama - Ali.
Gelar - Al-Murtadho, Amirul-mu'minin, Abu Turab dan Asadullah.
Panggilan - Abul-Hasan.
Lahir - hari jum'at tanggal 13 bulan rajab.
Nama ayah - Abu Thalib.
Nama ibu - Fathimah binti Asad.
Imam Ali meninggal dalam usia 63 tahun, di daerah Kufah pada hari senin tanggal 21 ramadhan tahun 40 Hijriyah. Beliau di tikam setelah shalat subuh oleh Abu lu'lu-ah. Beliau di makamkan di Najaf, Irak.
4. Hadhrat Hasan Al-Mujtaba.
Nama - Hasan.
Gelar - Al-Mujtaba.
Panggilan - Abu Muhammad.
Lahir - pada hari selasa tanggal 15 ramadhan tahun 3 Hijriyah.
Nama ayah - Ali ibn Abi Thalib.
Nama ibu - Fathimah binti Muhammad SAW.
Imam Hasan meninggal dalam usia 46 tahun, pada hari kamis tanggal 20 shafar tahun 50 Hijriyah, di makamkan di Baqi'.
5. Hadhrat Husain Asy-Syahid.
Nama - Husain.
Gelar - Sayyidusy-Syuhada' (Leader of Martyrs).
Panggilan - Abu Abdillah.
Lahir - di Medinah pada hari kamis bulan sya'ban tahun 4 Hijriyah.
Nama ayah - Ali ibn Abi Thalib.
Nama ibu - Fathimah binti Muhammad.
Imam Husain meninggal sebagai syahid dalam usia 57 tahun di padang karbala, pada tanggal 10 muharram tahun 61 Hijriyah. Husain, secara kejam di bunuh oleh Yazid dan pasukannya, kemudian manusia biadab bernama Syimir dengan keji memenggal kepala Husain, lalu di araklah kepala Husain sampai ke damaskus, untuk di pertontonkan pada sejarah bahwa apapun alasannya Yazid ibn Muawiya tidak bisa dan sama sekali tidak pantas di sebut sebagai pemimpin Islam.
6. Hadhrat Ali Zainal Abidin.
Nama - Ali.
Gelar - Zainal Abidin.
Panggilan - Abu Muhammad.
Lahir - hari sabtu tanggal 15 jumadil awwal di Medinah.
Nama ayah - Husain ibn Ali.
Nama ibu - Syahri Banun, putri dari raja Yazdigard II.
Ali Zainal Abidin meninggal dalam usia 58 tahun, meninggal di Medinah pada tanggal 21 muharram tahun 95 Hijriyah. Ali sempat di siksa oleh Walid ibn Abd Malik Marwan. Di makamkan di pemakaman Baqi'. Zainal Abidin adalah satu-satunya laki-laki dari keluarga nabi yang selamat pada peristiwa Karbala, bibinya yang bernama Zainab Aqilat al-Wahyi yang membelanya dari kebiadaban Yazid.
7. Hadhrat Muhammad Al-Baqir.
Nama - Muhammad.
Gelar - Al-Baqir.
Panggilan - Abu Ja'far.
Lahir - hari selasa tanggal 1 rajab tahun 57 Hijriyah di Medinah.
Nama ayah - Ali ibn Husain ibn Ali.
Nama ibu - Fathimah binti Hasan ibn Ali.
Al-Baqir meninggal tahun 116 Hijriyah pada hari senin tanggal 7 dzulhijjah dalam usia 59 tahun, di makamkan di Baqi'.
8. Hadhrat Ja'far Ash-Shadiq.
Nama - Ja'far.
Gelar - Ash-Shadiq.
Panggilan - Abu Abdillah.
Lahir - hari senin tanggal 17 Rabiul awwal tahun 83 Hijriyah, di Medinah.
Nama ayah - Muhammad ibn Ali ibn Husain.
Nama ibu - Ummu Farwah.
Meninggal pada hari senin tanggal 15 rajab tahun 148 Hijriyah dalam usia 65 tahun dan di kebumikan di taman pusara Baqi'.
9. Hadhrat Musa Al-Kadzhim.
Nama - Musa.
Gelar - Al-Kadzhim.
Panggilan - Abu Ibrahim.
Lahir - pada hari ahad tanggal 7 rajab tahun 128 Hijriyah di daerah Abwa' (sebuah tempat yang berada di antara Makkah dan Medinah).
Nama ayah - Ja'far ibn Muhammad.
Nama ibu - Hamida Khathoon.
Musa Kadzhim meninggal di Baghdad, Irak. Dalam usia 55 tahun pada hari jumat tanggal 25 rajab tahun 183 Hijriya pada zaman Harun Ar-Rasyid. Al-Kadzhim di kebumikan di Kadzhimiah.
10. Hadhrat Ali Ar-Ridha.
Nama - Ali.
Gelar - Ar-Ridha.
Panggilan - Abul Hasan.
Nama ayah - Musa Al-Kadzhim ibn Ja'far.
Nama ibu - Ummu Banin Najma.
Ar-Ridha meninggal di daerah Masyhad Khurasan pada hari selasa tanggal 17 shafar tahun 203 Hijriyah. Di makamkan di Masyhad, Iran.
11. Hadhrat Muhammad Al-Jawad.
Nama - Muhammad.
Gelar - Al-Jawad, At-Taqi.
Panggilan - Abu Ja'far.
Di lahirkan pada hari jumat tanggal 10 rajab tahun 195 Hijriyah di Medinah.
Nama ayah - Ali ibn Musa.
Nama ibu - Khaizuran.
Meninggal dalam usia yang sangat muda, ya'ni 25 tahun. Di daerah Kadzhimiyah pada hari rabu tanggal 29 dzulqo'dah tahun 220 Hijriyah.
12. Hadhrat Ali An-Naqi.
Nama - Ali.
Gelar - Al-Hadi, An-Naqi.
Panggilan - Abul Hasan.
An-Naqi lahir pada hari jum'at tanggal 15 dzulhijjah tahun 212 Hijriyah di Surb. Ayah An-Naqi bernama Muhammad ibn Ali, dan ibunya adalah Summana Khathoon. An-Naqi meninggal di Samarra pada 26 jumadil akhar tahun 254 Hijriyah.
13. Hadhrat Hasan Al-Askari.
Nama - Hasan.
Gelar - Al-Askari.
Panggilan - Abu Muhammad.
Imam Al-Askari di lahirkan pada 8 rabiul akhar tahun 232 Hijriyah di Medinah.
Nama ayah - Ali ibn Muhammad.
Nama ibu - Saleel.
Seperti halnya ayahnya, Al-Askari juga meninggal dan di makamkan di daerah Samarra. Al-Askari hanya berusia sampai 28 tahun. Pada hari jum'at tanggal 8 rabiul awwal tahun 260 Hijriyah, imam Al-Askari kembali ke pangkuan Ilahi.
14. Hadhrat Muhammad Al-Mahdi.
Nama - Muhammad.
Gelar - Al-Mahdi, Shahibul-Ashr, Al-Hujjah, Al-Qaim.
Panggilan - Abul Qasim.
Lahir - hari jum'at tanggal 15 sya'ban tahun 255 Hijriyah di Samarra.
Nama ayah - Hasan Al-Askari.
Nama ibu - Nargis Khathoon.
Menurut pemahaman dan keyakinan kelompok Syiah, Al-Mahdi masih hidup sampai hari ini. Al-Mahdi sedang menghilang di suatu tempat, kemudian akan muncul kembali ketika dunia mendekati ahir usia, Al-Mahdi datang untuk menegakkan keadilan dan membela kebenaran, dia akan berjuang bersama Isa Al-Masih untuk menghancurkan paham dajjalisme yang melanda dunia pada saat itu. Imam Al-Mahdi di juluki juga dengan Imam Ghaib atau Imam Zaman. Wallahu a'lam.
Demikianlah biografi singkat nabi dan 12 keturunannya. Sebagian tulisan ini saya adaptasi dari sumber http://shia.org
catatan:
Dengan menulis biografi mereka, bukan berarti saya adalah syiah. Saya tidak tertarik dengan segala paham sektarian yang ada, apakah syiah, sunni, mu'tazilah dan lain sebagainya. Saya adalah moslem yang mencoba menerapkan segala pemahaman yang ada dalam khazanah keilmuan Islam dari manapun asalnya dalam kehidupan sehari-hari.
Rabu, 29 April 2009
Tuhan adalah cahaya langit dan bumi

Al-Quran surah An-Nur ayat 35. Tuhan adalah cahaya langit dan bumi, perumpamaan cahanya adalah laksana ceruk yang di dalamnya terdapat pelita. Pelita itu ada di dalam kaca, kaca itu laksana bintang yang berkelipan, yang di nyalakan dari pohon zaitun yang di berkahi, yang tidak terdapat di sebelah timur maupun barat yang minyaknya memberikan cahaya sekalipun tidak tersentuh oleh api, cahaya diatas cahaya.
Itulah Tuhan. Tuhan adalah cahaya, cahaya itu tersembunyi di dalam jiwa manusia; itulah cahaya yang di nyalakan dengan minyak zaitun, yang tiada dari timur maupun barat.
Sinagog Yahudi dengan sepuluh hijabnya adalah simbolisasi dari tubuh manusia dengan berbagai macam lapisannya. Di dalam sinagog tersebut ada pelita yang tiada padam untuk selama-lamanya yang minyaknya di buat dari pohon zaitun murni.
Yang di maksud cahaya adalah yang ada dalam diri manusia, Al-Quran menyebutkan, adalah cahaya yang di minyaki dengan minyak yang tidak di dapatkan di timur maupun di barat, itu hanya bisa di rasakan ketika seseorang bersemadi dalam dirinya. Cahaya itu bukanlah cahaya yang dapat di indera oleh mata, tapi cahaya bagi setiap yang ada.
Di dalam diri setiap manusia ada tanda-tanda yang tiada terlihat, ya'ni cahaya kebenaran yang bersinar dalam hati apabila manusia tidak lagi di dominasi oleh pengaruh luar. Syetan, Iblis, hawa nafsu dan lainnya.
Seorang sufi bersayair; katupkan bibirmu, pejamkan matamu, dan sumbat telingamu. Bila anda tidak bisa merasakan adanya cahaya Tuhan maka tertawakanlah kami.
Dengan menutup segala persepsi eksternal, lalu memusatkan perhatian pada diri sendiri, manusia akan mampu membaca kilasan real cahaya ke-Tuhan-an yang tiada bisa di jelaskan oleh pribadi lain dari yang merasakannya. Oleh karenanya maka timbullah ana al-Haq, laisa fi jubbati siwa Allah, Subhanii, tiada sesuatu yang ada kecuali aku dan lain-lain.
Dialog singkat Ya'qub As dan malaikat maut
Pada suatu hari, telah terjadi dialog antara Ya'qub AS dengan malaikat maut. Inilah petikannya:
Ya'qub: wahai Izrail, saya ingin minta sesuatu padamu.
Izrail: apa itu?
Ya'qub: saya ingin jika ajalku sudah dekat dan anda akan mencabut ruhku, tolong kasih tahu saya.
Izrail: baiklah, nanti saya akan memberi beberapa tanda padamu sebagai kabar telah mendekatnya ajalmu.
Ketika ajal Ya'qub telah dekat, Izrail datang menghadap Ya'qub.
Ya'qub berkata pada Izrail, anda datang kepadaku apakah hanya sekedar untuk berkunjung ataukah anda akan mencabut ruhku?
Izrail menjawab, saya datang untuk mencabut ruhmu wahai Ya'qub.
Ya'qub memprotes keputusan Izrail, bukankah dulu anda pernah berkata akan memberi tanda padaku sebelum anda mencabut ruhku?
Izrail menjawab, saya telah memberimu beberapa tanda tapi sayang anda tidak menyadarinya.
Ya'qub, mana tanda-tanda yang anda janjikan itu?
Wahai Ya'qub, bukankah dahulu rambut di kepalamu berwarna hitam pekat, bukankah dulu anda memiliki fisik yang kuat tak tergoyah, bukankah dulu anda terlihat begitu tegap gagah perkasa?
Maka, jika kini seluruh rambutmu telah memutih, fisikmu terlihat lemah, ringkih sakit-sakitan dan anda kini terlihat berjalan bungkuk sempoyongan, itu tandanya tidak lama lagi ajalmu akan segera tiba.
* * *
Sebaik-baik waktu adalah yang di pergunakan untuk jalan ketaatan pada Tuhan dan berkhidmat pada sesama. Barang siapa ingin menjaga keberkahan waktunya, maka jadikanlah perkataannya sebagai dzikir, diamnya untuk bertafakkur, dan segala gerak lakunya mengarah pada perbuatan yang baik.
Ya'qub: wahai Izrail, saya ingin minta sesuatu padamu.
Izrail: apa itu?
Ya'qub: saya ingin jika ajalku sudah dekat dan anda akan mencabut ruhku, tolong kasih tahu saya.
Izrail: baiklah, nanti saya akan memberi beberapa tanda padamu sebagai kabar telah mendekatnya ajalmu.
Ketika ajal Ya'qub telah dekat, Izrail datang menghadap Ya'qub.
Ya'qub berkata pada Izrail, anda datang kepadaku apakah hanya sekedar untuk berkunjung ataukah anda akan mencabut ruhku?
Izrail menjawab, saya datang untuk mencabut ruhmu wahai Ya'qub.
Ya'qub memprotes keputusan Izrail, bukankah dulu anda pernah berkata akan memberi tanda padaku sebelum anda mencabut ruhku?
Izrail menjawab, saya telah memberimu beberapa tanda tapi sayang anda tidak menyadarinya.
Ya'qub, mana tanda-tanda yang anda janjikan itu?
Wahai Ya'qub, bukankah dahulu rambut di kepalamu berwarna hitam pekat, bukankah dulu anda memiliki fisik yang kuat tak tergoyah, bukankah dulu anda terlihat begitu tegap gagah perkasa?
Maka, jika kini seluruh rambutmu telah memutih, fisikmu terlihat lemah, ringkih sakit-sakitan dan anda kini terlihat berjalan bungkuk sempoyongan, itu tandanya tidak lama lagi ajalmu akan segera tiba.
* * *
Sebaik-baik waktu adalah yang di pergunakan untuk jalan ketaatan pada Tuhan dan berkhidmat pada sesama. Barang siapa ingin menjaga keberkahan waktunya, maka jadikanlah perkataannya sebagai dzikir, diamnya untuk bertafakkur, dan segala gerak lakunya mengarah pada perbuatan yang baik.
Senin, 27 April 2009
Mengenal Tuhan
- Tuhan adalah indah, Dia mencintai keindahan. Indah adalah sifat pribadinya. Muhammad SAAW bersabda, kholaqa al-insana 'ala shurotih, manusia di cipta atas bentuk-Nya, Nya mengarah kepada bentuk wajah Tuhan, yang di maksud adalah keindahan-Nya. Oleh karenanya thabi'at manusia selalu cenderung pada keindahan. Tuhan mencintai keindahan sebelum segala sesuatu tercipta. Maka, Tuhan adalah keindahan dan kecintaan. Keindahan-Nya adalah cinta, dan cinta-Nya adalah keindahan. Tuhan adalah pencinta dan di cintai pada saat yang sama. Tuhan menyaksikan diri-Nya sendiri dalam cermin keindahan-Nya. Tuhan mencintai diri-Nya sendiri, maka, la yuhibbu Allah ghoiru Allah, tidak mencintai Tuhan kecuali Tuhan itu sendiri. Sebuah cinta mutlak yang tiada terbatas dan bertepi.
- Hanya Tuhan yang ada, maka, segala sesuatu selain Dia pada hakikatnya adalah 'adum, ketiadaan, non entiti. Tuhan menyatakan keberadaan diri-Nya dalam bentuk "ke-Aku-an" seorang pencari jalan kebenaran (salik). Karena itu, pengenalan akan ke-Aku-an diri seseorang adalah bergantung pada pengenalan akan Tuhannya, man 'arafa rabbahu fa qad 'arafa nafsahu.
Pengenalah terhadap Tuhan haruslah di dahulukan sebelum mengenal diri sendiri, benarlah apa yang di katakan orang bahwa, siapa yang telah melupakan Tuhan berarti ia telah melupakan dirinya sendiri.
Seseorang yang telah melupakan Tuhan berarti ia telah melupakan diri sendiri. Seorang darwish dengan mengenakan jubah hitam memasuki zawiyah imam Junaid, dia di tanya, ada apa dengan pakaian berkabungnya itu? Dia menjawab, Tuhannya telah mati, lalu ia di usir berkali-kali.
Rupanya, ketika berkata seperti itu, darwish dalam keadaan melupakan Tuhan dan dirinya sendiri, karena kebodohannya, maka pantaslah ia mengenakan jubah hitamnya.
- Al-Quran berkata, fadzkuruni adzkurkum wasykuru li wa la takfurun. Bila Tuhan di ingat sebagai manifestasi bagi segala sesuatu yang maujud, berarti seolah-olah Dia di tiadakan, sebab, kufr (kafir) berarti meniadakan dan menganggap ma siwa Allah sebagai pelaku, padahal semua yang ada adalah lahir dari pancaran gerak-Nya.
- Hanya Tuhan yang ada, maka, segala sesuatu selain Dia pada hakikatnya adalah 'adum, ketiadaan, non entiti. Tuhan menyatakan keberadaan diri-Nya dalam bentuk "ke-Aku-an" seorang pencari jalan kebenaran (salik). Karena itu, pengenalan akan ke-Aku-an diri seseorang adalah bergantung pada pengenalan akan Tuhannya, man 'arafa rabbahu fa qad 'arafa nafsahu.
Pengenalah terhadap Tuhan haruslah di dahulukan sebelum mengenal diri sendiri, benarlah apa yang di katakan orang bahwa, siapa yang telah melupakan Tuhan berarti ia telah melupakan dirinya sendiri.
Seseorang yang telah melupakan Tuhan berarti ia telah melupakan diri sendiri. Seorang darwish dengan mengenakan jubah hitam memasuki zawiyah imam Junaid, dia di tanya, ada apa dengan pakaian berkabungnya itu? Dia menjawab, Tuhannya telah mati, lalu ia di usir berkali-kali.
Rupanya, ketika berkata seperti itu, darwish dalam keadaan melupakan Tuhan dan dirinya sendiri, karena kebodohannya, maka pantaslah ia mengenakan jubah hitamnya.
- Al-Quran berkata, fadzkuruni adzkurkum wasykuru li wa la takfurun. Bila Tuhan di ingat sebagai manifestasi bagi segala sesuatu yang maujud, berarti seolah-olah Dia di tiadakan, sebab, kufr (kafir) berarti meniadakan dan menganggap ma siwa Allah sebagai pelaku, padahal semua yang ada adalah lahir dari pancaran gerak-Nya.
Selasa, 14 April 2009
Untuk Nabi tercinta
Kepada hadhrat nabi tercinta, nabi yang terpilih. Kami haturkan shalawat dan salam atas-mu wahai nabi yang mulia, rasul yang agung, yang berjiwa lembut dan penyayang terhadap sesama.
Wahai sayyid kami, wahai nabi kami, wahai kekasih kami, wahai pelipur duka kami. wahai rasulullah, wahai nabi Allah, wahai kekasih Allah, wahai penghias keindahan di kerajaan Tuhan, wahai cahaya singgasana Tuhan, wahai manusia terbaik pilihan Tuhan, wahai syafaat bagi mereka yang berdosa, wahai nabi pembawa rahmat bagi semesta alam.
Sungguh, Tuhan telah berfirman dalam kedudukan-mu yang agung "dan jika mereka yang telah mendzhalimi diri, datang bersimpuh pada-mu, beristighfar pada Tuhan, dan rasul memohonkan ampun bagi mereka, niscaya mereka akan menemui Tuhan maha penerima taubat lagi penyayang.
Wahai pemimpin kami, Muhammad Ibn Abdullah Ibn Abdul-Muthallib Ibn Hasyim, wahai sayyidina Yasin, wahai sayyidina Thaha, wahai sayyidina Munir, wahai sayyidina Basyir, wahai sayyidina Muqaddam penghulu para rasul. Inilah kami wahai junjungan kami, wahai rasulullah, kami bersimpuh, berlari kepada-mu dari dosa-dosa meminta syafaat dan perlindungan dari murka Tuhan, wahai pemberi syafaat bagi manusia, wahai pengurai segala tabir kelam, wahai penerang kegelapan, singkirkan kami dari neraka, wahai nabi yang penyayang.
Wahai penghulu kami, kami datang berziarah pada-mu, kami menetap di pintu-mu yang agung, kami mengharap syafaat dari-mu, jangan tolak kami dari haribaan-mu yang menyebabkan kami menjadi hina dan merugi, kami berharap syafaat dari kemuliaan-mu.
Wahai rasulullah junjungan kami, kami meminta syafaat pada-mu, memintakan keutamaan bagi-mu pada Tuhan, memintakan derajat yang tinggi, tempat yang mulia, Haudh yang tercipta, syafaat yang agung di hari penyaksian.
Wahai manusia terbaik yang pernah ada, jiwa kami kan menjadi tebusan untuk pusara yang kini engkau beristirah, di sana ada kelembutan, di sana ada keindahan, di sana ada kemuliaan. Engkaulah kekasih Tuhan, engkaulah pemberi syafaat, engkaulah yang di harap pertolongan-nya bagi kaki yang tergelincir.
Kami bersaksi, engkau adalah pesuruh Tuhan, sungguh, engkau telah menyampaikan risalah dengan sebenarnya, telah menunaikan amanah, menjadi penasehat bagi segenap manusia, engkaulah penyingkap tabir gelap, penyinar pekat kehidupan, engkau telah bersungguh-sungguh di jalan Allah, telah beribadah sebenar-benarnya pada Tuhan hingga ajal menjemput. Kami ucapkan Jazakallah, semoga Tuhan membalas jasa-jasa-mu dengan sebaik-baiknya.
Wahai nabi pilihan, kami meminta pertolongan pada-mu pada hari kebingungan yang besar, hari yang tiada lagi bermanfaat lagi harta maupun putera, kecuali mereka yang datang dengan hati yang selamat hati yang jernih. Syafa'ati kami wahai junjungan kami rasulullah. Salam atas-mu wahai pemimpin para rasul,
kami bersaksi, tiada Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah utusan-Nya.
Wahai sayyid kami, wahai nabi kami, wahai kekasih kami, wahai pelipur duka kami. wahai rasulullah, wahai nabi Allah, wahai kekasih Allah, wahai penghias keindahan di kerajaan Tuhan, wahai cahaya singgasana Tuhan, wahai manusia terbaik pilihan Tuhan, wahai syafaat bagi mereka yang berdosa, wahai nabi pembawa rahmat bagi semesta alam.
Sungguh, Tuhan telah berfirman dalam kedudukan-mu yang agung "dan jika mereka yang telah mendzhalimi diri, datang bersimpuh pada-mu, beristighfar pada Tuhan, dan rasul memohonkan ampun bagi mereka, niscaya mereka akan menemui Tuhan maha penerima taubat lagi penyayang.
Wahai pemimpin kami, Muhammad Ibn Abdullah Ibn Abdul-Muthallib Ibn Hasyim, wahai sayyidina Yasin, wahai sayyidina Thaha, wahai sayyidina Munir, wahai sayyidina Basyir, wahai sayyidina Muqaddam penghulu para rasul. Inilah kami wahai junjungan kami, wahai rasulullah, kami bersimpuh, berlari kepada-mu dari dosa-dosa meminta syafaat dan perlindungan dari murka Tuhan, wahai pemberi syafaat bagi manusia, wahai pengurai segala tabir kelam, wahai penerang kegelapan, singkirkan kami dari neraka, wahai nabi yang penyayang.
Wahai penghulu kami, kami datang berziarah pada-mu, kami menetap di pintu-mu yang agung, kami mengharap syafaat dari-mu, jangan tolak kami dari haribaan-mu yang menyebabkan kami menjadi hina dan merugi, kami berharap syafaat dari kemuliaan-mu.
Wahai rasulullah junjungan kami, kami meminta syafaat pada-mu, memintakan keutamaan bagi-mu pada Tuhan, memintakan derajat yang tinggi, tempat yang mulia, Haudh yang tercipta, syafaat yang agung di hari penyaksian.
Wahai manusia terbaik yang pernah ada, jiwa kami kan menjadi tebusan untuk pusara yang kini engkau beristirah, di sana ada kelembutan, di sana ada keindahan, di sana ada kemuliaan. Engkaulah kekasih Tuhan, engkaulah pemberi syafaat, engkaulah yang di harap pertolongan-nya bagi kaki yang tergelincir.
Kami bersaksi, engkau adalah pesuruh Tuhan, sungguh, engkau telah menyampaikan risalah dengan sebenarnya, telah menunaikan amanah, menjadi penasehat bagi segenap manusia, engkaulah penyingkap tabir gelap, penyinar pekat kehidupan, engkau telah bersungguh-sungguh di jalan Allah, telah beribadah sebenar-benarnya pada Tuhan hingga ajal menjemput. Kami ucapkan Jazakallah, semoga Tuhan membalas jasa-jasa-mu dengan sebaik-baiknya.
Wahai nabi pilihan, kami meminta pertolongan pada-mu pada hari kebingungan yang besar, hari yang tiada lagi bermanfaat lagi harta maupun putera, kecuali mereka yang datang dengan hati yang selamat hati yang jernih. Syafa'ati kami wahai junjungan kami rasulullah. Salam atas-mu wahai pemimpin para rasul,
kami bersaksi, tiada Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah utusan-Nya.
Senin, 13 April 2009
Pipit-ku kini telah menikah

"Dan diantara tanda-tanda kekuasaan Tuhan, adalah di ciptakan-Nya untukmu pasangan hidup dari jenismu sendiri supaya kamu merasa tentram di sampingnya. Dan di jadikan-Nya kasih sayang di antaramu. Sesungguhnya, pada yang demikian itu, ada tanda-tanda bagi yang mau berfikir. (Qs. Ar-ruum : 21)
Menikah adalah sunnahku, barang siapa yang tidak suka sunnahku, dia bukan golonganku (Al-Hadits)
Maha suci Allah, Tuhan yang telah menciptakan mahluknya berpasang-pasangan.
Ya Allah, jika engkau memperkenankan:
Hendi Sunjaya, SE, S.Kom (Hendi), Assalam Computer
dengan
Idah Fitriyah binti Bahruddin (Pipit), Panembahan-Plered-Cirebon
untuk mengikuti sunnah rasul-Mu membangun keluarga sakinah, mawaddah, warahmah dan memberi keturunan yang salih/salihah, yang mau berbakti pada orang tuanya dan berguna bagi kehidupan.
Akad Nikah:
Hari Jum'at, 10 April 2009 pukul 08.00 WIB di masjid As-salam
SUSUNAN ACARA:
MC oleh: bapak Mas'ud Banudhi (kepala desa Panembahan)
1). Pembukaan.
2). Pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur'an oleh: ustadz Abd Wahid.
3). Sambutan-sambutan:
1). Pihak mempelai laki-laki.
2). Pihak mempelai wanita oleh: Bapak H Kusdiyanto.
4). Tawassul oleh: ustadz H Zainuddin Naim.
5). Khotbah Nikah oleh: ustadz Syamsuddin.
6). Akad Nikah oleh: ustadz Fatur Rafael.
7). Penutup/doa oleh: ustadz Fatur Rafael.
Turut mengundang:
- Ir. Nedi Hendri Junaidi, MM. (Assalam CV.)
- Ustadz Fathur Rahman/Fatur Rafael (Juara Nasional Hifdzhul Quran)
- Ustadazah Siti Zaitun, S.Ag. (Nyi Atun)
- Segenap Family
RESEPSI PERNIKAHAN:
Hari: Sabtu malam minggu
Tanggal: 11 - 12 April 2009
Waktu: Pukul 10.00 WIB s/d selesai
Tempat: Jl. Widuri No. 20 RT. 06 RW. 01 Kapling Megu Cilik Kec. Weru Kab. Cirebon
Kel. Bpk H. Warsina
Ibu Hj. Mastonah
Kel. Bpk. Bahruddin/Kyai Batu (Alm)
Ibu Fathonah
Hendi & Pipit
Komentar-komentar saya di situs JIL bag 1
Untuk kenangan perjalanan bathin, perjalanan pemikiran dan perjalanan dalam menyikapi pergolakan pemahaman agama, sengaja saya copy paste semua komentar saya di situs JIL, sampai tiba waktunya untuk saya berhenti mengomentari apapun yang ada di dunia ini yang semuanya adalah nisbi, relatif dan semu. kata Ibnu 'Arabi; Al-Wujudu kulluhu khayalun fi al-khayal, semua keadaan, seluruhnya adalah khayal di dalam khayal.
Komentar untuk tulisan Syafi'i Ma'arif yang berjudul argumen pluralisme agama. Komentar Rafael; Hanya para pemuka agama yg berjiwa bersih dan memiliki niat baiklah yg akan mampu dan mau melakukan dialog antar agama yg berma’na, dialog yg bebas dari segala bentuk prasangka, kebencian dan dendam kesumat. Selain itu, mereka juga tentu akan mampu menunjukkan kesatuan batin agama-agama maupun perbedaan formalnya. Para pemuka agama yg berjiwa bersih di harapkan terus melakukan dialog demi terciptanya iklim spiritual yg sehat bagi kehidupan keberagamaan umat manusia masa kini, mereka juga di harapkan mampu memberi kontribusi lebih banyak bagi kesetimbangan dan harmonisasi kehidupan keberagamaan masyarakat manusia yg begitu lama terkungkung dalam simpul-simpul kelam kesalah fahaman dan kebencian, akibatnya, masing-masing merasa telah terpisah jauh, seolah-olah tiada lagi kesempatan bagi masing-masing untuk saling bahu membahu dalam mewujudkan kehidupan yg lebih baik, damai dan harmonis, khususnya di bumi Palestine dan Israel, yg telah memendam bara kebencian tiada berujung.
Pada hakikatnya, Islam telah bertemu, bergaul dan berinteraksi dg tradisi Yahudi dan Nasrani lebih dr 14 abad lamanya. Islam sendiri sebetulnya adalah agama yg datang terahir untuk meneguhkan kembali tradisi Abrahamiya yg sebelumnya terjelma di dalam Yahudi dan Nasrani. Syariah sebagai perintah Tuhan, dalam banyak hal serupa dg kitab Talmud, meski dr segi penyusunannya syariah tidak menyadur dr kitab Talmud. Yesus Al-Masih, juga sebenarnya turut memberikan peranan penting dalam Islam, meski memiliki konsep yg berbeda dg pandangan Nasrani terhadapnya.
Hanya manusia yg telah mencapai puncak gunung tak terbataslah yg akan mampu menjadi pendaki sejati, ia tak kan goyah oleh jalan yg berbeda yg di tempuh kawan perjalanannya, sebab hanya jalan yg di tempuhnyalah yg terasa berma’na bagi hidupnya.
#20. Dikirim oleh Fatur rafael pada 21/03 03:16 PM
Komntar atas artikel Abd Moqsith Gazali berjudul; kapan Muhammad SAW lahir. Komentar Rafael; Tidak begitu penting kapan, dimana, dan hari apa Nabi Muhammad SAW di dzahirkan ke muka bumi ini. Sebab, tidak ada satupun sejarah masa lampau yg steril dari perselisihan ahli sejarah dalam hal ketepatan waktunya. Jika masa Nabi Muhammad, yg merupakan masa yg paling dekat dg kita di banding dg Nabi-Nabi lainnya saja belum terungkap kepastiannya sampai hari ini, apatah lagi dg Nabi-Nabi sebelum beliau. Biarlah itu semua tetap menjadi misteri gelap sejarah, yg manusia tidak perlu mempertikaikannya sampai mengeraskan urat leher dan menggemeretakkan gigi.
Sejarah hidup para Nabi memang akan selalu menarik untuk di perbincangkan sampai kapanpun, di sebabkan nilai-nilai luhur yg di bawa mereka bagi perbaikan hidup umat manusia. Kita tidak bisa membayangkan, betapa amannya dunia ini dari segala tindak kriminal, jika seluruh manusia mau mencontoh ketegasan ala Musa AS, betapa damai dunia ini jika seluruh manusia mau mencontoh kasih tulus Yesus Al-Masih, dan, betapa pertikaian adalah sesuatu yg tidak perlu ada, jika semua manusia mau meneladani moral Muhammad yg begitu toleran terhadap segala perbedaan. Sayangnya, karakter dunia yg begitu carut wa marut, yang di tingkahi pula dg nyanyian setan, tidak selalu membawa manusia pada jalan mulus yg di inginkan oleh para Nabi itu. Jadi, tetaplah dendam kesumat, kriminalitas, pertikaian, saling hujat, peperangan, saling membunuh dan blo blo blo akan tetap mewarnai perjalanan dunia ini sampai kapanpun.
Saya pribadi merasa beruntung, masih bisa menghirup udara segar ajaran para Nabi itu. walaupun sedikit, di jiwa saya masih terselip ketegasan ala Musa, di dada saya masih tersimpan kasih tulus Yesus Al-Masih, dan di hati serta fikiran saya masih terpatri toleransi ala Muhammad SAW.
#8. Dikirim oleh Fatur rafael pada 11/03 08:35 PM
Luthfi Syaukani dengan tulisan berjudul; Dua Amina.
Komentar Rafael; Apa yg di lakukan Amina Wadud sebetulnya bukanlah sesuatu yg baru dalam kasus wanita menjadi imam shalat, namun hanya skalanya saja yg mungkin berbeda. Jika Amina menjadi imam secara umum dalam shalat jum’at, dahulu pada zaman Nabi ada seorang wanita bernama Ummu Waraqah yg juga pernah menjadi imam shalat bagi keluarganya yg diantara ma’mumnya adalah laki-laki dewasa.
Mayoritas fuqaha, termasuk imam madzhab yg empat, hanya membolehkan laki-laki yg sudah baligh untuk menjadi imam shalat secara umum, sedangkan wanita hanya di perkenankan untuk menjadi imam shalat bagi wanita-wanita lainnya, tetapi tidak bagi laki-laki, walaupun keluarganya sendiri. Namun demikian, ada juga sebagian fuqaha yg membolehkan wanita menjadi imam shalat bagi laki-laki.
Mereka yg tidak membolehkan wanita menjadi imam shalat berpedoman dgn hadits Nabi yg di rawikan oleh Ibn Majah, “Janganlah seorang wanita menjadi imam bagi laki-laki”, namun, beberapa pakar hadits mendhaifkan hadits ini yg berakibat pada tidak bolehnya hadits ini di pakai sebagai sandaran hukum. Ada juga beberapa hadits yg menjadi sandaran bagi mereka tp hadits-hadits tersebut tidak menyentuh substansi tentang kepemimpinan wanita dalam shalat.
Imam Nawawi dalam bukunya Al-Majmu’, mengutip perkataan Qadhi Abu Thayyib dan Al-Abdari, bahwa beberapa fuqaha madzhab Syafi’i seperti Abu Tsur, Al-Muzanni, juga Ath-Thabari membolehkan wanita menjadi imam shalat bagi laki-laki dgn bersandar pada hadits yg di riwayatkan oleh Abu Daud yg bersumber dari Ummu Waraqah, bahwa Nabi kerap berkunjung kerumahnya, jika waktu shalat tiba, Nabi menunjuk muadzin baginya dan kemudian Nabi menyuruh Ummu Waraqah untuk menjadi imam bagi keluarganya. Keterangan yg mirip dgn ini bisa juga di lihat dalam buku Bidayah Al-Mujtahidnya Ibn Rusyd atau Subul As-Salamnya Ash-Shan’ani.
Pada pendapat saya, boleh saja seorang wanita menjadi imam shalat dalam keluarganya jika suaminya sedang tidak ada, atau suaminya sama sekali tidak bisa menjadi imam shalat. Atau bisa juga menjadi imam shalat secara umum di suatu daerah jika di daerah tersebut tidak ada satupun laki-laki yg mampu menjadi imam shalat. Atau bisa juga menjadi imam shalat kapanpun, dimanapun dan dalam kondisi apapun jika memang mayoritas fuqaha kontemporer menyetujuinya dan memberi toleransi pada kasus seperti ini. Yg terpenting, apa yg di lakukan Amina Wadud jangan dulu dianggap sesat, Amina hanya menerapkan sesuatu yg dahulunya memang pernah ada. Tuduhan sesat adalah kalimat yg sangat berat dan sebetulnya hanya Tuhan yg tau tentang siapa yg sesat. Wallahu a’lam bis-shawab, wa’ilmuhu atam.
#5. Dikirim oleh Fatur rafael pada 11/03 06:13 PM
Goenawan Muhammad dalam tulisan berjudul Mono.
Komentar Rafael; Identifikasi diri terhadap ma’na kata-kata Rasul “Aku tidak tahu” merupakan simbolisasi bagi sebuah keniscayaan umum manusia yang penuh dengan kelemahan dan ketidak tahuan. Semakin jauh manusia melanglang di ufuk pengetahuan, semakin banyak pula ketidak tahuan yang di rasa pada dirinya. Manusia memang tidak di haruskan untuk mengetahui segala sesuatu, bahkan karakter dunia yang di ciptakan begitu penuh misteri, banyak meninggalkan sesuatu yang manusia tidak tahu dan tidak akan pernah tahu untuk selama-lamanya. Tetaplah legenda bangsa Maya sebagai misteri, tetaplah Madain Shalih sebagai Misteri, tetaplah pilar-pilar Iram sebagai misteri dan ahirnya; tetaplah pula Tuhan sebagai misteri untuk selama-lamanya.
Jika Om GM menyukai ketidak tahuan Rasul tentang kapan kebangkitan Musa dan atau ada pengeculian Tuhan terhadapnya. Saya lebih suka pada kritikan Tuhan terhadap Musa ketika dia berdiri di tengah kaumnya dan mendakwakan diri sebagai yang terpandai di dunia. Arogansi Musa langsung mendapat teguran Tuhan bahwa di belahan dunia lain masih ada yang lebih alim dan lebih shalih dari pada Musa. Tuhan menitahkan Musa untuk belajar padanya (Al-Hidhr). Setelah melalui perjalanan panjang, Musa berhasil menemui dan belajar pada Al-Hidhr. Namun, maha suci Tuhan, ternyata Musa gagal menjadi murid yang baik bagi Al-Hidhr. Al-Hidhr memulangkan musa kembali pada kaumnya dalam keadaan kebingungan.
#6. Dikirim oleh Fatur rafael pada 03/03 03:25 PM
Abd Moqsith Gazali dalam; MUI dan pengharaman rokok.
Komentar Rafael; Perdebatan di sekitar hukum merokok adalah merupakan sejarah panjang di kalangan ahli agama (Islam), dan itu saya kira akan tetap berlangsung sampai kapanpun juga. Rokok dan hukumnya termasuk diantara sesuatu yg memang berada dalam lingkaran “Tuhan dan hal-hal yg tidak akan pernah selesai”.
Saya termasuk di antara orang yg tidak menyepakati apapun fatwa MUI, walaupun demikian sebagai orang yg berfikir bebas dan toleran saya tetap menghormati fatwa2 MUI itu yg merupakan bagian dari keragaman corak berfikir dalam lingkungan Islam.
Teman-teman, izinkan saya bercerita, mudah2an cerita ini bisa menjadi bahan pertimbangan bagi semua. Saya pernah konsultasi dengan seorang dokter spesialis “penyakit dalam” perihal masalah rokok ini. Saya bertanya padanya; anda kan seorang dokter, kenapa dari tadi saya lihat anda tidak berhenti merokok, bukankah itu tidak baik untuk kesehatan dan menurut dokter yg lain merokok bisa menyebabkan hancurnya paru2 dan berbagai penyakit lainnya, bukankah sesuatu yg membahayakan tubuh di haramkan agama? Dokter tersebut menjawab; O tidak, asal dari penyakit itu adalah sesuatu yang tidak bisa di deteksi oleh apapun maupun siapapun, bahkan oleh dokter yg paling expert sekalipun. Kata dia, penyakit itu datang langsung dr Tuhan, saya sudah banyak mendiagnosa pasien yg paru2nya hancur padahal dia sama sekali tidak merokok, sebaliknya saya juga banyak memeriksa pasien yg paru2nya bersih padahal pasien itu adalah pecandu rokok kelas berat, termasuk saya sendiri (dokter) adalah perokok kelas berat tp paru2 sy fine2 aja. Dokter itu menyambung lagi, secara teori medis orang yang terkena sinar matahari secara langsung dalam keadaan yg terus menerus akan terkena penyakit kangker kulit tp faktanya petani2 kita semua tetap segar bugar, belum pernah sekalipun saya mendengar atau melihat ada petani yg terkena kangker kulit, padahal mereka tiap hari terkena panas matahari secara langsung, bukankah jika merokok di haramkan bertani juga harusnya di haramkan? Saya dengan dokter itu terus terlibat dialog sambil dokter itu sesekali menyodorkan batang2 rokoknya pada saya, walaupun saya tidak begitu menyukai rokok tp demi menghormatinya saya menerimanya dan menyalakannya.
Tidak ada kesimpulan apapun yg ada dalam benak saya ketika saya keluar dari ruang dokter itu, cuma beberapa waktu kemudian saya jadi ingat tentang kaidah usul yg berbunyi “al-ashl fil-asy-ya’ al-ibahah”, Asal segala sesuatu adalah mubah kecuali terhadap sesuatu yg memang telah di hukumi haram secara mutlak, qath’i dan jelas oleh Qur’an maupun Hadits. Jadi karena tidak ada dalil yang pasti dalam Al-Quran maupun Hadits tentang hukum rokok ini saya lebih baik mengatakan kalau hukum rokok adalah mubah saja. Saya menganggap MUI lg becanda dengan fatwa haramnya itu, sebagai bentuk escapisme psikologis MUI dr segala terpaan badai kritik yg selama ini menghantam mereka.
Saya yang memang tidak begitu suka merokok tadinya berniat untuk berhenti sama sekali dari aktivitas merokok itu, tapi berhubung MUI mengharamakannya saya jadi mengurungkan niat untuk berhenti. Saya cuma ingin meyakinkan diri bahwa apa yg di fatwakan MUI itu bukanlah kebenaran yg tidak ada keraguan di dalamnya bahkan sebaliknya bisa jadi apa yg MUI fatwakan adalah merupakan kesalahan yg tidak ada keraguan padanya. Salam MUI!!
#16. Dikirim oleh Fatur rafael pada 27/02 10:07 AM
Novriantoni Kahar dalam, Petuah Roy untuk Obama.
Rafael; Tidak di pecah belah Iranpun sebetulnya pemimpin-pemimpin Arab dari dulu memang tidak bisa bersatu. Nampaknya watak ‘ashobiah kesukuan yg dari dulu mewarnai segala sejarah peperangan di antara kabilah-kabilah Arab tidak hilang hingga masa kini ketika zaman semakin beranjak modern. Sebetulnya apa yang di lakukan Mahmud Ahmadi Nejad dengan segala provokasinya adalah semata-mata agar para pemimpin Arab sadar diri dan bersatu padu dalam rangka menghentikan segala sepak terjang israel yg semakin lama kian tidak bisa terkendali.
#1. Dikirim oleh Fatur rafael pada 24/01 02:27 AM
Abd Moqsith dalam, Meuju perdamaian abadi Israel-Palestina.
Rafael; Ada hadits Nabi yg berbunyi Idza dzallatil-’arob dzallal-islaam, apabila bangsa arab menjadi bangsa yg hina maka Islampun akan hina pula, mafhum mukholafah dr hadits tersebut adalah Idza ‘azzatil-’arob ‘azzal-Islaam, apabila negeri arab berjaya maka Islampun akan jaya. Jika kt mencermati lebih jauh maka kt harus merevisi ulang apakah betul bahwa hadits tersebut adalah hadits sahih sebab hadits tersebut bertentangan dg fakta nyata bahwa negara-negara Arab adalah negara pengecut yg tidak bisa membela arab Palestine sebagai kawannya sendiri bahkan yg lebih parah ketika Liga arab mengadakan pertemuan untuk membahas masalah Palestine mereka bukannya mencari solusi yg paling cepat dan tepat agar Palestine segera keluar dr tekanan israel justru mereka saling menghujat satu sama lain di tambah lagi dengan adanya pernyataan panas dari Mahmud Ahmadi Nejad yg mengatakan bahwa bangsa arab turut terlibat dalam pembantaian warga Palestine oleh tentara israel. Nampaknya perdamaian abadi di timur tengah hanyalah harapan semu jika negara-negara Arab tidak mau bersatu padu untuk menghentikan segala rencana israel yg cenderung destruktif.
#11. Dikirim oleh Fatur rafael pada 23/01 05:56 PM
Abd Moqsith dalam, Lia Aminuddin dan problem penghapusan agama.
Rafael; Lia aminuddin sebetulnya cuma setingkat dengan dukun perempuan yg ada di kampung saya, seorang perempuan yg tdak mengerti apapun tentang masalah agama tapi jika ada yg memasuki tubuhnya dia jadi terlihat begitu pandai. Menurut pengakuannya kadang yg masuk adalah arwah wali songo, kadang tuan Abdulqadir jilani, kadang Muhammad SAW, kadang Jibril as si roh kudus itu bahkan yg lebih fantastis adalah kadang Tuhan yg memasuki dirinya. Dia bisa berbicara dg suara, dialek dan bahasa yg berbeda, bisa menerangkan tafsir quran seluas2nya dan macam2 keanehan lagi. Begitu pula yg terjadi dg Lia edenudin, menurut salah seorang mantan pengikutnya Lia sebetulnya tidak mengerti apa2 masalah agama tp jika dirinya sedang extase dan kemasukan arwah, entah itu mengaku jibril atau siapa, Lia mendadak jadi mengerti banyak hal dan bisa menafsiri Alquran. jadi Saya lebih suka menganggap Lia hanya sebagai dukun yg tersesat jalan yg semakin lama semakin tersesat dan perlu segera di selamatkan.
Terlalu besar jika membandingkan apa yg di lakukan Lia adalah seperti apa yg telah di lakukan yesus terhadap agama yahudi, dan apa yg telah di lakukan Muhammad SAW terhadap agama kristian. sebab apa yg telah di lakukan ke 2 orang itu telah berhasil merubah sebuah peradaban ke arah yg lebih baik sementara apa yg telah di lakukan Lia hanya menambah keruh suasana Indonesia saja di tengah kekeruhan yg begitu panjang mewarnai negeri ini.
#9. Dikirim oleh Fatur rafael pada 23/12 05:52 PM
Bersambung...
Komentar untuk tulisan Syafi'i Ma'arif yang berjudul argumen pluralisme agama. Komentar Rafael; Hanya para pemuka agama yg berjiwa bersih dan memiliki niat baiklah yg akan mampu dan mau melakukan dialog antar agama yg berma’na, dialog yg bebas dari segala bentuk prasangka, kebencian dan dendam kesumat. Selain itu, mereka juga tentu akan mampu menunjukkan kesatuan batin agama-agama maupun perbedaan formalnya. Para pemuka agama yg berjiwa bersih di harapkan terus melakukan dialog demi terciptanya iklim spiritual yg sehat bagi kehidupan keberagamaan umat manusia masa kini, mereka juga di harapkan mampu memberi kontribusi lebih banyak bagi kesetimbangan dan harmonisasi kehidupan keberagamaan masyarakat manusia yg begitu lama terkungkung dalam simpul-simpul kelam kesalah fahaman dan kebencian, akibatnya, masing-masing merasa telah terpisah jauh, seolah-olah tiada lagi kesempatan bagi masing-masing untuk saling bahu membahu dalam mewujudkan kehidupan yg lebih baik, damai dan harmonis, khususnya di bumi Palestine dan Israel, yg telah memendam bara kebencian tiada berujung.
Pada hakikatnya, Islam telah bertemu, bergaul dan berinteraksi dg tradisi Yahudi dan Nasrani lebih dr 14 abad lamanya. Islam sendiri sebetulnya adalah agama yg datang terahir untuk meneguhkan kembali tradisi Abrahamiya yg sebelumnya terjelma di dalam Yahudi dan Nasrani. Syariah sebagai perintah Tuhan, dalam banyak hal serupa dg kitab Talmud, meski dr segi penyusunannya syariah tidak menyadur dr kitab Talmud. Yesus Al-Masih, juga sebenarnya turut memberikan peranan penting dalam Islam, meski memiliki konsep yg berbeda dg pandangan Nasrani terhadapnya.
Hanya manusia yg telah mencapai puncak gunung tak terbataslah yg akan mampu menjadi pendaki sejati, ia tak kan goyah oleh jalan yg berbeda yg di tempuh kawan perjalanannya, sebab hanya jalan yg di tempuhnyalah yg terasa berma’na bagi hidupnya.
#20. Dikirim oleh Fatur rafael pada 21/03 03:16 PM
Komntar atas artikel Abd Moqsith Gazali berjudul; kapan Muhammad SAW lahir. Komentar Rafael; Tidak begitu penting kapan, dimana, dan hari apa Nabi Muhammad SAW di dzahirkan ke muka bumi ini. Sebab, tidak ada satupun sejarah masa lampau yg steril dari perselisihan ahli sejarah dalam hal ketepatan waktunya. Jika masa Nabi Muhammad, yg merupakan masa yg paling dekat dg kita di banding dg Nabi-Nabi lainnya saja belum terungkap kepastiannya sampai hari ini, apatah lagi dg Nabi-Nabi sebelum beliau. Biarlah itu semua tetap menjadi misteri gelap sejarah, yg manusia tidak perlu mempertikaikannya sampai mengeraskan urat leher dan menggemeretakkan gigi.
Sejarah hidup para Nabi memang akan selalu menarik untuk di perbincangkan sampai kapanpun, di sebabkan nilai-nilai luhur yg di bawa mereka bagi perbaikan hidup umat manusia. Kita tidak bisa membayangkan, betapa amannya dunia ini dari segala tindak kriminal, jika seluruh manusia mau mencontoh ketegasan ala Musa AS, betapa damai dunia ini jika seluruh manusia mau mencontoh kasih tulus Yesus Al-Masih, dan, betapa pertikaian adalah sesuatu yg tidak perlu ada, jika semua manusia mau meneladani moral Muhammad yg begitu toleran terhadap segala perbedaan. Sayangnya, karakter dunia yg begitu carut wa marut, yang di tingkahi pula dg nyanyian setan, tidak selalu membawa manusia pada jalan mulus yg di inginkan oleh para Nabi itu. Jadi, tetaplah dendam kesumat, kriminalitas, pertikaian, saling hujat, peperangan, saling membunuh dan blo blo blo akan tetap mewarnai perjalanan dunia ini sampai kapanpun.
Saya pribadi merasa beruntung, masih bisa menghirup udara segar ajaran para Nabi itu. walaupun sedikit, di jiwa saya masih terselip ketegasan ala Musa, di dada saya masih tersimpan kasih tulus Yesus Al-Masih, dan di hati serta fikiran saya masih terpatri toleransi ala Muhammad SAW.
#8. Dikirim oleh Fatur rafael pada 11/03 08:35 PM
Luthfi Syaukani dengan tulisan berjudul; Dua Amina.
Komentar Rafael; Apa yg di lakukan Amina Wadud sebetulnya bukanlah sesuatu yg baru dalam kasus wanita menjadi imam shalat, namun hanya skalanya saja yg mungkin berbeda. Jika Amina menjadi imam secara umum dalam shalat jum’at, dahulu pada zaman Nabi ada seorang wanita bernama Ummu Waraqah yg juga pernah menjadi imam shalat bagi keluarganya yg diantara ma’mumnya adalah laki-laki dewasa.
Mayoritas fuqaha, termasuk imam madzhab yg empat, hanya membolehkan laki-laki yg sudah baligh untuk menjadi imam shalat secara umum, sedangkan wanita hanya di perkenankan untuk menjadi imam shalat bagi wanita-wanita lainnya, tetapi tidak bagi laki-laki, walaupun keluarganya sendiri. Namun demikian, ada juga sebagian fuqaha yg membolehkan wanita menjadi imam shalat bagi laki-laki.
Mereka yg tidak membolehkan wanita menjadi imam shalat berpedoman dgn hadits Nabi yg di rawikan oleh Ibn Majah, “Janganlah seorang wanita menjadi imam bagi laki-laki”, namun, beberapa pakar hadits mendhaifkan hadits ini yg berakibat pada tidak bolehnya hadits ini di pakai sebagai sandaran hukum. Ada juga beberapa hadits yg menjadi sandaran bagi mereka tp hadits-hadits tersebut tidak menyentuh substansi tentang kepemimpinan wanita dalam shalat.
Imam Nawawi dalam bukunya Al-Majmu’, mengutip perkataan Qadhi Abu Thayyib dan Al-Abdari, bahwa beberapa fuqaha madzhab Syafi’i seperti Abu Tsur, Al-Muzanni, juga Ath-Thabari membolehkan wanita menjadi imam shalat bagi laki-laki dgn bersandar pada hadits yg di riwayatkan oleh Abu Daud yg bersumber dari Ummu Waraqah, bahwa Nabi kerap berkunjung kerumahnya, jika waktu shalat tiba, Nabi menunjuk muadzin baginya dan kemudian Nabi menyuruh Ummu Waraqah untuk menjadi imam bagi keluarganya. Keterangan yg mirip dgn ini bisa juga di lihat dalam buku Bidayah Al-Mujtahidnya Ibn Rusyd atau Subul As-Salamnya Ash-Shan’ani.
Pada pendapat saya, boleh saja seorang wanita menjadi imam shalat dalam keluarganya jika suaminya sedang tidak ada, atau suaminya sama sekali tidak bisa menjadi imam shalat. Atau bisa juga menjadi imam shalat secara umum di suatu daerah jika di daerah tersebut tidak ada satupun laki-laki yg mampu menjadi imam shalat. Atau bisa juga menjadi imam shalat kapanpun, dimanapun dan dalam kondisi apapun jika memang mayoritas fuqaha kontemporer menyetujuinya dan memberi toleransi pada kasus seperti ini. Yg terpenting, apa yg di lakukan Amina Wadud jangan dulu dianggap sesat, Amina hanya menerapkan sesuatu yg dahulunya memang pernah ada. Tuduhan sesat adalah kalimat yg sangat berat dan sebetulnya hanya Tuhan yg tau tentang siapa yg sesat. Wallahu a’lam bis-shawab, wa’ilmuhu atam.
#5. Dikirim oleh Fatur rafael pada 11/03 06:13 PM
Goenawan Muhammad dalam tulisan berjudul Mono.
Komentar Rafael; Identifikasi diri terhadap ma’na kata-kata Rasul “Aku tidak tahu” merupakan simbolisasi bagi sebuah keniscayaan umum manusia yang penuh dengan kelemahan dan ketidak tahuan. Semakin jauh manusia melanglang di ufuk pengetahuan, semakin banyak pula ketidak tahuan yang di rasa pada dirinya. Manusia memang tidak di haruskan untuk mengetahui segala sesuatu, bahkan karakter dunia yang di ciptakan begitu penuh misteri, banyak meninggalkan sesuatu yang manusia tidak tahu dan tidak akan pernah tahu untuk selama-lamanya. Tetaplah legenda bangsa Maya sebagai misteri, tetaplah Madain Shalih sebagai Misteri, tetaplah pilar-pilar Iram sebagai misteri dan ahirnya; tetaplah pula Tuhan sebagai misteri untuk selama-lamanya.
Jika Om GM menyukai ketidak tahuan Rasul tentang kapan kebangkitan Musa dan atau ada pengeculian Tuhan terhadapnya. Saya lebih suka pada kritikan Tuhan terhadap Musa ketika dia berdiri di tengah kaumnya dan mendakwakan diri sebagai yang terpandai di dunia. Arogansi Musa langsung mendapat teguran Tuhan bahwa di belahan dunia lain masih ada yang lebih alim dan lebih shalih dari pada Musa. Tuhan menitahkan Musa untuk belajar padanya (Al-Hidhr). Setelah melalui perjalanan panjang, Musa berhasil menemui dan belajar pada Al-Hidhr. Namun, maha suci Tuhan, ternyata Musa gagal menjadi murid yang baik bagi Al-Hidhr. Al-Hidhr memulangkan musa kembali pada kaumnya dalam keadaan kebingungan.
#6. Dikirim oleh Fatur rafael pada 03/03 03:25 PM
Abd Moqsith Gazali dalam; MUI dan pengharaman rokok.
Komentar Rafael; Perdebatan di sekitar hukum merokok adalah merupakan sejarah panjang di kalangan ahli agama (Islam), dan itu saya kira akan tetap berlangsung sampai kapanpun juga. Rokok dan hukumnya termasuk diantara sesuatu yg memang berada dalam lingkaran “Tuhan dan hal-hal yg tidak akan pernah selesai”.
Saya termasuk di antara orang yg tidak menyepakati apapun fatwa MUI, walaupun demikian sebagai orang yg berfikir bebas dan toleran saya tetap menghormati fatwa2 MUI itu yg merupakan bagian dari keragaman corak berfikir dalam lingkungan Islam.
Teman-teman, izinkan saya bercerita, mudah2an cerita ini bisa menjadi bahan pertimbangan bagi semua. Saya pernah konsultasi dengan seorang dokter spesialis “penyakit dalam” perihal masalah rokok ini. Saya bertanya padanya; anda kan seorang dokter, kenapa dari tadi saya lihat anda tidak berhenti merokok, bukankah itu tidak baik untuk kesehatan dan menurut dokter yg lain merokok bisa menyebabkan hancurnya paru2 dan berbagai penyakit lainnya, bukankah sesuatu yg membahayakan tubuh di haramkan agama? Dokter tersebut menjawab; O tidak, asal dari penyakit itu adalah sesuatu yang tidak bisa di deteksi oleh apapun maupun siapapun, bahkan oleh dokter yg paling expert sekalipun. Kata dia, penyakit itu datang langsung dr Tuhan, saya sudah banyak mendiagnosa pasien yg paru2nya hancur padahal dia sama sekali tidak merokok, sebaliknya saya juga banyak memeriksa pasien yg paru2nya bersih padahal pasien itu adalah pecandu rokok kelas berat, termasuk saya sendiri (dokter) adalah perokok kelas berat tp paru2 sy fine2 aja. Dokter itu menyambung lagi, secara teori medis orang yang terkena sinar matahari secara langsung dalam keadaan yg terus menerus akan terkena penyakit kangker kulit tp faktanya petani2 kita semua tetap segar bugar, belum pernah sekalipun saya mendengar atau melihat ada petani yg terkena kangker kulit, padahal mereka tiap hari terkena panas matahari secara langsung, bukankah jika merokok di haramkan bertani juga harusnya di haramkan? Saya dengan dokter itu terus terlibat dialog sambil dokter itu sesekali menyodorkan batang2 rokoknya pada saya, walaupun saya tidak begitu menyukai rokok tp demi menghormatinya saya menerimanya dan menyalakannya.
Tidak ada kesimpulan apapun yg ada dalam benak saya ketika saya keluar dari ruang dokter itu, cuma beberapa waktu kemudian saya jadi ingat tentang kaidah usul yg berbunyi “al-ashl fil-asy-ya’ al-ibahah”, Asal segala sesuatu adalah mubah kecuali terhadap sesuatu yg memang telah di hukumi haram secara mutlak, qath’i dan jelas oleh Qur’an maupun Hadits. Jadi karena tidak ada dalil yang pasti dalam Al-Quran maupun Hadits tentang hukum rokok ini saya lebih baik mengatakan kalau hukum rokok adalah mubah saja. Saya menganggap MUI lg becanda dengan fatwa haramnya itu, sebagai bentuk escapisme psikologis MUI dr segala terpaan badai kritik yg selama ini menghantam mereka.
Saya yang memang tidak begitu suka merokok tadinya berniat untuk berhenti sama sekali dari aktivitas merokok itu, tapi berhubung MUI mengharamakannya saya jadi mengurungkan niat untuk berhenti. Saya cuma ingin meyakinkan diri bahwa apa yg di fatwakan MUI itu bukanlah kebenaran yg tidak ada keraguan di dalamnya bahkan sebaliknya bisa jadi apa yg MUI fatwakan adalah merupakan kesalahan yg tidak ada keraguan padanya. Salam MUI!!
#16. Dikirim oleh Fatur rafael pada 27/02 10:07 AM
Novriantoni Kahar dalam, Petuah Roy untuk Obama.
Rafael; Tidak di pecah belah Iranpun sebetulnya pemimpin-pemimpin Arab dari dulu memang tidak bisa bersatu. Nampaknya watak ‘ashobiah kesukuan yg dari dulu mewarnai segala sejarah peperangan di antara kabilah-kabilah Arab tidak hilang hingga masa kini ketika zaman semakin beranjak modern. Sebetulnya apa yang di lakukan Mahmud Ahmadi Nejad dengan segala provokasinya adalah semata-mata agar para pemimpin Arab sadar diri dan bersatu padu dalam rangka menghentikan segala sepak terjang israel yg semakin lama kian tidak bisa terkendali.
#1. Dikirim oleh Fatur rafael pada 24/01 02:27 AM
Abd Moqsith dalam, Meuju perdamaian abadi Israel-Palestina.
Rafael; Ada hadits Nabi yg berbunyi Idza dzallatil-’arob dzallal-islaam, apabila bangsa arab menjadi bangsa yg hina maka Islampun akan hina pula, mafhum mukholafah dr hadits tersebut adalah Idza ‘azzatil-’arob ‘azzal-Islaam, apabila negeri arab berjaya maka Islampun akan jaya. Jika kt mencermati lebih jauh maka kt harus merevisi ulang apakah betul bahwa hadits tersebut adalah hadits sahih sebab hadits tersebut bertentangan dg fakta nyata bahwa negara-negara Arab adalah negara pengecut yg tidak bisa membela arab Palestine sebagai kawannya sendiri bahkan yg lebih parah ketika Liga arab mengadakan pertemuan untuk membahas masalah Palestine mereka bukannya mencari solusi yg paling cepat dan tepat agar Palestine segera keluar dr tekanan israel justru mereka saling menghujat satu sama lain di tambah lagi dengan adanya pernyataan panas dari Mahmud Ahmadi Nejad yg mengatakan bahwa bangsa arab turut terlibat dalam pembantaian warga Palestine oleh tentara israel. Nampaknya perdamaian abadi di timur tengah hanyalah harapan semu jika negara-negara Arab tidak mau bersatu padu untuk menghentikan segala rencana israel yg cenderung destruktif.
#11. Dikirim oleh Fatur rafael pada 23/01 05:56 PM
Abd Moqsith dalam, Lia Aminuddin dan problem penghapusan agama.
Rafael; Lia aminuddin sebetulnya cuma setingkat dengan dukun perempuan yg ada di kampung saya, seorang perempuan yg tdak mengerti apapun tentang masalah agama tapi jika ada yg memasuki tubuhnya dia jadi terlihat begitu pandai. Menurut pengakuannya kadang yg masuk adalah arwah wali songo, kadang tuan Abdulqadir jilani, kadang Muhammad SAW, kadang Jibril as si roh kudus itu bahkan yg lebih fantastis adalah kadang Tuhan yg memasuki dirinya. Dia bisa berbicara dg suara, dialek dan bahasa yg berbeda, bisa menerangkan tafsir quran seluas2nya dan macam2 keanehan lagi. Begitu pula yg terjadi dg Lia edenudin, menurut salah seorang mantan pengikutnya Lia sebetulnya tidak mengerti apa2 masalah agama tp jika dirinya sedang extase dan kemasukan arwah, entah itu mengaku jibril atau siapa, Lia mendadak jadi mengerti banyak hal dan bisa menafsiri Alquran. jadi Saya lebih suka menganggap Lia hanya sebagai dukun yg tersesat jalan yg semakin lama semakin tersesat dan perlu segera di selamatkan.
Terlalu besar jika membandingkan apa yg di lakukan Lia adalah seperti apa yg telah di lakukan yesus terhadap agama yahudi, dan apa yg telah di lakukan Muhammad SAW terhadap agama kristian. sebab apa yg telah di lakukan ke 2 orang itu telah berhasil merubah sebuah peradaban ke arah yg lebih baik sementara apa yg telah di lakukan Lia hanya menambah keruh suasana Indonesia saja di tengah kekeruhan yg begitu panjang mewarnai negeri ini.
#9. Dikirim oleh Fatur rafael pada 23/12 05:52 PM
Bersambung...
Selasa, 31 Maret 2009
Ra nggenah
Aku berdosa dan Tuhanku tersenyum
Aku bertaubat dan Tuhanku tertawa
Pada zhahir aku selalu patuh dengannya, pada batin aku selalu menentangnya
Tuhan selalu mendekatiku, namun aku selalu lari darinya
lalu aku terjerembab dan Tuhanpun menangkapku menarikku
padahal Tuhan tiada membutuhkanku, namun Ia peduli padaku
aku menganggapnya egois, padahal Tuhan altruis
aku menganggapnya masa bodoh, padahal Tuhan selalu sibuk
Tuhan menyapa aku dengan firmannya yang tiada bisu, namun telingaku senantiasa menuli
Tuhan hendak menutup nerakanya namun aku selalu mencari kuncinya
Tuhan mencintai aku namun aku sering pacaran dengan iblis
Tuhan cemburu padaku namun aku berperilaku dayus
Tuhan ada di mana-mana namun aku selalu kehilangannya
Tuhaaaan.......Dimana?
Aku bertaubat dan Tuhanku tertawa
Pada zhahir aku selalu patuh dengannya, pada batin aku selalu menentangnya
Tuhan selalu mendekatiku, namun aku selalu lari darinya
lalu aku terjerembab dan Tuhanpun menangkapku menarikku
padahal Tuhan tiada membutuhkanku, namun Ia peduli padaku
aku menganggapnya egois, padahal Tuhan altruis
aku menganggapnya masa bodoh, padahal Tuhan selalu sibuk
Tuhan menyapa aku dengan firmannya yang tiada bisu, namun telingaku senantiasa menuli
Tuhan hendak menutup nerakanya namun aku selalu mencari kuncinya
Tuhan mencintai aku namun aku sering pacaran dengan iblis
Tuhan cemburu padaku namun aku berperilaku dayus
Tuhan ada di mana-mana namun aku selalu kehilangannya
Tuhaaaan.......Dimana?
Minggu, 22 Maret 2009
Catatan kecil untuk pemimpin Indonesia
Alkisah, pada suatu hari, ketika Umar bin Al-Khath-thab di lantik menjadi khalifah mengganti khalifah sebelumnya yang telah mangkat, Abu Bakar Ash-shiddiq. Ketika Umar sedang lantang memaparkan visi dan misi pemerintahannya, tiba-tiba seorang pemuda berdiri sambil menggenggam erat pedang di tangannya, pemuda tersebut berkata tidak kalah lantang dengan perkataan Umar. Pemuda tersebut berkata; wahai khalifah, jika dalam kepemimpinanmu saya lihat ada perilaku anda yang bengkok dan bertentangan dengan jalan yang lurus, maka saya tidak akan segan untuk meluruskan anda dengan pedangku ini, mendengar perkataan pemuda itu, Umar tidak sedikitpun memperlihatkan kemarahan di wajahnya. Umar malah tersenyum dan memuji ketegasan pemuda tersebut yang konsisten terhadap kebenaran sekalipun berhadapan dengan penguasa negara yang memiliki pengawal dan pasukan yang banyak.
Pertanyaannya, adakah di negeri ini pemimpin yang memiliki watak seperti Umar? Sekalipun Umar adalah seorang yang di kenal kasar dan beringas, namun ia tidak sungkan untuk tunduk di bawah telapak kebenaran.
Amat berbeda jauh dengan kebanyakan pemimpin di negeri pancasila ini, negeri yang katanya berada di bawah simbol Ke-Tuhanan yang maha esa, yang katanya rakyatnya di pimpin dengan cara hikmat dan kebijaksanaan, yang katanya keadilan sosial merupakan cita-cita luhurnya. Betapa banyak di sini pemimpin yang sangat anti terhadap kritik, meskipun kritik yang di lontarkan adalah kritik yang bersifat konstruktif, kritik sering di salah pahami sebagai cacian, penghinaan, pelecehan atau bahkan dianggap sebagai pencemaran terhadap nama baik.
Pada masa lalu, ketika negeri yang carut marut ini di pimpin oleh orang yang bernama Soeharto, yang senyumnya senantiasa mengembang namun berjiwa bengis dan biadab. Tidak boleh seorangpun melontarkan kritik padanya kalau tidak ingin hidupnya di rampas, di culik, di buang atau di hilangkan sama sekali jejaknya, dahulu, Indonesia adalah ibarat sangkar raksasa yang tidak boleh bagi siapapun untuk mengepakkan sayapnya, rakyat menjadi laksana burung yang lumpuh, selalu di cekam rasa takut dan merasa bersalah jika berhadapan dengan pemimpin. Setiap lebaran tiba di adakanlah open house di tempat para pejabat, rakyat ber-sowan memohon maaf atas kesalahan yang tidak di lakukannya, sebuah fakta terbalik yang seharusnya tidak di adakan. Sesungguhnya siapa yang telah menerpurukkan negeri ini ke jurang krisis yang tiada ahir ini? Sesungguhnya siapa yang telah menghancurkan tatanan demokrasi yang katanya kepemimpinan tertinggi ada di tangan rakyat? Sesungguhnya siapa yang telah merusak lingkungan, sehingga bencana demi bencana terus menerpa negeri ini? Sesungguhnya, siapa yang gemar sekali melakukan korupsi tanpa peduli rakyat begitu menderita karenanya? Siapa yang serakah sehingga kekayaan negara seolah-olah hanya berada di kantongnya?
Mana itu keadilan sosial? Mana itu ke-Tuhanan yang maha esa? Mana itu kemanusiaan yang adil dan beradab? Mana itu kerakyatan yang di pimpin oleh hikmat dalam kebijaksanaan? Mana itu persatuan Indonesia? Omong kosong! Kemunafikan akan tetaplah sebagai kemunafikan sekalipun sentuhannya halus, belaiannya lembut dan sekalipun suara pembawanya berirama syahdu.
Pertanyaannya, adakah di negeri ini pemimpin yang memiliki watak seperti Umar? Sekalipun Umar adalah seorang yang di kenal kasar dan beringas, namun ia tidak sungkan untuk tunduk di bawah telapak kebenaran.
Amat berbeda jauh dengan kebanyakan pemimpin di negeri pancasila ini, negeri yang katanya berada di bawah simbol Ke-Tuhanan yang maha esa, yang katanya rakyatnya di pimpin dengan cara hikmat dan kebijaksanaan, yang katanya keadilan sosial merupakan cita-cita luhurnya. Betapa banyak di sini pemimpin yang sangat anti terhadap kritik, meskipun kritik yang di lontarkan adalah kritik yang bersifat konstruktif, kritik sering di salah pahami sebagai cacian, penghinaan, pelecehan atau bahkan dianggap sebagai pencemaran terhadap nama baik.
Pada masa lalu, ketika negeri yang carut marut ini di pimpin oleh orang yang bernama Soeharto, yang senyumnya senantiasa mengembang namun berjiwa bengis dan biadab. Tidak boleh seorangpun melontarkan kritik padanya kalau tidak ingin hidupnya di rampas, di culik, di buang atau di hilangkan sama sekali jejaknya, dahulu, Indonesia adalah ibarat sangkar raksasa yang tidak boleh bagi siapapun untuk mengepakkan sayapnya, rakyat menjadi laksana burung yang lumpuh, selalu di cekam rasa takut dan merasa bersalah jika berhadapan dengan pemimpin. Setiap lebaran tiba di adakanlah open house di tempat para pejabat, rakyat ber-sowan memohon maaf atas kesalahan yang tidak di lakukannya, sebuah fakta terbalik yang seharusnya tidak di adakan. Sesungguhnya siapa yang telah menerpurukkan negeri ini ke jurang krisis yang tiada ahir ini? Sesungguhnya siapa yang telah menghancurkan tatanan demokrasi yang katanya kepemimpinan tertinggi ada di tangan rakyat? Sesungguhnya siapa yang telah merusak lingkungan, sehingga bencana demi bencana terus menerpa negeri ini? Sesungguhnya, siapa yang gemar sekali melakukan korupsi tanpa peduli rakyat begitu menderita karenanya? Siapa yang serakah sehingga kekayaan negara seolah-olah hanya berada di kantongnya?
Mana itu keadilan sosial? Mana itu ke-Tuhanan yang maha esa? Mana itu kemanusiaan yang adil dan beradab? Mana itu kerakyatan yang di pimpin oleh hikmat dalam kebijaksanaan? Mana itu persatuan Indonesia? Omong kosong! Kemunafikan akan tetaplah sebagai kemunafikan sekalipun sentuhannya halus, belaiannya lembut dan sekalipun suara pembawanya berirama syahdu.
Sabtu, 21 Maret 2009
Pemilu, pesta penuh kemunafikan
Kurang dari 20 hari lagi, negeri tercinta Indonesia akan menghadapi sebuah pesta besar; PEMILIHAN UMUM! Ia adalah hajat lima tahunan negeri ini, guna mencari pemimpin baru, yang di harapkan mampu membawa Indonesia keluar dari krisis multi dimensional yang telah mengungkung Indonesia lebih dari satu dekade.
Ada semacam peristiwa yang sama persis yang seolah sudah menjadi hukum alam, pada setiap menjelang pemilu, orang-orang yang sudah duduk di jabatan pemerintahan dan ingin memperpanjang kedudukannya karena betapa ni'matnya menjadi pejabat, atau orang yang sudah lama ingin menjadi pejabat tapi belum ada kesempatan karena selalu tersingkir dari persaingan, atau orang yang benar-benar baru berkecimpung di dunia politik dan ingin juga ikut meni'mati kedudukan, mereka sibuk mempromosikan dirinya di hadapan rakyat agar rakyat memilihnya, dengan seabreg janji perubahan, pengentasan kemiskinan, pendidikan murah, terbukanya lapangan pekerjaan yang lebih luas, dan segala janji-janji lainnya yang sejatinya semuanya mengambang tinggi diatas awan. Setahu saya, belum ada satupun janji para pejabat pada saat kampanye yang sanggup untuk di tepati ketika ia betul-betul telah menjadi pejabat. Entah barangkali karena kesibukan yang menjadikannya lupa, atau belum menemukan solusi yang tepat untuk ternunaikannya janji-janji itu atau karena memang hati pejabat itu begitu pekat tertutup debu kemunafikan sehingga janji-janji yang dulu pernah di ucapkan menguap bersama buruknya perilaku mereka.
Negeri yang di juluki "Laksana zamrud di lintasan khatulistiwa" ini, sebetulnya adalah negeri yang sungguh-sungguh malang, betapa tidak, dengan sumber daya alam yang begitu kaya dan subur, memiliki penduduk di atas dua ratus juta dan pintar-pintar tapi tidak ada satupun yang mampu mengelola segala sumber daya yang ada demi kesejahteraan dan kemakmuran rakyat. Apa yang menghalangi para pejabat untuk memakmurkan rakyat, jika bukan karena ambisi besar mereka untuk mereguk keni'matan pribadi dari negeri ini untuk selama-lamanya sampai sepuluh bahkan jika mungkin sampai turunan mereka yang terahir hidup di dunia? Sehingga lupa akan janji-janjinya ketika kampanye, lupa bahwa penderitaan telah mencekik banyak rakyat negeri ini, lupa bahwa persatuan adalah simbol dari kemerdekaan negeri ini. Bagaimana persatuan akan tetap terjalin jika yang satu bergelimang dalam tumpukan keni'matan sementara yang lain terjerembab dalam kubangan derita yang terus menerus? Bagaimana bisa bersatu jika yang ini ingin keadilan sementara yang lain terus cuek melakukan korupsi, kolusi dan perbuatan jijik lainnya? Apanya yang salah jika sebagian rakyat lebih memilih golput daripada memilih pemimpin yang terus menerus menebar kebohongan? BERBOHONG adalah tercela dalam pandangan agama apapun, dan bukankah Islam amat mengHARAMKAN kebohongan? Kenapa MUI tidak mengharamkan para pejabat yang biasa berbohong untuk ikut pemilihan lagi, daripada mengancam masyarakat yang sadar akan kebohongan mayoritas pejabat publik dengan haramnya golput?
Langit Indonesia beberapa hari ke depan akan terus di penuhi omong kosong tanpa ma'na, penuh KEMUNAFIKAN. Jiwaku muak, benci dan jijik melihat tingkah polah mereka. Maha suci Tuhan, yang ternyata tidak hanya menciptakan yang baik-baik saja, Tuhan juga menciptakan mereka-mereka yang berperilaku buruk dan sama sekali tidak bermanfaat bagi kehidupan rakyat banyak.
Wahai rakyat Indonesia, pengalaman seharusnya telah banyak mengajarkan pada kalian tentang betapa jelas kemunafikan yang di perlihatkan para pemimpin kita terdahulu, jika ingin memilih, pilihlah pemimpin yang berjiwa bersih dan mau mencintai rakyat sepenuh hati, pemimpin yang selalu memberi simpati yang mendalam terhadap segala derita dan duka rakyatnya. jika tidak, mari kita tinggalkan seluruh pemimpin yang ada di negeri ini, untuk kita seret dan kita tuntut di suatu hari kelak di hadapan pengadilan Tuhan yang maha adil.
Hidup dan maha suci Tuhan yang telah menghalalkan GOLPUT!
Ada semacam peristiwa yang sama persis yang seolah sudah menjadi hukum alam, pada setiap menjelang pemilu, orang-orang yang sudah duduk di jabatan pemerintahan dan ingin memperpanjang kedudukannya karena betapa ni'matnya menjadi pejabat, atau orang yang sudah lama ingin menjadi pejabat tapi belum ada kesempatan karena selalu tersingkir dari persaingan, atau orang yang benar-benar baru berkecimpung di dunia politik dan ingin juga ikut meni'mati kedudukan, mereka sibuk mempromosikan dirinya di hadapan rakyat agar rakyat memilihnya, dengan seabreg janji perubahan, pengentasan kemiskinan, pendidikan murah, terbukanya lapangan pekerjaan yang lebih luas, dan segala janji-janji lainnya yang sejatinya semuanya mengambang tinggi diatas awan. Setahu saya, belum ada satupun janji para pejabat pada saat kampanye yang sanggup untuk di tepati ketika ia betul-betul telah menjadi pejabat. Entah barangkali karena kesibukan yang menjadikannya lupa, atau belum menemukan solusi yang tepat untuk ternunaikannya janji-janji itu atau karena memang hati pejabat itu begitu pekat tertutup debu kemunafikan sehingga janji-janji yang dulu pernah di ucapkan menguap bersama buruknya perilaku mereka.
Negeri yang di juluki "Laksana zamrud di lintasan khatulistiwa" ini, sebetulnya adalah negeri yang sungguh-sungguh malang, betapa tidak, dengan sumber daya alam yang begitu kaya dan subur, memiliki penduduk di atas dua ratus juta dan pintar-pintar tapi tidak ada satupun yang mampu mengelola segala sumber daya yang ada demi kesejahteraan dan kemakmuran rakyat. Apa yang menghalangi para pejabat untuk memakmurkan rakyat, jika bukan karena ambisi besar mereka untuk mereguk keni'matan pribadi dari negeri ini untuk selama-lamanya sampai sepuluh bahkan jika mungkin sampai turunan mereka yang terahir hidup di dunia? Sehingga lupa akan janji-janjinya ketika kampanye, lupa bahwa penderitaan telah mencekik banyak rakyat negeri ini, lupa bahwa persatuan adalah simbol dari kemerdekaan negeri ini. Bagaimana persatuan akan tetap terjalin jika yang satu bergelimang dalam tumpukan keni'matan sementara yang lain terjerembab dalam kubangan derita yang terus menerus? Bagaimana bisa bersatu jika yang ini ingin keadilan sementara yang lain terus cuek melakukan korupsi, kolusi dan perbuatan jijik lainnya? Apanya yang salah jika sebagian rakyat lebih memilih golput daripada memilih pemimpin yang terus menerus menebar kebohongan? BERBOHONG adalah tercela dalam pandangan agama apapun, dan bukankah Islam amat mengHARAMKAN kebohongan? Kenapa MUI tidak mengharamkan para pejabat yang biasa berbohong untuk ikut pemilihan lagi, daripada mengancam masyarakat yang sadar akan kebohongan mayoritas pejabat publik dengan haramnya golput?
Langit Indonesia beberapa hari ke depan akan terus di penuhi omong kosong tanpa ma'na, penuh KEMUNAFIKAN. Jiwaku muak, benci dan jijik melihat tingkah polah mereka. Maha suci Tuhan, yang ternyata tidak hanya menciptakan yang baik-baik saja, Tuhan juga menciptakan mereka-mereka yang berperilaku buruk dan sama sekali tidak bermanfaat bagi kehidupan rakyat banyak.
Wahai rakyat Indonesia, pengalaman seharusnya telah banyak mengajarkan pada kalian tentang betapa jelas kemunafikan yang di perlihatkan para pemimpin kita terdahulu, jika ingin memilih, pilihlah pemimpin yang berjiwa bersih dan mau mencintai rakyat sepenuh hati, pemimpin yang selalu memberi simpati yang mendalam terhadap segala derita dan duka rakyatnya. jika tidak, mari kita tinggalkan seluruh pemimpin yang ada di negeri ini, untuk kita seret dan kita tuntut di suatu hari kelak di hadapan pengadilan Tuhan yang maha adil.
Hidup dan maha suci Tuhan yang telah menghalalkan GOLPUT!
Senin, 09 Maret 2009
Dialog Fatur Rafael VS Kabayanis di situs JIL -Jaringan Islam Liberal-
Fatur Rafael menulis; Syeh Nasar Al-Maqdisi dalam bukunya Al-Hujjah meriwayatkan secara marfu’ Hadits Nabi yg berbunyi; “Ikhtilafu ummati rahmatun”, demikian pula Al-Baihaqy meriwayatkan dr Qasim bin Muhammad dalam Al-Madkhal, Yahya bin Said meriwayatkan pula dari Umar bin Abd Aziz, kemudian Yahya berkata tidaklah membahagiakan aku jika sekiranya tidak ada perbedaan di antara umat Muhammad SAAW karena jikalau dalam umat ini tidak ada perbedaan maka tidak akan ada rukhshah di dalamnya. I.H, Al-la-aalil-mantsuroh, Badruddin Az-zarkasyi 745 H - 794 H.
Bagi saya Islam adalah ibarat taman bunga yg di penuhi berbagai aneka bunga dg aroma dan warna yg semuanya memikat yg masing-masing orang bisa memetiknya sesuai dg seleranya, seseorang tak dapat di larang atau di caci maki jika dia memetik bunga mawar yg di pandangnya sebagai bunga yg paling indah, begitu pula jika ada yg lainnya yg memetik bunga melati. Tentu masing-masing punya alasan kenapa memetik yg ini dan bukan yg itu. Yg penting masing-masing pemetik tidak boleh saling menghina dengan menganggap bunga yg di petiknya adalah bunga yg paling indah dan bunga yg di petik orang lain adalah jelek lalu semua orang di paksa untuk memetik bunga yg sama dengan yg dirinya petik. Bisa juga di ibaratkan sebagai meja perjamuan yg berisi berbagai makanan yg lezat-lezat, semua orang bisa meni’matinya sesuai keinginan hatinya.
Masing-masing orang Islam di bolehkan untuk mengikuti kecenderungan Madzhab apapun yg bisa menenangkan hatinya selagi tidak menyimpang dari ajaran pokok bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah. So betapa susahnya kita mengikuti 100% ajaran Rasulullah semasa beliau hidup, untuk hal yg demikian kita harus betul-betul faham seluruh isi Al-Quran dan faham seluruh Hadits Nabi padahal kita semua tidak ada yg pernah tau berapa juta jumlah Hadits nabi, kita manusia yg terbatas dan hanya bisa mengamalkan Islam dg terbatas pula maka benarlah ketika Rasul bersabda bahwa orang Islam di ahir zaman bisa selamat walaupun hanya mengikuti Islam 20% saja.
#8. Dikirim oleh Fatur rafael pada 28/01 02:20 PM
Kabayanis menulis; @ fatur rafael…
ummat sekarang susah mengikuti 100% ajaran rasul....karena belajarnya dari kitab2 yang ditulis oleh seorang manusia walau dalam kapasitas seorang ulama sekalipun ....beda hal nya dengan sahabat-sahabat rasul...tabiin ..dan tabiin tabiin… mereka belajar, beriman dan melaksanakan ajaran Rasulululloh dari fenomena “Living Al-Qur’an” dengan tidak bergantung 89% kepada bahasa2 tulisan. Mereka saat itu belajar dan mengamalkan agama melalui uswah, yaitu segala tutur kata, prilaku, pemikiran, dan segala sesuatu tanpa terbiaskan sedikitpun oleh makna tertulis dari untaian tulisan.... maklum saja metode yang dikembangkan oleh Yang Maha Pengasih adalah melalui Paradigma “UMMI” yaitu suatu bentuk kecerdasan fitriah yang tidak bergantung pada bahasa tulisan yang dapat menimbulkan multitafsir atas makna tertulis yang ditulis orang seorang manusia lainnya… walaupun pada masa rasul “sebenarnya” telah berkembang pesat budaya litera yang dimulai ketika jaman Nabi Isa Al-Masih. Tentu salah satu keunggulan dari kecerdasan UMMIYIN tersebut adalah terjauhkannya ummat dari liberalisasi faham akibat beda penafsiran makna tertulis dari suatu ayat.... Maka nikmatilah wahai rafael....engkau terjebak faham beragama hasil menafsirkan untaian-untaian tulisan tanpa tergugah Qolbu anda untuk menunaikan hak “fuad” untuk menerima rasa dan karsa yang tak mungkin tergambar utuh oleh untaian tulisan..... dan nikmatilah kesombongan akibat berani menafsirkan makna tertulis versi apapun.... karena kera dimanapun demikian adanya walau orang jawa menyebutnya “ketek”...orang sunda nyebutnya “lutung” orang inggris nyebutnya “monkey” padahal kalau di-Iqro dengan Mata, telingga dan “Fuad” secara simultan maka kera adalah kera sebagaiman kita lihat dengan seluruh panca indra yang tidak mungkin fenomena utuhnya tersebut diuraikan dalam bentuk untaian tulisan.... Pendek kata Sunatulloh telah berlaku di muka bumi ini, yaitu Manusia yang digelari Al-Amin yang ditugasi menyempurnakan dienul Islam adalah seorang “UMMI” bukan seorang fatur rafael yang jago baca tulisan doang...wang.... maka pantas aja melegalkan perbedaan faham, mazhab, golongan, aliran, fikroh, dan akhirnya kepentingan politis.. yang memicu perpecahan ummat dan melahirkan generasi muslim yang seibarat buih di laut dan melestarikannya terus diombang-ambing gelombang.... BEWARE THE REDUCTIONIST MUSLIM
#9. Dikirim oleh kabayanist pada 28/01 05:17 PM
Rafael menulis; Makasih mba Aryanti Palupi,..kang Kabayan kayanya yg melegalkan adanya keberbagaian Madzhab bukan cuma Fatur rafael deh, Fatur hanya mengutip dr berbagai sumber yg Fatur ketahui dan itu adalah merupakan sebuah keniscayaan yg tidak dapat di pungkiri. Umar bin Abd Aziz, Hasan Bashri, Junaid Al-baghdadi, Yahya bin said dan Rabiah Adawiyah mereka itu adalah tabi’in lho tp mereka tidak memungkiri adanya berbagai corak keislaman. Jika kang kabayan adalah penganut Islam yg betul-betul murni 100% seperti Islamnya Rasulullah dan para sahabat, tentu Fatur ingin belajar pada anda karena bagaimanapun Fatur ingin juga memiliki Islam yg sempurna tetapi mungkinkah itu kang Kabayan? Sementara dalam sejarah sahabat, tabi’in dan tabi’ tabi’in yg pernah Fatur baca tidak ada seorangpun yg bernama Kabayan termasuk di dalamnya. kang Kabayan, Fatur memang gemar membaca doang wang karena dengan membaca maka Fatur jadi tau sedikit tentang Islam, bukankah kang Kabayan juga tahu tentang adanya Islam yg kang Kabayan anggap telah di reduksi oleh para ulama, juga dari membaca?
Yang terahir, Fatur pernah baca dan belajar adanya Hadits Rasul yg berbunyi “Innakum fi zamanin man ‘amila minkum ‘usyro ma umiro bihii halaka, tsumma ya’-tii zamanun man ‘amila minkum bi ‘usyri ma umiro bihi naja.” sesungguhnya kalian berada pada zaman dimana jika kalian mengamalkan sebanyak 80% dari ajaran agama maka kalian akan tetap celaka, kemudian nanti datang suatu zaman jika diantara kalian hanya bisa mengamalkan 20% saja dari ajaran agama, kalian akan selamat. (HR Tirmidzi dr Abu Hurairah dalam buku Al-Fitan Hadits ke 192). Bagaimana Hadits ini menurut anda kang Kabayan? trimakasih, mohon maaf bila terlihat kasar.
#16. Dikirim oleh Fatur rafael pada 29/01 10:29 PM
Kabayanis menulis; Islam harus dibedakan dengan penganutnya yaitu muslim....muslimin...muslimat.... saking PD-nya berabab-abab “berislam” dari hasil ekstrasi makna literal… Ummat sekarang sudah tidak bisa dan tak mau jujur untuk membedakan dirinya adalah muslim dan islam adalah dinul Islam sebagaimana kemurniannya tetap terjaga 100%. Tapi itu masih dalam koridor kemanusiawian..... Apa sebab semacam fatur tak lekang tuk tau bahwa dirinya adalah muslim 30% misalnya???...karena kitab2 yang dibacanya tak mungkin menuntun “fuad” dalam dirinya tuk “membaca” fenomena Dinul Islam 100% murni yang kemurniannya tak mungkin hanya dijangkau nalar hasil bimbingan literal-literal kitab kuning ...hijau..atau warna apalah.... apalagi adanya klaim bahwa ulama adalah mata air suci tentang Islam.... maka islamlah yang dilebur harus manut kepada ulama.... bukan sebaliknya… jadilah fatur berani mencak-mencak kaya diuraikannya.... pendek kata tak bisa lagi mencerna pengetahuan tentang fenomena dinul Islam yang tetap murni tak bermazhab, berfikroh, berorganisasi-organisasian...karena fatur dkk membatasi dirinya bahwa yang betul-betul sumber islam yang haq itu adalah yang berasal dari kitab2 hasl karya para ulamanya.... wah hebat donk.... sekiranya ulama yang mengukir untaian tulisan dalam kitabnya lahir pasca tabiin tabiin… maka kita bisa pastikan bahwa para tabiin..sahabat rasul… bahkan rasul itu sendiri adalah kurang murni dalam berislam.... karena meraka hidup sebelum ulama2 yang nulis kitab yang disahihkan oleh fatur dan kawan2.... duh sangat muliakah ulama yang dianut fatur?..... sehingga curahan pikiran dan tulisannya mampu menghapus fenomena berislam ala rasul dan sahabatnya yang tak lekang jaman terus murni hingga akhir jaman...tak mengenal mazhab, fikroh, aliran ...bahkan tak mengenal NU sekalipun.... padahal sehebat-hebatnya tulisan ulama paling afdhol mereka adalah pewaris para nabi.... ya kalo pewaris generasi pertama… tetapi gimana jadinya jika ulama tersebut pewaris generasi ke-100.... pasti sisa warisannya tak sebesar ulama generasi pertama.... tapi tak apalah ...proses hidup yang kabayan dan nenek moyang kabayan tempuh tetap belum mau mengakui bahwa muslim yang menyatakan dirinya demikian adalah karena belum “kaaffah” sehingga menjadi penista terhadap ajaran yang dianutnya walau hal itu pasti tidak akan diakui dan dirasakannya karena “taklid’ yang sudah menjadi hukum wajib dalam ber"NU"....kabayan sih pinginnya kita semua jujur .... bolehlah ummat NU adalah NU murni tapi harus tetap jujur bahwa mereka belum berislam sebagaima muslimin yang haq.... bolehlah ummat wahabi adalah wahabi murni tetapi jangan pernah mengklaim bahwa mereka adalah muslimin yang haq. Dan kabayan tentu juga berusaha jujur bahwa kami adalah penganut kabayanisme.... yang belum berhak menyandang titel muslimin yang haq karena untuk mencapai hal itu tak mungkin diusung oleh “kami” saja tanpa melibatkan ummat hanif lainnya yang berusaha masuk ke dalam islam secara kaaffah… dan tak mungkin ada muslim kaaffah… karena ke-kaaffahan hanya dapat terjelma dalam koridor “kaum” muslimin bukan individu seorang muslim.... pendeknya dalam surah al-baqoroh ditetapkan prosesnya adalah mu’min dahulu kemudian masuk islam secara kaaffah secara bersama-sama… sebagaimana rasul telah mengapainya dan begitu pula para sahabat.... JUJURLAH...WALAU KEJUJURAN ITU ADALAH PAHIT KETIKA MENGETAHUI BAHWA UMMAT NU kadarnya sekian persen dari muslimin yang haq..... dan jika baru sekian persen saja sudah “PD” dan stuck berstagnan dalam bentuk NU doang.... maka jangan salahkan Rasul yang telah menyempurnakan Dinul Islam 100% murni yang tidak pernah terbiaskan oleh budaya literal karena dibangun melalui uswah dan bukan melalui tulisan-tulisan para ulama yang kadarnya hanya sebagai pewaris nabi....
#27. Dikirim oleh kabayanist pada 06/02 06:11 PM
Rafael menulis; Baiklah.. Tidak di ragukan lagi, di tengah situasi sekarang ini di saat kaum muslimin telah kehilangan jejak sejarah dan kemudian mereka terpecah dalam berbagai macam madzhab, sekte ataupun firqah (bukan fikroh), yang semuanya mengklaim kebenaran atas dirinya sendiri dan selalu bertengkar dalam kegelapan selama beratus2 tahun, atau ketika kaum muslimin merasa takut di tengah derasnya gelombang pemikiran dan gagasan. Mereka harus kembali kepada Al-Quran dan mengikuti cara hidup kaum muslimin generasi sahabat Nabi.
Para sahabat memang bisa memahami pesan Islam tanpa bantuan fiqih, tasauf, filsafat dan unsur2 agama lainnya yg baru timbul setelah masa pewahyuan berahir. Namun, tetap saja akan ada pertanyaan yang akan selalu mengusik hati yaitu kepada Al-Quran dan sahabat yang mana kita harus berpegang? Apakah kita harus berpegang kepada Al-Quran yang di gunakan di istana-istana sayyidina Utsman khalifah Ketiga yang telah menumbuhkan kembali aristokrasi dan ikut berperan dalam mengasingkan dan mengusir Abu Dzar dari kota Nabi? Atau apakah kita akan berbegang dengan Al-Quran yang di bawa Abu Dzar dalam pengasingannya hingga ia menemui kematian di gurun pasir Rabadzah dalam keadaan kesepian dan terdzhalimi? Atau apakah kita akan berpegang pada Al-Quran yang di pajang di ujung bayonet oleh Amr bin Ash demi mempertahankan kerajaan rasial dan dalam mendukung dinasti Umayyah yang membeda2kan golongan? Atau apakah kita akan berpegang kepada Al-Quran yang ada dalam dada Ali bin Abi Thalib yang kata Nabi Al-Quran akan selalu bersama Ali dimanapun Ali berada? Kepada Al-Quran dan sahabat yang mana kita harus berpegang?.
Catatan: Saya tidak bermaksud mengatakan Al-Quran lebih dari satu, yang saya maksud adalah corak penafsirannya. Saya hanya ingin menandaskan tentang ketidak benaran orang2 yang berpendapat bahwa karena para sahabat bergaul dan hidup dengan Nabi maka di antara mereka tidak ada perbedaan dalam hal pemikiran, penafsiran dan cara pandang terhadap Islam.
#30. Dikirim oleh Fatur rafael pada 10/02 08:20 AM
Kabayanis menulis; mohon maaf mas fatur.... jika kami meminjam anda sebagai korban dari literalisasi Al-Qur’an… sehingga hanya untuk ber “syahadah” (tidak hanya baca kitab al-Qur’an saja)harus merujuk kepada sahabat nabi atau ulama yang ini atau yang itu.... pendek kata ketika ayat pertama diwahyukan kepada rasululloh tak secuilpun perintah baca tulisan, walau ulama dan ahli kitab menerjemahkan “IQRO” hanya dengan arti “bacalah’ yang merujuk hanya kepada baca tulisan. Yang jelas tak termaktub sedikit pun untaian ayat pertama yang diturunkan via malaikat jibril dalam bentuk untaian tulisan. Dan jika kita mau ber-hanif ria dengan didukung kesabaran.... maka serta merta kita akan terbimbing bahwa perintah “IQRO” bukanlah semata-mata diartikan baca tulisan.... Tetapi mau gimana lagi… rentang waktu pembiasan Al-Qur’an oleh penganut budaya literal telah sedemikian massive. Seakan tidak sah jika seseorang mengetahui dan bersyahadah kepada Al-Qur’an kalo tidak melalui baca “Kitab Al-Qur’an” terlebih dahulu. Sungguh tepat dalam salah satu ayat diterangkan bahwa ayat2 Alloh akan terpampang di segenap ufuk dan dalam diri manusia itu sendiri sehingga dengan demikian maka diketahuilah Bahwa “AL-QUR’AN” adalah benar..... fakta nyatanya adalah sebagaimana dirasakan atau dialami oleh orang warga indonesia yang sangat beruntung, yaitu almarhum bapak Muhtar Lubis ketika dengan seijin Alloh beliau disempatkan berjumpa dengan seorang ahli pertanian alami dari jepang yaitu tuan Masanobu Fukuoka.... pak muhtar lubis begitu tercengang ketika menyimak untaian hikmah dari mulut masanobu… karena substansi-nya berselaras dengan Al-Qur’an.... Padahal masanobu bukanlah muslim.... bahkan beliau mencerca semua agama yang diketahuinya… tetapi ketika ditanya oleh muhtar lubis apakah tahu didunia ini ada agama islam???… Masanobu berkata tidak mengetahuinya.... Bagaimana mungkin orang yang tak tahu ada agama islam tetapi dari lisannya terucap substansi Al-Qur’an??… jawabnya adalah karena Fenomena utuh Al-Qur’an awalnya bukanlah untaian tulisan… tetapi merupakan ayat Alloh yang terpampang di segenaf ufuk dan dalam kehidupan ummat manusia itu sendiri.... yang tak hanya melulu harus dibaca via kitab-kitab .... tetapi sejatinya dapat dengan mudah di"IQRO" di alam semesta ini sebagaimana dilakukan oleh masanobu sebagai ahli pertanian alami yang sumber ilmunya adalah alam raya ini termasuk fenomena manusia di dalamnya ....so ...mau bagaimana lagi???… kalo sekedar bangga dan sok benar hanya dengan bergantung dari makna tertulis???.... maka nikmatilah perbedaan penafsiran dari untaian makna tertulis yang ditulis “pasti” oleh seorang manusia yang tak mungkin terbebas dari subjektifitas ketika menuliskan untaian tulisan....dan akhirnya membiaskan fenomena utuh dari Al-Qur’an dan Dinul Islam itu sendiri. Maka Masanobu Fukuoka adalah contoh nyata di jaman mutakhir ini bahwa pengetahuan ttg Al-Qur’an tidak hanya dapat diperoleh melalui untaian tulisan saja .... Subhanalloh… Walhamdulillah Wallahu Akbar.....dengan demikian tinggallah kita ber “quantum leaf” ria.... jadikanlah untaian tulisan apapun hanyalah sebagai gerbang awal bagi kita dalam meraih pengetahuan hakiki dari suatu fenomena.... jangan sampai untaian tulisan itu membelenggu kita untuk menggapai pengetahuan lainnya yang tak bisa terjangkau hanya melalui langkah literalisasi.... Jikalau keberhasilan hidup manusia sejatinya harus bergantung kepada untaian tulisan!!!… niscaya Rasulullah yang UMMI adalah orang pertama yang kesekian yang akan tak berdaya dalam meraih sukses hidup di dunia ini… tetapi Subhanalloh ternyata sebaliknya… rasul secara tak terbantahkan Ke-UMMI-annya adalah seorang yang diutus untuk menyempurnakan Dinul Islam.... Wallahu ‘alam
#39. Dikirim oleh kabayanist pada 26/02 05:34 PM
Rafael menulis; Kang Kabayan yg baik, mungkin selamanya kita akan terus berbeda pendapat dan ini adalah sesuatu yg wajar2 saja. Pendapat saya bisa benar dan juga bisa salah, demikian juga dengan pendapat yg lainnya, di dunia ini memang tidak ada satupun pendapat yg tidak bisa di bantah oleh pendapat lainnya, jadi, tetaplah hanya Tuhan Allah dzat ingkang murbeng wiseso saja yg merupakan kebenaran mutlak dan abadi, Kita semua sebenarnya lemah, ringkih dan terbatas sehingga terus meraba2 dalam menggapai kebenaran yg hakiki. Oleh karena menyadari hal itu, saya kerap melazimkan istighfar, meminta pengampunan pd Tuhan atas segala pemikiran, perkataan dan perbuatan yg tidak sesuai dgn kebenaran yg di maksud Tuhan. Bukankah di dalam istighfar ada pengakuan bahwa kita lemah dan terbatas? Bukankah dalam istighfar ada ma’na tersirar tentang sebuah kepatuhan dan ketawadhu’an? Hasbunallah wani’mal wakiil.
Saya berharap mudah2an di suatu hari kelak kita bisa bersua di alam nyata, di alam nyata kita bisa berdialog dengan lebih jujur, terbuka dan bebas dari segala kepalsuan. Saya sering membayangkan duduk berhadapan dgn anda lalu kita berdialog, berdebat sekeras2nya atau berbicara tentang apapun sambil menyeruput kopi bersama, sesekali di iringi derai tawa riang. Ya, betapapun pendapat kita berbeda 417 drajat tp kita tidak harus memungkiri kalo kita sebenarnya adalah masih 1 keluarga besar dalam rumah tangga Tuhan yg sudah sepatutnya tetap saling mencintai, menghormati dan memaafkan. Mari kita saling memaafkan dalam hal2 yg kita tidak sepakat atasnya dan saling mendukung dan membantu dalam hal2 yg kita sepakati.
Ahir kata, saya ingin mengisahkan pada anda kang Kabayan, sebuah cerita tentang seorang Nabi yg bernama Ibrahim AS. Setiap hari, ketika Ibrahim akan makan pagi, terlebih dahulu mengundang orang2 untuk makan bersamanya. Di suatu pagi yg cerah, datang ke rumah Ibrahim seorang Majusi untuk ikut makan bersama Ibrahim, tetapi Ibrahim menolak orang Majusi itu dgn alasan apa yg di hidangkannya hanyalah untuk di makan oleh yg muslim2 dan hanif saja, akibat penolakan Ibrahim orang Majusi tersebut pulang dgn perasaan penuh kecewa. Selang beberapa saat, Tuhan menegur Ibrahim, wahai Ibrahim; apa hakmu menolak memberi makan Majusi itu? Bukankah Aku yg maha besar, maha kaya dan maha benar tidak pernah pilih kasih untuk memberi rizki pada siapapun tak terkecuali Majusi itu? Bukankah rizki yg ada padamu adalah Aku yg memberi? Mengapa hanya di monopoli untuk dirimu dan kaummu saja? Dengan kejadian itu, Ibrahim menjadi lebih terbuka dan tidak lagi memandang orang untuk diajak makan bersamanya. Atas kebenaran dan keabsahan cerita Ibrahim itu, terserah pada pilihan anda untuk mempercayainya atau tidak. Saya sendiri percaya kalau cerita itu adalah benar dan pernah terjadi.
#40. Dikirim oleh Fatur rafael pada 28/02 09:47 AM
Kabayanis menulis; Pertama kabayan mohon maaf.... kabayan sadar sepenuhnya bahwa apapun takwil dan tafsir dari semua wacana di forum ini ....sejatinya ditulis oleh seorang manusia “siapun dia” pasti mempunyai subyektifitas.... maka sejujurnya kabayan tak ingin ada yang mempercayai dan menshahihkan untaian tulisan yang dirilis kabayan… kalo tanpa tabayyun kepada fenomena utuhnya di alam nyata.... Keterbatasan untaian tulisan inilah yang sejatinya ingin kabayan wanti-wantikan.... jangan sampai kita keliru melihat fenomena “kera” akibat orang sunda menuliskanya dengan untaian kata “lutung"… orang jawa dengan untaian kata “ketek” dan orang inggris menuliskan kata “monkey”. padahal digunjingkan sehebat apapun… didebat-kusirkan semalam suntuk pun… si kera adalah kera yang dapat kita “IQRO” fenomenanya secara utuh di alam nyata.... dan bahkan mungkin dia sedang terbahak-bahak menertawakan manusia seperti kita gara2 mempermasalahkan suatu untaian tulisan tentang dirinya… akibat adanya perbedaan ungkapan literal semata.... pingin tahu kera sesungguhnya mah tinggal lihat bersama-sama di alam nyatanya dengan segala panca indra walaupun tidak dijelmakan secara literal-pun ternyata sang kera adalah sang kera itu sendiri.... semoga semua ini adalah ibroh terhadap Agungnya Sunatullah atas ke-UMMI-an Rasululloh yang tak perlu lagi ditafsiri dengan pemaknaan “Buta Huruf” tetapi lebih tepat jika dimaknai sebagai “suatu kecerdasan manusia yang tidak sepenuhnya bergantung pada budaya literal” karena untaian tulisan (literal) akan berpotensi melahirkan makna multi-interpretasi dengan efek globalnya adalah memecah-belah pemikiran ummat dan menjauhkannya dari ke-Rahmat-an Dinul Islam..... Wassalam
#41. Dikirim oleh kabayanist pada 02/03 06:20 PM
KOMENTAR TAMBAHAN
Setuju, Mas Fatur Rafael.
Tidak ada itu yang namanya Islam murni dan Islam sesat. Setiap individu yang mengaku Islam punya pemahaman sendiri tentang Islamnya, dan itu sunnatullah. Kenapa harus dipermasalahkan? Ada yang percaya Imama Mahdinya sudah datang dianggap sesat. Ada yang salat dengan bahasa jawa dianggap melenceng. Orang bebas memilih jalan yang dianggap paling pas dengan hatinya untuk bersama dengan Yang Maha Sempurna. Kalau memang sebuah metode tertentu dianggap paling bisa mendekatkan dirinya dengan Sang Pencipta, kenapa kita harus pusing? Itu kan urusan yang bersangkutan dengan Allah. Biarlah Allah saja yang menjadi hakim atas semuanya. Kita jangan sampai menyerobot jabatan Allah sebagai hakim.
#13. Dikirim oleh ariyanti palupi pada 29/01 02:44 PM
Mas Fatur Rafael,
Kalau saya pikir, kemungkinan hadis itu maksudnya adalah anjuran agar kita jangan sampai berlebihan dalam beragama. Menganggap pemahaman mayoritas tentang Islam sebagai satu-satunya Islam yang benar, apalagi kalau sampai mengatakan orang lain “sesat” karena sedikit berbeda dari anggapan arus utama itu tadi kok keliatan seperti tindakan yang berlebihan. Allah sendiri mengecam keras segala tindakan yang berlebihan, dan saya pikir beragama juga tidak luput dari hal ini. Jadi, yang hanya bisa mengamalkan 20% itu tadi kemungkinan adalah mereka-mereka yang tidak berlebihan dalam beragama. tentang apa yang dimaksud “berlebihan” itu sendiri saya rasa juga tergantung tiap individu yang datang dari berbagai latar belakang pengalaman hidup yang berbeda-beda. Saya teringat ucapan teman saya yang menganut aliran Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, bahwa semakin kita ngotot untuk mempertahankan keyakinan bahwa kita paling benar, dan yang lain salah, semakin kita jauh dari Yang Maha Sempurna, semakin kita melupakan esensi dari keberagamaan itu sendiri. Saya mengklaim diri saya sebagai seorang Muslim, tapi saya hanya bisa memaknai Islam berdasarkan pengalaman hidup saya yang bisa salah bisa juga benar. kita tidak akan pernah tahu mana Islam yang “murni” itu, kalau memang ada. kita hanya bisa tahu, Islam kita masing-masing, karena masing-masing individu tidak ada yang sama. kita diciptakan secara unik oleh Tuhan, Sang Maha Kreatif. Jadi alangkah anehnya kalau kita “menyesatkan” orang lain hanya karena mereka berusaha untuk jujur dengan keunikan mereka sendiri. Hanya pada Sang Maha Benarlah kebenaran mutlak itu berada. Kita dikaruniai akal dan hati dalam beragama, dan saya pikir meletakkan kebenaran agama di atas kehendak Allah untuk menjadikan agama itu sendiri sebagai rahmat bagi seluruh alam semesta kok agak absurd bagi saya. Tapi itulah pandangan saya, mungkin ada yang tidak setuju. tidak apa-apa. itulah hidup. Sudah kehendak Allah kayaknya.
Selamat ultah NU, semoga bertambah dewasa dalam menyikapi perbedaan, dan dapat membawa Islam ke arah yang mendewasakan, bukan meninabobokkan. Semoga Allah memberi pentunjuk.
#21. Dikirim oleh Ariyanti Palupi pada 02/02 10:59 AM
Kadang saya masih heran ada saja orang yang mengklaim 100% sesuai dan pas tak kurang dan tak lebih menjalankan islam seperti yang dijalankan Rasulullah dan hebatnya mereka mengklaim lagi langsung belajar dari Al Qur’an dan al hadist dan selalu mengesampingkan produk produk ulama sebagai sesuatu yang literal kata kabayanist. Mampukah kita dengan modal ilmu agama yang pas pasan menafsiri alquran dan alkhadist? Begitu angkuhkah kita mengesampingkan karya karya ulama sebelum kita yang notabene bersumber dari alquran dan alkhadist dengan cara kita langsung dari sumbernya yang masih mentah? Kalau hanya klaim-klaiman lalu siapa yang menilai bahwa kita yang paling pas dan sesuai dengan kanjeng nabi? Dan ternyata pula wahabian pun merujuk juga pada karangan karangan ulama cuman ulama ulama wahabi saja jadi apa bedanya?
Saya sangat setuju dengan pandangan mas fatur rafael dan tidak setuju dengan cara pandang kabayanist,bolehkan berbeda pendapat?
Akhirnya Selamat atas hari lahirnya NU semoga bisa menjadi benteng terhadap gempuran wahabi di indonesia dan tetap menjadikan islam rahmatan lil’alamin
#23. Dikirim oleh taufiq pada 03/02 03:22 PM
Mas Fatur
analoginya mungkin seperti ini :
andaikata Mas fatur rafael mau naik haji, jelas dong anda akan naik pesawat, cepat, praktis dan disesuaikan dengan masa kini, tapi ada orang yang bersikukuh beribadah sesuai dengan cara nabi persis 100 %, maka karena onta yang ada di indonesia tidak bisa berenang membawa dia ke mekkah, maka dia bersikukuh untuk menaikkan ontanya ikut naik pesawat menuju ke mekkah.
Mas fatur, berjalanlah terus.. tidak perlu konfirmasi dengan orang yang bersebrangan,karena tidak akan ketemu dan membuang energi,memang kita belum tentu benar dan orang lain yang bersebrangan belum tentu salah,tapi yang pasti diantaranya sudah berbeda persepsi, semoga kita semua termasuk dengan kawan2 kita yang berbeda dan bersebrangan secepatnya menemukan kebenaran.
#32. Dikirim oleh ardianto pada 13/02 01:12 PM
Kepada mas “kabayanist”,
kalau kita mau berkeras hati mengikuti setiap jengkal tindak tanduk nabi dan para sahabatnya dalam berislam yang kata mas kabayanist “murni” 100%, kok sepertinya kita akan hidup di jaman 1400 tahun yang lalu. Islam itu hidup, mas kabayanist, bukan benda mati yang bentuk dan rupanya sama dari abad ke abad. Kalau kita mau mengesampingkan pentingnya ide materialisme historis, termasuk dalam menelaah Islam, berarti kita telah menjadikan islam itu seperti batu. Keberadaan mahzab-mahzab atau pikiran-pikiran yang lahir untuk memahami Alquran tentu saja tidak bisa terhindarkan karena manusia dilahirkan dengan keunikan dan pengalaman hidup yang berbeda-beda, dalam masa-masa yang berbeda pula, dan itu semua akan mempengaruhi cara pandang manusia tersebut terhadap sesuatu, termasuk Alquran. Kalau mas Kabayanist mengandaikan adanya satu Islam saja yaitu islam “murni 100%” seperti kata mas Kabayanist, kok saya pikir kita seperti memaksakan untuk beranggapan bahwa setiap kepala yang ada di bumi ini diciptakan sama persis sebangun dan seruang oleh Allah, yang notabene tidak mungkin, karena sifatnya yang Maha Kreatif, Allah itu menciptakan setiap kepala tadi dengan keunikan yang luar biasa. jadi kalau mau menganggap kerja pemahaman setiap manusia ini bisa dan harus sama, jangan-jangan kita sudah bersikap angkuh tidak mau mengakui sunnatullah bahwa perbedaan-perbedaan itu ada dan akan selalu ada. Tinggal kita bagaimana menyikapi perbedaan-perbedaan tersebut tanpa menyebut pihak lain Islamnya cuma 30% hanya karena kita merasa Islam kita 100%. Bukan begitu, mas kabayanist?
#33. Dikirim oleh ariyanti palupi pada 13/02 10:30 PM
Bagi saya Islam adalah ibarat taman bunga yg di penuhi berbagai aneka bunga dg aroma dan warna yg semuanya memikat yg masing-masing orang bisa memetiknya sesuai dg seleranya, seseorang tak dapat di larang atau di caci maki jika dia memetik bunga mawar yg di pandangnya sebagai bunga yg paling indah, begitu pula jika ada yg lainnya yg memetik bunga melati. Tentu masing-masing punya alasan kenapa memetik yg ini dan bukan yg itu. Yg penting masing-masing pemetik tidak boleh saling menghina dengan menganggap bunga yg di petiknya adalah bunga yg paling indah dan bunga yg di petik orang lain adalah jelek lalu semua orang di paksa untuk memetik bunga yg sama dengan yg dirinya petik. Bisa juga di ibaratkan sebagai meja perjamuan yg berisi berbagai makanan yg lezat-lezat, semua orang bisa meni’matinya sesuai keinginan hatinya.
Masing-masing orang Islam di bolehkan untuk mengikuti kecenderungan Madzhab apapun yg bisa menenangkan hatinya selagi tidak menyimpang dari ajaran pokok bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah. So betapa susahnya kita mengikuti 100% ajaran Rasulullah semasa beliau hidup, untuk hal yg demikian kita harus betul-betul faham seluruh isi Al-Quran dan faham seluruh Hadits Nabi padahal kita semua tidak ada yg pernah tau berapa juta jumlah Hadits nabi, kita manusia yg terbatas dan hanya bisa mengamalkan Islam dg terbatas pula maka benarlah ketika Rasul bersabda bahwa orang Islam di ahir zaman bisa selamat walaupun hanya mengikuti Islam 20% saja.
#8. Dikirim oleh Fatur rafael pada 28/01 02:20 PM
Kabayanis menulis; @ fatur rafael…
ummat sekarang susah mengikuti 100% ajaran rasul....karena belajarnya dari kitab2 yang ditulis oleh seorang manusia walau dalam kapasitas seorang ulama sekalipun ....beda hal nya dengan sahabat-sahabat rasul...tabiin ..dan tabiin tabiin… mereka belajar, beriman dan melaksanakan ajaran Rasulululloh dari fenomena “Living Al-Qur’an” dengan tidak bergantung 89% kepada bahasa2 tulisan. Mereka saat itu belajar dan mengamalkan agama melalui uswah, yaitu segala tutur kata, prilaku, pemikiran, dan segala sesuatu tanpa terbiaskan sedikitpun oleh makna tertulis dari untaian tulisan.... maklum saja metode yang dikembangkan oleh Yang Maha Pengasih adalah melalui Paradigma “UMMI” yaitu suatu bentuk kecerdasan fitriah yang tidak bergantung pada bahasa tulisan yang dapat menimbulkan multitafsir atas makna tertulis yang ditulis orang seorang manusia lainnya… walaupun pada masa rasul “sebenarnya” telah berkembang pesat budaya litera yang dimulai ketika jaman Nabi Isa Al-Masih. Tentu salah satu keunggulan dari kecerdasan UMMIYIN tersebut adalah terjauhkannya ummat dari liberalisasi faham akibat beda penafsiran makna tertulis dari suatu ayat.... Maka nikmatilah wahai rafael....engkau terjebak faham beragama hasil menafsirkan untaian-untaian tulisan tanpa tergugah Qolbu anda untuk menunaikan hak “fuad” untuk menerima rasa dan karsa yang tak mungkin tergambar utuh oleh untaian tulisan..... dan nikmatilah kesombongan akibat berani menafsirkan makna tertulis versi apapun.... karena kera dimanapun demikian adanya walau orang jawa menyebutnya “ketek”...orang sunda nyebutnya “lutung” orang inggris nyebutnya “monkey” padahal kalau di-Iqro dengan Mata, telingga dan “Fuad” secara simultan maka kera adalah kera sebagaiman kita lihat dengan seluruh panca indra yang tidak mungkin fenomena utuhnya tersebut diuraikan dalam bentuk untaian tulisan.... Pendek kata Sunatulloh telah berlaku di muka bumi ini, yaitu Manusia yang digelari Al-Amin yang ditugasi menyempurnakan dienul Islam adalah seorang “UMMI” bukan seorang fatur rafael yang jago baca tulisan doang...wang.... maka pantas aja melegalkan perbedaan faham, mazhab, golongan, aliran, fikroh, dan akhirnya kepentingan politis.. yang memicu perpecahan ummat dan melahirkan generasi muslim yang seibarat buih di laut dan melestarikannya terus diombang-ambing gelombang.... BEWARE THE REDUCTIONIST MUSLIM
#9. Dikirim oleh kabayanist pada 28/01 05:17 PM
Rafael menulis; Makasih mba Aryanti Palupi,..kang Kabayan kayanya yg melegalkan adanya keberbagaian Madzhab bukan cuma Fatur rafael deh, Fatur hanya mengutip dr berbagai sumber yg Fatur ketahui dan itu adalah merupakan sebuah keniscayaan yg tidak dapat di pungkiri. Umar bin Abd Aziz, Hasan Bashri, Junaid Al-baghdadi, Yahya bin said dan Rabiah Adawiyah mereka itu adalah tabi’in lho tp mereka tidak memungkiri adanya berbagai corak keislaman. Jika kang kabayan adalah penganut Islam yg betul-betul murni 100% seperti Islamnya Rasulullah dan para sahabat, tentu Fatur ingin belajar pada anda karena bagaimanapun Fatur ingin juga memiliki Islam yg sempurna tetapi mungkinkah itu kang Kabayan? Sementara dalam sejarah sahabat, tabi’in dan tabi’ tabi’in yg pernah Fatur baca tidak ada seorangpun yg bernama Kabayan termasuk di dalamnya. kang Kabayan, Fatur memang gemar membaca doang wang karena dengan membaca maka Fatur jadi tau sedikit tentang Islam, bukankah kang Kabayan juga tahu tentang adanya Islam yg kang Kabayan anggap telah di reduksi oleh para ulama, juga dari membaca?
Yang terahir, Fatur pernah baca dan belajar adanya Hadits Rasul yg berbunyi “Innakum fi zamanin man ‘amila minkum ‘usyro ma umiro bihii halaka, tsumma ya’-tii zamanun man ‘amila minkum bi ‘usyri ma umiro bihi naja.” sesungguhnya kalian berada pada zaman dimana jika kalian mengamalkan sebanyak 80% dari ajaran agama maka kalian akan tetap celaka, kemudian nanti datang suatu zaman jika diantara kalian hanya bisa mengamalkan 20% saja dari ajaran agama, kalian akan selamat. (HR Tirmidzi dr Abu Hurairah dalam buku Al-Fitan Hadits ke 192). Bagaimana Hadits ini menurut anda kang Kabayan? trimakasih, mohon maaf bila terlihat kasar.
#16. Dikirim oleh Fatur rafael pada 29/01 10:29 PM
Kabayanis menulis; Islam harus dibedakan dengan penganutnya yaitu muslim....muslimin...muslimat.... saking PD-nya berabab-abab “berislam” dari hasil ekstrasi makna literal… Ummat sekarang sudah tidak bisa dan tak mau jujur untuk membedakan dirinya adalah muslim dan islam adalah dinul Islam sebagaimana kemurniannya tetap terjaga 100%. Tapi itu masih dalam koridor kemanusiawian..... Apa sebab semacam fatur tak lekang tuk tau bahwa dirinya adalah muslim 30% misalnya???...karena kitab2 yang dibacanya tak mungkin menuntun “fuad” dalam dirinya tuk “membaca” fenomena Dinul Islam 100% murni yang kemurniannya tak mungkin hanya dijangkau nalar hasil bimbingan literal-literal kitab kuning ...hijau..atau warna apalah.... apalagi adanya klaim bahwa ulama adalah mata air suci tentang Islam.... maka islamlah yang dilebur harus manut kepada ulama.... bukan sebaliknya… jadilah fatur berani mencak-mencak kaya diuraikannya.... pendek kata tak bisa lagi mencerna pengetahuan tentang fenomena dinul Islam yang tetap murni tak bermazhab, berfikroh, berorganisasi-organisasian...karena fatur dkk membatasi dirinya bahwa yang betul-betul sumber islam yang haq itu adalah yang berasal dari kitab2 hasl karya para ulamanya.... wah hebat donk.... sekiranya ulama yang mengukir untaian tulisan dalam kitabnya lahir pasca tabiin tabiin… maka kita bisa pastikan bahwa para tabiin..sahabat rasul… bahkan rasul itu sendiri adalah kurang murni dalam berislam.... karena meraka hidup sebelum ulama2 yang nulis kitab yang disahihkan oleh fatur dan kawan2.... duh sangat muliakah ulama yang dianut fatur?..... sehingga curahan pikiran dan tulisannya mampu menghapus fenomena berislam ala rasul dan sahabatnya yang tak lekang jaman terus murni hingga akhir jaman...tak mengenal mazhab, fikroh, aliran ...bahkan tak mengenal NU sekalipun.... padahal sehebat-hebatnya tulisan ulama paling afdhol mereka adalah pewaris para nabi.... ya kalo pewaris generasi pertama… tetapi gimana jadinya jika ulama tersebut pewaris generasi ke-100.... pasti sisa warisannya tak sebesar ulama generasi pertama.... tapi tak apalah ...proses hidup yang kabayan dan nenek moyang kabayan tempuh tetap belum mau mengakui bahwa muslim yang menyatakan dirinya demikian adalah karena belum “kaaffah” sehingga menjadi penista terhadap ajaran yang dianutnya walau hal itu pasti tidak akan diakui dan dirasakannya karena “taklid’ yang sudah menjadi hukum wajib dalam ber"NU"....kabayan sih pinginnya kita semua jujur .... bolehlah ummat NU adalah NU murni tapi harus tetap jujur bahwa mereka belum berislam sebagaima muslimin yang haq.... bolehlah ummat wahabi adalah wahabi murni tetapi jangan pernah mengklaim bahwa mereka adalah muslimin yang haq. Dan kabayan tentu juga berusaha jujur bahwa kami adalah penganut kabayanisme.... yang belum berhak menyandang titel muslimin yang haq karena untuk mencapai hal itu tak mungkin diusung oleh “kami” saja tanpa melibatkan ummat hanif lainnya yang berusaha masuk ke dalam islam secara kaaffah… dan tak mungkin ada muslim kaaffah… karena ke-kaaffahan hanya dapat terjelma dalam koridor “kaum” muslimin bukan individu seorang muslim.... pendeknya dalam surah al-baqoroh ditetapkan prosesnya adalah mu’min dahulu kemudian masuk islam secara kaaffah secara bersama-sama… sebagaimana rasul telah mengapainya dan begitu pula para sahabat.... JUJURLAH...WALAU KEJUJURAN ITU ADALAH PAHIT KETIKA MENGETAHUI BAHWA UMMAT NU kadarnya sekian persen dari muslimin yang haq..... dan jika baru sekian persen saja sudah “PD” dan stuck berstagnan dalam bentuk NU doang.... maka jangan salahkan Rasul yang telah menyempurnakan Dinul Islam 100% murni yang tidak pernah terbiaskan oleh budaya literal karena dibangun melalui uswah dan bukan melalui tulisan-tulisan para ulama yang kadarnya hanya sebagai pewaris nabi....
#27. Dikirim oleh kabayanist pada 06/02 06:11 PM
Rafael menulis; Baiklah.. Tidak di ragukan lagi, di tengah situasi sekarang ini di saat kaum muslimin telah kehilangan jejak sejarah dan kemudian mereka terpecah dalam berbagai macam madzhab, sekte ataupun firqah (bukan fikroh), yang semuanya mengklaim kebenaran atas dirinya sendiri dan selalu bertengkar dalam kegelapan selama beratus2 tahun, atau ketika kaum muslimin merasa takut di tengah derasnya gelombang pemikiran dan gagasan. Mereka harus kembali kepada Al-Quran dan mengikuti cara hidup kaum muslimin generasi sahabat Nabi.
Para sahabat memang bisa memahami pesan Islam tanpa bantuan fiqih, tasauf, filsafat dan unsur2 agama lainnya yg baru timbul setelah masa pewahyuan berahir. Namun, tetap saja akan ada pertanyaan yang akan selalu mengusik hati yaitu kepada Al-Quran dan sahabat yang mana kita harus berpegang? Apakah kita harus berpegang kepada Al-Quran yang di gunakan di istana-istana sayyidina Utsman khalifah Ketiga yang telah menumbuhkan kembali aristokrasi dan ikut berperan dalam mengasingkan dan mengusir Abu Dzar dari kota Nabi? Atau apakah kita akan berbegang dengan Al-Quran yang di bawa Abu Dzar dalam pengasingannya hingga ia menemui kematian di gurun pasir Rabadzah dalam keadaan kesepian dan terdzhalimi? Atau apakah kita akan berpegang pada Al-Quran yang di pajang di ujung bayonet oleh Amr bin Ash demi mempertahankan kerajaan rasial dan dalam mendukung dinasti Umayyah yang membeda2kan golongan? Atau apakah kita akan berpegang kepada Al-Quran yang ada dalam dada Ali bin Abi Thalib yang kata Nabi Al-Quran akan selalu bersama Ali dimanapun Ali berada? Kepada Al-Quran dan sahabat yang mana kita harus berpegang?.
Catatan: Saya tidak bermaksud mengatakan Al-Quran lebih dari satu, yang saya maksud adalah corak penafsirannya. Saya hanya ingin menandaskan tentang ketidak benaran orang2 yang berpendapat bahwa karena para sahabat bergaul dan hidup dengan Nabi maka di antara mereka tidak ada perbedaan dalam hal pemikiran, penafsiran dan cara pandang terhadap Islam.
#30. Dikirim oleh Fatur rafael pada 10/02 08:20 AM
Kabayanis menulis; mohon maaf mas fatur.... jika kami meminjam anda sebagai korban dari literalisasi Al-Qur’an… sehingga hanya untuk ber “syahadah” (tidak hanya baca kitab al-Qur’an saja)harus merujuk kepada sahabat nabi atau ulama yang ini atau yang itu.... pendek kata ketika ayat pertama diwahyukan kepada rasululloh tak secuilpun perintah baca tulisan, walau ulama dan ahli kitab menerjemahkan “IQRO” hanya dengan arti “bacalah’ yang merujuk hanya kepada baca tulisan. Yang jelas tak termaktub sedikit pun untaian ayat pertama yang diturunkan via malaikat jibril dalam bentuk untaian tulisan. Dan jika kita mau ber-hanif ria dengan didukung kesabaran.... maka serta merta kita akan terbimbing bahwa perintah “IQRO” bukanlah semata-mata diartikan baca tulisan.... Tetapi mau gimana lagi… rentang waktu pembiasan Al-Qur’an oleh penganut budaya literal telah sedemikian massive. Seakan tidak sah jika seseorang mengetahui dan bersyahadah kepada Al-Qur’an kalo tidak melalui baca “Kitab Al-Qur’an” terlebih dahulu. Sungguh tepat dalam salah satu ayat diterangkan bahwa ayat2 Alloh akan terpampang di segenap ufuk dan dalam diri manusia itu sendiri sehingga dengan demikian maka diketahuilah Bahwa “AL-QUR’AN” adalah benar..... fakta nyatanya adalah sebagaimana dirasakan atau dialami oleh orang warga indonesia yang sangat beruntung, yaitu almarhum bapak Muhtar Lubis ketika dengan seijin Alloh beliau disempatkan berjumpa dengan seorang ahli pertanian alami dari jepang yaitu tuan Masanobu Fukuoka.... pak muhtar lubis begitu tercengang ketika menyimak untaian hikmah dari mulut masanobu… karena substansi-nya berselaras dengan Al-Qur’an.... Padahal masanobu bukanlah muslim.... bahkan beliau mencerca semua agama yang diketahuinya… tetapi ketika ditanya oleh muhtar lubis apakah tahu didunia ini ada agama islam???… Masanobu berkata tidak mengetahuinya.... Bagaimana mungkin orang yang tak tahu ada agama islam tetapi dari lisannya terucap substansi Al-Qur’an??… jawabnya adalah karena Fenomena utuh Al-Qur’an awalnya bukanlah untaian tulisan… tetapi merupakan ayat Alloh yang terpampang di segenaf ufuk dan dalam kehidupan ummat manusia itu sendiri.... yang tak hanya melulu harus dibaca via kitab-kitab .... tetapi sejatinya dapat dengan mudah di"IQRO" di alam semesta ini sebagaimana dilakukan oleh masanobu sebagai ahli pertanian alami yang sumber ilmunya adalah alam raya ini termasuk fenomena manusia di dalamnya ....so ...mau bagaimana lagi???… kalo sekedar bangga dan sok benar hanya dengan bergantung dari makna tertulis???.... maka nikmatilah perbedaan penafsiran dari untaian makna tertulis yang ditulis “pasti” oleh seorang manusia yang tak mungkin terbebas dari subjektifitas ketika menuliskan untaian tulisan....dan akhirnya membiaskan fenomena utuh dari Al-Qur’an dan Dinul Islam itu sendiri. Maka Masanobu Fukuoka adalah contoh nyata di jaman mutakhir ini bahwa pengetahuan ttg Al-Qur’an tidak hanya dapat diperoleh melalui untaian tulisan saja .... Subhanalloh… Walhamdulillah Wallahu Akbar.....dengan demikian tinggallah kita ber “quantum leaf” ria.... jadikanlah untaian tulisan apapun hanyalah sebagai gerbang awal bagi kita dalam meraih pengetahuan hakiki dari suatu fenomena.... jangan sampai untaian tulisan itu membelenggu kita untuk menggapai pengetahuan lainnya yang tak bisa terjangkau hanya melalui langkah literalisasi.... Jikalau keberhasilan hidup manusia sejatinya harus bergantung kepada untaian tulisan!!!… niscaya Rasulullah yang UMMI adalah orang pertama yang kesekian yang akan tak berdaya dalam meraih sukses hidup di dunia ini… tetapi Subhanalloh ternyata sebaliknya… rasul secara tak terbantahkan Ke-UMMI-annya adalah seorang yang diutus untuk menyempurnakan Dinul Islam.... Wallahu ‘alam
#39. Dikirim oleh kabayanist pada 26/02 05:34 PM
Rafael menulis; Kang Kabayan yg baik, mungkin selamanya kita akan terus berbeda pendapat dan ini adalah sesuatu yg wajar2 saja. Pendapat saya bisa benar dan juga bisa salah, demikian juga dengan pendapat yg lainnya, di dunia ini memang tidak ada satupun pendapat yg tidak bisa di bantah oleh pendapat lainnya, jadi, tetaplah hanya Tuhan Allah dzat ingkang murbeng wiseso saja yg merupakan kebenaran mutlak dan abadi, Kita semua sebenarnya lemah, ringkih dan terbatas sehingga terus meraba2 dalam menggapai kebenaran yg hakiki. Oleh karena menyadari hal itu, saya kerap melazimkan istighfar, meminta pengampunan pd Tuhan atas segala pemikiran, perkataan dan perbuatan yg tidak sesuai dgn kebenaran yg di maksud Tuhan. Bukankah di dalam istighfar ada pengakuan bahwa kita lemah dan terbatas? Bukankah dalam istighfar ada ma’na tersirar tentang sebuah kepatuhan dan ketawadhu’an? Hasbunallah wani’mal wakiil.
Saya berharap mudah2an di suatu hari kelak kita bisa bersua di alam nyata, di alam nyata kita bisa berdialog dengan lebih jujur, terbuka dan bebas dari segala kepalsuan. Saya sering membayangkan duduk berhadapan dgn anda lalu kita berdialog, berdebat sekeras2nya atau berbicara tentang apapun sambil menyeruput kopi bersama, sesekali di iringi derai tawa riang. Ya, betapapun pendapat kita berbeda 417 drajat tp kita tidak harus memungkiri kalo kita sebenarnya adalah masih 1 keluarga besar dalam rumah tangga Tuhan yg sudah sepatutnya tetap saling mencintai, menghormati dan memaafkan. Mari kita saling memaafkan dalam hal2 yg kita tidak sepakat atasnya dan saling mendukung dan membantu dalam hal2 yg kita sepakati.
Ahir kata, saya ingin mengisahkan pada anda kang Kabayan, sebuah cerita tentang seorang Nabi yg bernama Ibrahim AS. Setiap hari, ketika Ibrahim akan makan pagi, terlebih dahulu mengundang orang2 untuk makan bersamanya. Di suatu pagi yg cerah, datang ke rumah Ibrahim seorang Majusi untuk ikut makan bersama Ibrahim, tetapi Ibrahim menolak orang Majusi itu dgn alasan apa yg di hidangkannya hanyalah untuk di makan oleh yg muslim2 dan hanif saja, akibat penolakan Ibrahim orang Majusi tersebut pulang dgn perasaan penuh kecewa. Selang beberapa saat, Tuhan menegur Ibrahim, wahai Ibrahim; apa hakmu menolak memberi makan Majusi itu? Bukankah Aku yg maha besar, maha kaya dan maha benar tidak pernah pilih kasih untuk memberi rizki pada siapapun tak terkecuali Majusi itu? Bukankah rizki yg ada padamu adalah Aku yg memberi? Mengapa hanya di monopoli untuk dirimu dan kaummu saja? Dengan kejadian itu, Ibrahim menjadi lebih terbuka dan tidak lagi memandang orang untuk diajak makan bersamanya. Atas kebenaran dan keabsahan cerita Ibrahim itu, terserah pada pilihan anda untuk mempercayainya atau tidak. Saya sendiri percaya kalau cerita itu adalah benar dan pernah terjadi.
#40. Dikirim oleh Fatur rafael pada 28/02 09:47 AM
Kabayanis menulis; Pertama kabayan mohon maaf.... kabayan sadar sepenuhnya bahwa apapun takwil dan tafsir dari semua wacana di forum ini ....sejatinya ditulis oleh seorang manusia “siapun dia” pasti mempunyai subyektifitas.... maka sejujurnya kabayan tak ingin ada yang mempercayai dan menshahihkan untaian tulisan yang dirilis kabayan… kalo tanpa tabayyun kepada fenomena utuhnya di alam nyata.... Keterbatasan untaian tulisan inilah yang sejatinya ingin kabayan wanti-wantikan.... jangan sampai kita keliru melihat fenomena “kera” akibat orang sunda menuliskanya dengan untaian kata “lutung"… orang jawa dengan untaian kata “ketek” dan orang inggris menuliskan kata “monkey”. padahal digunjingkan sehebat apapun… didebat-kusirkan semalam suntuk pun… si kera adalah kera yang dapat kita “IQRO” fenomenanya secara utuh di alam nyata.... dan bahkan mungkin dia sedang terbahak-bahak menertawakan manusia seperti kita gara2 mempermasalahkan suatu untaian tulisan tentang dirinya… akibat adanya perbedaan ungkapan literal semata.... pingin tahu kera sesungguhnya mah tinggal lihat bersama-sama di alam nyatanya dengan segala panca indra walaupun tidak dijelmakan secara literal-pun ternyata sang kera adalah sang kera itu sendiri.... semoga semua ini adalah ibroh terhadap Agungnya Sunatullah atas ke-UMMI-an Rasululloh yang tak perlu lagi ditafsiri dengan pemaknaan “Buta Huruf” tetapi lebih tepat jika dimaknai sebagai “suatu kecerdasan manusia yang tidak sepenuhnya bergantung pada budaya literal” karena untaian tulisan (literal) akan berpotensi melahirkan makna multi-interpretasi dengan efek globalnya adalah memecah-belah pemikiran ummat dan menjauhkannya dari ke-Rahmat-an Dinul Islam..... Wassalam
#41. Dikirim oleh kabayanist pada 02/03 06:20 PM
KOMENTAR TAMBAHAN
Setuju, Mas Fatur Rafael.
Tidak ada itu yang namanya Islam murni dan Islam sesat. Setiap individu yang mengaku Islam punya pemahaman sendiri tentang Islamnya, dan itu sunnatullah. Kenapa harus dipermasalahkan? Ada yang percaya Imama Mahdinya sudah datang dianggap sesat. Ada yang salat dengan bahasa jawa dianggap melenceng. Orang bebas memilih jalan yang dianggap paling pas dengan hatinya untuk bersama dengan Yang Maha Sempurna. Kalau memang sebuah metode tertentu dianggap paling bisa mendekatkan dirinya dengan Sang Pencipta, kenapa kita harus pusing? Itu kan urusan yang bersangkutan dengan Allah. Biarlah Allah saja yang menjadi hakim atas semuanya. Kita jangan sampai menyerobot jabatan Allah sebagai hakim.
#13. Dikirim oleh ariyanti palupi pada 29/01 02:44 PM
Mas Fatur Rafael,
Kalau saya pikir, kemungkinan hadis itu maksudnya adalah anjuran agar kita jangan sampai berlebihan dalam beragama. Menganggap pemahaman mayoritas tentang Islam sebagai satu-satunya Islam yang benar, apalagi kalau sampai mengatakan orang lain “sesat” karena sedikit berbeda dari anggapan arus utama itu tadi kok keliatan seperti tindakan yang berlebihan. Allah sendiri mengecam keras segala tindakan yang berlebihan, dan saya pikir beragama juga tidak luput dari hal ini. Jadi, yang hanya bisa mengamalkan 20% itu tadi kemungkinan adalah mereka-mereka yang tidak berlebihan dalam beragama. tentang apa yang dimaksud “berlebihan” itu sendiri saya rasa juga tergantung tiap individu yang datang dari berbagai latar belakang pengalaman hidup yang berbeda-beda. Saya teringat ucapan teman saya yang menganut aliran Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, bahwa semakin kita ngotot untuk mempertahankan keyakinan bahwa kita paling benar, dan yang lain salah, semakin kita jauh dari Yang Maha Sempurna, semakin kita melupakan esensi dari keberagamaan itu sendiri. Saya mengklaim diri saya sebagai seorang Muslim, tapi saya hanya bisa memaknai Islam berdasarkan pengalaman hidup saya yang bisa salah bisa juga benar. kita tidak akan pernah tahu mana Islam yang “murni” itu, kalau memang ada. kita hanya bisa tahu, Islam kita masing-masing, karena masing-masing individu tidak ada yang sama. kita diciptakan secara unik oleh Tuhan, Sang Maha Kreatif. Jadi alangkah anehnya kalau kita “menyesatkan” orang lain hanya karena mereka berusaha untuk jujur dengan keunikan mereka sendiri. Hanya pada Sang Maha Benarlah kebenaran mutlak itu berada. Kita dikaruniai akal dan hati dalam beragama, dan saya pikir meletakkan kebenaran agama di atas kehendak Allah untuk menjadikan agama itu sendiri sebagai rahmat bagi seluruh alam semesta kok agak absurd bagi saya. Tapi itulah pandangan saya, mungkin ada yang tidak setuju. tidak apa-apa. itulah hidup. Sudah kehendak Allah kayaknya.
Selamat ultah NU, semoga bertambah dewasa dalam menyikapi perbedaan, dan dapat membawa Islam ke arah yang mendewasakan, bukan meninabobokkan. Semoga Allah memberi pentunjuk.
#21. Dikirim oleh Ariyanti Palupi pada 02/02 10:59 AM
Kadang saya masih heran ada saja orang yang mengklaim 100% sesuai dan pas tak kurang dan tak lebih menjalankan islam seperti yang dijalankan Rasulullah dan hebatnya mereka mengklaim lagi langsung belajar dari Al Qur’an dan al hadist dan selalu mengesampingkan produk produk ulama sebagai sesuatu yang literal kata kabayanist. Mampukah kita dengan modal ilmu agama yang pas pasan menafsiri alquran dan alkhadist? Begitu angkuhkah kita mengesampingkan karya karya ulama sebelum kita yang notabene bersumber dari alquran dan alkhadist dengan cara kita langsung dari sumbernya yang masih mentah? Kalau hanya klaim-klaiman lalu siapa yang menilai bahwa kita yang paling pas dan sesuai dengan kanjeng nabi? Dan ternyata pula wahabian pun merujuk juga pada karangan karangan ulama cuman ulama ulama wahabi saja jadi apa bedanya?
Saya sangat setuju dengan pandangan mas fatur rafael dan tidak setuju dengan cara pandang kabayanist,bolehkan berbeda pendapat?
Akhirnya Selamat atas hari lahirnya NU semoga bisa menjadi benteng terhadap gempuran wahabi di indonesia dan tetap menjadikan islam rahmatan lil’alamin
#23. Dikirim oleh taufiq pada 03/02 03:22 PM
Mas Fatur
analoginya mungkin seperti ini :
andaikata Mas fatur rafael mau naik haji, jelas dong anda akan naik pesawat, cepat, praktis dan disesuaikan dengan masa kini, tapi ada orang yang bersikukuh beribadah sesuai dengan cara nabi persis 100 %, maka karena onta yang ada di indonesia tidak bisa berenang membawa dia ke mekkah, maka dia bersikukuh untuk menaikkan ontanya ikut naik pesawat menuju ke mekkah.
Mas fatur, berjalanlah terus.. tidak perlu konfirmasi dengan orang yang bersebrangan,karena tidak akan ketemu dan membuang energi,memang kita belum tentu benar dan orang lain yang bersebrangan belum tentu salah,tapi yang pasti diantaranya sudah berbeda persepsi, semoga kita semua termasuk dengan kawan2 kita yang berbeda dan bersebrangan secepatnya menemukan kebenaran.
#32. Dikirim oleh ardianto pada 13/02 01:12 PM
Kepada mas “kabayanist”,
kalau kita mau berkeras hati mengikuti setiap jengkal tindak tanduk nabi dan para sahabatnya dalam berislam yang kata mas kabayanist “murni” 100%, kok sepertinya kita akan hidup di jaman 1400 tahun yang lalu. Islam itu hidup, mas kabayanist, bukan benda mati yang bentuk dan rupanya sama dari abad ke abad. Kalau kita mau mengesampingkan pentingnya ide materialisme historis, termasuk dalam menelaah Islam, berarti kita telah menjadikan islam itu seperti batu. Keberadaan mahzab-mahzab atau pikiran-pikiran yang lahir untuk memahami Alquran tentu saja tidak bisa terhindarkan karena manusia dilahirkan dengan keunikan dan pengalaman hidup yang berbeda-beda, dalam masa-masa yang berbeda pula, dan itu semua akan mempengaruhi cara pandang manusia tersebut terhadap sesuatu, termasuk Alquran. Kalau mas Kabayanist mengandaikan adanya satu Islam saja yaitu islam “murni 100%” seperti kata mas Kabayanist, kok saya pikir kita seperti memaksakan untuk beranggapan bahwa setiap kepala yang ada di bumi ini diciptakan sama persis sebangun dan seruang oleh Allah, yang notabene tidak mungkin, karena sifatnya yang Maha Kreatif, Allah itu menciptakan setiap kepala tadi dengan keunikan yang luar biasa. jadi kalau mau menganggap kerja pemahaman setiap manusia ini bisa dan harus sama, jangan-jangan kita sudah bersikap angkuh tidak mau mengakui sunnatullah bahwa perbedaan-perbedaan itu ada dan akan selalu ada. Tinggal kita bagaimana menyikapi perbedaan-perbedaan tersebut tanpa menyebut pihak lain Islamnya cuma 30% hanya karena kita merasa Islam kita 100%. Bukan begitu, mas kabayanist?
#33. Dikirim oleh ariyanti palupi pada 13/02 10:30 PM
Langganan:
Postingan (Atom)